
..."Pesonamu membuatku jatuh hati, meskipun banyak lelaki yang mendekati, tetapi hanya kamu yang ada di dalam hati."...
...~~~...
Setelah Iklima bisa keluar dari dalam kolam dengan bantuan Hadwan. Lantas, semua mata mului tertuju kepada meraka berdua. Iklima memengang kedua tangannya dengan kedinginan, sedangkan Hadwan hanya memalingkan wajahnya dari Iklima.
Tidak mau berlama-lama di tempat itu, Hadwan membawa Iklima pergi dari kawasan terbuka yang banyak orang yang melihatnya. Apalagi keadaan Iklima yang sedang tidak baik. Sebagai seorang laki-laki, Hadwan tidak mau membuat seorang wanita dilihat oleh banyak orang karena akan menimbulkan perbincangan dan dapat membuat Iklima sangat malu.
Maka dari itu, Hadwan sengaja mendekati Iklima dan membuka jaket yang digunakannya, lalu memakaikannya kepada gadis itu.
"Pakailah ini dan jangan dilepaskan supaya kamu tidak kedinginan," ucap Hadwan dan Iklima hanya tersenyum dengan tindakan Hadwan yang secara tiba-tiba.
"Ayo, ikut denganku." Hadwan menyuruh Iklima untuk mengikutinya dari belakang.
Iklima yang tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Hadwan hanya diam saja dan mengikuti perintahnya. Setelah beberapa langkah Iklima mengikutinya, sampai di tempat yang tidak terlalu ramai orang. Hadwan menghentikan langkahnya dan melihat kepada Iklima.
"Apa kamu sedang mengunggu jemputan?" tanya Hadwan yang baru pertama kali memulai pembicaraan di antara mereka.
Iklima terdiam sejenak, lalu menjawab, "Iya, ayahku akan menjemput."
"Baiklah, saya akan menunggunya," ucap Hadwan santai.
"Untuk apa?" Iklima mengerutkan keningnya, marasa heran dengan apa yang baru saja Hadwan ucapkan.
"Saya tidak mau melihat seorang wanita pulang sendirian dengan pakaian yang sudah basah," jawab Hadwan.
Iklima hanya diam dan mengunggu kedatangan ayahnya, tapi sudah sampai satu jam menunggu, ayah Iklima belum juga datang untuk menjemputnya sehingga hujan deras pun tiba-tiba membasahi tubuh gadis itu kembali.
Sementara itu, Hadwan langsung membawa Iklima menepi di halte yang atapnya tertutup sehingga bisa membuat keduanya tidak kembali kehujanan.
"Maaf, aku membuatmu kehujanan dan menunggu lama di sini. Kalau kamu bosan, tinggalkan saja aku. Aku bisa mengunggu di sini sendiri," kata Iklima yang berhasil membuat Hadwan menatapnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menunggu sendirian di sini dalam keadaan hujan deras seperti ini. Sampai hujannya reda, aku akan menemanimu," ujar Hadwan.
Gadis itu terseyum mendengarnya. Bukan karena kata, tapi Hadwan sudah membuatnya tersentuh dengan perlakukannya yang tanpa disadari membawa kesan tersendiri untuk Iklima.
Semakin lama mengunggu, Hadwan mulai kedinginan. Iklima yang melihatnya langsung bertindak.
__ADS_1
"Hadwan, pakailah ini. Aku tidak mengapa kedinginan," ucap Iklima dan langsung ditolak oleh Hadwan.
"Tidak perlu, aku masih bisa menahannya, sedangkan kamu sangat membutuhkannya, maka gunakanlah itu," balas Hadwan yang membuat Iklima semakin tidak enak hati terhadapnya.
"Tapi, bagaimana kalau kamu sakit karena aku?" tanyanya lirih.
"Tidak perlu memikirkanku yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu," jawab Hadwan simpel.
"Tapi, Hadwan ...," ucap Iklima terputus.
"Hujannya sudah mulai mereda dan hari semakin sore, sedangkan ayahmu belum juga ke sini. Sekarang kamu ikut aku," ucap Hadwan menarik lengan Iklima yang ditutupi oleh jaket tebalnya.
"Ke mana?" tanya Iklima sedikit kaget.
"Ikut saja, saya akan membawamu ke suatu tempat," jawab Hadwan sembari berjalan bersama Iklima.
Tanpa berpikir panjang, Iklima menurutinya dan sampainya di restoran yang kemarin Iklima kunjungi. Ternyata Hadwan membawanya ke restoran miliknya.
