
..."Jangan sibuk menilai orang dari penampilannya saja, bukan berarti semua harus dilihat dari penampilan, tapi penampilan yang baik akan mencerminkan kepribadiannya yang baik. Akan tetapi sebaliknya, jika penampilannya tidak pantas akan dinilai buruk pula oleh orang."...
...~~~...
Setelah Hadwan dan Iklima kembali masuk ke kelasnya masing-masing, seluruh siswa yang satu kelas dengan Iklima. Mereka menatap Iklima dari atas sampai bawah. Ada yang kagum dengan penampilannya, ada juga yang menatap tidak suka kepada Iklima.
Gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya saja dan berjalan dengan santai walaupun sebenernya, ia sangat gugup karena tatapan teman-temannya yang seakan memindai dirinya. Namun, Iklima tidak ambil pusing untuk itu, ia lebih memilih bersikap biasa saja karena mungkin teman-temannya merasa aneh dengan penampilannya yang mulai menggunakan hijab.
Seketika perbincangan pun terjadi, para siswa saling berbisikan tetang Iklima. Ada yang mulai menyukai penampilannya dan ada juga yang menilai buruk Iklima yang mendapatkan masalah, sehingga masuk ke ruang bk.
"Iklima, ini beneran kamu? tanya Naina kaget melihat penampilan Iklima yang semakin cantik dengan hijab serta pakaian tertutup.
Iklima hanya mengangguk malu-malu, ia masih tidak percaya diri dengan penampilannya yang terbilang berubah derastis. Namun, hal itulah yang membuat semua orang kagum dan terpesona dengan keanggunannya.
"Masya Allah, cantiknya," puji Naina. Begitu pula sama dengan Wardah yang diam-diam juga menyukai penampilan Iklima.
"Alhamdulillah, terima kasih. Kamu juga cantik," balas Iklima sembari tersenyum tipis.
Tidak lama dari itu, guru yang akan mengajar di kelas Iklima baru saja kembali dari ruang guru karena ada yang memanggilnya untuk ke sana.
"Baik, materinya akan Ibu jelaskan kembali minggu depan. Dikarnakan ada rapat dadakan dan akan menghabiskan waktu cukup lama. Jadi, kalin boleh pulang sekarang," ucap Ibu Hilma sembari menggambil buku dan tasnya yang berada di meja guru.
"Baik, Bu." Serempak para siswa menjawab dengan sangat senang.
"Sampai berjumpa kembali besok. Assalamualaikum," ucap Ibu Hilma yang langsung dijawab oleh para siswa yang ada.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah Bu Hilma keluar dari kelas, para siswa langsung bersiap untuk pulang dan berdoa terlebih dahulu. Setelah itu, satu persatu siswa keluar dari dalam kelas. Bagitu pula dengan siswa lainnya.
__ADS_1
Di saat Iklima berjalan keluar dari dalam kelas, seorang wanita berbincang dengan temannya di loby dan sengaja mengeraskan suaranya.
"Percuma saja berhijab kalau kelakuannya masih menjadi ajang pujian semua orang," ujar Saraswati. Dia baru saja melewati Iklima yang masih mematung di tempatnya karena sempat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut gadis itu.
"Iya untuk apa punya wajah cantik, tapi malah disalah gunakan? Udah salah, pake hijab lagi. Komplit sudah kelakuan busuknya," sahut wanita yang berada di samping Saraswati.
"Kalo salah, tetep salah. Apalagi sampai masuk Ruang BK, menghina hijabnya saja," ucap Saraswati yang terdengar jelas oleh Iklima.
Gadis yang memakai hijab itu hanya diam saja mendengar semua hinaan yang keluar dari kakak kelasnya, ia juga tidak bisa melewan karena tidak baik melawan Saraswati yang notabennya kakak kelas Iklima.
Wanita yang bernama Saraswati itu adalah siswa kelas 12 IPA, satu angkatan dengan Hadwan. Dia cukup terkenal karena menjadi osis di sekolah itu, sehingga tidak ada yang berani berhadapan dengannya.
