Hadwan

Hadwan
Bab 6 : Membuat Penasaran


__ADS_3

..."Mengenalmu bukanlah hal yang rumit, tatapi memilikimu adalah sebuah rintangan yang sulit."...


...~~~...


Dring! Dring!


Suara bel istirahat sudah berbunyi. Iklima, Naina, dan Wardah akan bersiap-siap untuk pergi ke taman, karena mereka sepakat untuk pergi ke taman yang ada di depan sekolah. Dan berbicang di sana sembari memakan cemilan.


"Bagaimana, jadi enggak ke tamannya?" tanya Wardah kepada kedua sahabatnya.


"Jadilah," jawab Naina dengan antusias.


"Kalau kamu, Iklima?" Wardah berganti menanyakannya kepada Iklima.


"Aku ikut kalian saja," jawab Iklima sembari tersenyum manis.


"Baiklah. Yuk, kita berangkat sekarang," ujar Wardah yang langsung diangguki oleh Iklima dan Naina.


Pada saat melewati koridor sekolah, bola mata indah milik Iklima menangkap seseorang yang sudah dua hari ini membuatnya kepikiran.


Hadwan, dia nampak berjalan bersama dengan Ikbal yang akan pergi ke musola yang tempatnya tidak jauh dari taman. Dengan begitu, Iklima bisa kembali melihatnya. Tanpa gadis itu sadari, ia sudah mulai penasaran dengan sosok Hadwan.


"Hadwan, dia mau ke mana?" tanya Iklima di dalam hatinya. Entah kenapa, dia semakin penasaran pada Hadwan.


"Iklima ayo, cepetan!" perintah Naina yang sering kali membuat Iklima terburu-buru.


"Iya, bentar," jawab Iklima dan langsung berjalan menghampiri Naina, sedangkan pada saat yang bersamaan, ia melihat arah jalan Hadwan yang menuju ke musola.


Sesampainya ketiga gadis itu di taman, mereka segera menempati tempat yang nyaman sembari melihat pemandangan yang sangat indah, dengan rumput-rumput yang hijau, bunga bermekaran, dan pemandangan yang sangat indah. Terlebih lagi, lingkungannya yang bersih terawat, membuat taman itu menjadikan tempat terfavorit untuk bersantai.


"Ah, akhirnya bisa menikmati suasana damai seperti ini," ucap Naina sembari menghirup udara di taman yang cuacanya cukup cerah. Namun, mereka tetap berada di sana, di bawah pohon besar yang membuat ketiga gadis itu tidak kepanasan.


"Iya, Nai." Wardah pun menyetujui ucapan Naina.

__ADS_1


Di antara tiga gadis cantik itu, Iklima lah yang terlihat lebih diam. Gadis cantik itu masih melihat musola yang beberapa menit yang lalu, Hadwan masuki. Selama ini, Iklima baru mengetahui bahwa ada seorang laki-laki yang sangat berbeda dari yang lain.


Lama berada di taman itu, Iklima belum sama sekali melihat Hadwan dan Ikbal keluar dari dalam musola. Ada sedikit rasa penasaran di benak Iklima, karena selama ini hanya Hadwan yang mampu membuatnya penasaran. Maka dari itu, Iklima nampak sangat tertarik untuk mengenal pemuda itu.


"Iklima, coba ini. Rasanya enak." Naina menawarkan cemilan yang sedang dimakannya kepada Iklima, sedangkan gadis cantik itu masih fokus menatap ke arah musola.


Merasa tidak mendapatkan jawaban. Naina dengan sengaja mencubit pipi Iklima, sehingga menimbulkan suara dari mulut gadis berparas cantik itu.


"Akhh! Sakit Nai," rintih Iklima sembari mengusap pipi kirinya yang terasa ngilu akibat cubitan dari Naina.


"Makanya jangan ngelamun terus. Lagian lagi mikirin apaan sih?" tanya Naina dan Wardah ikut menetap kepada keduanya.


"Udah ah, enggak papa kok," sengkal Iklima yang kini kembali menghadap kedua sahabatnya.


Sepuluh menit kemudian, Hadwan dan Ikbal sudah kembali keluar dari musola dan melewati tiga gadis cantik itu. Di mana, perhatian gadis itu beralih menatap kedua laki-laki tampan yang tengah melewatinya.


