
..."Jadilah seperti berlian yang harganya sangat mahal dan kualitasnya terjamin walaupun bentuknya kecil, tapi banyak yang membelinya. Begitu pula dengan perempuan jika sudah menyempurnakan penampilannya, maka akhlaknya pun akan tercium seketika, walaupun belum sepenuhnya sempurna."...
...~~~...
Setelah beberapa langkah Iklima mengikuti Hadwan, tapi belum sampai juga dan laki-laki itu malah membawanya ke halte, lalu menunggu kendaraan umum di sana.
"Ayo masuk," ajak Hadwan setelah menghentikan angkutan umum yang lewat.
Iklima hanya mengangguk saja, lalu masuk ke dalam angkot tersebut, kemudian diikuti oleh Hadwan. Laki-laki itu duduk di sampai Iklima dan menyimpan tasnya di antara mereka agar tidak terlalu berdekatan. Dia masih ingat dengan kejadian beberapa hari ke belakang yang di mana, Iklima diganggu oleh laki-laki di angkutan umum. Hal itu membuat Hadwan khawatir terulang kembali, maka ia pun memilih duduk di samping Iklima.
Iklima yang berada di samping Hadwan hanya tersenyum tipis melihat perhatian yang diberikan oleh Hadwan kepada dirinya, sehingga membuat Iklima bahagia walaupun sikapnya yang cuek, tapi perhatiannya tidak pernah hilang.
Beberapa menit berada di dalam angkutan umum, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Iklima dan Hadwan segara turun dari mobil berwarna hijau tersebut, kemudian memberikan uang kepada supirnya.
"Kita mau ke mana lagi, Kak? Ini bukanya masjid?" tanya Iklima di saat ia berjalan mengikuti langkah Hadwan.
"Iya, ayo ikut saja," jawab Hadwan singkat.
"Kak Hadwan mau salat? Ini belum masuk waktu salat," ujar Iklima yang membuat Hadwan kembali membalikan tubuhnya ke arah gadis itu.
"Coba lihat jam di handphonemu, sebentar lagi adzan ashar," ucap Hadwan.
Gadis itu langsung mengambil ponselnya dari dalam tas dan benar saja, sekarang sudah pukul tiga kurang lima menit. Iklima langsung menunduk malu dan hal itu membuat Hadwan tersenyum.
"Jangan begitu, ayo salat dulu. Setelah itu, aku akan mengajak kamu untuk menemui seseorang," kata Hadwan dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Iklima.
Suara adzan ashar sudah berkumandang, terlihat dua orang yang berada di tempat yang berbeda sedang mengambil air wudhu, kemudian meraka berdua melaksanakan salat ashar di masjid yang cukup besar itu.
Di samping Iklima ada seorang perempuan yang juga ikut salat berjamaah di sana, dia tidak lain adalah kakaknya Hadwan—Anisa Humaira. Entah kenapa Iklima sangat senang bertemu dengannya.
Setelah selesai melaksanakan salat ashar, Iklima kembali menggunakan hijabnya walaupun sedikit susah karena belum terbiasa, sedangkan Anisa sudah rapih dengan penampilannya yang anggun.
"Iklima, kamu ada di sini?" tanya Anisa yang menoleh ke arah Iklima.
"Iya, Kak. Aku ke sini diajak sama Kak Hadwan," jawab Iklima sembari tersenyum.
Anisa mengerutkan keningnya, merasakan keanehan. "Hadwan, dia yang ajak kamu?" tanya Anisa kembali.
__ADS_1
Iklima hanya mengangguk membalas pertanyaan dari Anisa. Gadis itu terlihat sangat kesusahan menggunakan jilbabnya kembali.
"Iklima, coba ke sini. Biar Kakak bantu," ujar Anisa dan Iklima segera mendekati Anisa.
"Nah, sekarang sudah cantik," puji Anisa setelah berhasil membantu Iklima menggunakan hijabnya.
Iklima tersipu malu mendapatkan pujian dari Anisa. "Terima kasih, Kak," ucap Iklima sembari tersenyum dan Anisa juga membalas senyumannya.
"Ustazah Anisa, cepetan. Aku mau setor hafalan," ucap anak perempuan yang masih berumur enam tahun memanggil Anisa.
Anisa hanya tersenyum melihat anak perempuan itu. "Iya, tunggu sebentar ya," ucap Anisa pada anak perempuan itu.
"Tapi, jangan lama-lama ya, Ustazah!" peringat anak perempuan itu.
"Iya-iya, sebentar lagi saya ke sana," jawab Anisa yang sangat senang dengan keantusiasan muridnya.
"Iklima, Kakak tinggal dulu ya. Kakak mau mengajar anak-anak dulu," ucap Anisa pada Iklima.
"Iya, Kak. Enggak papa, silakan." Iklima tersenyum manis kepada Anisa.
