
Dinginnya suhu pagi itu menemani butiran-butiran salju yang turun bersama dengan tetesan air es yang menetes dari genting rumah menerpa selasar rumah bagian kiri dibawah jendela kamar. Selimut tebal semakin Azam tarik, enggan untuk mengeluarkan kaki-kaki yang telah mengenakan kaos kaki. Hari itu hari libur, sehingga Azam tak perlu buru-buru untuk keluar dari kamar kecil berlantai kayu itu.
Dari luar ruangan terdengar suara berisik, yakni suara teman serumahnya Irfan dan Rifaldo yang di panggil Aldo. Keduanya sedang sibuk beres-beres rumah dan memasak didapur hingga suara gaduh dari keduanya membuat Azam geram. "Woiiii...ada makhluk yang lagi ingin tidur nih, berisik ahk" Azam berteriak dari dalam selimutnya, "bangunlah wahai anak muda, tak baik terus bermimpi dipagi yang secerah ini" Aldo menyahut dari arah dapur dengan meniru suara orang-orang dalam sinema laga kolosal Angling darma.
Lima menit kemudian, Azam bangkit dan merapikan tempat tidurnya. "ya Allah udah jam delapan aja nih" buru-buru keluar mencuci muka, "ngapain sih kalian ini berisik sampai menganggu acara mimpi indahku saja" keluar kamar mandi mengelap sisa air di wajah sambil mendatangi kedua temannya yang sedang berada didapur itu. "Haha..sengaja bos biar kamu cepat bangun, lagian tidur pagi itu tidak baik zam" Irfan menjawab sambil menyusun rapi piring-piring yang ia cuci. "Iya benar, tapi aku hari ini merasa dingin dan malas sekali untuk bangun awal pagi. Lagian juga tidak ada kerjaan hari ini" membuka kulkas mengambil susu lalu menuangkan di gelas, "ouh bagus ya, dari tadi orang bersih-bersih eh ini dia baru bangkit dari alam mimpi langsung minum susu aje nih pakai gelas yang sudah bersih" ledek Irfan kepada Azam yang sedang meneguk susu. "Hehe...tak mengapa wahai anak muda, ini akan menjadi pahala buat kalian" Azam tertawa kecil menjawab celotehan sahabatnya itu, "ntar aku masakin opor ayam deh buat kalian, kan kalian tahu sendiri disini aku yang paling bisa memasak" ledek Azam pada Irfan dan Aldo yang saling berpandangan mengkerutkan kening mereka.
"Sudah sudah, zam cepat deh bantu aku masak. Aku masak nasi dan beberapa butir telur, Sekarang kamu masak ayam ya udah lapar nih" Aldo melanjutkan pekerjaannya, "oke deh, ntar selesai makan kalian mandi ya temenin aku jalan-jalan hari ini mau beli jaket dan boot buat kebutuhan selama musim salju mumpung salju baru mulai turunkan" berjalan kearah kamar menyimpan handuk. "Iya, kita juga mau belanja dan transfer duit ke orangtua di desa zam" jawan Aldo, Irfan mengangguk saja.
__ADS_1
Aroma rempah yang berpadu menusuk hidung membuat perut semakin tak sabar menahan lapar, "nah sudah siap, mari makan dulu" Azam membawah makanan ke meja makan disusul oleh Aldo yang membawah air minum dan Irfan menenteng piring serta gelas. "Kayaknya enak nih...hihi" Irfan melotot lapar langsung mengambil nasi dimasukkan piring dilanjut mengambil potongan ayam dan telur didalam piring saji. "Ya elah, kamu mah tidak bisa lihat makan enak bawaannya lapar terus" Aldo mengejek Irfan yang sudah mengambil makanan lebih dulu, kemudian Aldo juga mengambil makanan dan mulai makan. "Mari dicoba dulu guise, bagaimana rasanya" Azam mengedip-ngedipkan mata dengan sedikit senyum tersunging di bibirnya, "kalau aku cewek zam, aku yang melamar kamu, enak benar masakanmu ini" Irfan memuji dan menilai masakan azam dengan tangan tetap menyuap kemulutnya, "kan aku sudah bilang, urusan masak memasak biar aku saja kan terbukti iya kan iya kan" Azam bergurau tertawa kepada kedua temannya, "akh kamu zam, dipuji sedikit terbang deh" Aldo menimpali ketus kepada Azam, "oh iya zam, katanya mau belanja, jam berapa? Irfan bertanya kepada Azam yang masih melahap makanannya, "habis makan ini nanti kita siap-siap dulu, kita berangkat pakai sepeda saja sekalian olahraga" Azam menatap ke arah jam tangan warna hitamnya.
