Hadwan

Hadwan
Bab 25 : Penenang


__ADS_3

..."Hati dan pikiran adalah sebuah perbedaan yang dipersatukan untuk menentukan sebuah keputusan. Di mana keduanya bisa saling melengkapi dan mengayomi. Pikiran dapat menilai dan menentukan yang benar dan salah, sedangkan hati akan menyakinkan atas pilihannya."...


...~~~...


Seorang laki-laki tengah berjalan menyusuri loby dengan membawa tas ranselnya, pandangan matanya terus mengikuti langkah kaki yang tanpa henti melangkah. Tatapannya yang begitu tajam itu, seketika menatap seorang wanita yang tengah tertunduk di atas lantai dengan keadaan lemas.


Laki-laki itu yang tidak lain adalah Hadwan, bergegas menghampiri Iklima yang sedang termenung dengan pikirnya, sedangkan sekolah sudah mulai sepi. Namun, gadis itu masih saja tertunduk lemas dengan air mata yang mulai luluh membasahi pipinya.


"Assalamualaikum, Iklima." Hadwan mengucapakan salam kepada Iklima dengan masih berdiri di hadapannya.


Mendengar suara itu, Iklima buru-buru menghapus air matanya, kemudian menjawab, "Wa'alaikumsalam." Lalu Iklima mendongakan kepalanya ke atas, menatap seseorang yang baru saja mengucapkan salam kepadanya.


"Kak Hadwan," ucapnya dengan sedikit terkejut karena mendapati sosok laki-laki tampan yang sedari tadi ia pikirkan.


"Iya, ini aku, Hadwan." Laki-laki itu tersenyum kepada Iklima dan ini pertama kalinya Hadwan berani tersenyum langsung di hadapan seorang wanita.


"Kenapa duduk di lantai? Berdirilah," ucap Hadwan dengan perhatian membantu gadis itu berdiri dan duduk di sebuah kursi.


"A--aku enggak papa," kata Iklima dengan sedikit terbata dan gemetar karena tidak berani berhadapan dengan Hadwan secara langsung.


"Baiklah, kamu duduk dulu saja di sini dan minum airnya," ujar Hadwan sembari memberikan sebotol air putih dari dalam tasnya.


"Terima kasih, Kak." Iklima langsung meneguk habis air itu tanpa sisa dan kembali tegang saat Hadwan terus menatapnya dengan tajam.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya laki-laki itu dengan pandangan yang tidak luput dari wajah Iklima yang sedikit ketakutan.


"Ti--idak ada ... iya tidak ada yang sedang aku pikirkan, Kak." Keringat membasahi pelipis kepala gadis cantik itu, tubuhnya sedikit gemetar.

__ADS_1


"Tenang Iklima, saya tidak akan menanyakan banyak hal kepadamu," ucap Hadwan yang tidak enak melihat Iklima menjadi sangat tegang seperti itu.


"Iya, Kak dan sepertinya, a--ku harus segera pulang," kata Iklima dan langsung berdiri.


"Tunggu, Iklima! Aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku tadi," ujar Hadwan menghentikan langkah Iklima yang hendak menjauh.


Iklima terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, sedangkan Hadwan menantikan jawaban darinya.


"Aku tahu kalau kamu ada masalah dan aku tahu kamu sedang kebingungan, maka aku akan menjadi pendengarnya," ucap Hadwan kembali dengan tatapan yang masih sama, tajam dan tidak dapat diprediksi sifatnya.


Kembali lagi Iklima terperangah dengan ucapan dari Hadwan barusan, ia semakin sulit untuk menyembunyikan semuanya karena Hadwan selalu saja bisa menebak isi pikirannya.


"A--aku tidak bisa," ucap Iklima sembari berlari keluar dari sekolah dengan terburu-buru dan air mata yang kembali membasahi pipinya.


"Iklima." Hadwan mengejar gadis itu yang dengan cepat pergi dari hadapannya.


"Ehem ... tidak mudah menyembunyikan sesuatu dan lebih baik jika bercerita karena akan meringankan pikiran tersebut," kata Hadwan dengan tatapan yang melihat ke atas langit.


