Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Lantana dan Sakura


__ADS_3

Hari berganti tahun berlalu, semua terasa begitu cepat berubah musim silih berganti mentari masih setia dengan terpaan hangat sinarnya yang mengintip dari celah daun-daun rimbunnya pepohonan kelapa yang berbaris rapi disepanjang perkebunan dan persawahan yang tak jauh dari rumah azam, cuaca begitu cerah angin berhembus membelai mesra setiap rumput yang menari diiringi oleh nyanyian merdu burung-burung yang enggan untuk turun dari ranting-ranting tempatnya bertengger. Mentari menyinari begitu lembut sehingga tak terasa terik untuk saat itu, awan-awan berlarian pergi membuat birunya langit terlukiskan seindah mata memandang.


Barisan bunga lantana setia untuk tetap mekar sepanjang musim di sepanjang jalan kiri dan kanan yang menambah cantiknya perjalanan yang meliuk-liuk seperti ular melingkari daerah pegunungan yang tak jauh dari rumah azam itu, azam biasa menghabiskan waktu senggangnya diatas bukit itu sembari memandang pemandangan alam dari ketinggian ditemani mentari yang mulai kembali meredup dibalik bukit itu. Tempat yang menarik untuk dikunjungi, sepi dari aktivitas pekerjaan manusia, jalan yang sepi kendaraan, burung-burung liar bernyanyi tanpa beban menambah takjub mata yang memandang membuat kaki enggan beranjak seolah cinta telah tumbuh disana.


"MasyaAllah, meskipun sering aku kesini tak membuat hati dan mata bosan untuk setia memandang goresan lukisan alam yang Allah sediakan untuk mata-mata yang memandangnya ki" azam membuka percakapan kepada kiki, kiki merupakan salah satu temannya juga. Kiki berperawak tak terlalu tinggi dan berkulit coklat gelap bermata besar bersuara cempreng. Hari itu azam berkunjung ke bukit bersama teman-temannya kiki, akbar, dan kairul sekaligus teman sehobinya. "Tempat ini selalu menarik untuk ku gali keindahannya, tak bosan mata untuk memandangnya tak jenuh hati untui menikmatinya ya" tambah azam, "ya begitu elok untuk dilihat sekeliling tempat ini, mari kita cari bahan untuk membuat bonsai yuk!" Ajak kiki kepada azam, akbar dam juga kairul "oke siap bos" jawab mereka berbarengan sembari mengeluarkan perlatan berupa gergaji pemotong, golok kecil, linggis dan sendok semen yang akan digunakan untuk mencari bahan bonsai dibukit itu. Bonsai adalah seni dalam membuat miniatur pohon atau tanaman kedalam media pot, pohon besar dan tinggi akan ditanam dan dibentuk sedemikian indah menjadi kerdil untuk mencapai target yang diinginkan.


Bunga lantana adalah tanaman yang akan azam dan teman-temannya ambil untuk dijadikan bahan bonsai mereka. Lantana adalah tanaman liar berbunga yang hidup hutan dan tempat-tempat semak belukar. Lantana banyak sekali jenisnya mulai dari warna orange, kuning, merah, putih hingga berwarna pink yang menarik untuk dibuatkan bonsai dengan karakter pohonnya yang mudah hidup dan tentu mudah didapat karena diarea perbukitan yang azam cs kunjungi merupakan habitat tanaman ini, melimpah ruah sepanjang perjalanan dan sejauh mata memandang warna-warni bunga lantana tampak menghiasi lereng-lereng bukit yang tampak curam dengan barisan pohon yang semuanya dibalut dengan warna hijaunya dedaunan.

