Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Senja Langit Sakura


__ADS_3

Negara dengan empat musim membuat azam perlu banyak persiapan dalam menjalani rutinitas harian selama di jepang. Dimana saat musim dingin semua membeku menjadi es dan saat musim panas semua terasa begitu sangat panas, dua musim yang menjadikan mata terbelalak hati tersenyum untuk azam yakni musim semi dan musim gugur. Menfilosofikannya sebagai kehidupan dimana semua yang indah tak selalu berasal dari suatu keindahan, musim semi semua terasa begitu indah. Saat musim gugur semua daun berguguran melepaskan tangkainya dari ranting-ranting yang seolah enggan untuk berpisah. Saat musim gugur datang semua keindahan akan berguguran dan bagi mata yang selalu memandang indah maka prosesnya akan mendatangkan keindahan dari sisi lain yang bisa memanjakan mata menyejukkan hati memaksa kaki berhenti melangkah untuk tinggal sejenak memandang guguran daun yang menguning kemudian memerah lalu berjatuhan tertiup angin melambai seakan megatakan selamat tinggal kenangan sampai berjumpa dengan alur cerita yang baru.


Tuuuuttttt....tuuuuttt....♪♪♪


"Ya hallo, i'm on the way bro. Tunggu sebentar lagi ya, ini lagi nunggu kereta sebentar" azam menjawab telepon teman serumahnya di jepang, irfan sanusi. Laki-laki keturunan jawa kalimantan itu bekerja di tempat yang berbeda namun tinggal serumah dengan azam selama disana. "oke zam, jangan lama ya aku lupa bawah kunci rumah soalnya dari tadi nunggu nih depan rumah. Oh iya jangan lupa belikan aku makanan ringan ya" jawab suara irfan dari seberang sana. "Ya deh, sebagai permintaan maaf ke kamu, see you" azam menutup telepon lalu bergegas untuk belanja beberapa keperluan di minimarket stasiun kereta sambil menunggu kedatangan kereta.

__ADS_1


Selama di jepang azam belum banyak berkeliling dan hanya mengenal beberapa teman rekan kerja dari indonesia lainnya. Selama di jepang azam juga belum mengabari kepada zahra soal dirinya yang sudah tinggal di jepang juga, azam masih merasa malu untuk menampakkan wajahnya. Meskipun kata rindu seakan tak mau bersahabat dengan diri sendiri yang kadang menyiksa azam sendiri. Selama di jepang juga azam mencari-cari juga tempat tinggal zahra dengan harapan nanti ketika sudah siap bertemu azam akan lansung menemui dikediaman zahra saja. Sebuah kado kecil berisikan gelang tangan untuk zahra yang ia bawakan dari indonesia akan dia berikan di hari ulang tahun zahra sebagai awal untuk bertemu nantinya, azam berpikir ini juga sebagai surprise kepada zahra tentang kehadirannya di jepang selain bekerja juga untuk bertemu dengan zahra.


Kereta putih bercorak biru toska telah datang, azam bergegas menuju gerbong tempat duduknya yang tertera ditiket yang ia beli tadi. Sepanjang perjalanan azam menatap keluar jendela yang menampilkan panorama keindahan goresan ciptaan Allah yang ada disana, deretan rumah warga dan area pertanian serta lalu lalang kendaraan yang tidak padat menghiasi nuansa senja dibawah langit sakura yang menguning pekat diujung mata. Tak terasa kereta telah berhenti distasiun, azam turun dan keluar menuju parkiran untuk mengambil sepeda miliknya. Menempatkan barang bawaan pada rantang depan sepeda lalu azam mulai mengayuh sepedanya di jalanan sepi seolah tak ada pengemudi, ini karena masyarakat jepang lebih suka berjalan kaki, bersepeda dan menaiki kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Hal yang kebalikan dari indonesia.


