Hadwan

Hadwan
Bab 26 : Semakin Menjauh


__ADS_3

..."Adakalanya semua orang menjauh, di mana kesendirian itu hadir. Diuji dengan berbagai cobaan, tidak ada yang percaya, tidak ada yang menemani. Namun, hal itu mampu dilalui dengan kesabaran dan kekuatan yang dimiliki."...


...~~~...


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya izin pergi pulang duluan. Assalamualaikum," jawab Hadwan sembari tersenyum dengan ramah kepada Ayah Adam.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalannya ya, Nak." Tuan Adam ikut tersenyum melihat Hadwan.


"Baik, Pak." Ucapan Hadwan langsung dibalas dengan senyuman oleh Tuan Adam dan Iklima.


Hadwan pun pergi meninggalkan ayah dan anak itu yang sedang berdiri melihat kepergiannya.


"Baiklah Iklima, kita pulang sekarang," ucap Ayah Adam setelah melihat Hadwan yang telah menjauh.


"Iya Ayah," jawab Iklima dan segera masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Ayah Adam yang langsung mengemudikan kendaraan beroda empat itu, menyusuri jalanan dengan riuhnya kendaraan yang tengah melintas.


Dua puluh menit kemudian, Ayah Adam bersama Iklima sudah sampai di rumah, gadis itu bertanya kepada ayahnya dengan lugu dan sedikit mengherankan.


"Ayah, apa tadi Ayah tidak marah?" tanya Iklima.


"Kenapa harus marah? Tidak ada alasan bagi Ayah untuk memarahi seseorang, apalagi putri Ayah sendiri," jawab Ayah Adam dengan tersenyum kepada Iklima.


"Bukan sama Iklima, tapi sama Kak Hadwan," cicit Iklima dengan sedikit menunduk.


"Oh itu, nama laki-laki yang tadi itu Hadwan ya? Bagus juga namanya," ujar Ayah Adam dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Ih, Ayah! Kok enggak nyambung sih," sahut Iklima merajuk.


"Eh, Ayah salah ya? Maaf deh, terus kenapa emangnya dengan pemuda itu?" tanya Ayah Adam yang semakin membuat Iklima gemas.


"Baru bertanya lagi, tadi kan Iklima sudah bilang sama Ayah. Emm itu ... Ayah enggak marah sama Kak Hadwan?" Sekali lagi Iklima menanyakan hal yang sama kepada ayahnya.


"Oh itu, Ayah enggak marah kok. Lagi pula Hadwan orangnya baik dan ramah, Ayah suka sama dia," ujar Ayah Adam tidak memperlihatkan wajah marah sedikit pun.

__ADS_1


Gadis itu menatap wajah ayahnya dengan serius, ia tidak melihat kemarahan dari wajah ayahnya itu yang Iklima lihat hanya wajah kegembiraan dan sangat bahagia.


"Iklima, kenapa kamu menatap Ayah seperti itu?" tanya Ayah Adam dengan kudua alis yang berkerut.


"Oh, tidak Ayah! Iklima hanya lagi seneng saja," jawab Iklima yang juga sedikit kaget karena ayahnya bisa mencurigainya karena terus menatap wajahnya itu.


Adam terdiam sejenak, dia merasa bahwa ada yang berbeda dari sikap putrinya itu dan dia tidak tinggal diam saja. "Apa yang membuat Iklima bahagia?" tanyanya dengan tersenyum supaya putrinya itu mau menjawab pertanyaannya.


"Ada deh Yah, Ayah enggak perlu tahu." Iklima tersenyum jahil kepada ayahnya, lalu melenggang pergi meninggalkan Ayah Adam yang hanya mematung di tempatnya.


"Dah Ayah, Iklima ke kamar dulu," ujarnya yang kemudian meninggalkan ayahnya begitu saja.


Adam hanya menatap kepergian putrinya dengan tersenyum saja, sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Cek, Iklima. Sekarang putriku sudah mulai main rahasiaan," celetuknya kemudian.


"Barusan Ayah bilang apa?" Ternyata gadis yang hendak pergi itu masih bisa mendengarkan suara ayahnya, padahal tidak terlalu keras suaranya.


"Loh katanya mau ke kamar? Udah sana." Adam melihat putrinya yang masih berada di atas tangga dan hendak menuju kamarnya.