__ADS_1


Terik matahari yang mulai meninggi membuat rasa haus ditenggorokan memanggil tetesan air minum yang sengaja dibawah, azam beserta temannya berhenti setelah mendapatkan apa yang mereka mau. Istirahat dibawah rindang nya pohon aro yang sedang berbuah lebat ditepi tebing kaki bukit disamping kali kecil yang mengalir air perbukitan yang sejuk seolah tak pernah disentuh oleh manusia. "Istirahat yuk, sekalian nih minum sudah kerasa haus" khairul membuka percakapan, "oke siap bos, tunggu aja disana biar aku yang ambil minuman dan makanan sebentar" ujar kiki sembari beranjak menuju tempat menyimpan kendaraan dan makanan serta minuman mereka. "Thank you kiki" ujar akbar sambil menerima minuman yang diambil oleh kiki, "ayo silakan minum dulu dan makan nih makanannya" ujar azam yang minum sekligus mengambil makanan yang mereka bawah dari rumah, beberapa potong tahu dan bakwan buatan ibu azam. "Enak nih buatan ibu mu zam" komentar kiki yang memakan bakwan, "sering-sering deh bikin yang beginian, biar kami jadi bagian dari keluargamu" akbar menambahkan sembari tertawa terkekeh-kekeh diikuti oleh kiki dan khairul, azam hanya tersenyum saja. "Rul, berapa kamu ambil bahan tadi?" Azam bertanya pada khairul yang sedang memotong tanaman-tanamam yang tadi ia ambil, "cuma 3 saja nih zam, banyak-banyak nanti susah bawahnya apalagi batangnya besar-besar semua aku ambil" jawab khairul sembari memperlihatkan hasil pencariannya tadi. "Betul tu rul, susah kalo bawah yang besar itulah makanya tadi aku pilih yang ukuram sedang saja" akbar menambahkan, "iya ya, ah kalau begitu aku bawah beberapa saja ya, biar aku pilih dulu mana yanh bagusnya untuk dirawat nanti" azam memilah bahan-bahan yang tadi ia ambil.


Mereka berempat sibuk memilih memilah bahan lantana yang mereka ambil untuk dibawah menuju rumah sebagai tanaman hias yang akan mereka rawat.


Setelah selesai membersihkan dan memilih kemudian memasukkan kedalam karung untuk dibawah pulang, mereka beristirahat sebentar diatas bukit untuk melihat keindahan panorama alam goresan cantiknya alam yang Tuhan ukir dikaki-kaki bukit yang terbentang disini. Azam mengambi handphone kemudia menyalakan data internetnya, azam membuka facebook dan kemudian memberanikan diri menghubungi zahra "assalamu'alaikum, dek ini kakak. Apa kabarmu, tinggalkan no WA mu ya. Azam" tulis azam dan dikirim kepada zahra. Ditunggu beberapa menit belum juga dibalas, ya mungkin saja sedang tidak aktif atau sedang sibuk pikir azam dalam hati.


Setelah satu bulan setelah azam menghubungi zahra melalui facebook lalu dibalas pesannya oleh zahra dengqn jawaban "wa'alaikumsalam kak, Alhamdulillah kabar baik. Bagaimana kabar kakak? Dan ini nomor kontak ku kak 0822-3434-****" jawab singkat oleh zahra, mendapati jawaban itu azam senang bukan kepalang, cepat-cepat ia menulis nomor WA itu dan menghubungi melalui WA "alhamdulillah jika baik, kakak juga baik-baik saja dek. Ini nomor kakak. Azam" pesan dikirim dan ternyata zahra sedang aktif, "Alhamdulillah kak, nanti zahra simpan nomornya kak" jawab zahra, "adek sekarang dimana?" Tanya azam dan jawab beberapa menit kemudian oleh zahra "sekarang aku masih di jepang kak, kerja disini", "wah, kirain masih disini dek. Semoga betah dan baik-baik selalu ya disana" balas azam. Ada bahagia, sedih serta rindu setelah perbincangan itu, bahagia karena bisa kembali berkomunikasi dengan zahra, sedih karena jarak yanh jauh dan rindu karena lama tak bertemu.

__ADS_1


Musim cepat berlalu dinegeri jepang sana, musim yang membawah kesegaran mata ketika mekarnya sakura yang disambut dengan suka cita masyarakat lokal dengan berbagai perayaan. Zahra mengirim poto-poto bunga sakura yang sedang mekar dengan indahnya, sakura yang membawah jutaan turis dalam dan luar negeri untuk melancong kenegeiri matahari ternit itu, sakura menjadi alasan berkunjung kesana. Dalam hati terbesit keinginan untuk azam bisa berkunjung kesana, bukan untuk melihat indahnya sakura bukan pula untuk menikmati indahnya alam bersihnya daerah-daerah yang ada dijepang melainkan untuk satu alasan, yaitu untuk menemui satu hal yang telah membuat lantana dikaki bukit pedesaan mekar tanpa kenal musim itu merindukan gugusan sakura indah yang hadir tak lama lalu gugur setelah ranting-rantingnya mulai disinari terpaan musim gugur yang datang melukiskan rindunya lantana kepada sakura yang jauh seolah tak mungkin diobati tanpa bertemu namun tak mungkin untuk berjumpa. Zahra adalah alasan azam untuk pergi kejepang, meskipun azam bukan laki-laki yang bercukupan namun tekatnya kuat untuk menemui si 'hati' nya yang mungkin saja telah memilih lain hati disana. Dalam setiap do'a azam selalu mendo'akan agar niatnya mantap dan agar usahanya dimudahkan oleh Allah untuk bisa pergi kejepang menemui zahra yang bekerja disana.


