Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Taman Belakang Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah mengetahui kecelakaan yang menimpa Azam melalui pesan chat darinya Pinkan diantar oleh teman serumahnya mendatangi rumah sakit tempat Azam dirawat. Sesampainya dirumah sakit Irfan telang menunggu di ruang tunggu untuk menyambut Pinkan yang telah menghubunginya bahwa akan kerumah sakit menjenguk Azam. "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Pinkan pada Irfan yang menyalaminya, "tadi dia sempat sadar lalu tak lama kemudian dia kembali pingsan pkarena memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang dokter tidak sarankan, kata dokter ada benturan keras dikepalanya" mempersilakan Pinkan dan temannya duduk, "waktu besuk sekitar lima belas menit lagi, kita tunggu saja" Irfan melihat ke arah jam dinding yang terpajang di ruang tunggu tersebut.


Duduk menyandar pada sandaran kursi stainleis Irfan terlihat lelah, karena mulai dari dia datang belum juga pulang karena tidak ada yang menunggu Azam di rumah sakit. "Kamu sudah makan?" Tanya Pinkan pada Irfan, "rasanya belum Kan" masih bersandar dan memejamkan mata, "aku bawah roti dan nasi goreng yang tadinya ku bawahkan siapa tau ada yang membutuhkan" Nadine teman Pinkan mengeluarkan roti dan nasi goreng menawarkan pada Irfan, "wah kebetulan sekali, aku mau nasi saja" bangkit dari sandaran dan langsung mengambil nasi goreng yang Nadine masukkan kedalam kotak nasi berwarna biru muda transparan, "terimakasih ya" sambil membuka penutup kotak nasi, "iya sama-sama" jawab Nadine yang kembali memasukkan roti kedalam tas dan mengeluarkan botol air mineral, "oh iya kita belum berkenalan, namaku Irfan" mengulurkan tangan, "namaku Nadine biasa dipanggil Dine" menjabat tanyan Irfan, "silakan dimakan ya, ini airnya" meletakkan botol air mineral diatas kursi kosong samping Irfan, "iya, aku makan dulu ya" Irfan mulai memakan makanan dengan lahap, entah karena enak atau karena lapar. Jam besuk sudah dibuka dan orang-orang sudah bisa menjenguk pasien dengan menggunakan pakaian steril terlebih dahulu. "Aku masuk duluan ya, kalian makan saja dulu" Pinkan berdiri dan menuju kamar rawat, "iya silakan Kan" jawab Irfan yang masih mengunyah nasi dan ayam. Irfan makan diruang tunggu ditemani oleh Nadine sahabatnya Pinkan. Aldo sendiri sudah pulang setelah Irfan kembali lagi ke rumah sakit bergantian jaga Azam.

__ADS_1


"Hai Zam, kamu sudah siuman" menyapa Azam sambil menutup pintu ruangan, "oh hai Kan, Alhamdulillah nih. Kamu sendirian saja?" Azam berusaha untuk duduk bersandar pada ujung tempat tidur pasien, "sama temanku si Nadine" menghampiri dan membantu Azam untuk duduk, "nih aku bawain minuman kesukaan kamu" lanjut Pinkan meletakkan minuman dari jeruk yang dibawahnya, mengambil gelas lalu menuangkannya. "Wah, merepotkan sekali Kan. Arigatou Pinkan" Azam tersenyum lemas karena kondisinya yang masih kurang energi setelah masa perawatan disana, "nih diminum dulu, aku siapin makanan dulu ya" memberikan gelas berisi minuman kepada Azam. "Aku suapin ya, piringnya berat soalnya Zam", "ya boleh" jawab Azam yak menolak karena tangannya juga masih terasa sakit di pergelangan serta bahunya, "kamu kok bisa sampai disini sih" mendekatkan diri duduk samping Azam, "ya namanya kecelakaan tidak tahu kapqn akan terjadinya, tiba-tiba saja aku kecelakaan tidak sadarkan diri dan pas bangun taunya sudah berada disini" jawab Azam sambil memperbaiki posisi duduknya, "iya sih, tapi ya sudahlah kamu makan dulu nih" menyuapkan sesendok nasi putih dengan tambahan sayur brokoli dan wortel, "hm..beli dimana ni makanan", "kenapa Zam? rasanya tidak enak ya?" menghentikan suapan keduanya, "bukan, tapi rasanya enak mirip masakan ibuku dirumah" jawab Azam mengomentari makanan yang ia makan, "ah yang benar, ini aku masakin sendiri tadi buru-buru soalnya kesini jadi masaknya cuma ini saja" tersipu melanjutkan menyuapin Azam hingga selesai makan Azam dan Pinkan banyak bicara, "oh iya ini mau habis waktu jenguknya, kamu minum obat dulu ya, habis ini istirahat" menyiapkan obat-obat yang harus diminum Azam yang diletakkan oleh perawat diatas meja pasien lengkap dengan takaran yang harus diberikan. Azam dibantu Pinkan minum obat, "terimakasih ya Kan kesini dan bantu rawat aku" tersenyum ke arah Pinkan yang merapikan kembali tempat makan yang dia bawah dari rumah. "Sama-sama Zam, kamu jaga diri ya. Jangan malas minum obat dan tentunya banyak istirahat" balas memandang tersenyum ke arah Azam lalu berdiri dari tempat duduknya "semoga lekas sembuh ya Zam, aku pulang dulu", "Aamiin, kamu hati-hati dijalan ya Kan" jawab Azam, "bye Zam, see you next day" Pinkan melambaikan tangan sebelum menutup kembali pintu ruangan.


