
..."Darimu aku belajar banyak hal bahwa mencintaimu bukanlah kesalahan, tapi cara mencintainyalah yang jauh dari kata mudah."...
...~~~...
Hadwan mengantar Iklima dengan menggunakan motornya karena hari sudah semakin sore dan kendaraan umum sudah jarang didapatkan, sehingga Hadwan memutuskan untuk mengantarkan Iklima dengan menggunakan motor.
Meskipun begitu, Hadwan masih bisa menjaga jarak dari Iklima walaupun sangat tidak mudah, sedangkan Iklima. Ia juga merasa gugup dan sangat malu dekat dengan Hadwan, tapi suasana sangat mendukungnya.
Hingga dua puluh menit kemudian, Hadwan baru saja sampai di rumah Iklima. Gadis itu langsung turun dari motor dan tersenyum manis kepada Hadwan yang hanya sekilas saja.
"Kak, terima kasih sudah mengantarkanku pulang sampai rumah," ucap Iklima dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajah cantiknya.
Hadwan mengangguk, lalu berucap," Sama-sama."
Tanpa di sangka Hadwan malah menjawabnya, hal itu semakin membuat Iklima bahagia. Setidaknya Hadwan mau menanggapinya walaupun hanya sebentar.
"Kalau begitu, aku masuk dulu. Eh, Kak Hadwan mau masuk dulu ke rumahku?" tanya Iklima.
"Sudah tidak papa, jangan repot-repot. Aku akan segera pulang." Hadwan bersiap ingin mengendarai motornya kembali.
"Baiklah, tapi tunggu." Iklima mencoba melepaskan helm yang bertengger di kepalanya.
Namun, sudah berapa kali Iklima mencoba untuk melepasnya, tapi masih belum bisa. Maka dari itu, Hadwan yang melihatnya merasa kasihan dan langsung membantunya.
"Sini, biar saya bantu," ucap Hadwan. Dengan begitu, Iklima langsung menurunkan tangannya dan membiarkan Hadwan yang membantu membukanya.
Jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, Hadwan terlihat semakin tampan. Hanya saja dia tidak pernah menampakkan wajah tampannya kepada siapa saja. Maka dari itu, tidak heran jika banyak yang tidak mengenalnya karena Hadwan selalu bersembunyi dari balik sikapnya yang baik.
Setelah Hadwan berhasil membuka helm dari kepala Iklima, dia segera menyimpannya dan kembali melihat ke arah gadis itu. Nampaknya Iklima belum menyadari bahwa Hadwan sudah selesai membuka helmnya.
"Aku pamit dulu," ucap Hadwan menyadarkan lamunan Iklima yang masih berdiri tegak di depannya.
"Eh, iya. Sekali lagi terima kasih," ucap Iklima sedikit malu karena tanpa sadar terus memandanginya.
__ADS_1
Hadwan mengangguk, kemudian mengucap salam, "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Iklima, lalu melihat laki-laki itu pergi menggunakan motornya, sampai tidak terlihat, barulah ia masuk ke dalam rumahnya.
...****************...
"Assalamualaikum," ucap Iklima pada saat memasuki rumahnya.
Mama Nadira yang sangat mengkhawatirkan putrinya buru-buru menghampiri Iklima. Akan tetapi, setelah melihat Iklima, Mama Nadira terperangah melihat penampilan putrinya yang jauh berbeda dari biasanya.
"Iklima, ini benar kamu, kan?" tanya Mama Nadira yang membuat Iklima tersenyum geli melihat ekspresi wajah mamanya yang nampak kaget dengan penampilannya sekarang.
"Iya, Ma. Ini aku, Iklima putri Mama," jawab Iklima yang diiringi senyuman manis dari kedua sudut bibirnya.
"Masya Allah, Iklima. Kamu sangat cantik sekali," puji Mama Nadira yang membuat Iklima semakin malu, sehingga menciptakan guratan merah dari wajahnya yang merona.
"Jangan gitu, Ma. Iklima jadi malu," ucap gadis itu sembari menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.
Iklima terdiam, ia masih belum yakin akan bisa istiqamah menggunakan hijab, tapi setelah melihat wajah mamanya yang sangat bahagia terlihat jelas dari pancaran wajahnya, semakin menyusutkan hati Iklima untuk tetap menggunakan hijab tersebut.
"Ma, Iklima baru saja mencoba menggunakannya. Mama doakan Iklima ya supaya bisa istiqamah," ucap Iklima yang dibalas dengan senyuman indah dari mamanya.