"Hiks, salahkah aku jika aku memperbaiki diri untuk menjadi wanita shalihah?" keluh Iklima yang masih termenung tanpa melihat seseorang yang ada di sampingnya.


Hadwan terdiam, dia sengaja ingin mendengarkan semua keluhan Iklima kepada dirinya supaya bisa mengetahui semuanya.


"Aku adalah teman yang tidak bisa dipercaya! Aku gagal menjadi teman serta sahabat yang baik. Sikap aku yang berubah, membuat kedua sahabatku menjauh dariku dan menimbulkan salah paham," lajut Iklima masih dengan derai air mata yang terus keluar seiring dengan hatinya yang rapuh.


"Seseorang bisa berubah dan pertemanan bisa saja goyah, tapi ikatan tidak pernah bisa lepas walaupun berat urusannya. Seberapa jauh mereka melangkah, tetap ia akan kembali jika masih ada rasa di dalam hatinya karena tidak mudah melepas hubungan pertemanan yang sudah terjalin cukup lama," ucap Hadwan sembari melihat kendaraan yang berlalu-lalang di tengah jalan.


Mendengar suara Hadwan, lantas hal itu membuat Iklima yang sedang menunduk menatap kepadanya dan ternyata dia kembali berdekatan dengan Hadwan, sosok laki-laki yang membuat kedua sahabatnya salah paham. Akan tetapi, ialah yang berhasil membuat hatinya tenang.

__ADS_1


"Aku tidak bisa berada di antara dua pilihan yang sangat berat, antara kamu dan persahabatan." Dilema kembali melanda Iklima yang semakin membuatnya tersudut.


"Ikutilah kata hatimu, maka kamu akan bisa menentukan pilihan atas keraguanmu itu. Setelah itu, pikirkanlah baik-baik atas pilihanmu itu karena dalam sebuah keputusan perlu kemantapan supaya tidak menimbulkan rasa sesal di akhirnya," ucap Hadwan menatap Iklima dengan tatapan yang cukup dalam.


Hati Iklima tersentuh dengan ucapan dari Hadwan yang dengan beraninya datang untuk membuatnya kembali menyelesaikan permasalahannya.


"Terima kasih, Kak." Hanya itu yang mampu Iklima ucapakan kepada Hadwan.


"Sama-sama, semoga semuanya berjalan dengan baik kembali," ucap Hadwan dengan tersenyum.


Tidak lama dari itu, mobil hitam berhenti di depan halte yang mereka duduki. Dari dalam mobil itu keluar seorang laki-laki dengan berpakaian rapih khas pekerja kantoran, dengan kaca mata hitam yang bertegar di kedua matanya, membuat laki-laki yang sudah berumur itu menjadi semakin gagah.


Perlahan laki-laki itu membuka kaca matanya dan melihat ke arah seorang gadis yang baru saja menangis dan sedikit tenang sekarang.


"A-ayah," ucap Iklima dengan terbata karena tiba-tiba saja ayahnya datang ke halte, padahal tadi ayahnya bilang sedikit subuk untuk menjemputnya. Namun, ternyata ayahnya tetap datang untuk menjemputnya.


"Iya putri Ayah yang cantik, Ayah datang menjemputmu. Sekarang ayo masuk ke dalam mobil," ucap Ayah Adam dengan memberikan senyuman di kedua sudut bibirnya.


"Tapi Ayah, Iklima ...." Gadis itu menggantungkan ucapannya karena takut ayahnya itu marah.


Tatapan Iklima mengarah kepada Hadwan yang masih berada di sampingnya, lantas itu juga yang membuat Ayah Adam ikut menatap Hadwan, laki-laki muda yang berpenampilan sopan dan ramah.


Hadwan langsung tersenyum kepada Ayah Adam sembari berucap, "Maaf Pak, saya tadi hanya menemani putri Bapak karena belum ada yang menjemputnya."


"Oh iya, enggak papa, Nak. Terima kasih ya," jawab Ayah Adam yang tidak marah sama sekali.


Apa yang baru saja Iklima dengar dari ayahnya itu cukup membuatnya terperanggah, tidak percaya bahwa ayahnya itu tidak marah sama sekali kepada Hadwan, padahal ayahnya itu selalu bersikap dingin terhadap laki-laki yang berani mendekati putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2