Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Rahasia


__ADS_3

Kuliah telah diselesaikan oleh azam, dan setelah itu azam semakin jarang untuk berpergian ke daerah tempat nia tinggal. Hanya saja azam tetap harus kedaerah itu untuk belajar mengaji bersama teman-temannya disebuah masjid yang berada dikota curup tersebut. Demi hal ini azam bersama teman-temannya setiap hari kamis sampai dengan hari minggu disetiap sore harinya sesudah solat ashar sampai waktu magrib kadang dilanjutkan kajian ilmiah pada malam harinya yang biasa dilakulam rutin didua masjid yayasan yang sama.


Krinnnggggg... Nada panggilan handphone azam berbunyi menyentakkan azam lalu memaksakan diri mengangkat panggilan itu "Assalamu'alaikum, zam kamu lagi dimana?" suara dari seberang yang menelepon azam, tak lain adalah Akbar yang merupakan teman dekat azam sedari SD dulu. "Alaikumsalam, lagi di rumah bar. Ada apa?" sahut azam dengan suara malas karena baru saja bangun tidur siang, "aku mau kerumahmu ada hal yang ingin aku sampaikan. Aku siap-siap dulu baru berangkat kesana." langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari azam. "Dasar tak sopan" celetuk azam dalam hati.


Azam berdiri bergegas untuk mandi sambil menunggu kedatangan akbar, biasanya akan diajak bicara diluar sehingga memaksakan azam mandi dan bersih-bersih. Setelah mandi azam mengenakan pakaian berlengan panjang dengan celana setengah betis kesukaannya berwarna coklat ditambah aksesoris sederhana yaitu sebuah jam tangan bertali kulit coklat yang dipasang ditangan kanannya kemudian menyemprotkan parfum aroma greentea dibeberapa titik pakaiannya lalu menyisir rambut sembari berkaca dicermin lemari dikamarnya.


Tittt...tittt.titt..

__ADS_1


Bunyi klakson butut yang terdengar seperti suara mainan anak-anak yang habis baterai itu terdengar fales dihalaman rumah azam, siapa lagi jika bukan akbar yang datang sebab azam sendiri sudah mengenal suara itu. "Ayo zam udah siap belum" suara akbar dari luar, "iya iya iya ini udah siap, tunggu sebentar mau nutup pintu rumah" sahut azam dengan suara sedikit berteriak karena berada didalam rumah sedangkan akbar tetap dihalaman rumah tak turun dari sepeda motornya. "Mau kemana kita bar?" tanya azam saat menaiki motor akbar, "aku mau curhat sama kamu sekaligus refreshing diluar makan-makan gitu" jawab akbar sambil mulai mengendarai motornya keluar dari halaman rumah azam dan keluar gang yang kebetulan rumah azam berada dalam sebuah gang yang tak terlalu luas namun masih bisa dilalui kendaraan motor dan mobil itu.


Lima belas menit kemudian sampailah mereka disebuah cafe kecil dipinggir jalan lintas yang berada ditengah kota itu, akbar memarkirkan kendaraan dan mengajak azam untuk masuk kemudian memilih tempat duduk di bagian pojok yang kebetulan sedang tak teralalu ramai suasananya itu. "Pesan apa kamu zam?" tanya akbar sembari membaca-baca daftar menu makanan dicafer tersebut, "hmm...aku pesan jus jeruk aja deh sekalian makanannya disamain saja sama kamu" jawab azam sambil menunjuk didaftar menu yang ia pegang itu. Cafe ini didesain sederhana dengan ornamen bergaya vintage membuat nyaman untuk bersantai sambil berbincang-bincang ditambah lagi jarak antara tempat duduk satu dengan yang lainnya agak berjauhan sehingga privasi obrolan masih bisa terjaga dengan baik terlebih azam dan akbar duduk dipojokan cafe. Lima menit kemudian pelayan cafe dengan senyuman dibalut oleh aroma parfum tinggi sekitaram 160 cm menggunakan celemek biru datang membawah pesanan mereka, jus jeruk pesanan azam dan jus alpukat pesanan akbar beserta dua porsi bakso yang dipesan oleh akbar untuk mereka berdua.


"Silakan zam di minum dan dimakan pesanannya, udah laparkan" ucap akbar sambil meneguk minumannya. "Ya mari makan bar, sudah lapar sekali perut ini" jawab azam sambil tertawa kecil mengambil makanannya sembari membaca do'a makan.


"Rindu memang ada, namun untuk bertemu biarlah do'a saja yang menyambanginya, aku sudah terlalu melukainya dulu bar dan bodoh nya aku terlambat menyesali sikap ku dulu yang seolah lepas tangan mencari jalan aman padahal sebenarnya hati dan pikiran sedang tak sejalan" lanjut azam, akbar minum lalu meletakkan gelasnya kemudian berbicara pelan "aku tahu itu, namun biar bagaimanapun kamu harus tuntaskan yang belum kamu tuntaskan zam", azam tak berbicara hanya mengangguk saja sambik memakan makanannya yang tinggal sedikit lagi itu.

