
..."Ajarilah mereka bagaimana mengenal tuhannya, maka dia akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan dia yang mencintamu tidak akan pernah mengajakmu ke jalan yang salah, dia akan lebih membingbingmu untuk menjadi wanita yang sempurna dan pantas dijadikan madrasah pertama untuk keturunannya kelak."...
...~~~...
Iklima terdiam mendengar perkataan dari Hadwan. Gadis itu belum mengerti maksud perkataan dari laki-laki tersebut, tapi dia tahu kalau Hadwan mempunyai niat baik terhadap dirinya.
"Aku tidak yakin bisa," ucap Iklima dengan lirih.
"Sudah, sekarang kamu pulang saja. Sekolah sudah sepi, takut terjadi hal yang tidak diinginkan kepadamu, maka segeralah pulang ke rumah," ucap Hadwan yang kemudian membuat Iklima kembali menatapnya.
Iklima menggelengkan kepalanya. "Kamu saja yang pulang, aku masih ingin di sini," ucap Iklima.
"Aku juga tidak akan pulang sampai kamu lebih dulu memutuskan untuk pulang," sahut Hadwan yang ikut memutuskan.
"Kamu pulang saja, aku perlu kesendirian untuk mendapatkan ketenangan," ujar Iklima dengan sendu.
"Aku tahu tempat yang bisa membuatmu tenang," ucap Hadwan, lantas Iklima langsung menoleh kepadanya.
"Di mana?" tanya Iklima sedikit penasaran.
"Aku akan menunjukkan tempatnya, tapi kamu harus ikut denganku," ucap Hadwan yang membuat Iklima diam.
"Kakak tidak akan macam-macam sama aku, kan?" tanya Iklima penuh selidik.
Hadwan menautkan kedua alisnya heran. "Insya Allah, aku enggak akan ngapa-ngapain kamu," ucap Hadwan.
Iklima yang mendengar itu merasa lega karena Hadwan tidak punya niat buruk kepadanya.
"Baiklah, aku mau ikut denganmu," kata Iklima sembari berdiri dari kursi yang ditempatinya.
"Tapi tunggu dulu!" Hadwan menahan dulu Iklima.
"Ada apa?" tanya Iklima merasa heran.
"Sebelum itu, kamu harus menghubungi orang tuamu dan meminta izin kepadanya," kata Hadwan yang membuat Iklima tersenyum.
"Hah, kirain apa. Ya udah, aku telpon dulu Mamaku," balas Iklima masih tersenyum. Ia mulai membuka tasnya, lalu menghubungi nomor mamanya.
__ADS_1
Hadwan hanya diam saja dan merasa senang melihat Iklima bisa kembali lagi tersenyum, walaupun sebelumnya sangat sedih.
"Assalamualaikum, Ma." Iklima memulai panggilan dengan Mama Nadira.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Iklima?" tanya Mama Nadira di sebrang sana.
"Ma, Iklima mau minta izin Mama," ucap Iklima dengan sedikit ragu.
"Izin apa?" tanya Mama Nadira memastikan.
"Bolehkah Ma, Iklima pergi sebentar bersama dengan teman sekolah?" tanya Iklima dengan hati-hati, ia berharap Mama Nadira mengizinkannya.
"Sama perempuan atau laki-laki?" tanya Mama Nadira, ia takut putrinya pergi ke mana saja.
"Emm ... laki-laki, Ma." Iklima mulai resah, takut mamanya tidak jadi mengizinkannya pergi.
"Tidak! Mama tidak akan mengizinkan kamu pergi dengan seorang laki-laki, itu bahanya." Nampak nada tidak suka dari Mama Nadira.
"Tapi, Ma ...," ucap Iklima membujuk.
"Hem, baiklah. Mama mau berbicara dengan laki-laki itu," ucap Mama Nadira yang mulai luluh.
"Ini, bicaralah dengan Mamaku. Mama aku ingin berbicara denganmu," ucap Iklima yang membuat Hadwan menerimanya.
Setelah itu, Hadwan langsung saja berbicara dengan Mama Nadira. "Assalamualaikum, Tante," ucap Hadwan yang langsung membuat Mama Nadira yang berada di sebrang sana, tersenyum mendengarkan suaranya.
"Wa'alaikumsalam. Nak, apa betul kamu ingin mengajak Iklima pergi?" tanya Mama Nadira dengan suara lembut.
