Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Boneka Trotoar


__ADS_3

"Dek, aku ke sana juga ya" Azam mengirim pesan dan dibalas oleh Zahra "iya kak ditunggu". Azam bergegas mengambil sepeda mengayuh cepat menuju taman didekat sungai yang disekelilingnya banyak pohon yang daunnya menguning dan memerah mulai berguguran. Zahra dan Azam berjanji bertemu disana karena Azam ingin memberikan sesuatu kepada Zahra yang sedang ulang tahun hari itu.


Terpaan sinar matahari yang mulai meninggi memantul di air sungai yang begitu jernih menciptakan pantulan-pantulan terang diatasnya. Zahra berjalan pelan ke sebuah bangku taman dibawah sebuah pohon didekat pagar besi dibibir sungai. Zahra duduk menunggu Azam sambil meminum air mineral dan mengeluarkan Hp nya, "kak aku sudah sampai" pesan singkat dari Zahra, Azam berhenti mengayuh sepedanya mendengar dering HP yang berbunyi "Zahra" gumam nya dalam hati, setelah membaca pesan itu Azam segera membalas "iya dek, maaf ya agak telat. Tunggu sebentar ini segera sampai".


"Hei Zahra, sendirian?" Mengagetkan Zahra, "eh kamu Julian, iya sendirian nunggu teman" mengira yang datang adalah Azam, "kamu ngapain kesini?" Zahra bertanya mengenai kemunculan Julian yang tiba-tiba, Julian bekerja disatu tempat dengan Zahra hanya berbeda bidang saja. Julian diketahui Zahra sangat menyukainya dan beberapa kali menyatakan perasaannya pada Zahra sebelum kedatangan Azam di Jepang. "Aku kebetulan tadi sedang lewat mau belanja, aku liat kamu disini ya aku putuskan mendatangi kamu" berdiri bersandar pada pagar sungai menghadap Zahra yang duduk dibangku, "oh begitu" Zahra kembali melihat HP dan membaca pesan dari Azam, "eh siapa teman yang kamu tunggu?" Julian bertanya dan beranjak duduk disamping Zahra, "teman dari Indonesia juga, dia belum lama disini" Zahra enggan menyebutkan nama. "Oh begitu, berarti aku mengganggu dong" tersnyum lebar menggoda Zahra, "hahah...ya tidak lah Jul, kan ini tempat umum" tertawa kecil merespon gurauan Julian, keduanya tertawa akrab berhadapan. Sementara Azam dari seberang jalan yang sedang memarkirkan sepeda melihat kondisi itu dengan kesalah pahamannya melihat keakraban Zahra dengan seorang temannya yang tak Azam kenal membuat Azam merasa ada sesuatu dihatinya menjadi sesak tanpa menghampiri dan bertanya kepada Zahra Azam memilih untuk tidak menemuinya. "Aku langsung pulang" tulis Azam dipesan singkatnya.


Dengan kesalahpahaman Azam mengayuh cepat sepedanya berbalik arah menuju jalan pulang, perasaan yang tak menentu membuat Azam tak memperhatikan kiri dan kanan sehingga dipertigaan jalan tak jauh dari tempat itu Azam disenggol sebuah mobil yang sedang berbelok membuat bagian kanan mobil menyenggol sepeda Azam hingga Azam harus terjatuh berguling ke trotoar membenturkan kepala ke bahu jalan, Azam hilang kesadaran akibat dari benturan itu. Ambulance rumah sakit setempat tak lama datang membawah Azam ke rumah sakit terdekat karena telah dihubungi oleh orang yang melihat kejadian itu. Mendengar suara ambulance lewat Zahra menoleh kearah sumber suara lalu membuka pesan dari Azam, Zahra bergegas menuju arah jalan menoleh kiri dan kanan jalan mencari-cari sosok Azam. Hanya bebrapa orang yang membubarkan diri dari kerumunan bekas kecelakaan yang barusan terjadi terlihat. Zahra menelpon Azam dan tak diangkat oleh Azam, dari kejauhan Zahra melihat sebuah boneka kecil yang biasa dijadikan gantungan di tas nya Azam, berlari kecil menuju trotoar Zahra mengambil boneka itu "ini kan punya Azam" Zahra melihat kiri kanan tidak terlihat ada Azam.