Iklima hanya bisa menahan tangisnya sebelum Saraswati pergi dan setelah dipastikan Saras tidak terlihat lagi dari hadapannya. Iklima segera meninggalkan tempat itu dan mencari tempat yang nyaman untuk menumpahkan air matanya yang tidak bisa dibendung lagi.
Siswa SMAN Galaksi sudah banyak yang pulang dan mengurang, tetapi Iklima masih berada di dekat gerbang sekolah. Biasanya Iklima menunggu ayahnya di tempat itu, tapi sekarang ayahnya tidak bisa menjemput. Jadi, Iklima bisa langsung menggunakan taksi. Namun, entah kenapa Iklima merasa belum ingin pulang karena masih teringat dengan kata-kata Saraswati tadi.
Sampai terdengar suara laki-laki yang tidak asing di telinganya, membuat Iklima menatapnya.
Iklima yang tertunduk langsung mengangkat wajahnya menatap pemuda itu, terlihat jelas matanya sembab karena menangis. Hadwan yang melihatnya sudah bisa menduga kalau sekarang ini Iklima sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak menunggu siapa-siapa," jawab Iklima dengan memalingkan wajahnya ke samping lain karena merasa malu.
"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Hadwan yang semakin membuat Iklima mengelak.
"Enggak kok. Tadi itu ada yang masuk ke dalam mataku, sehingga mengeluarkan air mata karena perih," jawab Iklima sembari menghapus air matanya.
"Jangan berbohong, saya bisa melihatnya dari wajahmu kalau kamu saat ini sedang tidak baik-baik saja." Hadwan semakin memojokkan Iklima sehingga Iklima jujur kepadanya.
"Baiklah, aku menang sedang tidak baik-baik saja," ucap Iklima dengan wajah yang murung.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Hadwan dengan tersenyum tipis karena bisa membuat Iklima jujur, tapi senyuman itu tidak dilihat oleh Iklima.
"Apa aku salah berusaha memperbaiki diri?" tanya Iklima.
"Tidak, malahan itu bagus," jawab Hadwan.
"Apa aku juga salah memakai hijab ini?" tanya Iklima dengan air mata yang kembali keluar dari wajah cantiknya.
"Tentu tidak," jawab Hadwan.
"Lalu mengapa orang menganggap bahwa aku itu wanita yang salah dan semakin menambah salah dengan menutupinya oleh hijab supaya mendapatkan pujian dari orang banyak? Tapi, tidak ada sedikit pun timbul rasa di dalam hatiku untuk dipuji seperti itu," ucap Iklima menundukkan kepalanya karena kembali menangis.
"Apa kamu mempercanyai itu?" tanya Hadwan.
"Tidak! Aku tidak melakukan hal itu untuk mendapatkan pujian," jawab Iklima.
"Apa kamu masih ingin belajar memperbaiki diri?" tanya Hadwan bertubi-tubi.
"Iya, tapi aku benci diriku! Karena aku menjadi difitnah dan menyalahkan hijab, padahal jilbabku ini tidak salah, tapi mengapa bisa disangkut pautkan dengan diriku?" Iklima mengeluarkan semua unek-uneknya yang sedari tadi ia sembunyikan.
Hadwan melangkahkan satu kakinya untuk mendekati Iklima. "Jangan salahkan dirimu dan jangan berhenti memakai hijab ini. Ingatlah dengan niat awalmu untuk menggunakan hijib," ucap Hadwan yang membuat Iklima kembali mengingatnya.
"Aku ingin Istiqamah menggunakan hijab dan memperbaiki diri, tapi sepertinya aku akan mundur," kata Iklima sembari menundukkan kepalanya.
"Kenapa begitu? Ini baru pertama dan kamu sudah mundur? Maka dari itu, kamu sudah membenarkan ucapan orang yang menganggapmu salah dan membenarkan semua tuduhannya itu." Hadwan menatap Iklima yang hanya menunduk.
Mendengar perkataan Hadwan, lantas membuat Iklima tertarik untuk menatap wajah pemuda itu dan berucap, "Apa yang diucapkannya itu salah dan aku tidak akan membenarkan ucapannya."
Hadwan tersenyum dan berkata, "Maka belajarlah istiqamah."
__ADS_1