
..."Bertemu denganmu bagaikan mimpi, lewat tatapanmu mampu membuat diriku merasa risau akan hati ini. Berharap bisa mencintaimu tanpa henti, dan menyanyangimu tanpa tapi."...
...~~~...
Iklima sudah kembali ke dalam kelasnya dan belajar seperti biasanya.
Beberapa menit kemudian, bel sekolah berbunyi. Iklima dan kedua sahabatnya bersama-sama keluar dari dalam kelas. Meraka bertiga menghampiri orangtuanya, setelah melihatnya di halaman sekolah.
Iklima yang melihat ayahnya berada di luar gerbang sekolah, ia mengembangkan senyumannya tatkala Ayah Adam tersenyum kepadanya.
Lantas, Iklima pun berjalan menghampiri ayahnya dengan perasaan yang sangat bahagia, walaupun sebelumnya sempat kurang baik.
"Ayah," ucap Iklima sembari memeluk tubuh Ayah Adam dengan sangat erat, walupun masih banyak siswa yang berada di sekolah tersebut. Iklima tidak sama sekali merasa malu, karena kebiasaannya yang seperti itu.
Sampai seketika, Iklima sudah berada di dalam mobil. Dan pada saat di perjalanan, Ayah Adam mulai membuka suara, dengan menghilangkan keheningan.
"Iklima, nanti malam Ayah akan mengajakmu untuk menemui seseorang, dan mengenalkannya kepadamu," ucap Ayah Adam sembari melirik putrinya yang juga menatap kepadanya.
"Ayah ingin mengajak Iklima ke mana?" tanya Iklima penasaran.
"Restoran," jawab Ayah Adam secara spontan sehingga membuat Iklima menyetujuinya, walaupun tidak tahu akan bertemu dengan siapa di sana.
Dua puluh menit kemudian, Iklima dan ayahnya sudah sampai di depan rumah mewah mereka. Lantas, Mama Nadira tersenyum lebar melihat kepulangan suami serta anaknya.
"Assalamualaikum, Mama," ucap Iklima serta langsung memeluk tubuh Mama Nadira yang tengah berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Nadira sembari membalas pelukan hangat dari putrinya.
Ayah Adam melihat suasana yang seperti itu hanya bisa mengembangkan senyuman indahnya, merasa sangat senang dengan keharmonisan keluarganya.
"Mama, apa malam ini kita akan pergi ke restoran?" tanya Iklima sembari menatap sendu wajah cantik mamanya.
Mama Nadira tersenyum dan mengelus lembut rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Iklima. Ayahmu ingin bertemu dengan rekan bisnisnya di restoran itu," jawab Mama Nadira.
__ADS_1
"Oh, lalu kenapa Iklima juga diajak menemuinya, Ma?"
Mama Nadira tidak kuasa menahan rasa gemasnya terhadap putri cantiknya itu, lantas ia pun mencubit pelan pipi mulus Iklima.
"Ah, sakit Ma!" rintih Iklima sembari memegangi pipinya yang terkena cubitan dari tangan Mama Nadira.
"Maaf, Iklima. Mama terlalu gemas kepadamu," ujar Mama Nadira dengan merasa bersalah.
"Jadi, rekan bisnis ayahmu juga membawa keluarganya, sehingga beliau mengundang Ayah untuk membawa kita sembari mengenalkannya kepada keluarga rekan bisnis Ayah," jelas Mama Nadira sehingga membuat Iklima mengerti.
"Oh gitu. Kalau begitu, Iklima siap-siap dulu, Ma." Iklima langsung berjalan dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Melihat hal itu, Mama Nadira dan Ayah Adam hanya tersenyum dengan sikap putrinya yang lugu, dan menggemaskan. Walaupun demikian, Iklima sudah besar dan tidak perlu banyak aturan, tetapi Iklima tidak seperti itu, ia selalu mematuhi ucapan dari kedua orangtuanya.
***
Sesaat kemudian, Iklima sudah siap dengan gaun indahnya, dan penampilannya yang sangat cantik. Begitu pula dengan Mama Nadira, dia juga terlihat sangat cantik dengan gamisnya.
Ingin sekali Iklima menjadi seperti mamanya, tepi ia belum sanggup untuk melakukan itu karena masih banyak hal yang membuatnya belum sepenuhnya bisa menutupi tubuhnya.
Perlahan, gadis cantik itu berjalan menuruni anak tangga, sedangkan Mama Nadira dan Ayah Adam menunggu putrinya dengan penuh kesabaran.
"Terima kasih, Ma." Iklima tersenyum kepada Mama Nadira dan berkata," Mama juga cantik."