Setelah Pinkan pergi Azzam masih melihat ke arah pintu ruangan dengan tersenyum. Lamunan tersentak ketika tiba-tiba Irfan sahabatnya membuka pintu dengan hentakan yang sedikit keras hingga memecahkan keheningan ruangan tersebut "hei kamu ngapain sih senyum-senyum ke arah pintu ada yang aneh sama pintunya" tanya Irfan pada Azam yang tak terlihat senyum di raut wajahnya lagi dan Azam pun langsung menyelah apa yang ditanyakan oleh Irfan padanya "tidak kok cuma tersenyum saja ayo duduk sini" mempersilakan Irfan duduk di sebelahnya, "oh ya gimana pesan dari dokter apa yang disampaikannya?" tanya Azzam serius kepada Irfan, "kata dokternya kamu harus istirahat yang banyak setelah meminum obat yang rutin dan tambahan dari dokter yaitu kamu harus mengikuti beberapa terapi untuk memulihkan kondisi mu dengan cepat" kata Irfan "wah sepertinya butuh waktu yang lama untuk aku bisa bekerja lagi fan, bagaimana dengan pihak perusahaan" kata Azam yang terlihat mengerutkan keningnya "kamu tenang saja Zam kami sudah menemui pihak perusahaan dan pihak perusahaan memberikan izin untuk kamu dirawat dulu serta memulihkan kondisi mu untuk mengikuti kegiatan terapi pemulihan kondisi mu itu, bahkan dari pihak perusahaan pun telah memberikan uang asuransi untuk perawatan kamu disini selama perawatan di rumah sakit dan perawatan terapi nanti" tambah Irfan "Alhamdulillah, terimakasih Fan maaf sudah merepotkan kalian" kata Azam "ah Tidak apa-apa kok kami juga tidak merasa direpotkan oleh kamu lagian juga Kalau kami yang berada di posisi kamu pasti kamu akan melakukan hal yang sama" kata Irfan "oh ya aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua tentunya kalian benar-benar sahabat yang baik dan aku selama di sini bukan sekedar menjadi sahabat bahkan kalian sudah menjadi bagian dari keluarga aku sendiri" kata Azzam meraih tangan Irfan dan menggenggamnya erat "inilah gunanya kita bersahabat dan saling membantu dikala seperti ini saling support Apalagi kita berada di negara orang" Irfan pun membalas genggaman dan mengusap ke arah bahunya Azam.

__ADS_1


"Eh ngapain disini?" Irfan mengagetkan Pinkan, "ah kamu ini ngagetin saja Fan" tampak kesal dengan kelakuan Irfan, "lihat apa sih kamu?" Irfan menoleh kiri dan kanan mencari sesuatu yang diperhatikan oleh "oh ngeliatin Azam ya" cengengesan menggoda Pinkan saat mengetahui yang diperhatikan oleh Pinkan adalah Azam. "Itu siapa sama Azam, pacarnya ya?" tanya Pinkan penasaran, "itu namanya Zahra teman Azam yang beradal dari satu daerah. Setahuku merela tidak pacaran hanya dekat saja" Irfan menjelaskan secara singkat, "eh ini apaan?" Irfan merogoh rantang makanan yang dibawah oleh Pinkan, "nih ambil saja buat kamu Fan, tadinya mau diberi pada Azam cuma aku liat Azam sudah disuapin sama tu cewek" memberikan rantang itu pada Irfan, "aku pamit pulang ya" beranjak dari Irfan, "eh nanti Kan, apa tidak mau nunggu Azam dulu?" tanya Irfan berusaha menghentikan Pinkan, "aku mau pulang dulu nanti saja aku kesini lagi" tak menghiraukan Irfan, "ya sudah kalau begitu, terimakasih ya makananya" ujar Irfan sambil duduk dikursi membuka makan bawaan Pinkan.


Tak lama berselang Zahra juga pulang, dan Irfan pun menghampiri Azam yang sudah kembali kedalam ruangannya. "Eh Zam, tadi Pinkan kesini loh" Irfan mengangkat rantang makanan menunjukkan pada Azam, "dimana Pinkan sekarang Fan?" tanya Azam tak jadi berbaring ke atas kasurnya, "ya tadi dia langsung pulang. Katanya mau ngasih makanan ini tapi kamu sedang disuapin oleh Zahra jadi dia kasih saja sama aku makananya" meletakkan rantang makanan diatas meja. "Kenapa kamu tidak suruh buat tungguin aku Fan?" ujar Azam mengambil air mineral untuk meminum obat, "ya tadi aku tahan, tapi dia mau pulang katanya nanti dia kesini lagi'' duduk menghempaskan tubuh disofa empuk sudut ruangan. "Ah kamu kurang bagus rayuannya, sudah ah aki mau istirahat dulu" berbaring dan memejamkan mata, "ya udah deh terserah kamu saja aku juga mau tidur" ujar Irfan ketus.

__ADS_1


***


__ADS_2