Hadwan

Hadwan
Bab 24 : Berubah


__ADS_3

..."Cinta bisa mengubah segalanya, tapi rasa tidak bisa dihindari. Ketika cinta itu hadir, maka segala sesuatu akan dilakukan. Namun, cinta itu juga yang berhasil membuat hidup semakin berwarna."...


...~~~...


"Halo teman-teman, maaf ya nunggunya jadi lama." Iklima tersenyum dan duduk di samping Naina yang sedang menikmati makanannya.


"Kok diam saja?" tanya Iklima yang tidak kunjung mendapatkan respon jawaban dari kedua sahabatnya.


"Emm ... enggak papa," jawab Wardah diiringi dengan senyuman tipis dari bibirnya.


"Oh baiklah jika tidak ada apa-apa," ujar Iklima dan segera menikmati makanannya.


Di saat itu tidak ada yang berbicara dan hanya suara dentuman sendok yang beradu dengan piring. Hal itu membuat heran Iklima yang tidak biasanya kedua sahabatnya itu diam ketika sedang berkumpul bersamanya. Untuk itu, ia menjadi sangat curiga bahwa ada yang disembunyikan dari sahabatnya itu.


Gadis cantik itu baru saja menyelesaikan makanannya dan meminum segelas air teh hangat. Dirasa sudah tenang, Iklima menatap wajah kedua sahabatnya yang sedari tadi hanya diam saja menatapnya.


"Apa yang sedang kalian pikirkan? Coba ceritakan sama aku." Iklima menanti jawaban dari sahabatnya yang hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Jadi gini, Iklima. Semenjak kamu dekat dengan Hadwan, kami merasa bahwa kamu itu jadi berubah," ucap Wardah langsung membuat Iklima membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"A--aku berubah?" tanya gadis itu tidak percaya dengan ucapan Wardah baru saja.


"Iya," sahut Naina menjawabnya sebelum Wardah kembali mengatakan sesuatu.


"Enggaklah, kalian mungkin salah mengira. Aku tetap sayang sama kalian, enggak berubah sama sekali," sengkal Iklima dengan sedikit tawa dan kembali meminum teh hangatnya.


"Ini benar Iklima, kami merasa Hadwan sudah mengubah sikapmu." Wardah mulai mengatakan keluhannya kepada Iklima.


"Ehuk-ehuk ...." Iklima tersedak minumannya sendiri setelah mendengar nama Hadwan yang baru saja Wardah katakan.


"Iklima, kamu enggak papa?" tanya Naina sembari memberikan air putih kepada Iklima dan mengusap pundaknya.

__ADS_1


Iklima langsung menerima segelas air putih yang diberikan oleh Naina dan segera meminumnya, kemudian mengucapakan, "Terima kasih, Nai. Maaf jadi buat kalian khawatir."


"Enggak papa, tapi Iklima beneran enggak kenapa-kenapa, kan?" Naina menatap wajah Iklima dengan khawatir.


Iklima mengelum senyum tipis dari bibirnya. "Iya, aku enggak papa," ucapnya sembari menatap Naina dengan haru.


"Ya udah, bagus kalau begitu," sahut Wardah, kemudian menatap wajah Naina. "Ayo Nai, kita harus kembali ke kelas," ajak Wardah dengan menarik tangan Naina.


"Eh, kalian mau ke mana?" tanya Iklima dengan menatap heren atas sikap Wardah yang tidak seperti biasanya bersikap seperti itu.


"Maaf ya, Iklima. Wardah lagi kurang baik," kata Naina sembari tersenyum sebelum Wardah terus mengajaknya pergi dari kantin.


"Tapi, Nai ...." Iklima menggantungkan ucapannya karena melihat Wardah dan Naina yang sudah pergi jauh dari hadapannya.


"Ada apa dengan meraka?" tanya Iklima pada dirinya sendiri karena melihat keanehan sikap kedua temannya, apalagi Wardah yang terlihat sangat berbeda sekali.


Setelah itu, Iklima merasa kesepian dan tidak ada teman, sehingga membuatnya segera menyusul kedua sahabatnya yang tanpa tahu kenapa meraka tiba-tiba saja meninggalkannya.


Sesampainya gadis cantik itu di kelas, pemandangannya tertuju kepada dua perempuan yang sedang mengobrol di kursi depan dan setelah kedatangannya, keduanya kembali bersikap dingin kepada Iklima.


