
Tettttttt...
Bel sekolah tanda masuk berbunyi. Muhammad Azam atau biasa dipanggil azam bergegas menuju kelas. Berlari menuju kelas melalui lorong-lorong panjang berhiaskan bangunan kuno dengan cat dinding yang sudah banyak mengelupas karena termakan waktu. Azam adalah seorang siswa disebuah sekolah menengah kejuruan yang terbesar di sebuah kota kecil bernama kota curup dikaki perbukitan yang selalu dikaruniai cuaca yang sejuk itu.
Setelah menjelang siang hari terdengar bel berbunyi yang menandakakan waktu istirahat. kemudian azam keluar kelas menuju kantin untuk sekedar menikmati makanan yang tak seberapa nikmatnya itu. Diperjalanan menuju kantin yang cukup jauh dari kelas karena sekolah ini terbilang paling besar di kota itu.
__ADS_1
Langkah kaki yang diiringi siulan tak bernada terhenti saat azam melihat sesosok perempuan siswa baru disekolah itu karena tahun itu merupakan tahun ajaran baru yang banyak siswa baru tentunya. Sosok bermata sipit berkulit putih dengan deretan jerawat menghiasi manisnya wajah teduh berbalut ketentraman saat menatapnya itu, mengenakan baju batik bercorak biru dengan rok hitam duduk disebuah kursi kayu yang terletak didepan kantor sekolah.
Zarah, itulah nama wanita yang azam lihat itu. Namanya diketahui setelah azam menanyakan kepada salah satu teman kelas azam yang kebetulan tahu dengan zarah. Zarah lah yang membuat azam selalu curi pandang saat melihat atau sekedar lewat didepan kelasnya. Bukan karena parasnya yang membuat penasaran melainkan zarah membuat azam menjadi selalu terpaut untuk mengenalnya.
Azam bukanlah sosok remaja yang punya keberanian untuk mengenal wanita secara langsung. Azam tumbuh sebagai remaja yang pemalu dan terkesan bernyali kecil saat ingin melakukan perkenalan kepada lawan jenis kususnya. Tak heran jika azam tak banyak teman perempuan hanya beberapa teman alumni sekolah terdahulu dan beberapa teman semasa sekolahnya itu.
__ADS_1
Akhirnya azam memberanikan diri untuk mengenal zarah dengan menanyakan kepada teman sekalas azam yang kebetulan mengenal si zarah. Dengan semangat azampun meminta kepada ika teman sekelasnya it untuk meminta nomor handphone si zarah. Luarbiasa senangnya azam ketika mendapatkan nomornya zarah namun masih bingung memulai darimana perkenalan itu.
Malam hari begitu senyap sendu berbalut semilir angin malam yang mulai mengungsi tak tentu arah menghembuskan dinginnya menerpa azam yang berada diteras rumah sembari memegang handphone ditemani oleh segelas minuman kopi dengan gelas jadul bercorak bunga mawar itu. Dia tersentak ketika suhu malam itu mulai menusuk kulitnya dengan kedinginan yang tak bisa memberi kehangatan ditengah malam yang jangkrik pun malas untuk menyanyikan suaranya yang tak ada indah-indahnya itu.
Masuk kamar kemudian mengunci pintu. Duduk bersandar diatas kasur diterangi sinar lampu yang tak seberapa terangnya itu azam kembali memegang handphone nya. Azam memberanikan diri untuk berkenalan kepada zahra. Lalu dia mulai menulis pesang singkat "maaf, ini zahra? aku azam dan meminta nomormu pada temanku ika" dibaca beberapa kali lalu kemudian azam memutuskan untuk mengirim pesan singkat itu. Tak berapa lama kemudian sebuah pesan singkat balasan dari zahra pun masuk, "ya ini zahra" dan dibalas oleh azam "aku azam kakak kelasmu zahra, salam kenal ya" dan dibalas oleh zahra keesokan harinya dengan sebuah pesan singkat yang sangat dinantikan azam "ya salam kenal, aku zahra jurusan elektronika kak".
__ADS_1
Sejak saat itu, azam dan zahra selalu menyempatkan diri untuk saling balas sms dan kadang saling menelpon jika sedang tidak sibuk. Setelah itu azam memberanikan diri untuk bertemu dengan zahra dan zahra pun tak menolaknya. Azam dan zahra memutuskan untuk bertemu di rumah zahra pada malam hari yang sudah ditentukan agar tidak mengganggu waktu belajarnya zahra. Sejak malam pertemuan itu azam dan zahra semakin dekat dan tumbuhlah sebuah rasa yang sulit untuk diceritakan oleh lisan dan sulit untuk dilukiskan dengan sebuah kiasan hingga pada suatu hari azam dan zahra memutuskan untuk menjalin hubungan cinta berpacaran.
***