
"Dek, jaga selalu dirimu disana. Dari sini ku mendo'akanmu selalu agar dimudahkan dalam segala urusan" plak sebuah botol bodylotion menimpa kelapa azam, azam kaget bangun dan duduk "Astagfirullah, hanya mimpi toh, ini apa lagi yang nimpok kepalaku" azam menyalakan lampu dan baru sadar barusan telah terjadi gempa. Beberapa detik saja gempa berlangsung lalu redah, "baru jam satu malam" azam memandang jam dinding diatas pintu kamarnya. Keluar kamar dan menyalakan televisi dan mengambil makanan dalam kulkas, rupanya perut azam terasa lapar saat terbangun tadi. Azam perhatikan hanya dirinya yang bangun sedangkan penghuni rumah yang lain malah masih mendengkur "alamak, apa cuma aku yang merasakan gempa" menghela napas dalam sambil memegang remote mencari acara televisi.
Setelah beberapa menit azam akhirnya mengambil wuduh untuk melaksakan sholat tahajud dan istiqhara kemudian melanjutkan tidur karena masih beberapa jam lagi menunggu waktu sholat subuh, ditambah mata azan sendiri mulai diserang kantuk lagi.
__ADS_1
Keesokan harinya saat matahari mulai menyongsong pagi, azam berkutat dengan kesehariannya bekerja di perkebunan kopi milik ayahnya. Bagi azam pekerjaan ini cukup menyenangkan karena tidak terikat waktu dan aturan khusus. "yah, hari ini azam kekebun ya meriksa perkebunan sekalian mau ambil buah durian" menghampiri ayahnya meminta kunci motor, "iya zam, nanti periksa bagian ujung kebun ya, durian juga sudah mulai matang kata pamanmu kemarin banyak yang jatuh juga buahnya" menyodorkan kunci motor pada zam, "oke siap yah, azam berangkat dulu" berpamitan pada ayahnya dan azam menuju garasi mengeluarkan sepeda motor yang dimodifikasi khusus untuk daerah perkebunan. "Eh..zam ini loh jangan lupa dibawain" ibu azam menyodorkan bungkusan yang berisikan bekal makanan, "aduh, hampir lupa azam tadi bu" mengambil bungkusan lalu memasukkan kedalam tas yang dibawah olehnya "ya udah hati-hati di jalan ya, nanti pulang tolong kamu ambilkan buah labu yang ada di belakang pondok kebun ya" ibu azam masuk kedalam rumah kembali menutup pintu garasi, "iya bu nanti azam ambilkan" menyalakan motor lalu berangkat mengarah ke jalan menuju kebunnya.
Kopi yang banyak dinikmati diberbagai tempat berawal dari biji-biji kopi yang dikumpulkan dari perkebunan kopi, lebar kebun kopi ayah azam tak seberapa luas namun cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. Aroma kopi yang disangrai dari dapur yang mengepul menyibak masuk kedalam rongga hidung tercium membuat rileks pikiran, begitu kata para penikmat kopi. Dikebun azam hanya memeriksa setiap sudut kebun dan mengambil buah durian yang jatuh dari pohonnya lalu mengambil pesanan ibunya yaitu buah labu yang biasa dijadikan bahan masakan. "Meriksa kebun sudah, ambil buah labu juga sudah mending sekarang pulang dan sholat zuhur beberapa menit lagi akan masuk waktunya ini" azam bicara dalam hati sambil memasukkan barang bawaan yang akan dibawah pulang.
__ADS_1
Bergegas menuju tempat motor, azam berjalan begitu semangat menyisiri pematang-pematang sawah, berjalan ditengah terik terasa adem saat angin berhembus menghempas ke badan azam lalu hembusan angin ini juga membuat padi-padi yang menghijau bergoyang manja seakan merasakan sejuknya angin ditengah terik. Suara deru terdengar dari langit, membuat azam mendongakkan kepala memandang ke atas mencari sumber suara darimana datangnya. Sebuah pesawat berekor biru melintas menembus ramainya gumpalan-gumpalan awan diangkasa sana melaju cepat hilang dipelupuk mata dikedipan pandangan. "Ahhh..kapan kamu pulang zahra" sambil terus berjalan azam mengigat zahra yang katanya segera pulang, "andai aku punya uang, aku barang tentu sudah menemuimu disana" azam telah sampai di tempat menyimpan motornya, menggantungkan buah durian dan labu dibagian depan motor "bismillah" desis azam menyalakan motor dan tancap gas menuju jalan pulang.
