Hadwan

Hadwan
Bab 22 : Menundukkan Pandangan


__ADS_3

..."Laki-laki yang baik adalah dia yang bisa menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya, dia yang senantiasa menjaga imannya, dan dia yang bisa bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya."...


...~~~...


Setelah cukup lama berbincang dengan Anisa, mereka bertiga pun segera pulang dan Hadwan lebih dulu mengantarkan Iklima, sedangkan Anisa. Dia pergi pulang sendiri karena sudah biasa dan jarak masjidnya juga tidak jauh dari rumahnya.


Sepanjang perjalanan pulang, Iklima terus memikirkan semua yang dikatakan oleh Hadwan dan Anisa tadi di masjid dan hal itu membuatnya semakin tertarik untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terlebih melihat cara Hadwan mengajaknya dan mempertemukannya dengan Anisa, bukan hanya karena banyak alasan, tetapi dia membawanya ke jalan yang benar.


Bukan hanya itu, Iklima juga memperhatikan cara Hadwan berjalan dan bersikap kepadanya. Lama-lama Iklima penasaran dengan Hadwan yang setiap harinya selalu menjaga jarak darinya dan menundukkan kepalanya pada saat berhadapan dengannya.


"Kak, apa aku boleh tanya sesuatu?" Iklima tidak bisa menahan rasa penasarannya, lantas ia pun memilih bertanya langsung.


"Boleh, mau tanya apa?" jawab Hadwan bersikap ramah kepadanya.


"Kenapa Kak Hadwan kalau sedang berhadapan denganku selalu menunduk? Apakah wajahku seram? Atau karena aku yang sangat buruk?" tanya Iklima penuh dengan penasaran.


Hadwan terdiam sebentar, lalu kembali menjawab, "Aku sengaja menundukkan kepala di hadapanmu bukan karena kamu menyeramkan, tetepi aku sedang menjaga pandangan dari yang bukan mahramku dan itu kamu."

__ADS_1


"Kalau begitu, biarkan aku yang menjadi mahrammu yang setiap saat bisa bersama, saling menatap satu sama lain, dan bisa setiap hari melihatmu menatapku tanpa harus menunduk lagi." Entah dari mana Iklima bisa berkata seperti itu, tapi yang pasti dia mulai menyukai Hadwan.


"Bukan seperti itu? Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menjadi mahramku." Hadwan hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan jalannya.


"Kenapa begitu? Aku sangat cemburu jika hanya tanah yang selalu kamu tatap, sedangkan aku belum pernah satu kali pun kamu tatap selama itu," ucap Iklima yang mulai mengeluh karena Hadwan tidak pernah menatapnya layaknya saudara dan keluarga yang lain.


"Jika kamu ingin ditatap bagaikan itu, maka kamu juga harus berusaha memantaskan diri. Dan jika sudah waktunya, seseorang akan menatapmu sepanjang saat. Di mana waktu itu tiba, maka aku akan bersyukur bisa membuatmu bahagia," ujar Hadwan yang tanpa Iklima sadari ada sebuah harapan di dalamnya.


"Apa aku kurang cantik bagimu? Dan kurang menarik untukmu, sehingga sudah berulang kali aku berusaha untuk mendapatkan hati Kak Hadwan, tapi tidak pernah sekali pun berhasil," ucap Iklima lirih.


"Aku mencintaimu, Kak Hadwan. Maka dari itu, aku mengejarmu," kata Iklima yang membuat Hadwan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Lebih baik kita pulang saja, ini sudah hampir magrib dan orang tuamu pasti sudah menunggumu," ucap Hadwan yang tidak mau urusannya semakin panjang.


"Baiklah," jawab Iklima sedikit kesal karena Hadwan terus mengacuhkannya.


Setelah meraka sampai di depan rumah Iklima, Hadwan yang berada di hadapannya masih terus menunduk, sedangkan Iklima hanya bisa tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengajarkanku banyak hal dan maaf atas kelancanganku dalam berkata," ucap Iklima yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Hadwan.


"Iya, sama-sama," jawab Hadwan, lalu pergi dari hadapan gadis itu.


"Kak," panggil Iklima sebelum Hadwan menjauh dari hadapannya.


Hadwan berbalik dan melihat Iklima sekilas. "Ada apa?" tanyanya dengan nada suara yang santai.


"Tolong bilang ke Kak Anisa terima kasih ya," ujar Iklima dan Hadwan hanya mengangguk saja.


"Nanti aku sampaikan," jawab Hadwan singkat.


"Terima kasih, calon suamiku," ucap Iklima dengan tersenyum manis kepada Hadwan. Setelah itu, ia pun segera masuk ke dalam rumahnya karena merasa sangat malu.


Hadwan yang melihat tingkah Iklima hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, tidak lupa juga senyumannya yang terbit di wajahnya menjadikan Hadwan semakin tampan. Tapi sayang, Iklima tidak melihatnya.


__ADS_1


__ADS_2