
..."Mengenalmu bukanlah kesalahan, mendekatimu bukan juga kemauan, dan menggapaimu itulah tujuan."...
...~~~...
Setelah dua jam berada di restoran itu, kini akhinya kedua orang tua Iklima dan keluarga Ikbal sudah menyelesaikan pertemuannya. Mereka sudah kembali ke rumahnya masing-masing.
Rasanya Iklima masih ingin berada di sana, tapi itu tidak mungkin karena sudah larut malam. Maka dari itu, Iklima ikut pulang bersama kedua orang tuanya.
...****************...
Keesokan harinya, Iklima kembali bertemu dengan Hadwan di sekolah. Sengaja Iklima menemuinya karena masih merasa tidak enak dengan ucapannya kemarin kepada pria itu. Walaupun demikian, ia sudah mendapatkan maaf darinya, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi Iklima merasa tenang.
Hadwan nampak berjalan sendirian sembari menuruni anak tangga. Kebetulan, Iklima melihatnya dari jarak yang cukup dekat. Lantas, Iklima menghampirinya dan kali ini ia ditemani dengan kedua sahabatnya.
"Iklima kamu mau ke mana?" tanya Wardah karena melihat Iklima terus berjalan meninggalkan dirinya dan Naina.
Merasa tidak mendapatkan jawaban, Wardah tidak lagi banyak bertanya dan langsung mengikuti Iklima yang entah akan pergi ke mana.
Namun, setelah beberapa langkah, Iklima berhenti di bawah tangga yang sedang dituruni oleh Hadwan. Wardah dan Naina merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Iklima di sini.
"Iklima, kenapa kita berdiri di sini?" tanya Naina yang berhasil membuat Iklima mengalihkan tatapannya.
"Jangan banyak bertanya, biar nanti saja," jawab Iklima dan kembali melihat ke arah tangga.
Kebetulan pada saat itu Hadwan sudah berada di dekat Iklima. Namun, dia tidak sama sekali menyapanya sehingga membuat Iklima memangil namanya.
"Hadwan," panggil Iklima dan Hadwan langsung menghentikan langkah kakinya.
Melihat itu, Iklima bergegas menghampirinya. Hadwan nampak diam saja melihat Iklima yang sudah berasa di hadapannya.
"Terima kasih sudah memaafkanku," ucap Iklima dan Hadwan hanya menganggukkan kepalanya saja.
Di samping Iklima, Wardah dan Naina mendengarkan apa yang baru saja Iklima katakan kepada Hadwan.
Iklima yang kembali menyadari keberadaan dua orang sahabatnya segera melihat kepada keduanya dan berkata, "Kalian duluan saja, aku ingin membicarakan sesuatu dengan Kak Hadwan."
Wardah dan Naina saling pandang, merasa heran dengan sikap Iklima pada kali ini. Namun, Wardah cukup mengerti dan menuruti perkataan dari Iklima.
"Baik, Iklima. Kami duluan ke kelas," jawab Wardah sembari menarik tangan Naina yang masih berada di sana.
__ADS_1
"Tapi, Wardah ...," ucap Naina terputus karena Wardah langsung memotongnya.
"Iya, nanti saja Nai." Wardah kembali membawa Naina pergi dari sana dan meninggalkan Iklima bersama Hadwan.
Setelah kepergian Wardah dan Naina, Iklima kembali menghadap pada Hadwan. Dengan senyumannya yang manis, Iklima memulai pembicaraan di antara keduanya.
"Em ... setelah pembicaraan kita kemarin. Apa aku masih memiliki harapan untuk bisa menjadi pacarmu?" tanya Iklima.
"Tidak ada," jawab Hadwan ketus.
"Sedikit saja?" Iklima kembali bertanya.
"Tidak," jawab Hadwan masih sama.
"Kalau begitu setitik saja, masih ada kan?" Iklima terus berusaha membuat Hadwan bisa menjadi pacarnya.
Hadwan kembali menjawab, "Tidak! Mau berapa kali kamu mengatakannya, jawabanku tetap sama tidak akan bisa."
Iklima tidak menyerah sampai di situ saja, ia masih menggunakan cara lain untuk mendekati Hadwan.
"Kalau kamu terus menolakku, maka ajarilah aku bagaimana caranya menjadi wanita seperti yang Kak Hadwan inginkan," ujar Iklima sembari tersenyum tipis di hadapan Hadwan.
Iklima terdiam selama beberapa menit dan kembali menatap laki-laki yang berada di hadapannya.