"Pasti Iklima, Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Tanpa terasa air mata Mama Nadira keluar dengan begitu saja, bukan karena sedih, tapi sangat bahagia melihat putrinya yang mau menggunakan hijab.
"Mama jangan menangis," ucap Iklima sembari mengusap air mata yang keluar dari pelupuk mata mamanya.
"Enggak, sayang. Mama enggak sedih hanya saja Mama sangat terharu melihat kamu berpenampilan seperti ini, Mama sudah menantikannya sangat lama," kata Mama Nadira dan Iklima semakin dibuat terheyak oleh perkataan mamanya.
"Mama, maafkan Iklima yang baru mau menggunakan hijab, seharusnya dari dulu Iklima menggunakannya, tapi Iklima malah tidak melakukannya," ucap Iklima yang diiringi dengan suara lirih.
"Enggak papa, malahan Mama sangat bahagia akhirnya kamu mau menggunakannya." Mama Nadira kembali teseyum menatap wajah putrinya yang semakin cantik mengunakan hijab serta pakaian tertutup.
"Semoga istiqamah ya, sayang," ucap Mama Naidira yang kemudian langsung memeluk tubuh Iklima.
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih, Ma." Iklima membalas pelukan dari mamanya dengan perasaan haru bercampur bahagia.
Tidak lama dari itu, Ayah Adam turun dari tangga dan langsung melihat kedua wanita yang dicintainya sedang berpelukan. Ayah Adam yang merasa penasaran langsung menghampiri istrinya. Dan pada awalnya Ayah Adam tidak mengenali Iklima, tapi setelah mendekatinya. Nampak jelas keterkejutan dari wajah Ayah Adam yang menatap Iklima dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
"Iklima," ucap Ayah Adam pada putri kesayangannya.
Mendengar suara ayahnya, lantas kedua perempuan yang sedang berpelukan itu seketika melerainya.
"Ayah," ucap Iklima sembari tersenyum.
Mama Nadira langsung membalikkan badannya setelah mendengar Iklima memanggil ayah yang berarti itu suaminya. Begitu pula sama dengan Adam, ayah dari Iklima Karomatun Nazwa itu juga terperangah melihat penampilan putrinya yang menggunakan pakaian muslimah serta hijab yang semakin membuatnya cantik.
"Masya Allah, ini benar putriku, Iklima?" tanya Ayah Adam yang sangat bahagia melihat Iklima.
"Iya, Ayah. Ini aku, Iklima putri dari Tuan Adam Alfarizki," ucap Iklima sembari terkekeh.
Adam tersenyum mendengar jawaban dari putrinya, lantas ia pun langsung mendekati putri semata wayangnya.
"Alhamdulillah, Ayah senang lihat Iklima seperti ini. Putri Ayah semakin cantik menggunakan hijab, sampai-sampai Ayah hampir tidak mengenalinya," ucap Ayah Adam yang dibalas dengan senyuman dari istri dan anaknya.
"Terima kasih, Ayah. Iklima juga sempat tidak menyangka kalau sekarang ini adalah Iklima," kata Iklima.
Kedua orang tuanya sangat bahagia melihat putrinya yang mulai merubah dirinya dengan sangat sempurna, tidak lupa juga rasa syukur kepada Allah karena telah membuka pintu hati Iklima untuk mau menggunakan hijab.
Bukanya tidak pernah diminta, tapi sudah sering cuman Iklima selalu saja beralasan. Akan tetapi, kali ini tidak lagi, Iklima sudah menggunakannya walaupun masih dalam tahap pembelajaran.
Niat hati ingin menggunakan sekali saja, tapi setelah melihat reaksi dari kedua orang tuanya, Iklima semakin yakin dengan tekadnya yang ingin menggunakan hijab dan sangat bersyukur karena Anisa telah membantunya untuk melangkah ke jalan yang lebih baik lagi
"Ya udah, sekarang kita makan dulu. Mama sudah siapkan makanan kesukaanmu," ajak Mama Nadira yang langsung diangguki oleh Iklima, sedangkan Ayah Adam ikut bahagia melihat dua wanita tercintanya yang nampak ceria.
Setelah itu, Iklima dan kedua orang tuanya makan bersama dengan Iklima yang terlihat sangat bahagia karena kedua orang tuanya juga bahagia, semakin menambah keharmonisan keluarganya.
__ADS_1