
..."Dirimu membuatku gelisah akan hati ini, seakan-akan ada sebuah magnet yang menarik diriku untuk mengenalmu lebih jauh lagi."...
...~~~...
Malam harinya, Ayah Adam duduk di samping putrinya yang sedang menongton televisi. Lantas, Iklima menatap wajah Ayah Adam pada saat ia bersuara.
"Iklima, coba cerita sama Ayah. Kamu tadi di mobil kenapa diam saja?" tanya Ayah Adam yang sudah curiga, karena melihat tingkah Iklima yang tidak seperti biasanya.
"Enggak papa, Ayah. Iklima baik-baik saja, tidak ada yang perlu diceritakan," jawab Iklima yang hanya memasang wajah imutnya saja.
"Yakin, enggak papa?" tanya Ayah Adam kembali.
"Iya, Ayah," jawab Iklima sembari mencubit pipi kanan Ayah Adam.
Ayah Adam tersenyum dengan tingkah Iklima yang masih sama seperti dulu. "Baiklah, dan jika ada masalah. Iklima cerita saja sama Ayah ya. Jangan dipendam sendiri," ujar Ayah Adam soraya mengusap kepala putrinya.
"Oke, Ayah." Iklima langsung memeluk tubuh Ayah Adam yang sangat menyayanginya.
"Ya sudah, Ayah mau nemuin Mama kamu dulu ya. Jangan tidur malam, ingat besok Iklima harus ke sekolah!" imbuh Ayah Adam, dan Iklima menjawabnya dengan anggukan kepala saja.
...****************...
Pagi hari, matahari sudah mulai terbit, menyambut hari dengan begitu cerah. Di sebuah kamar yang cukup luas itu, telihat seorang gadis cantik tengah merapihkan pakainya.
Seperti biasanya, Iklima sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, dengan diantarkan oleh ayahnya.
__ADS_1
"Tok! Tok! Tok!"
Terdengar ketukan pintu dari kamar Iklima yang tidak lain disebabkan oleh Mama Nadira. Di mana, setiap akan berangkat ke sekolah, Mama Nadira selalu mengabarinya bahwa Ayah Adam akan segera mengantarkannya ke sekolah.
"Iklima, Ayah sudah menunggu di luar. Jangan lama-lama, nanti telat ke sekolahanya!" peringat Mama Nadira pada Iklima yang masih menyiapkan tas gendongnya.
"Iya, sebentar lagi Iklima keluar, Ma," jawab Iklima sembari merapihkan kembali pakaiannya.
Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi. Iklima segera menemui Ayah Adam yang bersama mamanya. Lantas, ia pun mencium punggung tangan Mama Nadira, dan berpamitan kepadanya. Begitu pula dengan Ayah Adam yang sama selalu berpamitan kepada istrinya.
"Mama, Iklima berangkat sekolah dulu ya," ucap Iklima yang langsung diangguki oleh Mama Nadira.
"Iya sayang, hati-hati di jalannya. Ayah juga hati-hati," balas Mama Nadira sembari tersenyum manis, bagaikan oromanis.
"Assalamualaikum, Ma. Jaga diri di rumah ya," ucap Ayah Adam dan Mama Nadira hanya membalasnya dengan senyuman.
Mobil mewah Ayah Adam, kini sudah mulai meninggalkan kawasan rumah besar tersebut. Mama Nadira hanya melihat mobil suaminya untuk memastikan saja, kemudian kembali lagi ke dalam rumah.
***
Sesampainya Iklima di SMAN Galaksi, ia segera menghampiri kedua sahabatnya yang menunggu dirinya di dekat gerbang, karena kebetulan juga Naina dan Wardah baru sampai sekolah.
"Kalian ada di sini? Lama nunggu aku ya?" tanya Iklima dengan penampilan sangat rapih dan cantik. Siapa saja yang melihatnya akan sangat terpesona oleh primadona sekolah tersebut.
"Enggak kok, kita berdua juga baru sampai," jawab Wardah sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oh gitu," ujar Iklima dan Naina langsung memegang tangannya.
"Yuk kita segera ke kelas, di sini sudah mulai panas," ajak Naina kepada Iklima yang sangat mengerti.
"Iya, ayo." Iklima mulai melangkahkan kakinya kembali yang tidak luput dari perhatian siswa.
Dari kejauhan, banyak siswa yang melihat Iklima dan menyukainya. Dari mulai kelas sepuluh sampai kelas dua belas, banyak yang mengangumi Iklima.
Bukan hanya itu, wajahnya yang sangat cantik mampu menarik perhatian para lelaki yang ada di sekolah sana. Terkadang, Iklima merasa risih dengan tatapan para siswa yang menyukainya, tapi karena sudah biasa. Jadi, ia mulai terbiasa dengan perlakuan yang seperti itu.
Walaupun demikian, Iklima sering kali mendapatkan banyak pujian dari teman-temannya, tatapi ia tidak sampai menjadi orang yang sombong, karena ia juga tahu kalau perbuatan itu tidak baik.
Didikan dari kedua orangtuanya membuat Iklima tumbuh menjadi anak yang pintar, dan rendah hati sehingga banyak orang yang sangat menyukainya.
"Iklima, kemarin aku lihat kamu menemui Hadwan, terus kamu mau apa?" tanya Naina, masih berjalan menuju kelas.
"Emm ... enggak ada apa-apa, cuman ada sedikit urusan saja," jawab Iklima yang bersikap santai, walaupun sebenarnya sedang gelisah.
"Oh, urusan apa?" tanya kembali Naina yang membuat Iklima semakin gelisah.
"Kamu tidak perlu tahu, karena tidak terlalu penting juga," jawab Iklima sedikit menegaskan.
Tidak lama dari itu, seseorang yang dibicarakannya melewati meraka bertiga, dengan ekspresi datar, dan kepala yang selalu tertunduk.
Hal itu sangat membuat Iklima semakin tertarik untuk mengenal laki-laki tersebut. Meskipun begitu, Hadwan terbilang aneh, tetapi menurut Iklima, itu adalah hal yang sangat langka.
__ADS_1