Hadwan

Hadwan
Bab 30 : Semakin Lebih Baik


__ADS_3

..."Adanya pertemuan, ada juga kepergian. Datang dan pergi sudah biasa, sedangkan menanti membutuhkan kenyakinkan dan ketetapan. Menanti itu lama, tapi akan serasa sederhana jika bersama orang yang mampu membuatmu sempurna."...


...~~~...


Lima Tahun kemudian


Setelah lima tahun semenjak kepergian Hadwan ke Amerika, Iklima kini sudah banyak berubah. Semakin hari gadis itu mempelajari banyak hal, banyak perubahan dan itu terjadi sampai sekarang. Dari mulai pakaian, penampilan, sikap, perilaku, akhlak dan tutur katanya mulai sangat sopan dan anggun.


Sampai-sampai kedua sahabatnya juga ikut merasa bangga punya sahabat yang selalu mengingatkannya akan salah dan benar, selalu memberikan ilmu yang ia tahu kenapa kedua sahabatnya, yakni Wardah dan Naina.


Mereka selalu saling melengkapi, enggak lagi berantem. Selalu bersama layaknya sahabat yang tak pernah terpisahkan, saling mendukung satu sama lain. Seperti itulah persahabatan mereka. Sangat indah bukan? Ya begitulah meraka, sahabat selamanya.


Hari ini Iklima sedang berada di masjid yang sempat dulu ia kunjungi bersama Hadwan, sewaktu itu juga dia bertemu dengan Anisa yang sedang mengajar anak-anak ngaji. Selama ini juga Iklima sering ke sana untuk mengajar anak-anak juga, membantu Anisa dan banyak belajar dari kakaknya Hadwan itu.


Di saat Anisa mengajar, Iklima selalu memerhatikannya sampai ia bisa ikut mengajar. Sekarang juga Iklima sedang mengajar anak-anak kecil, tapi tidak lama dari itu ada seorang laki-laki datang dan menghampiri keduanya.


"Assalamu'alaikum," ucap seorang laki-laki tampan yang terbilang masih muda. Dengan tubuh tinggi semampai dan badan tegap, penampilannya pun sangat sopan seperti seorang ustaz dan emang benar dia seorang ustaz.


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh," jawab Anisa dan Iklima. Keduanya terlihat keheranan dengan kedatangan laki-laki asing itu, tapi lain halnya dengan laki-laki itu. Dia terlihat santai saja karena dia juga punya alasan tertentu datang ke sana.


"Maaf sebelumnya, anda siapa?" tanya Anisa tiba-tiba, karena dari awal dia mengajar di masjid itu, tidak pernah sekali pun bertemu dengan pria yang kini berada di hadapannya itu. Bahkan mengenalnya pun tidak sama sekali.


"Oh, perkenalkan saya Mujaki, kedatangan saya ke sini untuk menggantikan Ustaz yang akan pergi cukup lama ke tempat lain. Saya mendapatkan amanah darinya untuk mengajar dan menggantikannya di sini. Selain itu, saya juga diminta untuk berkenalan dengan Anisa Humaira. Apakah di antara kalian ada yang bernama Anisa Humaira?" tanya pemuda itu secara tiba-tiba.


Anisa pun menetap pemuda itu dan berkata, "Saya Anisa, ada perlu apa anda dengan saya?" tanya balik Anisa pada pria itu.


"Oh tidak ada, aku hanya diminta untuk mengenalmu saja karena katanya kamulah yang sering mengajar di sini dan Ustaz juga meminta saya untuk tetap membiarkan kamu di sini, mengajar anak-anak ngaji seperti ini," jawab Mujaki dengan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Oh bagitu, baiklah. Selamat datang di sini Ustaz Mujaki. Anak-anak, coba salam sama Ustaz baru kita," pinta Anisa pada murid-muridnya yang pada nurut semuanya. Bahkan Mujaki saja langsung senang dengan sambutan yang Anisa berikan kepadanya.


"Baik, Ustazah." Setelah kompak menjawab itu, semua murid Anisa pun silih bergantian menyalami punggung tangan pemuda itu.