"Kalau itu yang kamu mau, maka ajarilah aku untuk menjadi wanita pilihan yang dapat membuat hatimu luluh," ucap Iklima yang masih ingin mencoba mendekati Hadwan.
"Maaf, saya tidak ada waktu untuk mengajarimu hal yang seperti itu," balas Hadwan dengan melenggang pergi dari hadapan Iklima.
Iklima menatap kepergian Hadwan dengan perasaan yang bingbang, ia semakin dibuat penasaran akan sosok permuda itu. Dari mulai cara bicaranya, sikapnya, dan kelakuannya berhasil membuat Iklima tertarik untuk mendekatinya lebih jauh lagi.
"Aku akan tetap mendekatimu, Hadwan." Iklima menarik sudut bibirnya ke atas, menciptakan lengkungan indah seperti bulan sabit.
Beberapa saat kemudian, Iklima kembali ke dalam kelasnya dan belajar seperti biasanya sampai bel istirahat berbunyi.
Iklima dengan kedua sahabatnya berjalan keluar dari dalam kelas, berencana pergi ke kantin.
"Iklima, ada urusan apa kamu sama Hadwan? Sampai-sampai, kamu meminta kita berdua untuk meninggalkan kalian di sana," tanya Naina yang merasa penasaran akan kejadian tadi pagi di tangga dekat kelas dua belas.
Iklima melirik Naina sekilas, lantas menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, hanya berteman saja," jawab Iklima sembari tersenyum.
"Sepertinya jawaban yang kamu berikan itu kurang tepat," ucap Naina nampak berpikir keras untuk memastikannya.
"Apanya yang kurang tepat?" tanya Iklima pada Naina.
"Jangan-jangan ada hubungan spesial di antara Iklima dan Hadwan," terang Naina yang membuat Iklima membelalakkan kedua bola mata indahnya.
"Tidak ada!" senggah Iklima yang tidak mau dikatakan seperti itu oleh Naina, walaupun sebenarnya belum terpikirkan sampai situ juga oleh Iklima.
"Jangan bohong, Iklima." Naina terus membuat Iklima merasa terpojokkan.
"Beberan enggak bohong kok," ujar Iklima dan Wardah sudah mulai percaya kepadanya, sedangkan Naina belum.
"Yang benar?" tanya Naina kembali.
"Nai, sudah. Kasihan Iklima kalau terus kamu giniin. Banyak menguras waktu juga, mendingan kita cepet-cepet jalannya, soalnya aku sudah lapar," kata Wardah dan Naina berhenti mengintrogasi Iklima.
Beberapa jam kemudian, setelah masuknya jam istirahat, bel pulang sekolah pun berbunyi nyaring. Kali ini Wardah dan Naina pulang lebih dulu dari Iklima, sedangkan Iklima hanya menunggu ayahnya menjemput.
Namun, dari kejauhan Iklima melihat Hadwan berjalan. Rasa tertariknya akan laki-laki tersebut, berhasil membuat Iklima terhipnotis dengan sikap dan tutur katanya.
Sampai pada saat ingin melewatinya, Hadwan tetap menjaga pandangannya. Iklima yang merasa penasaran, tanpa disadari olehnya ia terus menatap laki-laki tersebut.
Terlalu fokus melihat Hadwan, gadis itu sampai tidak menyadari kalau di belakangnya ada kolam ikan. Maka, semakin Iklima mundur, semakin dekat juga Iklima dengan kolam tersebut.
Semakin Hadwan mendekat, perasaan Iklima menjadi tidak karuan. Sampai detik kemudian, Iklima terus mundur. Dan tiba-tiba saja Iklima kehilangan keseimbangannya, lalu tubuhnya masuk ke dalam kolam ikan yang terdapat air mancur indah di atasnya.
"Ah, tolong." Iklima meminta pertolongan karena tidak bisa keluar dari kolam ikan.
Hadwan yang melihat itu, tidak diam saja dan langsung bergegas membantu Iklima yang sedikit kesusahan keluar dari dalam kolam tersebut. Walaupun demikian, Hadwan sempat ragu untuk menggenggam tangan Iklima, tapi karena situasi yang darurat mengharuskan Hadwan melakukan itu untuk menolong Iklima.
Lantas dengan begitu, Hadwan pun menyodorkan tangan kanannya untuk membantu Iklima.
"Penganglah tanganku," ucap Hadwan.
Iklima yang sangat membutuhkan pertolongan, langsung saja mengenggam tangan kanan Hadwan. Iklima tidak menjawab dengan ucapan, tapi menerima dengan tindakan.
__ADS_1