Mama Nadira hanya membalasnya dengan senyuman saja.
"Sudah siap, kan? Ayo kita berangkat." Ayah Adam bersuara, sehingga membuat perbincangan terhenti.
Iklima dan Mama Nadira langsung masuk ke dalam mobil, dengan Iklima yang duduk di kursi belakang, sedangkan Mama Nadira di kursi depan bersama dengan ayahnya.
Mobil mewah itu pun melaju dengan kecepatan stabil, menerobos jalanan yang begitu ramai dengan kelap kelip cahaya dari mobil dan motor para pengendara lainnya.
Ditemani dengan dinginnya malam hari, membut malam itu menjadi sangat berkesan untuk bersantai, dan berkumpul bersama keluarga.
Beberapa saat kemudian, mobil Ayah Adam berkehenti di depan restoran yang cukup besar, dan terlihat banyak pengunjung di dalam sana.
__ADS_1
Iklima dan kedua orangtuanya keluar dari dalam mobil, sembari berjalan memasuki restoran tersebut. Dengan itu, pandangan Iklima sangat berbeda. Wajahnya sangat berseri tatkala melihat setiap inci dari restoran tersebut, dengan hiasan yang sangat indah, dan aksesoris yang menambah kesan menarik.
Walaupun restoran itu tidak terlalu terkenal, tetapi dapat disimpulkan bahwa restoran ini memang sangat nyaman dan enak untuk dikunjungi.
Ayah Adam dengan istri dan anaknya duduk di kursi yang sudah ada rekan bisnis Ayah Adam di sana. Untuk itu, Iklima hanya bisa bersikap sopan pada saat berkenalan dengan rekan bisnis ayahnya.
Tanpa disadari oleh Iklima, rekan bisnis Ayah Adam itu adalah ayahnya Ikbal. Oleh karena itu, ayah Ikbal mengatur pertemuannya dengan Ayah Adam di restoran milik Hadwan dan kakaknya.
Karena itu, Ikbal sering mengunjungi restoran milik Hadwan dan mengenalkannya kepada ayahnya. Setelah itu, ayah Ikbal sangat menyukai restoran tersebut, ditambah dengan makanannya yang sangat enak, membuat daya tarik tersendiri dari restoran tersebut.
"Maaf menunggu lama," ucap Ayah Adam sembari menjabat tangan ayahnya Ikbal.
"Tidak papa, Tuan Adam. Saya juga belum lama sampai di sini bersama dengan istri dan anak saya," balas Tuan Aldi—ayahnya Ikbal, dan merupakan rekan bisnis Ayah Adam.
"Oh, kalau begitu di mana putramu? Saya tidak melihatnya di sini," tanya Ayah Adam.
Tuan Aldi menoleh ke belakang, dan melihat putranya yang beru saja keluar dari arah dapur restoran.
"Ini putra saya, namanya Ikbal." Tuan Aldi memperkenalkan putranya kepada Ayah Adam dan keluarganya.
Iklima hanya tersenyum saat berkenalan dengan Ikbal, karena sudah lebih dulu kenal, sehingga tidak menimbulkan rasa apa-apa.
Laki-laki yang bernama Ikbal itu milirik perempuan cantik yang tidak lain adalah Iklima, ia terlihat terpesona dengan penampilan Iklima pada malam ini. Namun, pikiran itu sudah dihadang jauh-jauh olehnya, karena Ikbal sangat yakin kalau Iklima hanya akan menyukai Hadwan.
"Perkenalkan juga, ini istri saya, dan itu putriku Iklima," ucap Ayah Adam dan Iklima teseyum kepada kedua orangtuanya Ikbal.
Belum lama berbincang, seorang laki-laki dengan membawa nampan berisikan makanan datang ke meja mereka, dan menghidangkan makanan yang spesial kepada tamu istimewa itu.
"Selamat menikmati, dan semoga suka," kata laki-laki tersebut.
Iklima yang mendengarkan suara itu langsung terdiam. Dia sangat mengenali suaranya, lantas Iklima pun menegakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara tersebut.
Deg! Kedua netra indah gadis cantik itu menatap wajah dari pemuda tersebut, dan saling memandang dengan rasa yang sulit diucapkan.
Iklima sangat terkejut melihat Hadwan ada di sana, dengan penampilan sederhana, dan senyum yang ramah. Akan tetapi, hilang seketika setelah menatap wajah cantik Iklima.
__ADS_1
Bagitu pula dengan Hadwan yang hanya menundukkan kepalanya kembali, dan melenggang pergi dari hadapan mereka.