Hati Tak Bernyawa

Hati Tak Bernyawa
Di hukum


__ADS_3

Karena ketahuan oleh Ibu Lina Cakra dan Jhika di hukum untuk menghormati tiang bendera. Panas terik matahari membuat Jhika mengeluh sekaligus kesal kepada Cakra, pasalnya jika Cakra membawa mobil dengan sedikit lebih cepat mereka tidak akan terlambat dan berakhir disini.


Flashback On.


"Kalian kesiangan" Tanya Bu Lina penuh selidik.


"Iya Bu" jawab Cakra dan Jhika bersamaan.


"Wah,, wahh kompak sekali kalian" ucap Bu Lina dengan nada sindiran. "Masuk" lanjutnya dengan lantang dan matanya yang sesekali melirik tajam ke arah Cakra dan Jhika.


Cakra dan Jhika langsung masuk ke dalam kelas, dan langsung menuju mejanya masing-masing. Semua murid matanya tertuju pada mereka berdua termasuk Salsa dan Cindy yang sedari tadi memperhatikan Jhika seakan-akan minta penjelasan Namun Jhika tidak memperhatikan orang-orang tersebut karena dia berjalan dengan menunduk. Jhika sudah sampai meja belajarnya namun ketika akan duduk Suara Bu Lina kembali terdengar dengan lantang.


"Siapa yang nyuruh kalian duduk" Tanyanya dengan sinis.


Seketika Cakra dan Jhika kembali berdiri dan melihat ke arah Bu Lina yang matanya terlihat akan keluar.


"mampu gue" ucap Jhika dalam hati.


"sekarang juga kalian berdua maju ke depan" ucap Bu Lina pada Jhika.


Saat itu juga Cakra dan Jhika langsung berjalan kedepan lagi, ketika sudah di depan Bu Lina menyuruh jhika dan Cakra untuk menatap matanya.


"Tatap mata ibu" Ucapnya dengan suara menggelar, sehingga para siswa-siswi lainnya tidak berani mengeluarkan suaranya mereka hanya diam dengan wajah tegangnya berbeda dengan Jhika dan Cakra meskipun mereka takut tapi tidak menampilkan ekspresinya.


"kalian denger ga suruh apa sama saya" ulang nya dengan suara rendah namun menekan.


"Jangan main tatap-tapanan, Bu bukan muhrim" ucap Cakra dengan suara rendah namun masih bisa terdengar oleh yang lainnya.


Semua siswa berusaha terlihat menahan tawanya mendengar ucapan Cakra.


"Cakraaaa" teriaknya dengan kesal.


"Sabar Bu sabar istighfar Bu" ucap Jhika dengan berusaha so menenangkan.


"Sabar-sabar, kamu juga kenapa di Suruh melihat saya tidak mendengar ucapan saya" tanya Bu Lina dengan wajah yang terlihat semakin kesal.


"Takut kena hipnotis Bu" celoteh Jhika dengan tenang.

__ADS_1


Seketika semua murid tidak bisa menahan tawanya, mereka semua tertawa mendengar celotehan Jhika yang terkesan ngawur tapi terdengar lucu.


"Kalian berdua keluar dari kelas saya, Berdiri di bawah tiang bendera sekarang juga" kesal Bu Lina dengan murka.


"Hmmmm, iya Bu" Ucap mereka bersamaan.


Cakra dan Jhika pun langsung melangkahkan kakinya ke lapangan upacara untuk menjalankan hukuman mereka.


Flashback Off.


"Lu sih Cak coba aja kita ga telat, ga bakalan kita kaya gini" papar Jhika dengan terus menekuk wajahnya.


"Aelah jhik gue kan udah minta maaf sama lu, masih aja ngoceh" ucap Cakra.


"Tau ah gue kesel Mulu sama lu" celetuk Jhika pada Cakra, sedangakan cakra lebih memilih diam dan tak mau menjawab ucapan Jhika lantaran dia merasa bersalah.


Setelah perdebatan tadi sudah tidak ada suara apapun dari keduanya, Mereka lebih memilih diam, Sudah ada sekitar 30 menit mereka disini dengan masih menjalankan hukuman mereka. Jhika yang merasa sedari tadi Cakra diam dan tak bersuara sedikit merasa heran sebab secuek apapun dia terhadap organ lain dia tidak akan cuek padanya pikirnya, Jhika memutuskan menoleh kepada Cakra, dan saat Jhika melihat ke arah Cakra sekitika terkejut.


"Astaghfirullah Cakra muka lu pucet banget" paniknya dengan wajah khawatir, dan saat itu juga dia ingat bahwa Cakra belum sarapan dan memiliki penyakit magh.


