Hadwan

Hadwan
Bab 27 : Penolakan


__ADS_3

..."Hadirmu hanya sekejap dengan memberikan kenangan yang begitu indah. Inginku mengapai cintamu, tapi takdir membiarkanmu pergi. Dan entah kapan kau kan kembali. Akan kutunggu kepulanganmu nanti."...


...~~~...


Dua Minggu Kemudian


Hari ini seluruh siswa kelas dua belas sadang


menunggu hasil dari belajarnya selama tiga tahun ini. Terlihat siswa perempuan mengenakan kebaya indah, sedangkan laki-laki memakai jas yang membuatnya semakin berwibawa.


Pria tampan dengan tubuh tinggi terlihat sedang memperhatikan gadis cantik yang kini tengah duduk di kursi yang cukup jauh darinya, gadis itu menggunakan pakaian putih abu dan mengenakan jilbab putih. Sengaja kelulusan kelas dua belas ini diselenggarakannya di sekolah, sehingga siswa kelas sebelas dan sepuluh ada beberapa yang ikut melihat dan menyaksikan kelulusan bagi kelas dua belas itu.


Sampai tiba saatnya mc membuka acara kelulusan tersebut dengan bismilah dan pidato serta sambutan lainnya, sebelum ke acara inti.


Sampai satu jam telah berlalu, kini tiba saatnya untuk mengumumkan hasil paling terbaik dan nilai tertinggi dari ribuan siswa kelas dua belas. Di mana akan disebutkan langsung oleh kepala Sekolah SMAN Galaksi.


"Peringkat terbaik dengan nilai yang pantastis dan hasil yang cukup memuaskan, sehingga mendapatkan julukan siswa terbaik di tahun 2021 jatuh kepada ...." Kepala sekolah menggantungkan kalimatnya dan kembali menyebutkan, "Mari kita sambut, Hadwan Harsa Haryaka, siswa kelas 12 MIPA yang berhasil meraih nilai terbaik dari seluruh siswa kelas 12 tahun ini."


Seluruh siswa terkejut dengan apa yang baru saja kepala sekolah ungkapkan. Nama yang mengegerkan semua siswa karena tidak mungkin bagi seorang laki-laki yang cukup pendiam dan jarang berbicara bisa begitu saja mencapai nilai paling tertinggi dari seluruh siswa kelas 12, itu sungguh mustahil menurut mereka yang mungkin berpikiran negatif.


Sejenak suasana hening dan tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, sampai terdengar suara tepukan tangan dari guru-guru yang mengajar di SMAN Galaksi. Sebab itu semua siswa juga ikut serta bertepuk tangan walaupun masih heran dengan kenyataan yang baru saja terjadi.


Lantas laki-laki yang bernama lengkap Hadwan Harsa Haryaka itu berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan dengan senyum tipis di bibirnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona, apalagi para wanita.


Dengan penuh keberanian laki-laki yang bertubuh tinggi itu berjalan melewati banyaknya siswa dan kebanyakan dari mereka silih bergantian menatap ke arahnya. Ada yang menatapnya dengan kagum, heran, dan juga tidak menyangka. Namun, pria yang hendak berusia 19 tahun itu terlihat biasa saja, tidak menghiraukan pandangan teman-teman lainnya.

__ADS_1


Tubuhnya yang tinggi membuat Hadwan terlihat semakin gagah dan berwibawa, apalagi dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya, semakin menambah katampananya.


Sampai tanpa terasa kini Hadwan sudah berada di atas panggung dan berdampingan dengan kepala sekolah yang tidak lain adalah Tuan Saputra, beliau begitu bangga kepada Hadwan dan lebih bersimpati kepadanya dari pada kepada putranya sendiri, Daniel yang setiap hari bisanya hanya berbuat onar dan mencemari nama baik sekolah yang telah didirikannya. Bukannya membuat bangga, malah sebaliknya.


"Sekarang Pak Kelapa Sekolah bisa langsung memberikan piagam penghargaannya kepada peserta didik terbaik kita pada saat ini," ucap pengisi suara di acara kelulusan yang megah itu.


Tuan Saputra pun hanya tersenyum dan beralih menatap wajah pria muda dan tampan yang berada di hadapannya itu. Dengan penuh kebanggaan, Tuan Saputra menggalungkan piagamnya dengan hormat kepada Hadwan.


Seketika sorak dan tepuk tangan kembali terdengar dari para siswa dan orang tua siswa yang hadir di acara wisuda sekaligus kelulusan tersebut.


"Bapak bangga sama kamu Nak Hadwan, semoga sampai seterusnya kamu bisa mempertahankan dan meningkatkan prestasi ini yang berhasil membuat bangga sekolah kami ini," ucap Tuan Saputra sembari menepuk pelan pundak Hadwan, sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum.