Sepanjang perjalanan dibawah guguran bunga sakura yang bertebaran ditiup angin, azam menoleh kepada kiri jalan yang terdapat penjual makanan kedai kecil yang aroma masakannya memaksakan azam menghentikan kendaraannya. Bau wangian yang tak asing untuk hidung azam, setelah masuk dan bertemu dengan pemilik kedai ternyata yang juga orang indonesia namun sudah menetap lama di jepang. Pak haris azam memanggilnya. "Sudah lama pak disini?" bertanya kepada pak haris yanh sedang membuatkan nasi goreng pesanannya, "Alhamdulillah cukup lama nak, sudah dua puluh tahun disini dan menikah dengan orang sini" menjawab pertanyaan azam sambil mengaduk-ngaduk nasi diwajan diatas api kompor yang berada disudut kedai. "Wah lama ya pak, saya baru disini pak masih belum tahu banyak seluk-beluk jepang. Bingung pak masjid sini dimana" azam terus ngobrol dengan pak haris sambil menuangkan air kedalam gelas diatas meja kayu yang mengkilat dipernis. "Iya nak, bapak dulu begitu awal-awal disini. Masjid tak sebanyak di indonesia dan bentuknya juga kadang selintas tak mirip masjid" pak haris balas bicara kepada azam sambil menuangkan nasi goreng kedalam piring putih dan menghiasnya dengan telur dadar goreng dan beberapa potong mentimun serta tomat, "silakan nak dicoba masakannya" menyodorkan hidangan ke azam yang menunggu di tempat duduk bagian depan kedai (rumah kedai seperti kebanyakan kedai kecil di jepang, di indonesia sepeti akringan. Tempat duduk didepan menghadap meja yang sekaligus pembatas antara pembeli dan penjual). "Terimakasih pak, saya makan dulu pak" mengambil sendok dan mulai menyantap pelan masakan pak haris.

__ADS_1


"Ini nomor telepon saya zam, nanti hubungi saja" menyodorkan kartu namanya kepada azam, "terimakasih pak atas hidangannya dan perkenalan ini sangat berharga buat saja pak. Saya permisi mohon undur diri" mengambil kartu nama pak haris dan berdiri dari kursi lalu mengeluarkan uang membayar makananya, "tidak usah bayar nak azam, kali ini bapak kasih free deh buat kamu" menolak uang azam, "wah terimakasih sekali lagi nih pak kalau begitu" memasukkan kembali uang kedalam tas slempang warna hitam miliknya. "Iya zam sama-sama, hati-hati dijalan ya!" pak haris melambai tangan kepada azam yang sudah menaiki sepeda, "siap pak, assalamu'alaikum" azam mulai mengayuh sepeda, "wa'alaikumsalam" jawab pak haris.


Sesampai dirumah azam melihat irfan sudah menunggu diteras rumah, "Assalamu'alaikum, maaf telat ya tadi makan dulu" memarkirkan sepeda lalu membawah barang bawaannya. "Alaikumsalam, tidak apa-apa zam, sini aku bantu" mendekati azam membantu membawahkan bungkusan yang dibawah oleh azam, "itu makanan didalamnya silakan di makan fan kalau lapar, aku mau mandi lalu solat dulu ya" azam masuk kamar mengambil handuk dan bergegas mandi.


Sehabis mandi dan sholat azam berbaring diatas kasurnya, menatap ke langit-langit ruang kamar berbisik dalam hati dalam remang suasana kamar dengan cahaya lampu tidur "ya Allah, jika besok mata ini masih Engkau izinkan untuk melihat indahnya sakura untuk kesekian kalinya, mohon ya Rabb izinkan hati ini agar lebih kuat lagi saat waktu berjumpa dengan zahra engkau kabulkan. Entah berapa banyak inginku yang inginku sampaikan, namun untuk ini ya Allah mohon untuk Englau kabulkan lebih awal sebab aku tak tahu nyawaku masih panjanh atau tidak. Mata ini mungkin kagum pada indahnya senja jingga diujung langit yang bertaburan sakura dan akan lebih bahagia lagi jika zahra engkau pertemukan denganku" memejamkan mata, menarik nafas dalam dan...tertidur pulas.

__ADS_1


***


__ADS_2