
..."Jangan merasa bangga dengan apa yang kita miliki, semua itu hanyalah sementara dan suatu saat bisa hilang tanpa disadari. Mau itu tahta, kekayaan, dan kekuasaan. Semua itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan akhlak yang mulia. Banyak harta, tapi akhlaknya buruk tidak menjamin dihargai. Namun sebaliknya, jika tidak punya harta, tapi akhlaknya bagus, maka akan dapat disegani."...
...~~~...
Setelah keributan tadi, guru bk langsung memanggil Daniel dan Hadwan serta Iklima ke ruangannya. Namun, baru Daniel saja yang berada di ruang bk, sedangkan Iklima dan Hadwan berada di ruang uks karena mengobati luka di bagian wajah Iklima yang jika dibiarkan akan semakin memerah.
Di ruang uks, Hadwan masih menemani Iklima dan membantunya untuk mengobati luka di wajah cantiknya.
"Tahan sakitnya sebentar ya, mungkin ini akan sedikit sakit ketika sudah menyentuh permukaan kulit wajahmu," ucap Hadwan sembari menuangkan obat merah ke selembar tisu, lalu menyentuhkannya kepada wajah Iklima yang memar.
"Ahgg ...," desis Iklima karena merasakan sakit di bagian pipi kanannya.
"Eh, maaf ... tahan dulu ya," ucap Hadwan kembali menempelkan tisu yang sudah diberikan obat merah itu kepada wajah Iklima.
Iklima hanya bisa menuruti ucapan Hadwan, walaupun tidak dipungkiri bahwa rasa sakitnya masih terasa. Namun, ia tidak mau membuat Hadwan mengkhawatirkannya lagi, sehingga sebisa mungkin ia menahan rasa sakit itu.
"Sudah selesai," ucap Hadwan sembari meletakan kembali tempat obatnya.
"Sakitnya hanya sebentar, lama-kelamaan enggak akan terasa sakit lagi kok," lanjut Hadwan dan tidak sengaja matanya beradu pandang dengan Iklima.
"Astaghfirullah," ucap Hadwan pelan dengan menundukkan pandangannya dari Iklima.
"Kenapa?" tanya Iklima heran karena melihat Hadwan langsung berubah seperti itu.
"Maaf, enggak papa," jawab Hadwan sedikit tidak karuan.
Melihat wajah Hadwan yang seperti itu, Iklima mengurunkan niatnya untuk tidak jadi bertanya kembali kepadanya. Menit kemudian, Hadwan angkat bicara yang langsung mendapatkan respon cepat dari Iklima.
"Maafkan aku ya, kamu jadi mendapatkan pukulan dari Daniel," ucap Hadwan dengan penuh rasa bersalah.
"Iya tidak papa, ini juga salahku dan seharunya aku yang minta maaf kepadamu karena sudah ikut terlibat dalam urusan aku dan Daniel." Iklima malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku tidak akan diam saja jika ada seorang laki-laki yang macam-macam kepada perempuan," ucap Hadwan dengan yakin.
Iklima tersenyum mendengarkan ucapan Hadwan barusan, itu berarti Hadwan sudah mulai melindunginya walaupun tanpa kata yang disampaikan.
"Emm ... terima kasih juga sudah membawaku ke sini dan membantu mengobati lukaku," ucap Iklima sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sama-sama, semoga lekas sembuh lukanya meskipun tidak dapat dipastikan bahwa luka di wajahmu dapat sembuh dalam waktu satu atau dua hari, tapi yang pasti. Luka itu akan sembuh tidak akan lama lagi, seiring dengan berjalannya waktu," jawab Hadwan. Laki-laki itu mulai paham dengan kondisi Iklima.
"Aamiin, terima kasih doanya, Kak." Iklima hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Hadwan, tidak perduli orang-orang yang akan menghinanya. Sekarang Iklima hanya ingin sembuh, masalah penampilan tidak perlu dipikirkan.
"Tok, tok, tok!" Suara pintu diketuk dari luar dan munculah seorang perempuan yang tidak lain adalah Wardah.
"Permisi, maaf mengganggu. Iklima, kamu sudah baik-baik saja, kan?" tanya Wardah sembari membuka pintunya sedikit lebar karena sebelumnya hanya terbuka sedikit.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Iklima.
"Sirius? Lukanya enggak parah, kan?" tanya Wardah khawatir.
"Iya, alhamdulillah tidak terlalu parah dan insya allah akan segera sembuh," jawab Iklima soraya melirik Hadwan yang hanya diam saja di samping kanan Iklima.
"Syukurlah kalau begitu, aku dan Naina mengkhawatirkan kamu sedari tadi, takut kamu kenapa-kenapa," ujar Wardah dengan wajah yang murung.
Iklima menarik bibirnya ke atas sehingga membentuk senyuman indah. "Sekarang di mana, Naina?" tanyanya karena tidak melihat Naina di samping Wardah.