"Kakaknya cantik banget, pasti sama baiknya dengan Ustazah Anisa," kata gadis kecil yang masih berada di sana.
"Iya, Kakak ini sangat baik," ucap Anisa membalas ucapan dari muridnya soraya menatap Iklima dengan tersenyum.
"Ya udah, Kakak pergi dulu ya," ucap Anisa kemudian mengucapkan salam, "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Iklima yang hanya menatap sendu kepergian Anisa dan anak perempuan tadi.
Tidak lama dari itu, Iklima bergegas pergi keluar dari dalam masjid karena takut Hadwan mencarinya.
Setelah mencari keberadaan Hadwan, Iklima memicingkan kedua matanya dan menemukan pria itu yang ternyata sedang menunggunya di luar masjid.
"Sudah?" tanya Hadwan dengan menghampirinya.
"Iya," jawab Iklima dengan tersenyum. Gadis itu sangat murah senyum kepada siapa pun yang baik dan ramah kepadanya.
"Ayo ikut aku," ujar Hadwan yang kembali masuk ke dalam masjid.
__ADS_1
Iklima yang melihatnya menautkan kedua alisnya bingung. "Kenapa masuk lagi, Kak?" tanyanya karena tidak bisa menyembunyikan rasa herannya.
"Saya kan tadi sudah bilang. Mau mengajakmu bertemu seseorang," jawab Hadwan, lalu melanjutkan langkahnya.
"Eh iya," ucap Iklima yang hampir lupa dengan perkataan Hadwan tadi.
Setelah keduanya masuk kembali ke dalam mesjid, Iklima sangat terkejut. Ia mengira jika yang akan bertemu dengannya itu orang lain, ternyata Anisa. Maka dari itu, Iklima hanya bisa tersenyum setelah melihat Anisa yang sadang mengejar anak-anak mengaji. Terdengar suara anak-anak mengaji dengan sangat indah, Iklima hanya mendengarkannya.
Setengah jam menunggu sembari melihat Anisa mengajar, akhirnya pengajian itu selesai dan anak-anak silih bergantian menyalami tangan Anisa dan Hadwan, ia juga menerima salam dari anak-anak tersebut.
Setelah semua anak-anak pergi, Anisa langsung menghampiri Iklima dan Hadwan yang menunggunya cukup lama.
"Loh Iklima, kamu masih ada di sini. Belum pulang ya?" tanya Anisa yang melihat Iklima masih berada di masjid.
"Emm ... iya, Kak." Iklima menatap Hadwan sekilas.
"Dek, ada apa?" tanya Anisa karena dia tahu pasti Hadwan yang telah membawa Iklima ke sini.
Hadwan hanya tersenyum saja, sedangkan Iklima langsung bertanya, "Kak Anisa, aku ingin bertanya. Bagaimana cara untuk bisa istiqamah berhijab?"
Anisa lebih dulu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Iklima. "Istiqamah itu mudah, asalkan hati dan diri kamu siap untuk melakukannya. Hati yang membuat mantap berhijab, sedangkan diri yang menjadikan kita untuk bisa melaksanakan apa yang kita inginkan. Memakai hijab, setelahnya barulah Istiqamah itu muncul," jawab Anisa.
"Orang yang memakai hijab itu istimewa," ujar Hadwan yang tiba-tiba saja mengalihkan perhatian Iklima terhadap Anisa.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Iklima penasaran.
"Wanita yang berhijab itu akan senantiasa menjaga dirinya dengan menutup aurat, dia sudah menyempurnakan sebagian keistimewaannya karena telah mentaati perintah dari Allah dan rasulnya," jawab Hadwan yang membuat Anisa tersenyum, sedangkan Iklima hanya terdiam.
"Lalu, pantaskah wanita seperti aku yang tidak pernah memakai hijab, lalu memakinya?" tanya Iklima kembali.
"Kamu sudah belajar menyempurnakan penampilanmu, maka hatimu juga bersih. Dengan memakai hijab, kamu sudah membuktikannya. Dan orang-orang akan lebih menghormatimu, dari pada menjelekanmu," jawab Anisa yang langsung direnungi oleh Iklima.
"Lalu mengapa ada orang yang memfitnah jilbabku?" tanya Iklima lirih.
"Meraka tidak bisa menjadi sepertimu. Jangan pikirkan orang lain karena dia hanya bisa berucap. Akan tetapi, kamu bisa sempurna dengan keistiqamahan dirimu. Orang yang baik tidak akan menilai dari segi buruknya, tapi akan melihat dari sisi baiknya." Hadwan kembali menjawab pertanyaan dari Iklima.
Iklima langsung tersenyum mendengar jawaban dari Hadwan, ia mulai merasakan bahwa kemantapan berhijabnya itu benar dan tidaklah salah.
__ADS_1