
Memandang langit yang sama berpijak dibumi yang satu bukan alasan untuk hati tak berbalut rindu, sekat-sekat kadang mengisolasi hati yang bahkan tak sempat berucap kepada lisan yang senantiasa menterjemahkan setiap ungakapan rangkaian kata-kat yang berusaha tersusun menjadi buah pemikiran. Maha karya Allah terlukiskan dikerlipan bintang malam yang meghiasi langit hitam disuana hening kesunyian malam, nyanyian sendu dari speaker kecil yang azam nyalakan di teras samping memecah dinginnya malam berteman dengan hangat segelas kopi yang mulai mendingin.
Pergilah kasih kejar lah keinginanmu, selagi masih ada waktu..jangan hiraukan diriku, aku rela berpisah demi untuk dirimu semoga tercapai segala keingnanmu...
Sebuah lagu yang azam putar menghanyutkan lamunan jauh menukik rindu yang tak bisa dibelenggu. "Hmm. Ya Allah semoga besok aku bisa bertemu zahra, aku ingi kerumahnya lalu memberikan hadiah" dalam hati azam sambil menyeruput sisa kopinya, karena kehabisan data internet azam tak bisa mendapati kabar zahra beberapa hari ini, dan azam nekatkan untuk datang tanpa memberitahu kabar terlebih dahulu. "Ya besok aku akan kesana, aku sudah rindu untuk sekedar menatap dan melihatnya" azam bangkit dari tempat duduk dan masuk rumah menutup pintu teras kemudian menuju kamar untuk tidur.
Dinginnya malam yang mulai larut belum bisa membuat azam memejamkan mata, gelisah entah apa yang dirasa. Azam kemudian melaksanakan sholat malam agar diberi ketenangan. Kemudian kembali berbaring, ditengah gelapnya kamar tanpa sinar lampu suara hela napas terdengar diikuti rintik hujan yang mulai turun menitik diatas atap terdengar hingga semakin mengeras tanda hujan semakin lebat turunnya. "Ya Allah aku tak pernah tahu apakah aku ada dalam do'a dan harapan zahra atau tidak, maafkanlah aku jika sering mengemis memintanya untukku. Ku tahu takdirmu jauh lebih baik jika aku bersyukur maka permudahkan lah aku untuk sejenak tak mengingat zahra dalam barisan ingatan-ingatanku" memejamkan mata lalu tertidur pulas hingga dibanguni koko ayam pagi yang mulai bersahutan.
__ADS_1
Pagi hari, azam berangkat kekebunnya untuk memanen singkong kemudian dibawah untuk dijual ke pembelinya, setelah itu azam pulang dan mampir ke counter milik temannya untuk membeli data internet. Cukup lama berbincang-bincang lalu azam putuskan untuk pulang, setelah data internet sudah masuk azam mencoba membuka instagram lalu azam terhenti ketika melihat kiriman pertama yang muncul adalah kiriman zahra yang berpoto dengan keluarganya di bandara fatmawati bengkulu. Azam penasaran lalu melihat komentar-komentar didapati bahwa zahra berangkat kembali ke jepang ketempat kerjanya dulu. Sontak antara kaget karena tidak dapat informasi ditambah lagi perasaan gelisah karena rencana siang ini azam akan kerumahnya.
