Hadwan

Hadwan
Bab 23 : Prasangka Buruk


__ADS_3

..."Hadirmu membawakan kesan bagiku. Dan dari balik sikapmu, ada sebuah kenyataan yang tidak pernahku pikirkan. Keistimewaanmu itu hadir dikala cinta menyapa sanubari hatiku."...


...~~~...


Keesokan harinya adalah hari di mana ujian kenaikan sekolah berlangsung. Iklima sudah berusaha untuk menghafal buku-buku pelajaran dan biasanya dia sudah siap akan semuanya, tepi kali ini sangat berbeda. Iklima malah tidak sama sekali memahami buku-buku pelajarannya karena pikirnya selalu tertuju kepada Hadwan.


Akhir-akhir ini, gadis itu lebih cenderung memikirkan Hadwan dan karena itu, Iklima tidak bisa fokus terhadap pelajaran di sekolah. Bahkan, Iklima sudah beberapa kali mencoba untuk tidak memikirkan laki-laki itu. Akan tetapi, usahanya tidak membuahkan hasil karena Hadwan selalu membuatnya terpikirkan dengan semua perkataan yang keluar dari mulutnya.


Tidak lama dari itu, guru pengawas masuk ke dalam kelas dan mulai membagikan lembaran ulangan yang harus dikerjakan. Pada giliran Iklima, gadis itu terlihat kebingungan karena ia tidak yakin bisa mengerjakannya karena pikirannya sedang tidak baik. Namun, Iklima tidak menyerah begitu saja dan berusaha mengerjakan kertas ujiannya.


Dua jam kemudian, Iklima berhasil mengerjakan ujiannya dengan semampunya. Bel istirahat pun berbunyi dan gadis itu langsung keluar dari dalam kelas bersama kedua sahabatnya.


"Iklima, kamu kenapa? Aku lihat-lihat dari tadi kayaknya kamu lagi mikirin sesuatu." Wardah nampak curiga dengan sikap Iklima kali ini.


"E--enggak, aku tidak apa-apa, cuman lagi pusing aja enggak bisa fokus belajar semalam," jawab Iklima dengan menatap wajah Wardah.


Wardah mengerutkan kedua alisnya heran. "Kenapa bisa begitu? Tidak biasanya kamu begitu, Iklima."


"Enggak tahu, aku pergi ke toilet dulu ya. Kamu dan Naina duluan saja," ujar Iklima yang semakin membuat Wardah keheranan.


"Tapi, Iklima. Mau Nai temenin?" Naina membuka suaranya dikala gadis itu hendak pergi.


"Udah, enggak papa. Kalian duluan aja, nanti aku nyusul," balas Iklima sembari tersenyum tipis.


Satelah Iklima menghilang dari hadapannya, Wardah dan Naina saling pandang. "Ada apa dengan Iklima ya? Akhir-akhir ini dia terlihat berbeda dan sedikit aneh," ujar Wardah pada Naina.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin perasaan kamu saja." Naina masih berpikir positif kepada Iklima.


"Enggak loh, beneran ini. Coba kamu lihat, semenjak Iklima dekat dengan Hadwan. Dia lebih sering menyendiri dan bertemu dengannya dari pada ngumpul dengan kita," ucap Wardah yang sudah mulai memperhatikan Iklima dari dulu.


"Eh, bentar. Bener juga katamu, emang sekarang Iklima sudah jarang banget ketemuan dengan kita, itu aja kalau ketemu paling di sekolah. Di sekolah juga Iklima jarang kumpul bareng kita lagi, padahal dulu dia tidak pernah begitu," kata Naina membenarkan perkataan Wardah.


"Apa semua ini terjadi gara-gara, Hadwan?" timpal Naina yang membuat Wardah menatapnya tajam.


"Shut! Nai, kamu jangan dulu menuduh begitu kepada Hadwan. Tidak baik, lagi pula kita belum tahu kebenarannya, nanti bisa jadi fitnah." Wardah memperingati Naina agar tidak menuduh seorang dulu.


"Iya-iya, aku juga tahu. Tapi, lain lagi dengan ini. Aku takut Iklima ikut aneh seperti Hadwan, dari pertama berkenalan dengannya. Iklima jadi berubah drastis, sampai-sampai aku tidak melihat wajah cerianya lagi," ucap Naina dengan satu tangan yang diangkat di dada.


Wardah terdiam sejenak memikirkan semua perkataan Naina barusan. "Sudahlah, kita jangan berprasangka buruk dulu terhadap Iklima, lebih baik kita ke kantin dulu karena sebentar lagi masuk, takutnya makanannya enggak habis dan kamu kelaparan," ucapannya yang membuat Naina menatap males.


"Soal makan aja, cepet banget," ucap Naina sebal.


"Iya, tapi enggak gitu juga kali." Naina memandang wajah juteknya.


"Haha ... ya udah ayo," ajak Wardah karena sudah tahu sifat masing-masing.


"Kok masih diem aja?" tanya Wardah kembali karena Naina masih berada di belakangnya.


"Soal Iklima bagaimana?" kata Naina.


"Udah, nanti saja. Ayo, Iklima nyusul," ujar Wardah dan menggandeng tangan Naina berjalan bersama menuju kantin.

__ADS_1


***


Gadis cantik itu baru saja keluar dari dalam toilet wanita, ia hendak berjalan kembali. Namun, tiba-tiba saja seseorang menghalangi jalannya.


"Tunggu! Kamu mau ke mana, sayang?" Daniel menghalangi jalan Iklima.


"Anda tidak perlu tahu dan tolong jangan halangi jalannya," jawab Iklima ketus.


"Baiklah, Tuan Putri. Silakan." Daniel menggeserkan tubuhnya untuk memberi jalan bagi Iklima.


Iklima menatap heran Daniel yang tidak biasanya bersikap begitu ramah. Namun, ia tidak mempermasalahkannya dan langsung saja melenggang pergi meninggalkan Daniel.


Daniel tersenyum sinis setelah kepergian Iklima. "Jangan harap kamu bisa lepas dari aku, Iklima!" ucapnya kemudian.


Pada saat Iklima berjalan menuju ke arah kantin, tidak sengaja ia melihat Hadwan yang baru saja berjalan melewatinya.


"Kak Hadwan," panggil Iklima dan laki-laki itu langsung membalikan badannya ke arah Iklima.


"Iklima, ada perlu apa?" kata Hadwan sembari melihat Iklima sekilas.


"Aku ingin berbicara sebentar, boleh?" ucap Iklima dengan senyum tipis di bibirnya.


"Boleh, mau bicara apa?" tanya Hadwan yang langsung membuat Iklima teseyum.


"Kayaknya ini bukan waktu yang tepat, aku ada janji dengan kedua temanku, mungkin nanti saja ya," kata Iklima yang membuat Hadwan terperangah.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Iklima, lalu pergi meninggalkannya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Hadwan dan kembali berkata sembari tersenyum, "Ada apa dengan dia?" Kemudian Hadwan menggelengkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


__ADS_2