"Naina ada di kelas, dia tidak diizinkan keluar kelas karena ada tugas, sedangkan aku sudah selesai dan diminta untuk memanggilmu ke—" ucap Wardah terhenti, ia menggigit bibirnya. Terlihat jelas kalau dia sedang ragu-ragu.
"Ke mana?" tanya Iklima dengan sedikit penasaran karena Wardah tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Ruang BK? Untuk apa?" tanya Iklima sekali lagi karena tidak mungkin guru bk memanggilnya jika tidak ada masalah, pasti ada masalah.
"Kurang tahu, soalnya tentang keributan tadi di loby. Kejadian itu dilaporkan oleh salah satu siswa kepada Guru, sehingga Guru BK mengetahuinya dan langsung membawa Daniel ke ruangannya," jelas Wardah tanpa pengecualian.
"Oh, lalu?" Iklima kembali bertanya.
"Lalu ... kalian berdua juga disuruh datang ke Ruangan Guru BK," jawab Wardah.
"Baiklah, saya akan segera ke sana," ucap Hadwan yang langsung membuat Iklima dan Wardah menatapnya.
"Tapi, Kak ...," ucap Iklima khawatir.
"Sudah, kamu jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja," seru Hadwan yang membuat Iklima kembali tersenyum.
...****************...
__ADS_1
Ruangan BK
"Sudah berulang kali kamu membuat ulah di sekolah ini, Daniel! Apa kamu tidak kasihan kepada Ayahmu yang sudah berulang kali harus menahan malu atas kelakuanmu itu?" Nampak guru bk memarahi Daniel yang selalu membuat onar di sekolah.
"Terserah akulah. Sekolah, sekolah Ayahku. Aku bebas melakukan apa saja di sini. Bahkan, memecat Ibu juga aku bisa," ucap Daniel enteng yang di mana ucapannya itu membuat guru bk semakin marah besar kepadanya.
"Kamu ya!" Wajah guru bk itu sudah mulai merah padam, ia sangat kesal dan hendak memarahi lagi Daniel. Namun, hal itu terhenti karena suara seseorang.
"Daniel!" sentak Tuan Saputra—kepala sekolah serta pemilik sekolah SMAN Galaksi ini. Beliau datang menemui putranya di ruang bk, setelah ada yang memberitahunya tetang kelakuan anaknya itu.
Suara tegas itu membuat semua mata yang ada di sana menatap Tuan Saputra dengan menunduk takut, begitu pula sama dengan Iklima dan Hadwan yang berada di samping Daniel.
"Papah," ucap Daniel. Dia yakin orang tuanya akan membuatnya keluar dari masalah ini.
"Apa yang kamu lakukan sehingga bisa masuk kembali ke ruangan ini?" tanya Tuan Saputra kepada putranya.
"Tidak Pah, aku tidak melakukan apa pun. Cuman sedikit main-main saja," jawab Daniel santai.
"Apa katamu? Main? Ini bukan permainan, Daniel! Jika sekali lagi kamu berbuat ulah, apalagi sampai masuk ke ruangan ini lagi, Papah tidak akan segan-segan menghukummu!" ancam Tuan Saputra kepada putranya yang sangat bandel.
Mendengar itu, nyali Daniel menciut. Baru kali ini Tuan Saputra marah besar kepadanya. Walaupun demikian, Tuan Saputra marah kepadanya, tetep ia sangat menyayangi Daniel dan dia mau putranya itu bisa berubah.
"Tapi, Pah. Daniel enggak melakukan kesalahan, tapi laki-laki itu yang berbuat ulah dan membuat Daniel masuk ke sini," ucap Daniel berbohong dan memfitnah Hadwan.
Tuan Saputra melirik Hadwan, ia hanya tersenyum melihat pria itu dan beralih kepada putranya. "Bukan dia yang berbuat ulah, tapi kamu! Hadwan, dia tidak pernah berbuat ulah dan tidak pernah membuat masalah," katanya dengan teseyum.
"Kenapa Papah malah membela dia? Harusnya aku yang Papa bela," ucap Daniel kesal karena bukanya memarahi Hadwan, papanya malah menyalahkan dirinya.
"Emang kamu yang salah, kamu yang berbuat ulah, maka terimalah akibatnya," balas Tuan Saputra dengan senyum di bibirnya.
Daniel menahan kesal kepada Hadwan, dia hanya bisa mengepalkan keduanya tanggannya karena sangat marah.
"Kalian berdua bisa keluar sekarang," ucap Tuan Saputra kepada Iklima dan Hadwan.
"Baik, Pak." Iklima dan Hadwan menuruti perintah kepala sekolah.
"Sialan! Awas aja kamu, Hadwan! Aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu!" gerutu Daniel yang hanya mampu diucapkan di dalam hatinya saja.
__ADS_1