Mujaki sangat senang dengan kedatangannya ke Masjid An-Nur ini, ia dipertemukan dengan seorang wanita cantik yang tidak hanya cantik dari luar saja, melainkan hatinya juga sangat cantik dan bersih seperti nur. Cahaya yang terpancar di sisi mana pun.


Setelah itu, Mujaki hanya melihat dan memerhatikan Anisa juga Iklima yang sedang mengajari anak-anak mengaji. Tanpa disadarinya, ia tersenyum pada saat melihat Anisa yang dengan sabar mengajari anak-anak mengaji. Suaranya juga begitu indah, sehingga membuat Mujazi begitu kagum.


***


Satu jam pun telah berlalu, kini waktunya Iklima dan Anisa kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, sebelum itu Mujaki langsung menghampirinya dan berbincang sebentar.


"Maaf Anisa, terima kasih ya untuk tadi," ujar Mujaki pada Anisa.


"Iya, apa?" tanya balik Anisa yang baru menyadari kehadiran Mujaki yang berada tepat di hadapannya.


"Terima kasih untuk tadi atas


"Oh itu, sama-sama. Lagi pula udah sepantasnya kamu mendapatkan hal yang lebih dari itu," kata Anisa dengan lembut.


"Seperti tadi saja sudah lebih dari sempurna bagi saya," balas Mujaki dengan tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya. Maaf tidak bisa lama-lama di sini," ucap Anisa dengan menundukkan pandangannya.


"Iya enggak papa, biar saya antar ke depan." Mujaki pun langsung berjalan di depan kedua wanita itu, karena dia tahu bahwa seorang laki-laki dan perempuan lebih baik jika jalan kaki, laki-laki yang di depan karena kalau perempuan itu tidak diperbolehkan.


Sampai di luar masjid, Anisa dan Iklima pun lantas meninggalkan masjid itu dengan mengucapakan salam terlebih dahulu kepada Mujaki.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Anisa dan Iklima bersamaan.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalannya ya," ucap Mujaki.


"Baik Ustaz, sampai jumpa lagi besok," ucap Iklima karena Anisa hanya menunduk saja.


Setelah itu pun sepanjang jalannya, Iklima tidak ada hentinya menggoda Anisa karena tingkahnya itu membuat Anisa semakin malu.


"Kak Anisa kayaknya Ustaz baru itu menyukai Kakak deh," kata Iklima pada Anisa sewaktu di di angkutan umum.


"His, kamu ada-ada saja. Enggak mungkin lah Iklima," sahut Anisa dengan sedikit malu.


"Tapi kelihatannya iya deh Kak. Coba Kak Anisa perhatikan saja cara bicara dia ke aku dan Kakak, beda banget. Terus matanya terlihat memperhatikan Kak Anisa terus tuh," ucap Iklima yang membuat Anisa hanya tersenyum saja.


"Sudahlah Iklima, kita jangan menilai orang tanpa bukti seperti itu. Gak baik ya," kata Anisa menasihati.


"Iya Kak Anisa, maaf ya. Enggak lagi, tapi cie-cie pasti iya," goda Iklima yang membuat Anisa kembali tersenyum.


"Apa sih, udah deh Iklima." Kelihatanya Anisa sangat malu sampai menghindar begitu.


"Cie-cie, tar hati-hati loh Kak. Tiba-tiba dilamar," goda Iklima sembari menyenggol pundak Anisa.


"Eh, kamu ya Iklima! Bisa aja," ujar Anisa yang semakin malu.


"Iklima tunggu ya undangannya." Iklima mengedipkan satu matanya yang membuat Anisa kembali merasa sangat malu.


"Udah loh Iklima, jangan gitu mulu. Belum tentu ya," kata Anisa menghindar.

__ADS_1


"Iya enggak lagi kok," ucap Iklima sembari tersenyum.


Keduanya terlihat begitu sangat akrab sekarang, selama Hadwan di Amerika. Kini yang selalu menemani Anisa adalah Iklima, ia sering ke masjid untuk mengajar bersama Anisa, tak jarang juga dia membantu Anisa di restoran. Maka dari itu, keduanya kini semakin dekat dan akrab sudah seperti adik kakak.


__ADS_2