Antara percaya dan tidak, azam seolah merasa ini adalah mimpi. Azam menekann nomor zahra lalu menelepon langsung namun tak dijawab oleh zahra, dua kali ditelepon juga tak diangkat. Beberapa menit kemudian dering panggilan berbunyi dan azam melihat zahra menelepon balik dirinya. Dengan tangan gemetar azam mengangkat telepon tersebut, "halo assalamu'alaikum dek" dengan suara yang masig gemetar, "wa'alaikumsalam kak" jawab zahra dengan suara khas miliknya, "kamu sudah mau berangkat ke jepang lagi ya dek?" memberanikan bibir untuk menanyakan karena masih belum percaya akan apa yang ia lihat tadinya di instagram, "iya kak, tapi sekarang aku masih di tanggerang, dirumah temanku" jawab zahra, "aduh, kakak padahal hari ini ingin bertemu dek. Qodarullah mungkin kita belum dipertemukan semoga nanti bisa bertemu, jam berapa berangkatnya nanti?" azam berusaha menyusun setiap nada dari setiap kata yang ia ucapkan agar tak terdengar gugup, "inshaAllah jam sepuluh nanti malam ke bandara untuk berangkat kak, sampai besok pagi" ujar zahra yang juga terdengar suaranya yang sibuk sedang melakukan sesuatu. "Ada sesuatu yang mau kakak berikan kepada adek, tapi adek sudah keburu pergi" masih dengan perasaan yang tak menentu, "oh ya? Barang apa itu kak?" tanya zahra penasaran, "ada deh, nanti kalau kakak bisa kasih langsung atau nanti kakak titip sama adik sepupu kakak yang juga katanya mau bekerja disana dek" azam menahan diri untuk menyebutkan sebuah barang yang mau ia berikan kepada zahra, "ih apaan si kak kok rahasia gitu sih" rengek zahra pada azam, "hahaha..nanti saja, do'akan kakak bisa bekerja disana juga dan bisa bertemu dengan adek" jawab azam dengan tertawa kecil, "huuuu..." keluh zahra, "oh iya dek, kamu dulu mau berangkat kesana melalui apa?" tanya azam serius, "dulu aku ikut lembaga pelatihan kerja kak, nanti mereka yang melatih dan mengirim kita kesini" jawab zahra menjelaskan, "oh iya, umur berapa si batas nya bisa diterima?" azam lanjut bertanya, "hmm..kalau umur si dibawah tiga puluh tahun kak masih diterima" zahra menerangkan dengan masih sibuk suaranya seperti didapur, "terimakasih dek infonya, rasanya kakak juga mau menyusul kesana nanti. Do'akan kakak bisa menyusul dek" suara pelan azam yang bersemangat untuk mengikuti langkah zahra ini dengan harapan nanti bisa bertemu dengan zahra disana yang masih lama berangkatnya.
Dari obrolan ini tercetus dibenak azam ingin juga berangkat kesana, selain untuk bekerja juga sekalian bisa bertemu dengan zahra disana. "Oh ya tentunya adek perlu siap-siap, adek jaga diri disana ya jaga kesehatan dan semoga selamat sampai tujuan dek" azam mengingatkan zahra karena nanti malam akan berangkat keluar negeri, "aamiin, terimakasih kak atas do'a dan sarannya ya, semoga kakak juga bisa kesini" zahra menjawab dengan suara semangatnya, "aamiin dek, nanti kalau sudah sampai disana kabarin kakak ya dek" azam masih berat untuk menerima berita kepergian zahra, "iya kak siap" jawab zahra singkat. Azam mengakhiri obrolan tersebut menghela napas memejamkan mata dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, masih tak percaya bahwa sebentar sekali zahra pulang lalu pergi untuk waktu yang lama.
"Semoga kita bertemu diwaktu yang tepat dek, semoga Allah berikan jalan terbaik untuk kita bertemu. Aku tak pernah berpikir untuk menjadi orang hebat hanya saja keinginanku agar bisa mengungkapkan semua rasa didada yang terkadang menjelma menjadi sembab dimata yang tak pernah teraliri oleh air mata, aku yakin jika kamu ditakdirkan menjadi milikku maka indonesia-jepang bukanlah tembok jarak yang sukar untuk aku lewati. Aku yakin ada jalan terbaik sedang Allah siapkan untukku dan untukkmu, biarlah april sendu ini menjadi teman hujan yang belum kunjung redah diluar sana, biarlah tangisan waktu jam dinding yang seolah mengejekku yang tak berani mengungkap rasa itu menjadi angin lalu saja. Sampai waktu dan tempatnya nanti akan ku temui, bahwa aku benar-benar tak pernah main-main untuk perasaan ini. Aku tak tahu siapa yang ada dihatimu, aku tak pernah tahu apa yang kamu do'akan dan kamu harapkan. Aku tak perduli itu, apapun itu semoga aku adalah salah satu dari sekian do'amu, salah satu dari sekian harapmu. Biarku minta kamu kepada pemilikmu dan biarkanku mengingatmu dalam sebaris ayat" huf, azam membuka matanya menghentikan ucapan-ucapan dalam hatinya, keluar kamar membawah handuk lalu mandi menghilangkan dinginnya sendu diawal april ini.
__ADS_1
***
Nb : Cerita ini ditulis sambil mendengarkan lagu MAHEN : PURA-PURA LUPA.
Di part selanjutnya nanti akan ada kejutan untuk pembaca semua, akan ditampilkan beberapa gambar dari orang-orang yang berada dalam cerita ini.
Ini cerita dari seseorang. Kisah nyatanya yang ditulis dengan beberapa adopsi.
__ADS_1