
..."Tidak perlu menunggu siap untuk berhijab, karena niat baik tidak bagus ditunda. Hijab bukan cuma penutup untuk mencerminkan akhlak, tapi juga penyempurna."...
...~~~...
Anisa nampak bingung dengan tindakan Iklima yang tiba-tiba saja menghentikannya.
"Ada apa Iklima?" tanya Anisa heran.
"A--aku belum siap mengunakan hijab," jawab Iklima sembari menundukkan kepalanya.
Anisa tersenyum dan menatap wajah cantik Iklima sembari berkata, "Lihatlah dirimu. Apa yang membuatmu belum siap?" tanyanya.
"Aku merasa belum pantas memakainya karena akhlakku belum sesempurna dirimu," ucap Iklima dengan sendu.
"Aku juga belum sesempurna yang seperti kamu ucapakan, tapi aku berusaha untuk menjadi wanita yang baik," kata Anisa sembari mencoba kembali memakaikan hijab kepada Iklima.
Nampaknya Iklima hanya diam saja menerima semua perlakuan Anisa yang sedang memakaikannya hijab.
"Coba lihat dirimu? Cantik bukan?" tanya Anisa pada Iklima yang langsung menatap cermin di hadapannya.
Gadis itu menatap pantulan wajahnya dengan heran, merasa tidak percaya dan sangat mengejutkan. Bukan karena apa, wajahnya yang cantik yang dibaluti dengan pakaian muslimah dengan hijab yang senada membuatnya menjadi semakin cantik. Bahkan Iklima pun hampir tidak bisa mengenali dirinya sendiri.
"Apakah ini aku?" tanya Iklima pada dirinya sembari meraba wajahnya sendiri.
Anisa tersenyum sembari menjawab, "Iya, itu kamu."
Iklima tersenyum mendengar itu, wajahnya semakin cantik setelah menggunakan hijab. Nampaknya gadis itu sangat senang melihat dirinya sendiri dengan penampilan yang berbeda. Namun, seketika wajahnya kembali murung. Ia masih merasa tidak pantas menjadi seperti Anisa, Iklima menyadari bahwa dirinya hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki pengetahuan lebih tentang agama.
__ADS_1
"Tapi, Kak ... aku malu menggunakan ini," ucap Iklima yang diiringi kesedihan.
"Loh, kenapa harus malu?" Anisa berjongkok untuk menatap wajah Iklima.
"Aku rasa tidak pantas bagiku untuk menggunakan hijab," kata Iklima semakin menyusut.
"Pantas tidak pantas itu hanya Allah yang menentukan, kita sebagai umat muslim sudah seharusnya menutup aurat kita dengan pakaian muslimah dan menggunakan hijab sebagai tanda cinta kita kepada Allah. Tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu karena berhijab tidak membutuhkan alasan, asalkan yakin." Anisa mencoba memberikan penjelasan kepada Iklima.
Iklima mendengarkan semua yang dikatakan oleh Anisa dengan baik-baik, ia juga sudah mulai merasa nyaman menggunakan pakaian yang diberikan Hadwan.
"Terima kasih, Kak. Kak Anisa sudah memberikan banyak pelajaran untukku," ucap Iklima sembari memeluk tubuh Anisa.
Anisa sangat senang karena Iklima akhirnya kembali tersenyum. Namun, tidak lama dari itu, keduanya keluar dari dalam kamar dan hendak menemui Hadwan.
Sosok laki-laki yang akan ditemui Iklima itu terlihat sedang membereskan dapur yang nampak berantakan. Akan tetapi, hal itu terhenti ketika dia mendengarkan panggilan dari Anisa.
"Iya sebentar, Kak. Hadwan akan antar Ik—" Hadwan menjawabnya sembari membalikan tubuhnya ke arah Anisa dan ucapannya tiba-tiba saja terhenti karena melihat Iklima.
Detak jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan begitu kencangnya dan tubuhnya seakan kaku untuk digerakkan, mulutnya juga sulit untuk mengatakan satu patah kata pun.
Bertapa cantiknya Iklima menggunakan pakaian panjang dan tertutup. Hal itu membuat Hadwan tidak sengaja melihatnya. Namun, tidak lama dari itu Hadwan kembali menundukkan kepalanya karena telah lancang menatap wajah Iklima.
"Astaghfirullahaladzim." Nampak sangat jelas dari wajah Hadwan rasa bersalah.
"Kamu kenapa diam, Hadwan?" tanya Iklima yang heran melihat Hadwan seperti itu.
"E--enggak papa. Aku akan mengantarmu pulang," jawab Hadwan yang berusaha menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Oh baiklah, aku akan berbicara dulu sebentar dengan Kak Anisa," ucap Iklima tanpa merasa curiga sedikit pun.
Hadwan hanya mengangguk saja sebagai persetujuan. Lantas, gadis itu langsung tersenyum melihat wajah Anisa.
"Kak, terima kasih sudah mengajarkanku banyak hal hari ini," ucap Iklima yang diiringi dengan senyuman manis dari sudut bibirnya.
Anisa menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Iya Iklima, Kakak juga senang bertemu denganmu, merasa seperti mempunyai adik perempuan."
Tanpa sepatah kata, Iklima memeluk tubuh Anisa bagaikan saudara, sedangkan Anisa hanya tersenyum dengan tingkah Iklima yang mendadak itu. Dan tanpa menolak pelukannya, Anisa juga membalasnya dengan penuh kasih sayang.
"Semoga kita bisa bertemu lagi di lain hari," ucap Anisa sembari melerai pelukan di antara keduanya.
"Iya, Kak." Iklima mengembangkan senyumannya yang membuat Anisa ikut tersenyum.
"Yuk, Hadwan," ajak Iklima yang mengagetkan laki-laki tersebut.
"Iya," jawab Hadwan yang lengsung menyalami tangan kakaknya dulu.
"Kak, Hadwan pergi dulu." Hadwan berpamitan kepada kakaknya.
"Iya, hati-hati di jalannya," ucap Anisa sembari melihat punggung keduanya yang semakin lama menghilang dari penglihatannya.
Hadwan mengangguk sebelum pergi meninggalkan kakaknya. Iklima, gadis itu hanya menunduk malu-malu karena banyak mata yang menatap ke arahnya pada saat melewati pengunjung lestoran.
Penampilan Iklima yang sangat berbeda kali ini berhasil mencuri banyak perhatian dari siapa saja yang melihatnya termasuk Hadwan, walaupun nampak datar dan dingin, tapi tetap laki-laki itu memperlihatkannya.
__ADS_1