"Aamiin, terima kasih banyak, Pak," jawab Hadwan dengan sangat hormat dan sopan.


"Kepada Hadwan, bila berkenan saya persilahkan untuk mengucapakan sesuatu atau harapan serta motivasi pada ajang kesempatan ini," ucap mc dengan hormat kepada Hadwan.


"Alhamdulillah hirobbil alamin, dalam kesempatan ini saya selaku siswa didik di SMAN Galaksi ini dengan bangga mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil terjadi bagi seseorang yang berusaha. Saya juga tidak menyangka akan berada di tempat ini, ditambah dengan penghargaan yang sangat luar biasa. Namun, atas izin dariNya, alhamdulilah saya bisa berdiri di sini. Terutama terima kasih kepada pihak sekolah dan kakak saya yang sudah membingbing saya untuk bisa sampai seperti ini, dengan dukungan penuh dari Kak Anisa membuat saya bisa menjadi seperti ini. Older brother Anisa Humaira," ucap Hadwan dengan tersenyum dan pandangan matanya mengarah kepada Anisa.


Anisa yang melihat adiknya sendiri yang sedang berdiri gagah di depan seluruh siswa, ikut terharu dan sampai meneteskan air mata karena tanpa disadari perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Apalagi hidup berdua tanpa orang tua membuat Anisa tersenyum haru dengan pencapaian adiknya yang mampu membuatnya bangga. Bukan hanya itu, dari kecil sampai sekarang Hadwan tidak pernah membantah perkataannya, selalu nurut dalam keadaan apa pun.


Satelah Hadwan selesai mengucapakan kata-katanya, lantas ia pun kembali turun dari panggung dan langsung menghampiri kakaknya, lalu memeluknya dengan sangat erat disertai dengan kebahagian. Bahkan siswa dan teman-temannya terlihat ikut terharu dengan kebahagiaan kedua adik kakak tersebut.


...****************...


Tiga jam telah berlalu, wisuda pun telah selesai dan para siswa sudah mulai pulang dan ada juga yang masih berada di sana, sedangkan Hadwan terlihat masih bersama kakaknya.

__ADS_1


"Dek, itu bukannya Iklima ya? Temen kamu yang waktu itu," ujar Anisa yang tanpa disengaja melihat Iklima yang sedang duduk di taman sendirian.


"Iya, betul itu Iklima. Emangnya kenapa Kak?" tanya Hadwan dengan senyum tipis di bibirnya.


"Ayo kita ke sana," ajak Anisa yang tanpa persetujuan Hadwan langsung menarik tangganya untuk menemui Iklima.


"Eh, eh. Kak mau ngapain?"tanya Hadwan yang keheranan. Namun, tidak didengar oleh Anisa yang terus menariknya menuju Iklima.


"Assalamu'alaikum, Iklima." Anisa menyapa Iklima dengan senyum yang ramah.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Kak Anisa," ucap Iklima malu-malu.


"Aduh, Dek. Kakak tinggal ke sana dulu ya, angkat telpon dulu sebentar," ujar Anisa tiba-tiba kepada Hadwan.


"Iya Kak," jawab Hadwan yang tanpa disadari ia dengan Iklima tengah saling berhadapan.


"Emm ... Kak. Iklima mau bicara sesuatu sebentar boleh?"


Hadwan menatap Iklima sekilas. "Iya, katakanlah," ujarnya dengan singkat.


"Sebenarnya, emm ... selama ini aku suka sama Kak Hadwan. Apa Kak Hadwan mau terima cinta aku?" ungkap Iklima dengan malu sembari menundukkan wajahnya karena sudah mulai memerah.


Hadwan mendengar itu langsung terperangah, tidak percaya dan kaget. Sejenak Hadwan terdiam, lalu kemudian ia pun memberanikan untuk menjawabnya.


"Maaf Iklima, saya sepertinya tidak bisa menerima cintamu saat ini, bukan karena saya tidak menyukaimu. Saya hanya tidak ingin jalanmu menuju yang lebih baik terhalang karena cinta. Jika tiba saatnya nanti, saya akan menemuimu jika kamu memang takdirku," jawab Hadwan dengan hati-hati.

__ADS_1


Iklima menatap wajah Hadwan dengan rasa yang mulai rapuh. "Iklima akan menunggu Kak Hadwan sampai kapan pun," ucapnya dengan yakin.


"Jangan menungguku, itu akan menyiksamu saja. Biarlah kita masing-masing dulu, kamu dengan kehidupan dan cita-citamu, aku dengan kehidupanku. Jangan khawatir denganku, jika kita berjodoh. Suatu saat nanti, aku akan kembali dan menemuimu," ucap Hadwan dengan senyum tipis, lalu pergi meninggalkan Iklima yang menatapnya dengan kesedihan.


__ADS_2