
Barisan padi menguning dipersawahan, jalan-jalan pematang sawah mengiring langkah. Embun pagi masih berguguran, matahari masih berselimut dibalik tebalnya embun pagi. Zahra telah beradaptasi kembali dengan iklim indonesia dan sudah bisa membiasakan diri untuk beraktifitas seperti biasanya.
Tak sehening jepang tak sebersih negeri sakura. Namun kehangatan suasana tak bisa diganti oleh hal yang tak bisa menghilangkan kesepian ditengah keramaian. Meskipun baru mulai beradaptasi kembali, zahra sudah membantu ibu dan ayahnya memanen buah mentimun diladang milik ayahnya. Hal itu diketahui azam saat melihat postingan si zahra di instagram miliknya. "Wah, panen dek?" komentar azam melihat kiriman poto tersebut "iya kak panen" jawab zahra merespon beberapa menit setelah masuknya pesan tersebut, "hari senin boleh kakak main kerumah dek?" azam menanyakan perihal keinginannya yang ingin bertemu dengan zahra, "ya boleh kak, silakan datang kerumah zahra" jawaban zahra membolehkan azam untuk berkunjung ke rumahnya. Tentunya mendapat pesan jawaban yang membolehkan azam begitu senang luar biasa, rasa berdebar yang tentu tak bisa tersampaikan oleh lisan tak mampu tertulis melalui deretan kata-kata dengan sejuta kiasan yang berisikan alunan-alunan syair merdu. Rasa yang terasa hingga meluap menjadikan azam melompat kegirangan di dalam kamarnya hingga terdengar suara hentakan kaki menghantam lantai. Meski belum tentu bisa bertemu secara pasti, mendapat kabar bolehnya untuk datang menemui merupakan hal yang sudah menjadikan azam bak tersiram air ditengah terik matahari.
Jam berganti hari berlalu, tanggal 29 februari sebuah pesan singkat masuk melalui instagram "oh iya kak, maaf senin sepertinya aku tidak bisa kak" dibaca oleh azam dengan kekecewaan karena rencana ini batal, "kenapa tidak bisa dek?" gemetaran jemari menulis pesan jawaban kepada zahra "aku ada acara dengan sepupu kak" menerangkan bahwa batalnya pertemuan ini dikarenakan zahra bersama dengan sepupunya memiliki acara, azam sendiri menghormati dan tidak ingin memaksakan diri untuk tetap bertemu dengan zahra meskipun dorongan kaki begitu kuat ingin melangkah bertemu dengannya.
__ADS_1
Bukan hanya kecewa yang azam rasakan, namun mulai terjangkit rasa sedikit cemburu buta yang tak beralamat pasti kepada zahra. Azam mengira jangan-jangan zahra menolak bertemu dengannya atau zahra mungkin bukan bertemu dengan sepupu melainkan ada kedatangan laki-laki lain. Tidur tak begitu lelap, uring-uringan menjadi makanan azam menemani langkah yang kadang menjadi tersendat mengerjakan macam hal. Hingga sebuah poto dan video yang ia tak sengaja lihat dimedia sosial mengangkat kembali senyuman azam dan menghilangkan kecewa dan cemburunya beberapa hari ini. Dari sebuah akun facebook yang azam ketahui itu adalah saudara sepupunya zahra pemiliknya, azam melihat poto-poto dan video mereka terdapat zahra didalamnya. Itu menandakan prasangka-prasangka azam beberapa hari ini terpatahkan, bahwa zahra tidak membohonginya dengan pesan yang ia kirimkan waktu itu. "Alhamdulillah ya Allah aku telah berprasangka kepada zahra bahwa dia tak mau bertemu denganku ternyata benar dia berhalangan, ya Allah semoga dia engkau jadikan jodohku, aamiin" ucap azam dalam hari sambil memejamkan mata.
Hari berganti waktu, azam belum menghubungi kembali zahra. Tak ada komunikasi setelah itu, azam menyibukkan dirinya membantu orangtuanya diperkebunan kopi milik keluarganya. Hanya saja sering azam mengirimkan kiriman-kiriman postinganh di media sosial instagram miliknya untuk ditujukan kepada si zahra meski tak satupun nama zahra di tulis didalamnya. Meski tak pernah lagi menghubungi zahra, azam tak pernah lupa untuk selalu berdo'a untuknya meski kadang azam merasa malu kepada dirinya yang mencintai zahra namun tak pernah berani mengutarakannya langsung.