Dengan rasa penasaran yang besar, Iklima segara membuat cara untuk bisa menemui Hadwan, dengan alasan pergi ke toilet.


"Wardah, Nai. Aku pergi ke toilet dulu ya," ucap Iklima dengan tiba-tiba.


"Iya," balas Wardah dan kembali bertanya, "Iklima, mau aku antar?"


"Eh, tidak papa. Aku sendiri saja," ujar Iklima. Gadis itu nampak sangat buru-buru.


"Yakin?" tanya kembali Wardah.


"Iya," jawab Iklima sembari tersenyum untuk menyakinkan kedua sahabatnya.


Dengan begitu, Iklima segara meninggalkan taman dan mencari keberadaan Hadwan. Untungnya pada saat itu, Hadwan belum masuk ke dalam kelasnya.


Iklima memicingkan kedua bola mata indahnya, karena melihat seseorang yang sadang dicarinya. Namun, tidak lama dari itu. Ia segera memberanikan diri untuk menghampirinya.


"Hadwan," ucap Iklima dan laki-laki itu hanya melihatnya sekilas, sedangkan Ikbal melihat Iklima yang berada di sana dengan heran.

__ADS_1


"Bukanya kamu itu Iklima ya?" tanya Ikbal lebih dulu, dan Hadwan hanya diam saja.


"Iya, Kak. Saya Iklima, bolehkah berbicara sebentar dengan temannya?" tanya Iklima yang langsung pada intinya.


Ikbal tidak segera menjawab, dia hanya melirik Hadwan yang berada di sampingnya. Untuk itu, dia sudah sangat tahu sikap Hadwan seperti apa. Maka dari itu, dia tidak bisa mengambil keputusan tanpa seizin temanya.


"Maaf! Di sini saja bicaranya, tidak perlu berdua. Saya harus segera ke kelas," jawab Hadwan yang membuat Ikbal tidak percaya.


Pada dasarnya selama ini belum ada satu wanita pun yang seberani Iklima, dan baru kali ini Ikbal melihat Hadwan merespon seorang wanita.


Mendengar jawaban dari Hadwan, memberikan peluang besar bagi Iklima untuk bisa mendekatinya, walaupun ada Ikbal di samping Hadwan.


"Perkenalkan nama saya, Iklima Karimatun Nazwa," ucap Iklima soraya menjulurkan tangan kanannya kepada Hadwan. Dia dengan bangga, menyebutkan namanya untuk berkenalan.


"Saya Hadwan." Hadwan hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.


Iklima yang melihat itu menjadi malu sendiri, dan segera menurunkan tangannya kembali, karena Hadwan dengan halus menolak bersalaman dengannya.


Di mana Iklima pikir, dengan menyebutkan namanya saja mampu membuat Hadwan terpesona, karena namanya sudah banyak yang mengetahui, telebih dalam kepintarannya. Namun, sangat di luar ekspektasinya. Hadwan ternyata tidak tertarik kepadanya, dan lebih tertarik kepada lantai, karena tidak pernah mau menatap wajah cantiknya sekalipun.


"Kak, bolehkah sekali saja menetap wajahku pada saat kita berbicara?" tanya Iklima yang tidak ragu lagi mengutarakan keinginannya.


Sontak pertanyaan itu membuat Hadwan terperangah, dengan keberanian seorang gadis yang baru saja dua kali bertemu dengannya. Namun, hal itu sangat sulit untuk Hadwan percaya.


"Tidak penting menatap wajah lawan bicara, karena itu akan membuat keduanya larut dalam tatapan yang membawanya ke dalam jurang yang sangat dalam," jawab Hadwan ketus, dan langsung mundur satu langkah.


"Maksudnya apa, Kak?" tanya kembali Iklima. Terlebih lagi cara Hadwan menjauh darinya, sangat membuat Iklima kebingungan.


"Nanti kamu juga akan mengetahuinya. Dan jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya izin undur diri untuk ke kelas, karena bel masuk akan segera berbunyi." Hadwan segera mengucapkan kata-kata yang mampu membuat Iklima tidak bisa berkutik lagi.


Detik kemudian, Hadwan mengucapakan salam kepada Iklima.


"Assalamualaikum," ucap Hadwan dan berjalan pergi bersama Ikbal yang terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Suara salam itu mampu menggetarkan hati gadis cantik yang tengah terdiam. Di mana, baru kali ini Iklima bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat unik seperti Hadwan.


__ADS_2