
Sebuah nama yang selalu menjadikan telinga azam tertarik untuk mendengar semua cerita semua kata yang berhubungan dengan zahra. zahra bukanlah sosok wanita yang luarbiasa cantik atau anggun melainkan seorang wanita remaja yang sederhana dengan gaya yang tak begitu mempesona dihiasi deretan jerawat disekujur pipinya serta suara khasnya yang begitu dikenali oleh azam. Suara yang berat serta irama yang cepat ditambah dengan gaya bicara yang membuat zahra semakin menarik dimata azam.
Keseharian zahra disibukkan dengan sekolah,belajar dirumah dan kegiatan pramukanya. Zahra juga tidak begitu sibuk dengan fashion sehingga dia bergaya semaunya saja dan tak begitu memikirkan tentang banyak hal tentang trend berpakaian wanita seusianya. Zahra juga tinggal dirumah bibinya karena dinilai lebih dekat dengan sekolahnya karena rumah kedua orangtua zahra berada di pedesaan yang jauh dari tempat sekolahnya. Hal menarik dari zahra yang disukai azam dan melekat hingga saat ini ialah zahra merupakan sosok keras kepala namun tetap mendengar apa yang orang lain bicarakan meskipun dalam hatinya berontak dan tidak menerima, kedewasaan yang sederhana.
Azam seringkali menemui zahra ditempat tinggalnya namun tidak begitu sering bertemu disekolah. Azam bukan merupakan laki-laki yang suka mengumbar semua privasi dan hubungannya kepada semua orang termasuk teman-teman sekolahnya. Ketika pulang sekolah pun tidak sering berbarengan dan beberapa kali berbarengan pulang mengendarai sepeda motor matic azam yang digunakan untuk kesekolah setiap harinya.
__ADS_1
Zahra, sebuah nama yang akan azam ingat selamanya. Dua buah mata sendu sipit ketika tertawa akan hilang entah kemana yang sangat disukai oleh azam dari zahra. Zahra juga sosok mandiri,lembut dan tidak manja seperti kebanyakan anak wanita diusianya. Wanita ini begitu menarik bagi azam dengan segala keunikan didirinya hinga setiap kekurangannya tak terlihat lagi dimata azam. Dasar anak muda yang jatuh cinta saat belum mengenal dan mengerti akan cinta sehingga kesehariannya hanya memikirkan tentang cinta monyet istilah anak mudah jaman ini.
Suatu malam yang tak begitu hangat, azam kembali bertemu dengan zahra di rumah zahra. Pada saat itu zahra mengenakan baju kaos abu-abu simple dan bercelana jeans berwarna hitam dengan rambut terurai sebahu yang lebat membuatnya semakin manis dipandang. "Apa kabarnya dek?", sapa azam dengan sedikit senyuman di jawab dengan suara lembut khas zahra sambil mempersilakan masuk "kabar baik kak, ayo silakan masuk kak!". Azam masuk dan dipersilakan duduk oleh zahra sembari zahra membuatkan minuman didapur paman dan bibinya keluar berpamitan untuk pergi ke tempat saudaranya. Azam dan zahra pun mengiyakan dan mengantarkan sampai pintu depan.
Zahra menutup pintu karena angin bolak-balik menghentakkan pintu dengan keras. Dan sekarang zahra dan azam pun kembali berbincang tentang semua hal yang tak begitu penting. Hingga entah apa yang mendorong azam memberanikan diri untuk mendekati diri kepada zahra dan entah siapa yang memulai kedua bibir zahra dan azam telah bersatu saling berpangutan ditengah dinginnya cuaca malam itu. Lebih kurang sepuluh menit berlangsung azam dan zahra berciuman lembut sampai azam menarik bibirnya dan mengecup kembali bibir zahra kemudian mengecup kening serta memeluk zahra seraya berkata "maaf ya dek" zahra hanya diam dan tersenyum saja. Kemabali azam mengecup lama bibir zahra lalu kemudian memeluk dan melepas kecupannya, zahra kemudian berbaring di paha azam dan azam sendiri mengelus pipi zahra yang berjerawat itu lalu diam tanpa ada perbincangan hanya ada suara musik yang dihidupan di handphone milik azam.
__ADS_1
Pukul 09.20 hujan masih saja menyirami bumi namun sudah mulai berkurang tetesannya. Lebih terkesan seperti gerimis saja, dan azam pun menyampaikan kepada zahra akan segera pulang karena sudah larut malam. Zahra pun mempersilahkan dan mengantar sampai kepintu depan, "kakak pamit dulu dek, kamu jangan tidur larut malam ya" sambil mencium kening zahra, "iya,kakak hati-hati dijalan ya" jawab zahra dengan senyuman serta mata sipitnya yang seperti menghilang itu.
Azam paksakan diri untuk tetap pulang meskipun masih gerimis, dengan modal jaket azam pun pulang sambil melambaikan tangan kepada zahra yang masih menungguinya didepan pintu. Malam itu adalah malam yang begitu dingin namun menjadi hangat sejak saat kejadian itu yang entah siapa yang memulainya itu.
***
__ADS_1