Arti menunggu kadang memang memelahkan hingga membuat jenuh pelakunya yang tak jarang mengeluh. Buah kebaikan dari setiap kesabaran tentunya pastilah luarbiasa. Hal inilah hang membuat azam terus bersabar dan selalu mendo'akan agar bisa bertemu dengan zahra diwaktu yang tepat, mepertemukan dengan keadaan terbaik, serta siap untuk hati yang penuh dengan rindu yang sederatan uangkapan yang belum tersampaikan.
__ADS_1
"Siapa? Masuk saja" azam bertanya dengan yang mengetuk pintu depan, "aku zam, kamu dimana ?" Suara akbar menyaut dari luar menuju masuk rumah azam, "di kamar bar, masuk saja" azam menjawab dan menyuru akbar masuk ke kamarnya langsung, "siap bos" membuka pintu kamar, "ngapai kamu dikamar ni" tanya akbar menarik selimut azam "jam segini masih saja dikasur" lanjutnya, "arggghhh..kamu ni ganggu saja bar" menarik lagi selimut yang ditarik akbar, "iya bangun dulu dong kamu ini, sudah siang ini zam" akbar membuka jendela kamar sehingga sinar matahari masuk menyilaukan mata azam memaksa mata terbuka "sudah, bangun dulu" kembali menarik paksa selimut azam, "iya iya iya iya" meninggikan suaranya "ada apa si bar ganggu tidur ku saja kamu ini" memicingkan mata dan merapikan rambut yang kusut karena rambut azam sendiri yang mulai menggondrong, "Nanti aku ceritakan, kamu bangun dan mandi saja dulu boar aku tunggu dikamar" membuat azam penasaran "ah nanti saja mandi, cepat dong ceritain ada apa?" Memaksa akbar bercerita "nanti saja, kamu mandi dulu nanti kita cerita sambil sarapan. Oke" sambil menyambungkan handpone ke speaker untuk mendengarkan lagu, "iya deh kalau gitu, aku mandi dulu dan kamu bar buatin sarapan mie saja, ambil mie di lemari cabinet didapur dan kalau mau pakai telur dan ampela ayam ambil dalam kulkas saja. Aku mau mandi sebentar" mengambil handuk san keluar menuju kamar mandi disamping dapur, "oke deh, pokoknya kamu selesai mandi nanti ini semua sudah siap bos" jawab akbar yang juga keluar kamar dan menuju dapur untuk membuatkan saran untuk mereka berdua, akbar diantara teman-teman azam yang lain merupakan yang paling pandai masak.
Aroma bawang yang ditumis menyerbak ke seluruh penjuru dapur, terhirup hidung membuat azam yang baru keluar kamar mandi langsung berkomentar "hmm...mantap ini chef akbar" mendekati akbar "tambahin daging ya biar lebih mantap lagi, kalah mau tambahin telur juga boleh" tambah azam, "oke deh, ini dagingnya lagi direndam soalnya sudah beku tadi" menunjuk kearah wadah tempat daging di rendam, "mantap deh, aku berpakaian dulu ya bar" menuju kamar meninggalkan akbar. Beberapa menit kemudian azam keluar menuju dapur, "selesai bar?" Memeriksa masakan akbar "sudah lapar nih" tambahnya, "sebentar lagi zam, duduk saja dulu kamu disana siapkan tempatnya" sambil mengocok telur dadar lalu menggoreng diwajan panas, "oke kalau begitu" sambil beranjak menuju meja makan menyiapkan dua mangkok putih beserta garpu dan sendok, setelah itu azam mengambil air minum dingin dari dalam kulkas dan dua gelas kaca. "taraaaa...selesai juga akhirnya" akbar mengangkat wajan menuju meja makan "hmmmm...wanginya masakan mu ini bar, bikin tambah lapar saja" mengarahkan hidung untuk menghirup aroma masakan akbar tersebut, "ayo buruan masukin nih mangkoknya sudah aku siapkan" azam menyodorkan mangkoknya tak sabar ingin mencicipi mie tersebut, "sabar dong zam, ini masih panas tau" mengambil mie dalam wajan menggunakan spatula dan memasukkan perlahan kedalam mangkok menyebabkan aroma mie memantul menusuk hidung menggugah selera "nih, tinggal tambahkan telur saja, tu kamu ambil dulu telur" menunjuk ke arah meja dapur menyuru azam mengambil telur yang telah digoreng tadi, "oke deh, tunggu sebentar" azam segera mengambil lalu meletakkan telur kedalam mangkok mienya dan kedalam mangkok mie akbar, "yuk makan, jangan lupa bismillah" ajak azam sambil mengaduk mie dalam mangkoknya, "bismillahirrahmannirrahim, slurrrpppp ..." dengan lahap azam memakan mie yang dengan sedikit berkua itu "mantap kali masakanmu ini bar" puji azam sambil terus melahap mienya, "ah biasa saja tu" akbar juga melahap mie hingga habis, keduanya sendawa lalu minum bersama.
