
..."Mencintaimu bagaikan sebuah ilusi yang tak bertepi. Mengungkapnya menjadi pantangan, sedangkan memendamnya semakin mendalam. Namun nyatanya, sakit hati lebih rapuh dari pada mencintai."...
...~~~...
Iklima mematung menatap kepergian Hadwan yang begitu saja, dengan memberikan luka tak terasa. Namun, sangat menyayat di dalam hati. Cinta yang harusnya bersemi, kini hanya menjadi angan-angan dan khayalan belaka saja.
Berharap bisa bersama dan saling membimbing, tapi nyatanya tak sesuai ekspektasi. Bukan karena tidak saling suka, atau menentang takdir. Akan tetapi, itulah yang terbaik untuk keduanya. Saling menjauh untuk memperbaiki, berjarak untuk menghilangkan rasa yang tak pantas tumbuh saat ini.
Yakinlah, cinta dua insan yang saling menjaga dan menjauh untuk memperbaiki, akan lebih indah dari mencintai di waktu yang belum tepat, dengan cara yang salah.
"Walaupun kamu menolakku untuk saat ini, enggak papa. Aku yakin kok, kamu mau yang terbaik. Tidak papa menjauh untuk menjaga, sampai kita bertemu lagi nanti," gumam Iklima menguatkan dirinya sendiri, sembari mengusap air matanya yang sempat membasahi wajah cantiknya itu.
Tidak mau ada yang melihatnya menangis, Iklima langsung bergegas pergi dari tempat itu dan berniat untuk langsung pulang ke rumahnya. Namun, pada saat ia membalikkan badannya, kedua sahabatnya sudah berdiri di belakangnya.
Entah sejak kapan mereka berada di sana, tapi yang pasti ada kemungkinan besar bahwa kedua sahabatnya itu melihatnya menangis tadi, atau mungkin sampai ke waktu berhadapan dengan Hadwan.
"Nai, Wardah. Kalian berdua ada di sini? Sejak kapan?" tanya Iklima sembari menghampiri kedua sahabatnya itu yang kini sudah kembali bersama dan tidak saling menjauh lagi.
Naina dan Wardah hanya saling pandang saja, lalu menatap Iklima dengan tatapan yang tidak seperti biasanya. Terlihat sangat berbeda, sehingga menimbulkan rasa curiga dan cemas bagi Iklima.
"Tidak perlu tahu kami berdua berdiri di sini sejak kapan, tapi yang pasti sekarang adalah kamu kenapa tidak mengatakan semuanya dari dulu? Kenapa enggak cerita sama kita? Mana Iklima yang dulu?" ucap Wardah yang kini kelihatannya sangat kecewa, atau mungkin tidak menyangka.
__ADS_1
"Iya, kenapa kamu menyembunyikannya dari kami? Kita bertiga kan sahabat, kalau ada apa-apa, kamu harusnya cerita," sambung Naina ikut membenarkan ucapan dari Wardah.
Kecurigaan Iklima ternyata memang benar, kedua sahabatnya telah melihat semuanya dan kini mereka berdua sudah tau kalau selama ini ia sangat menyukai Hadwan, laki-laki yang dikenal dingin dan jarang bicara itu.
"Iya, maaf. Aku belum berani cerita kepada kalian, soalnya ini juga tidak terlalu penting. Jadi, gak perlu diceritain. Enggak papa," jawab Iklima dengan tersenyum, berusaha untuk terlihat kuat, walaupun sebenarnya sangat rapuh.
"Gak papa gimana? Kamu itu sahabat kita, sudah sepantasnya kamu cerita. Jadi, kamu enggak sedih dan rapuh sendirian. Enggak memendamnya sendirian jika kamu cerita, kita berdua akan selalu ada untuk Iklima," ujar Naina dengan memeluk tubuh Iklima yang kini kembali meneteskan air mata.
"Terima kasih, kalian berdua emang sahabat terbaikku," ungkap Iklima sembari tersenyum haru karena masih ada yang mau mendukungnya, menemaninya untuk bisa bangkit dari rasa sakit.
"Kita akan selalu ada untuk kamu Iklima, kamu jangan khawatir jika kita meninggalkanmu karena itu gak bakalan mungkin," ujar Wardah sembari tersenyum.
Berselang beberapa menit, mereka bertiga pun menempati tempat duduk yang cukup untuk bertiga. Di tempat itu, Iklima menceritakan semuanya kepada Naina dan Wardah. Dari awal dia menyukai Hadwan sampai ditolak dan ditinggalkan oleh laki-laki itu. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau Hadwan menjauhinya untuk kebaikan dan tidak sedikitpun ia membicarakan hal buruk tentang Hadwan kepada kedua sahabatnya itu.
"Iya, Wardah. Kak Hadwan gak minta aku menunggunya, tapi dia menyuruhku untuk menjadi lebih baik lagi. Mengapai cita-citaku, sampai aku bisa berada titik yang luar biasa," jawab Iklima sembari menunduk, menahan rasa sakit juga yang masih kerap melanda hatinya.
"Yang kuat Iklima. Aku yakin kamu bisa, Iklima yang kita kenal itu luar biasa," sahut Naina dengan tersenyum lebar.
"Iya, terima kasih ya. Kalian berdua selalu ada untuk aku," ucap Iklima yang kini mulai kembali tersenyum lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Satu Bulan Kemudian
Bandara Soekarno Hatta
Kini Hadwan sudah siap dengan pakaian yang rapih dengan membawa koper di sampingnya, laki-laki itu terlihat sangat gagah. Dia tersenyum menatap wajah kakak perempuannya, yaitu Anisa.
"Kak, Hadwan pamit dulu ya. Doain Hadwan biar bisa sampai dengan selamat dan pulang dengan penuh kebanggaan," ucap Hadwan kepada Anisa, kakak perempuan satu-satunya karena hanya tinggal berdua.
Anisa tersenyum dan mengusap lengan adiknya itu, lalu menjawab, "Iya, aamiin. Pasti Kakak akan selalu doain Adek sampai Adek pulang kembali ke Indonesia."
"Terima kasih juga Kak, Kakak udah mau izinin Hadwan pergi belajar ke Amerika, padahal Kakak di sini bakalan sendirian," kata Hadwan sedih.
"Enggak papa, Dek. Kejar saja cita-citamu, insya allah Kakak baik-baik saja di sini, Adek gak perlu khawatir ya. Ingat kata man jadda wajada," ucap Anisa sembari tersenyum menatap wajah adiknya.
Hadwan tersenyum dan memeluk tubuh Anisa, sekilas meraka terlihat seperti pasangan kekasih, saling menyayangi padahal mereka berdua itu adik kakak yang emang umurnya tidak terlalu jauh, sehingga terlihat seperti pasangan.
"Kak, aku jalan dulu ya. Assalamu'alaikum," ucap Hadwan sebelum pergi meninggalkan kakaknya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan, Dek." Anisa melambaikan tangan kepada Hadwan dan laki-laki itu pun ikut membalasnya dengan tersenyum.
Setelah itu, Hadwan pun masuk ke dalam pesawat karena akan segera terbang ke Amerika, sedangkan Anisa hanya meratapi kepergian adiknya saja dengan perasaan berat.
__ADS_1
Namun, itu juga demi kebaikan adiknya, maka dia pun iklhas untuk mengijinkan keputusan adiknya yang ingin melanjutkan belajarnya ke universitas yang ada di Amerika. Kebetulan juga, Hadwan mendapatkan beasiswa penuh di Sekolah SMAN Galaksi untuk melanjutkan ke Amerika, makanya dia tidak mengeluarkan sepeser pun.