Semenjak menyimapan nomor zahra, azam dan zahra sering ngobrol melalui sambungan telepon maupun videocall yang bisa membuat mereka bertatap muka, hanya saja perbedaan waktu yang berjarak dua jam antara jepang dan indonesia bagian barat membuat azam harus menentukan waktu untuk menghubungi zahra, ya jika dirumah azam pukul delapan malam maka ditempat zahra sedang pukul sepuluh malam. Dengan mengatur waktu azam berharap tidak mengganggu waktu istirahat zahra disana yang mungkin saja sedang kelelahan dan ingin beristirahat dimalam hari. Azam yang menghubungi lebih dulu dan kadang zahra yang menghubungi, perbicangan mereka hanya standar saja, tidak berlebihan dan dijalur positif saja, tidak membahas masalalu maupun kehidupan asmara saat ini. Azam bersyukur Allah telah memberi kesempatan kepadanya untuk bisa menyambung silaturahmi kepada zahra, azam begitu bahagia entah karena apa yang jelas ialah kesenangan kebagiaan yang tak bisa azam sembunyikan meski menutup senyum serta ekspresi wajahnya. "Lantana desa yang merindukan pesona sakura" ujar azam dalam hati, "ya Allah, jadikan ia sebagai teman hati ini yang menjadi teman ibadahku nati ya Rab" sambung azam sambil memandang langit yang bertaburan bintang-bintang dari jendela kamar azam yanh sengaja dibuka malam itu. Azam duduk menghadap keluar ditemani minuman jeruk hangat dan potongan kue puding berwarna coklat itu membuat khayalan azam melayang jauh ketas sana membayangkan sosok zahra lalu ditepis oleh azam "Astagfirullah, jauhkanlah aku dari pikiran syetan dan perasaan yang salah ya Allah" ujar azam dalam hati.


Dalam setiap sujud dan do'a azam selalu meminta agar Allah menjauhkan dirinya dari cinta dan perasaan yang salah, azam memohon agar senantiasa dilindungi hatinya dari perasaannya kepada zahra yang setiap hari bukannya hilang malah semakin bertambah. Ketakutan azam bukanlah zahranya melainkan perasaannya kepada zahra, dimana azam tahu betul bahwa zahra bukanlah miliknya dan azam juga sangat takut jika hal ini membuatnya lalai hingga suatu malam yang sangat dingin menusuk hingga sampai tulang membuat persendian enggan berfungsi normal dan membuat selimut ingin menyatu membungkus setiap jengkal dari kulit malam itu, azam terbangun dan duduk sebentar dilihatnya jam tangan menunjukkan pukul 03.25 dini hari, azam bangkit menuju kamar mandi lalu mengambil wuduh. Sehabis mengambil wuduh azam minum air hangat lalu membentang sajadah untuk melalsanakan solat sunnah tahajud sebanyak 2 rakaat dan azam sujud begitu lama diwaktu sujud rakaat terakhir, azam melantunkan do'a-do'anya bertaubat dan memohon ampunan, tak lupa juga aza mencurahkan isi hatinya didalam sujud itu "ya Allah, Engkau pemilik hati. Ampuni hamba ini yang telah mencintai hamba-Mu zahra, hamba memilik perasaan yang berbeda kepadanya, bimbinglah rasa bimbinglah cinta ini ya Allah agar tumbuh dan berjalan diatas jalan-Mu, agar cinta dan rasa ini hanya karena-Mu. Ya Allah, hamba tidak tahu apa dia memiliki rasa yang sama entah tidak, hamba meminta agar hamba tidak berlebihan dalam mencintainya dan cenderungkanlah ia kepada hamba, ampuni hamba yang terlalu lancang memintanya untuk hamba sedang hamba jauh dari kebaikan dan ketaatan. Ya Allah, jaga ia disana, mudahkanlah ia disana dan semoga ia segera kembali kesini serta pertemukanlah kami dengan rahmat dan ridoh-Mu ya Rabb. Aamiin" azam menyelesaikan do'anyq lalu ia duduk menyelesaikan gerakan solatnya, setelqh salam azam kembali berdo'a dengan do'a yang sama, azam melipat sajadahnya lalu mengambil mushaf Al-Qur'an diatas meja kecil tempat barang-barang azam biasa diletakkan. Azam membuka pintu dan keluar menuju masjid untuk melanjutkn solat subuh berjama'ah. Hampir setiap tahajud azam melangitkan do'a yang sama seperti tak bosan meski belum dikabulkan saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2