"Eh zam, aku mau sampaikan sesuatu" sambil membereskan bekas makan, "hm ,iya kan kamu tadi mau ngomong kan sama aku. ayo buruan" meminum air hingga habis dalam gelas lalu menaruh gelas ke atas washtafel. "gini zam, temanku namanya rianti anak fakultaa hukum masih kuliah sekarang. katanya suka sama kamu" akbar menunjukkan pesannya kepada rianti. Rianti adalah teman akbar namun usianya masih jauh dibawah akbar. "Oh ya?" mengernyitkan kening seperti tidak percaya, "iya betul, yang beberapa waktu kalu pernah chatingan sama kamu itu" seolah mengingatkan azam, "iya aku tau bar, ya maksut aku itu kok bisa dia suka sama aku kan aku tidak ada apa-apa sama dia juga kan" azam masih bingung mengenai hal ini yang belum bisa ia percaya, "ya mana aku tau zam, aku cuma nyampaikan saja sama kamu toh" menyimpan Hpnya seolah tak tahu apa-apa, "ya aku bingung, kan kemarin aku sempat bilang tu sama dia kalau aku tidak mau pacaran terlebih dahulu dan aku kamu tau juga kan zam kalau aku masih ingin sama zahra" jelas azam menghela napas, "iya zam aku tau itu, sebaiknya kamu jelasin saja sama si rianti itu agar nanti dia tidak berpikiran semakin dalam mengira kamu juga suka sama dia" menatap serius pada azam lalu menunduk, "iya bar, nanti akan aku jelaskan saja sama rianti. Biar semua jelas dan dia tidak menganggap lebih mengenai perkanalan ini" masih dengan raut muka bingung, "iya zam sebaiknya lebih cepat lebih baik. Aku cuma menyampaikan saja, selebihnya aku yakin kamh bisa untuk menyelesaikan ini semua. Dan untuk kamu dan zahra semoga bisa segera bertemu ya zam" sambil menepuk pundak azam dan berdiri dari kursi meja dapur, "eh mau kemana bar?" azam ikut berdiri "mau pulang dulu zam, aku cuma mau nyampaikan itu saja sama kamu" jawab akbar, "hm..okelah bar, terimakasih atas infonya ya, inshaAllah akan segera aku selesaikan, by the way thankyou for pray" bersalaman dan mengantarkan akbar sampai pintu depan rumah.
__ADS_1
Menutup pintu lalu beranjak ke kamar, menghempaskan tubuh kekasur lalu memejamkan mata sebentar dan menarik napas dalam, "ya Allah, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa. Jagalah hati ini dari rasa yang salah ya Allah, jatuh cintakanlah hati ini kepada hati yang merupakan jodohku ya Allah agar aku tidak jatuh kedalam hubungan yang salah kepada hati yang tak seharusnya ku singgahi dan agar aku tak menyakuti siapapun ya Allah" dalam hati dengan mata yang masih terpejam sayup terdengar suara lembut zahra, memaksa pikiran berhalusinasi membuat mata menatap tanpa terbuka. "Ya Allah, semoga Engkau jodohkan aku dengannya seperti do'a sederhana yang selaluku panjat pada-Mu disetiap lirih do'a-do'aku" membuka mata, memejam kembali lalu tertidur dan terbangun ketika adzan sholat dzuhur berkumandang dari menara masjid menarik azam dari buaian mimpi siang.
***