"Iya, Tante. Saya ingin mengajaknya pergi sebentar dan tidak akan lama-lama. Apa Tante bersedia mengizinkannya?" Hadwan langsung mengucapkan tujuannya kepada Mama Nadira.
Mama Nadira tersenyum di sebrang sana, setelah mendengar jawaban dari Hadwan yang sangat memastikan. "Baik, Mama mengizinkannya, tapi kamu harus menjaga putri Mama dengan baik. Dan ingat! Jangan sampai malam pulangnya," jawabanya yang langsung mengizinkan Hadwan pergi membawa Iklima.
"Baik, Tante. Terima kasih sudah mempercayai saya," ujar Hadwan dengan tersenyum dan senyuman itu sangat manis. Bahkan Iklima sampai terpesona melihatnya.
"Iya, sama-sama." Mama Nadira sangat menyukai cara bicara Hadwan.
"Assalamualaikum," ucap Hadwan sebelum mengembalikan ponselnya kepada Iklima.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Nadira dengan perasaan yang mulai kembali tenang.
"Sudah?" tanya Iklima pada saat Hadwan menyerahkan ponselnya.
"Iya," jawab Hadwan singkat.
Dengan begitu, Iklima menerima ponselnya kembali dan menyimpannya ke dalam tas. "Lalu bagaimana? Mamaku mengizinkannya enggak?" tanyanya penasaran.
Hadwan langsung mengangguk. "Iya, Mamamu sudah mengizinkan saya membawa pergi putrinya," jawab Hadwan yang langsung membuat Iklima mematung tidak percaya.
"Benarkah itu? Mama percaya sama kamu?" tanya Iklima sekali lagi. Ia masih tidak menyangka bahwa mamanya mau mengizinkan dirinya pergi dengan seorang laki-laki, padahal Mama Nadira sudah sangat marah sebelumnya.
"Iya, kalau tidak percaya. Coba telpon kembali Mama kamu," ucap Hadwan yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Iklima.
"Tidak perlu, aku sudah percaya kok," balas Iklima karena dari ucapan Hadwan sudah sangat memastikannya, sehingga tidak perlu lagi menghubungi mamanya kembali.
"Kalau begitu, ayo." Hadwan langsung berjalan meninggalkan Iklima yang masih berdiri di tempatnya.
"Eh, iya tunggu." Iklima berlari mengikuti Hadwan. Namun, setelah Iklima berada di samping pria itu. Hadwan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
"Kenapa berhenti?" tanya Iklima. Ia tidak mengerti dengan tindakan Hadwan baru saja.
"Ikutilah aku dari belakang, maka aku akan kembali melanjutkan perjalanannya," ucap Hadwan yang membuat Iklima kaget.
"Kenapa gitu? Bukanya Kak Hadwan yang ingin mengajak aku pergi, tapi kenapa harus berjalan di belakang seperti dua orang yang tidak saling mengenal?" tanya Iklima dengan wajah yang cemberut karena menyangka bahwa Hadwan sengaja menganggapnya sebagai orang asing.
Hadwan terdiam sebentar dan mengatakan, "Seorang perempuan lebih baik berjalan di belakang laki-laki dari pada di dapan, maka dia akan lebih terjaga."
"Tidak harus di depan juga, kan di samping kamu juga bisa," ucap Iklima dengan wajah yang nampak kebingungan.
"Di samping itu akan menimbulkan fitnah karena kita bukan mahram," sahut Hadwan dengan nada suara yang dingin.
"Enggak akan, Kak. Kan semua orang tidak tahu jika kita itu bukan mahram dan tidak perlu takut karena itu hal yang lumrah dan sudah biasa di sini. Banyak juga yang pacaran, mereka asik-asik aja berduaan tanpa ada yang menegurnya," kata Iklima dan Hadwan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Seketika Hadwan membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan Iklima. "Bukan seperti itu, tapi yang seperti ini. Memang orang lain tidak tahu, tapi Allah tahu," ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Barulah dari sini Iklima mulai mengetahui maksud dari perkataan Hadwan, ia tahu kalau selama ini Hadwan memiliki banyak kelebihan yang selalu tertutup. Dari mulai cara bicara dan tingkah lakunya saja, Iklima sudah banyak belajar darinya.
__ADS_1
"Baik, aku akan tetap berjalan di belakangmu," ucap Iklima, sehingga membuat Hadwan kembali membalikan tubuhnya ke depan dan melanjutkan langkahnya.