
Rintik hujan ditengah malam membawah elusan lembut dinginnya angin yang masuk melalui celah ventilasi kamar dan memaksa tangan untuk menarik selimut keseluruh tubuh yang tak rela dijamah oleh dinginnya malam sehingga membuat mata semakin malas untuk terbuka. Terdengar sayup lolongan ****** malam menandakan ada yang lewat disepinya gang rumah yang tak memiliki lampu jalan itu. Tukang sayur setengah bayah tengah keluar untuk menunggu angkot sayur didepan gang yang selalu setia mengantarkan penumpangnya pergi kepasar pagi untuk berbelanja bahan dagangan yang akan dijajahkan kembali kepada ibu-ibu rumah tangga dipagi hari, lolongan ****** berwarna hitam sedikit kurap dikaki kirinya itu seolah menjadi pertanda bahwa waktu telah pagi menggantikan kokok ayam yang sedang bertengger malas didalam kandang-kandangnya. Dengan sekuat niat azam memaksa membuka dua bongkahan matanya untuk terjaga, dilihatnya jam dinding disudut kamar menunjukkan pukul 03.45 pagi, azam melepas selimut dari badannya ia berdiri dan segera keluar menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, azam mengelap kaki tangan serta wajahnya yang telah basah oleh usapan air wudhunya, air yang begitu dingin menusuk seperti air es yang ditumpahkan kewajah. "Alhamdulillah akhirnya bangun juga malam ini" guman azam sambil membentang sajadah merah maroon miliknya itu, setelah merapikan pakaian azam mulai bertakbir melaksanakan sholat malam yaitu sholat tahajud di sepertiga malam. Sebanyak empat rakaat ia kerjakan, terasa sejuk diubun-ubun menambah kekhusyukan dalam sujud azam berdo'a panjang sekali dalam sujud hingga tak terasa sujud yang begitu lama itu membuat sajadah merah itu lembab oleh tetesan-tetesan airmata yang mengalir berirama dengan isak yang terdengar sendu dari bibir azam.
__ADS_1
Sudah lima menit lebih azam tak beranjak dari sujudnya seperti telah menyatu antara kening dan sajadah itu, do'a-do'a terus ia langitkan merayu-rayu sang pemilik hati. "Ya Allah banyak sekali dosa yang hamba lakukan maka ampuni hamba ya Rab" terdengar lembut suara keluar dari bibir azam "ya Rabb pemilik hati ini hamba memohon ampun telah mencintai hambamu zahra yang selalu hamba sebut namanya dalam setiap sujud hamba, ya Allah jadikanlah hamba bersyukur telah mengenalnya dan tuntunlah rasa dan cinta ini agar hanya ada karena-Mu bimbinglah rasa dan cinta ini agar menjadi motivasi untuk meraih setiap ridho-Mu" kini azam mulai terisak-isak dengan semakin jelas tak mampu ia membendungnya "ya Rabb pertemukanlah hamba dengan zahra dalam balutan kasih ridho dan restu-Mu, hamba tak tahu ia mencintai hamba atau tidak hamba hanya memohon meminta kepada-Mu agar hatinya cenderung kepada hamba ya Rabb" azam bangkit dari sujudnya yang sudah lama itu lalu menuntaskan sholatnya. Selesai sholat tahajud, azam bersiap-siap untuk berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.
Pukul tujuh pagi matahari mulai meninggi menampakkan sinar hangatnya disambut kicauan burung dan sibuknya para petani yang mulai berjalan menuju ladang-ladang sawah mereka, kegembiraan terpancar dari mereka yang mulai memanen sayuran-sayuran segar dari pinggir pematang-pematang sawah yang tanami kacang panjang. Azam mengganti pakaian untuk pergi ke ladangnya memanen sayuran, pagi yang begitu hangat dengan senyuman terpancar dari wajah azam yang merasa segar setelah semalam sholat tahajud dan subuh, setiap malam bahkan hampir setiap malam azam selalu bangun untuk melakukan sholat tahajud, tentunya azam juga mengajak pada teman-temannya untuk melakukan hal yang sama bukan hanya melaksanakan yang wajib-wajib saja. "Bar, menurut kamu salah tidak sih jika aku sering mendo'akan zahra?" Azam menanyakan kepada akbar yang duduk di bangku yang terbuat dari bambu dihalaman pondok ditengah ladang, "ya boleh-boleh saja asalkan do'anya yang baik" jawab akbar sembari mengupas pisang rebus "memangnya kamu minta apa?" Tambah akbar, "ya....hanya mendo'akan saja bar barangkali Allah mau memepertemukan kami dengan cara yang baik dengan kondisi terbaik" terang azam yang juga sambil mengupas pisang yang masih terasa panas itu "do'akan saja terus yang penting itu kita dihindari dari pikiran-pikiran yang buruk tetap saja berdo'a dan minta mudah-mudahan Allah berikan yang kamu inginkan" akbar bicara bersamaan dengan mengunyah pisang "apalagi do'amu di sepertiga malam itu inshaAllah akan dikabulkan oleh Allah" tambah akbar. "Makasih ya atas sarannya bar aku sekarang hanya bisa mendo'akan saja berharap dikabulkan supaya bisa bersama dengan zahra bar" mengambil minuman didalam teko, "kamu itu loh kalau masih menyimpan rasa coba deh kamu bilangin sama zahra jangan dipendam sendiri siapa tahu zahra juga masih ada rasa sama kamu" ledek akbar "yaelah bar aku masih menyimpan rasa tapi sekarang aku bukan berniat macarin dia ataupun untuk hal-hal yang tidak baik saat ini aku hanya ingin memperbaiki diri kalaupun nanti dia mau aku akan melamarnya daripada memacarinya" azam menimpali ledekan akbar, "wah kalau aku wanita sumpah zam aku yang lamar kamu" akbar tertawa dan azampun juga tertawa mendengar itu "aku pun kalau kamu yang lamar ogah deh mending jomblo aja" jawab azam sambil tertawa juga.
__ADS_1
Tak banyak yang azam minta pada saat ini melainkan menenangkan hatinya serta ingin berjumpa dengan zahra dengan restu Allah, entah kerinduan karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu atau karena sosok zahra memang membuat rindu, Allah berikan petunjuk-petunjuk kepada azam dengan ditampakkannya kebaikan-kebaikan dari zahra yang semakin membuat azam kagum dimana zahra sendiri jauh lebih baik dari yang semula ia kenal dalam hati azam pun berucap "Ya Allah mudahkanlah bagiku bertemu dan engkaulah yang maha membolak balikkan hati manusia semoga zahra mendo'akan yang sama dan Engkau jaga hatinya untukku".
***
__ADS_1