"aku mau mandi duluan ya, nanti piring-piring kotornya kita cuci sepulang belanja saja" Aldo berdiri meninggalkan meja makan menuju kamar lalu keluar membawah handuk putih menuju kamar mandi, "iya siap, jangan terlalu lama ya kita mau cepat nih. Panaskan dulu airnya jangan lupa" Irfan membereskan sisa makan dan Azam juga menyimpan sisa makanan kedalam lemari kabinet diatas meja dapur. Setelah semua selesai berpakaian, sebelum keluar rumah semua mengenakan sepatu boot tebal ditambah jaket serta topi sebagai penghangat, sebab suhu diluar begitu dingin karena salju mulai turun hari ini. Mengambil sepeda masing-masing lalu mulai mengayuh menyusuri jalanan sepi pedesaan di Hokkaido, hampir tak ada orang yanh beraktifitas diluar rumah selain mereka yang mengemudi kendaraan mereka membawah barang-barang yang entah akan dibawah kemana saja.
Azam bersama temannya bekerja disebuah pertanian komuditi tanaman sayur diantaranya kentang dan kol di Hokkaido yang terletak di daerah Horonai. Rumah yang Azam tempati juga berada di sekitar rumah warga asli sana dan berdampingan dengan sungai Tokachi (Tokachi River) yang sangat jernih dan sejuk airnya. Kegiatan hari-hari Azam yaitu memeriksa, merawat, dan memanen tanaman diperkebunan lalu dibawah ke pabrik yang berada didekat lahan pertanian untuk diolah atau dikemas sebelum melakukan pendistribusian ke pasar-pasar dan mengirim ke daerah lainnya.
Sesampai dihalte pemberhentian tepat didepan pusat perbelanjaan di sapporo, Azam beserta dua sahabatnya turun lalu masuk ke tempat belanja yang seperti moll namun lebih kecil tapi lengkap. "Ayo zam kita ke bagian outlet jaket musim dingin dan boot letaknya di lantai atas, aku mau milih-milih juga" menuju tangga kelantai atas. "Oke siap bos" Azam dan Aldo berbarengan menjawab ajakan Irfan yang sudah berjalan duluan menaiki tangga. Setelah puas memilih dan menapatkan apa yang dicari mereka bertiga membayar kalu keluar dari pusat perbelanjaan itu menunggu bus lagi dihalte depan. Duduk dibagian ujung Azam tak sengaja menduduki sebuay syal merah jambu yang ada ditempat duduk halte. Di Jepang apabila barang-barang ada yang tertinggal ataupun terjatuh disuatu tempat maka tidak ada yang mengambik selai petugas yang ada, berhari-haripu jika tidak diambil maka akan tetap berada disana, hal yang sangat langka jika dibandingakan dengan Indonesia, awalnya azam hanya mengambil dan menempatkan disandaran kursi halte. Angin yang berhembus pelan menerpah kain syal hingga menerbangkan aroma parfum dari syal itu menuju hidung azam, lalu "aroma ini" bergumam dalam hati, berusaha mengingat tentang aroma yang tak asing lagi untuk hidungnya. "Ya Allah, apakah ini petunjukk-Mu? ini aroma parfum Zahra" Azam berhasil mengingat. Dimana aroma parfum itu pernah ia cium beberapa tahun lalu saat ia bersama dengan Zahra. Azam mengambil kembali syal merah jambu tak bertuan itu lalu memasukkannya kedalam tas slempang miliknya, "bisa jadi parfum yang sama dengan orang yang berbeda atau memang punya Zahra" masih berbicara dalam hati, bus datang lalu Azam, Irfan dan Aldo masuk bus menuju pulang. Dalam bus Azam masih membayangkan tentang siapa pemiliknya apa benar Zahra atau bukan. "Aish sudahlah aku mau tidur, semoga ini awal yang baik bagiku" dalam hati lalu memejamkan mata tertidur dalam bus hingga pemberhentian di halte bus tempat mereka memarkirkan sepeda mereka tadinya.
__ADS_1
Syal merah jambu tak bertuan beraroma khas parfum yang tak asing menyimpan rahasia yang memaksa hati untuk mengingat tentang untaian waktu tentang makna dibalik pesan kain penghangat leher yang hadir ditengah turunnya salju pertama dibulan ini.
***
Pictures : Bagian depan pabrik hasil pertanian di kota Hokkaido tempat Azam bekerja.
__ADS_1