"Gausah jhik kita lagi di hukum, nanti malah ribet urusannya gue males" jawab Cakra dengan suara pelan namun masih bisa di dengar Jhika sambil melepaskan genggaman tangan Jhika.


"Gue ga perduli sama hukuman yang penting lu sekarang, Duduk dulu minum obat terus sarapan" jelas Jhika pada Cakra


"Ga perlu" jawabnya dengan singkat.


"Kenapa sih lu batu banget, kesel gue, gue tuh cuma gamau lu sakit, gue juga gamau lu kenapa-kenapa cak, lu paham ga sih?" kesel Jhika dengan terus mengoceh pada Cakra seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.


Cakra yang di marahi seperti itu hanya bisa memandangi wajah Jhika dia senang karena merasa di perhatikan oleh Jhika, dia senang melihat wajah khawatirnya Jhika yang sedang menghawatirkannya.


"mending gue sakit aja jhik biar bisa di perhatiin sama lu" ucapnya dalam hati sambil terus memperhatikan wajah Jhika yang sedari tadi terus mengoceh.


"Lu dengerin gue ga sih cak" tanya Jhika pada Cakra, Cakra yang sedang melamun langsung terkejut dan langsung mengendalikan rasa keterkejutannya.


"Iya gue dengerin" ucap Cakra masih dengan suara pelannya dan wajah yang semakin memucat.


"Ya makanya ayo" ucap Jhika yang langsung menarik tangan Cakra untuk berteduh di bawah pohon.

__ADS_1


Mereka duduk berdua di bawah pohon mangga yang ada di sekitar sisi lapangan upacara.


"jhik jangan di sini, nanti kalo ada guru lain malah panjang urusannya" ucap Cakra pada Jhika.


"Terus di mana?" tanya jhika pada Jhika dengan wajah bingungnya.


"ayo ikut gue" ucap Cakra dengan menggandeng tangan Jhika.


Mereka berjalan bersama sambil berpegangan tangan ke arah belakang sekolah, setelah sampai mereka duduk di bawah pohon besar sambil bersandar.


"Mana tas lu" tanya Jhika pada Cakra yang meminta tas Cakra, pasalnya pada saat menjalani hukuman, mereka membawa tasnya keluar, karena mereka belum sempat menaruh tasnya.


"Mau apa?" ucap Cakra yang kembali bertanya pada Jhika.


"Gue mau ambil obat lah lu bawa ga obat magh lu?" ucap Jhika yang kembali bertanya kepada Cakra.


"Kayanya engga, gue ga pernah bawa soalnya" jelas Cakra pada Jhika.


"Hmm kebiasaan banget" kesalnya pada Cakra sambil membuka tasnya dan mengeluarkan botol obat-obatan.


Jhika memang selalu membawa obat-obatan milik Cakra sebab dia tidak ingin kejadian sewaktu mereka kecil terulang kembali kejadian dimana Cakra sakit perut sampai melilit dan akhirnya memutuskan Cakra untuk di rawat karena pasalnya penyakit magh Cakra sudah terbilang parah. Cakra tidak bisa telat makan barang sedikit saja effeknya akan seperti sekarang ini.


"Nih minum, abis itu sarapan" ucap Jhika sambil menyodorkan obat kepada Cakra dan tangan satunya memegang kotak makan yang tadi pagi sempat tunjukan pada Cakra.


Cakra yang di perlukan seperti itu hatinya merasa tak karuan pasalnya rasa cinta yang tumbuh di hatinya semakin besar sedangkan Jhika terlihat santai-santai saja.


"please Jhik lu ga boleh kaya gini" ucap Cakra dalam hati.


"Ayo cak minum obatnya" ucap Jhika yang lagi-lagi menyuruh Cakra untuk segera meminum obat.


"Iya-iya mana sini" jawab Cakra dengan wajah pasrahnya.


setelah meminum obatnya Cakra kembali di paksa Jhika untuk makan dan Cakra tidak menolak lagi seperti tadi, dia makan dengan lahap, karena effek obat itu memang bukan sekedar untuk meredakan rasa sakit di perut Cakra tapi juga membuat nya merasa lapar tiba-tiba. maka dari itu Cakra memutuskan untuk makan sarapan yang di buatkan oleh ibu Mila.


"Kalo boleh minta sama tuhan gue pengen kita kaya gini terus jhik, gue pengen lu terus seperti ini sama gue, tapi gue cuma bisa nunggu keajaiban itu datang" ucap Cakra dalam hatinya.


segini dulu ya gaes nanti di lanjut lagi salam masih dari aku yang paling imut hehe :)

__ADS_1


__ADS_2