__ADS_1


"Zam, kamu harus temui zahra kemudian minta maaflah kepadanya atas kejadian itu, kamu tak perlu mengatakan kamu masih mencintainya meskipun kamu pernah berasama wanita lain selama ini, tak perlu dia tahu kamu masih mencintai nya atau tidak walaupun selama ini kamu sendiri berusaha menghapus setiap jejak dirinya" ujar akbar seraya memegang pundak azam tanda ia sedang sangat ingin azam mendengar pesannya itu.


Makanan habis, azam meneguk minuman jus jeruknya untuk tegukan terakhirnya menghabiskan seluruh jus jeruk digelas itu kemudian meletakkan gelas perlahan keatas meja lalu menarik nafas dalam kemudian menghempasnya. "Aku tak benar-benar telah melupakannya, aku memang pernah menjalani tahun-tahun ku bersama dengan nia dengan banyak cerita, kenangan serta hal lain yang bisa membuatku lupa akan zahra sampai akhirnya aku dan nia tak lagi bersama, aku selama ini berusaha mencintai nia tapi yang diatas tahu bar bahwa nia bukan yang baik butku hingga kami memutuskan untuk akhiri hubungan itu karena nia pun telah memilih laki-laki lain yang katanya dia cintai sejak lama juga" azam menceritakan dengan menaruh tangan kanannya si atas meja sedang tangan kiri dimasukkan kedalam saku celananya. "Oke, aku bisa memahami zam, lalu?" akbar menimpali cerita azam agar tetap berlanjut perbincangan kecil ini. "Aku pernah menghubunginya namun sudah lama, bahkan aku takut untuk menghubunginya kembali karena aku khawatir aku tak bisa memposisikan diriku yang bukan siapa-siapa ini bar, kamu tahu bahwa aku tak pernah benar-benar menghilangkannya dari diriku selama ini" lanjut azam, "aku tak tahu jalan pikiranmu zam, oke lah kita masih tergolong usia muda namun untuk urusan hati kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh seperti anak-anak saja zam, kamu harus move on dan mulai mengisi hari dan kehidupan kamu dengan lembaran dan cerita-cerita baru kalau bisa jauh lebih baik dari yang pernah kamu lewati" akbar berbicara dengan nada serius kepada azam, dan azam hanya diam saja seolah tak mau menjawab apa yang disampaikan oleh akbar kepadanya saat itu.


"Gini bar, aku bukan tak mau menghubunginya lagi, aku mau move on seperti katamu tadi tapi aku bukan tipe orang yang cepat dalam melangkah, oke urusan ku kepada nia sudah selesai dan aku tak mau berurusan dengannya lagi aku juga tak mengharapnya untuk kembali dan juga aku sudah move on darinya bar, namun untuk ke zahra aku masih hanyut dalam ruang yang tak tentu arah ini, aku masih menaruh harap namun disisi lain aku tak tahu apa ia menaruh harap juga kepadaku selama ini atau tidak karena masalah dimasalalu kami aku telah menyakitinya saat itu dan aku merasa bersalah, biar bagaimanapun aku tak mau menyakiti apalagi sampai masuk kekehidupannya lagi hanya karena egoku yang masih menaruh harap padanya bar, aku tidak mau hadir seolah karena aku telah gagal bersama yang lain, saat ini aku hanya meminta petunjuk Allah saja bar aku mendo'akan semoga yang terbaik buatnya dan juga buatku" azam menyampaikan panjang lebar sambil menatap ke arah akbar dengan muka tak berekspresi namun berkesan menyembunyikan suatu hal dari akbar.


Akbar berdiri lalu menuju meja kasir dibagian depan cafe untuk membayar makanan dan minuman mereka setelah itu kembali kemeja makan "aku mendukung apapun yang kamu lakukan zam, semoga Allah mengabulkan do'a-do'amu selama ini, aku berharap kamu mau mendatangi zahra kembali" sambil berkemas, "terimakasih bar atas dorongan dan sudah mau memaklumi sikapku ini, aku akan menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum melakukan semua itu karena saat ini jujur aku masih belum bisa menghubunginya kembali bar" ujar azam yang juga berkemas, lalu azam dan akbar keluar cafe menuju parkiran kendaraan, mereka berangkat menunu jalan pulang dan mampir disebuah masjid untuk melaksanakan solat ashar, karena pada saat dijalan terdengar kumandang azan. Semenjak itupun azam berusaha mencari kontak yang bisa dihubungi karena azam tak tahu banyak teman zahra azam pun mencari dimedia sosial saja dengan harapan segera bisa menghubunginya.

__ADS_1


***


__ADS_2