__ADS_1


"Nani ga okotta (apa yang sudah terjadi)?" Zahra bertanya pada seorang wanita setengah baya yang tadi juga berkerumun ditempat itu, "Koko de jiko ni atta hito ga ita. Jitensha o kiru (tadi ada seorang yang kecelakaan disini, memakai sepeda)" menunjuk sepeda yang dibawah oleh pihak kepolisian lalulintas Jepang. "Kore wa hitodesu ka (apakah ini orangnya?)" Zahra memperlihatkan poto Azam yang ada di HP nya, "Hai, kono yodesu. Izen kare no kao wa chi de owa rete itanode (iya sepertinya ini, sebab tadi wajahnya berlumuran darah)" mengarahkan tangannya ke wajah menggambarkan darah yang dimaksud, "ya Allah" ucap Zahra dalam hati, "Joho arigatogozaimashita (terimakasih atas informasinya)" Zahra membungkukkan badan pada wanita itu dan wanita itu balas membungkukkan badannya. "Ada apa Zahra" dari kejauhan Julian datang mendekati Zahra yang terduduk di trotoar, "teman yang ingin bertemu dengan ku kecelakaan disini" dengan suara lemas sambil memegang kepala, "aku antar kan ke rumah sakit ya" menawarkan pada Zahra, "ayo kita naik taksi saja" menjulurkan tangannya pada Zahra, Zahra mengikuti Julian yang melambai pada taksi. "Moyori no byoin ni tsureteitte kudasai (antarkan kami ke rumah sakit terdekat)" ujar Julian pada sopir taksi kemudian dia dan Zahra masuk kedalam taksi, sopir mengangguk dan mulai menjalankan kendaraanya, nampak Zahra dengan raut wajah khawatir tak bersuara. Zahra segera menghubungi Aldo, memberitahu bahwa Azam kecelakaan dan dibawah ke rumah sakit.


***


"Fan, ayo buruan ke rumah sakit" Aldo keluar dari rumah menuju teras dimana Irfan sedang duduk membaca buku disana, "loh siapa yang sakit Do" menghentikan bacaannya, "Azam Do, Azam kecelakaan sekarang dia dibawah ke rumah sakit" memasang sepatu dan mengancing jaketnya, "oke tunggu sebentar, aku ambil jaket" beranjak dan bergegas menuju kamar mengambil jaket dan sepatunya. Berangkat menggunakan taxi menuju rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh Zahra, Zahra sendiri sudah berada di rumah sakit untuk mengurus beberapa administrasi disana.


"Alhamdulillah, pihak perusahaan mau membantu biaya perawatan Azam" Aldo masuk dengan wajah senang mendapat informasi dari pihak perusahaan yang bisa membantu meringankan biaya pengobatan Azam, "Alhamdulillah" Irfan dan Zahra bersamaan, "oh iya, aku titip Azam ya, aku mau pulang dulu mau nanti kesini lagi" Zahra berpamitan pada mereka, "iya Zahra, terimakasih ya sudah membantu" ujar Aldo pada Zahra, "ayo Jul kita pulang dulu" Zahra mengajak Julian yang sedang duduk disampingnya.

__ADS_1


Setelah kepergian Zahra dan Julian, Irfan memilih berbaring disebuah sofa sudut ruangan dan Aldo tetap berada disamping Azam. "Eh Fan, Julian itu temannya Zahra apa pacarnya sih kok dekat gitu" ujar Aldo memecah keheningqn ruangan itu yang hanya bersuara mesin medis saja, "ya kita tidak tahu Do, kan kita juga baru kenal tadi" jawab Irfan malas. Pukul delapan malam Azam baru siuman dan sudah mulai bisa bicara, "Alhamdulillah Zam kamu sudah sadar, sudah berjam-jam kamu pingsan" Aldo senang melihat temannya sudah sadar dan Irfan yang masih berbaring beranjak dan mendekati Azam dan Aldo. "Tadi ada Zahra disini, dia yang menunggu sampai kami datang" ujar Irfan, "dimana dia sekarang?" tanya Azam dengan suara yang tidak terlalu jelas dikarenakan alat bantu pernapasan masih terpasang. "Dia sudah pulang Zam, diantar oleh temannya tadi yang datang juga kesini" jawab Irfan, Azam tidak melanjutkan pertanyaannya mengenai Zahra hanya tersenyum saja, "mau makan atau belum Zam, kalau mau makan biar aku suapin" Aldo menawarkan pada Azam, "belum Do, nanti saja bibirku masih agak sakit" jawab Azam, "oke baiklah, nanti kalau lapar dan mau makan atau minum bilang saja" ujar Aldo sambil membenarkan selimut Azam. "Ini Hp mu Zam" Irfan menyodorkan Hp pada Azam, "makasih ya Fan" meraih Hp dan menyalakannya, sebab tadi mati mungkin karena hentakan pas kecelakaan.


Terimakasih dek sudah membantu di rumah sakit, Alhamdulillah sekarang sudah siuman kembali. Pesan yang Azam kirimkan pada Zahra dan Pinkan, besok aku tidak bisa bantu kamu. Aku sedang dirawat di rumah sakit, tadi kecelakaan dijalan. Pesan singkat melalui chatingan Whatsap yang Azam kirimkan pada temannya Pinkan, setelah mengirim pesan Azam meminta tolong pada temannya untuk membantunya minum obat. Setelah itu Azam pamit istirahat tidur Aldo menunggu sedangkan Irfan pulang untuk memberesi rumah.


***


Picture : Kondisi sepeda Azam setelah kecelakaan yang dimasukkan keatas mobil polisi lalu lintas setempat yang menyelidiki penyebab kecelakaan itu.

__ADS_1



__ADS_2