"Tunggu sebentar di sini," pinta Hadwan dan gadis itu hanya mengangguk saja sembari duduk di kursi.
Hadwan pergi ke dapur dan mencari keberadaan kakaknya. Setelah berada di dapur, dia tidak menemukan kakaknya dan beralih ke kamar dan ternyata kakaknya baru saja selesai melaksanakan salat ashar, sehingga membuatnya menunggu sebentar.
"Eh, Dek. Sejak kapan berasa di sini?" Anisa menghampiri Hadwan dengan teseyum lebar.
"Baru saja," jawab Hadwan. Dia pun kembali berucap, "Kak, apa ada baju kakak di sini? Aku mau meminjamnya."
"Kayaknya ada, tapi untuk apa Dek?" tanya Anisa penasaran.
"Di depan ada Iklima, dia kehujanan dan jika dibiarkan bisa membuatnya sakit, maka aku meminta tolong kepada Kakak," jawab Hadwan dengan jelas.
Anisa yang mengerti langsung memberikan pakainya kepada Hadwan. Kakaknya memang sangat baik, meskipun kepada orang baru seperti Iklima.
"Hanya ada ini, berikanlah cepat. Kasihan dia sudah kedinginan," ucap Anisa yang langsung mendapat anggukan dari adiknya.
"Terima kasih, Kak." Hadwan langsung pergi menemui Iklima.
***
__ADS_1
"Pakailah ini, kamu bisa sakit jika tetap menggunakan pakaian itu," kata Hadwan sembari menyodorkan baju kepada Iklima.
"Iya, Kak. Terima kasih," ucap Iklima sembari tersenyum manis.
Namun, seketika Iklima terdiam dan melihat sekelilingnya yang ramai pembeli. Ia nampak kebingungan, sedangkan Hadwan yang paham akan apa yang dipikirkan Iklima, langsung saja mengajaknya ke kepada kakaknya.
"Mari ikut saya," ucap Hadwan. Iklima yang masih bingung hanya mengikutinya saja.
Sesaat kemudian, Anisa keluar dari dalam kamar dan melihat Hadwan bersama Iklima yang masih mengunakan jaket.
"Kak Anisa akan menemanimu," ucap Hadwan.
Untuk itu, Iklima hanya menuruti semua yang Hadwan katakan walaupun ia sedikit sungkan.
Setelah bertemu dengan Anisa, Iklima tersenyum menyapanya. Begitu pula dengan Anisa yang nampak senang dengan kedatangan Iklima.
"Mari masuk." Anisa mengajak Iklima masuk ke dalam kamar dan membantunya di dalam.
"Kak, kamar mandinya di mana?" tanya Iklima sedikit malu.
"Di sebelah sana," tunjuk Anisa pada pintu yang berada tidak jauh dari tempat mereka berbicara.
"Oh, baiklah. Terima kasih, Kak." Iklima langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa bajunya.
Setelah Iklima berada di dalam kamar mandi, ia terlihat mengamati baju yang diberikan Hadwan kepadanya. Nampaknya Iklima sangat heran dengan itu.
"Apa aku pantas mengungkan pakaian yang seperti ini?" tanya Iklima pada dirinya sendiri.
Setelah memikirkannya, pada akhirnya Iklima bersedia menggunakan baju panjang yang terlihat sangat pas di tubuhnya itu. Sebuah gamis yang dipakai oleh Iklima terlihat sangat indah dikala berada di tubuh gadis cantik tersebut. Dengan warna yang pas dengan kulitnya yang putih, membut gamis itu menjadi sangat indah.
Iklima menatap pantulan dirinya dari balik cermin besar yang ada di dalam kamar mandi. Ia mulai menyadari bahwa baju yang digunakannya itu sangat bagus dan tidak seburuk yang ia kira.
Perlahan, Iklima mulai memberanikan diri keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian barunya. Anisa yang melihat Iklima hanya tersenyum dan menatap kagum gadis itu.
Dengan teletan Anisa membantu Iklima untuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, walaupun Iklima sudah menolaknya, tapi Anisa tetap kekeh ingin membatunya. Maka dari itu, Iklima hanya bisa terdiam dan menerima perlakuan baik dari Anisa.
Namun, setelah beberapa menit kemudian. Anisa membawa sebuah hijab yang berwarna senada dengan baju Iklima, lantas ingin memakainya kepada gadis itu. Akan tetapi, tindakannya terhenti seketika setelah mendengarkan suara dari Iklima.
__ADS_1
"Tunggu Kak!" ucap Iklima yang membuat Anisa menatapnya.