"No, Yah! Aku mendengar sesuatu yang sempat Ayah katakan baru saja," balas Iklima dengan tetap diam di tengah-tengah tengga.


"Ayah jangan bohong, tadi Iklima denger sendiri Ayah ngomongin aku," celetuk Iklima yang langsung membuat Adam terperangah.


"Enggak Nak, Ayah enggak bilang apa-apa. Sudah bersih-bersih sana," seru Ayah Adam dengan was-was.


"Ada apa ini? Kok masih di mari? Cepetan bersih-bersih, Mama sudah siapin makanan di meja," ucap Mama Nadira yang tiba-tiba saja datang.


"Mama tuh Ayahnya," rengek Iklima berharap mamanya membela dirinya.


Mengendengar suara putrinya, lantas Nadira pun menatap wajah suaminya dan bertanya, "Ada apa, Mas?"


"Iya sayang, tidak ada apa-apa," sahut Adam kepada istrinya.


"Kalau tidak ada apa-apa. Ya udah, Iklima cepat bersiap, biar Ayahmu ini Mama yang urus," ucap Mama Nadira kepada Iklima.

__ADS_1


"Iya, Ma." Iklima pun tersenyum senang dan segera masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas.


...****************...


Keesokan harinya, Iklima kembali bertemu dengan kedua temannya, tapi mereka masih saja menghindarinya dan bersikap cuek terhadap Iklima. Namun, gadis itu tetep tersenyum walaupun kedua sahabatnya tidak lagi menemaninya, tapi Iklima yakin bahwa tidak akan lama lagi Wardah dan Naina akan kembali kepadanya.


"Hai Wardah, Naina," sapa Iklima pada saat memasuki kelas dan duduk di kursinya.


"Hem, Nai antar aku ke keluar sebentar ya," ucap Wardah langsung menggandeng tangan Naina untuk pergi keluar dari kelas, sedangkan Iklima hanya bisa menatapnya nanar.


"Loh, kalian mau ke mana?" tanya Iklima mencoba berbicara dengan Wardah dan Naina walaupun sempat diabaikan.


"Kami mau ke luar sebentar," jawab Naina dingin dan tidak ramah lagi.


"Baiklah, cepat kembali," sahut Iklima dengan teseyum.


"Ya," jawab Wardah dan pergi bersama dengan Naina, sedangkan Iklima berdiam diri di kelas saja.


Sampai jam istirahat, Wardah dan Naina masih saja membuat alasan untuk menghindari Iklima, tapi ia masih sabar dan hanya bisa diam saja.


"Nai, kita ke kantin barang-barang. Aku sudah lama enggak kumpul lagi sama kalian berdua," ajak Iklima.


"Emm ... maaf ya Iklima, kami enggak bisa soalnya sudah ada janji dengan Saras," jawab Wardah.


Iklima mengerutkan kedua alisnya merasa heran. "Saras, Kak Saraswati yang jadi osis itu ya?" tanya Iklima dengan atensi lain.


"Iya, tadi kami sudah janji mau makan bareng. Jadi, maaf ya Iklima bukannya kita tidak mau menerima tawaran darimu," ucap Naina dengan menolaknya secara halus.


"Oh gitu ya. Ya udah enggak papa, kalian pergi saja bersama Kak Saras," jawab Iklima dengan tersenyum.


"Iya, terima kasih Iklima. Kalau begitu kami berdua pergi duluan ya," ujar Naina, lalu pergi meninggalkan Iklima.


Iklima terdiam dan masih memikirkan perkataan dari Wardah tadi tentang kakak kelasnya itu. "Sejak kapan Naina dan Wardah menyukai dan dekat dengan Kak Saras?" tanyanya yang hanya mampu dikatakan di dalam hatinya saja.

__ADS_1


"Ah, sudahlah jangan dipikirin lagi," ucap Iklima yang kemudian hanya pergi istirahat sendirian tanpa kedua sahabatnya lagi


Sesampainya di kantin, Iklima melihat pemandangan yang sedikit membuatnya cemburu akan kedekatan kedua sahabatnya bersama Saras dan kawan-kawannya. Namun, gadis itu masih berpikir positif saja dan tidak berpikir hal yang tidak-tidak terhadap Saras dan temen-temennya.


__ADS_2