Selepas mandi dan bersih-bersih, azam sholat lalu pulang makan nasi goreng buatan ibunya, "hmmm...enak banget ni buatan ibuku" sambil melahap seperti kelaparan saja, "kalau dimasakin kesukaannya pasti deh bilang begini" ibu azam menemani makan anak satu-satunya itu, "eh zam, bagaimana kabar zahra" tanya ibu azam melanjutkan "uhuk...eh ibu kok nanya gini" terbatuk kaget sambil meraih segelas minuman "lah kenapa emangnya? Ibu lihat setiap kamu telponan dan videocall sama dia kamu senang dan bahagia" ibu azam menjelaskan sambil memasukkan air kedalam gelas azam, "ya begini buk, azam tidak tahu sekarang ini dia bagaimana entah ada pasangannya entah ada calonnya entah juga dia tidak punya perasaan sama azam" sedikit risih dengan pertanyaan ibunya "ya udah deh, ibu do'akan yang terbaik buat kamu" ibu azam berdiri dan menepuk pelan bahu azam "ibu kedepan dulu ya kerumah ibu retno, habiskan makanannya itu capek ibu masak khusus buat kamu itu" sambil berlalu mengarah kedepan "iya buk iya" jawab azam singkat sambil melahap menghabiskan makanan didalam piring berwarna putih bercorak bunga berwarna hijau.
__ADS_1
Selepas makan, azam menonton televisi dan diserang kantuk hingga tertidur. Bangun ketika sore hari jam lima, azam kaget lalu segera melaksanakan sholat asharnya yang terlambat itu kamarnya. Setelah itu azam mengambil HP dan menelepon zahra. "Bismillah" menekan tombol 'panggil' dilayar HP nya. Tut...tut..tut dua kali belum juga diangkat, dan azam meletakkan kembali HP nya diatas meja, beberapa menit kemudian HP azam bergetar tanda panggilan masuk, buru-buru azam mengangkat "zahra" ucap azam sambil menekan tombol 'terima' "halo dek, assalmu'alaikum" azan memulai obrolan "halo kak, wa'alaikumsalam, maaf ya kak tadi sedang dalam perjalanan pulang kerumah, Hp silent jadi tidak terdengar" zahra menjelaskan perihal panggilan tak terjawab azam, "oh iya tidak apa-apa dek justru kakak merasa mengganggu ini loh" jawab azam merasa tidak enak, "loh kak kok begitu, tidak apa-apa kok aku juga mau kasih tahu suatu hal sama kakak" terdengar suara mengambil air minum "oh ya? Mau menyampaikan apa dek?" Azam penasaran serius ingin mengetahui "kak aku pulangnya tidak jadi bulan depan" zahra menjelaskan perihal kepulangannya ke indonesia, "heuuh..diundur lagi" jawab azam lemas, "loh kok gitu jawabnya sih, tidak semangat gitu" zahra menggoda azam "kan belum selesai ngomongnya" tambah zahra, "lalu bagaimana neng kalau belum selesai, abisnya ngomong sepotong-sepotong kaya roti" azam menjawab dengan suara sebal "hahaha..bisa saja, aku pulangnya tanggal dua puluh ini kak, bulan ini juga" sambil tertawa zahra menjelaskan kepada azam, "ha? Bulan ini dek? Serius kan?" Azam kaget bercampur gembira tapi belum mau percaya takut dicandain oleh zahra "iya kak betul, Alhamdulillah bulan ini tanggal dua puluh pulang ke indonesia" zahra menjelaskan kebenaran akan yang disampikannya "Alhamdulillah dek, kakak senang dengan kabarnya, oh iya nanti kakak boleh ya jemput ke bandara?" dengan nada yang luar biasa gembira azam yang tak bisa disembunyikan, "boleh kok kak" jawab zahra singkat, "Alhamdulillah, semoga nanti selamat sampai tujuan ya dek, kakak senang mendengar kabar ini" azam tak bisa menyembunyikan bahagianya mendengar kabar ini, setelah menyudahi obrolan azam bergegas sujud syukur. Perasaan bahagia dan senang yang bercampur menjadi satu hingga kata-katapun tak bisa menggambarkan suasana hati azam saat ini.
***
__ADS_1