Dirasa ada yang kurang beres dan tidak baik-baik saja, maka Iklima pun memilih langsung aja duduk di kursinya dan fokus terhadap ujian sampai bel pulang pun berbunyi, membuat murid-murid mengucap syukur karena sudah bisa menyelesaikan ujian di hari pertamanya walaupun belum tahu hasilnya akan seperti apa.


"Wardah, ada apa denganmu? Apa aku membuat kesalahan?" Iklima menghampiri Wardah yang buru-buru keluar bersama dengan Naina.


"Hem ... coba pikirkan saja sendiri," ujar Wadah yang berhasil membuat Iklima membulatkan kedua bola matanya sempurna.


"Apa yang kamu maksud, Wardah?" Iklima masih belum percaya dengan apa yang baru saja Wardah ucapkan.


"Sudahlah, nanti juga kamu tahu penyebabnya sendiri." Wardah langsung melenggang pergi dari hadapan Iklima.


"Eh, tunggu aku Wardah," teriak Naina yang hanya tersenyum lebar saja menatap Iklima.

__ADS_1


"Tinggu, Nai! Ini ada apa sebenarnya? Jelaskan sama aku, apa yang terjadi?" tegas Iklima memegang tangan Naina supaya bisa mendapatkan jawaban darinya.


"Eh, maaf Iklima. A--aku tidak bisa mengatakannya ...," cicit Naina sembari melepaskan tangan Iklima yang masih memegang tangan kanannya.


"Plis, Nai! Tolong beri tahu aku, biar aku bisa mengetahuinya," pinta Iklima dengan wajah sedih.


"Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi maaf jika kata-kata Nai nanti menyakiti hati Iklima," ucap Naina yang langsung diangguki oleh Iklima.


"Kamu boleh dekat siapa pun, Iklima asalkan kamu enggak lupa sama kita berdua. Mungkin setelah kamu mengenal Hadwan, kami merasa kalau kamu sudah jarang kumpul dengan kita berdua dan sikapmu kini telah berubah jauh dari sebelumnya," ucap Naina dengan tatapan yang sendu.


"Kenapa kalian bisa berpikir seperti itu?" tanya Iklima dengan kedua alis yang dikerutkan dan mata yang menyipit.


"Nai, kenapa kamu masih diam saja di situ? Ayo kita pulang," panggil Wardah yang masih berada tidak jauh dari tempat meraka berdua.


"Tunggu sebentar, Wardah! Iklima ingin mengetahui sesuatu," seru Naina dengan mata yang dialihkan ke arah Iklima.


"Cek!" sahut Wardah yang dengan malas kembali menghampiri Iklima.


"Sudahlah ayo Nai, dia udah enggak perduli juga sama kita," ujar Wardah sembari menarik sebelah tangan Naina.


"Tidak, Wardah! Iklima perlu tahu yang sebenarnya," ucap Naina menolak ajakan dari Wardah.


"Apa yang perlu dijelasin lagi sama dia? Dia udah lebih memilih Hadwan dari pada kita berdua," ucap Wardah dengan sedikit emosi.


"Cukup! Aku tidak memilih di antara kalian berdua, maupun Hadwan. Aku tetep sayang sama kalian dan Hadwan, aku juga senang berteman dengannya, tapi bukan berarti aku melupakan kalian berdua sebagai sahabatku," kata Iklima dengan menekankan bahwa dia tidak sama sekali memilih di antara sahabatnya dan Hadwan.


"Jika kamu tidak memilih Hadwan, lantas mengapa kamu lebih mengutamakan dia dari pada kami?" tanya Wardah tidak kalah tegasnya.


Iklima terdiam, ia tidak bisa mengucapakan sepatah kata lagi karena bingung harus mengatakan apa. Keadaan ini sangat sulit baginya untuk menentukan jawaban yang tepat.


"Apa? Kamu tidak bisa menjawabnya, kan? Berarti benar apa dugaan kita berdua terhadap kamu selama ini!" ucap Wardah dan pergi meninggalkan Iklima sendirian, sedangkan Naina juga kecewa kepadanya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka bahwa kamu akan berubah secepat ini, Iklima," ucap Naina, lalu mengikuti Wardah yang duluan pergi meninggalkannya.


Gadis itu tertunduk lemas di atas lantai dengan keadaan yang kurang baik-baik saja, ia merasa gagal mempertahankan persahabatannya. Di sisi lain, Iklima juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi Wardah dan Naina yang sudah salah paham terhadap sikapnya selama ini.


__ADS_2