
Sepulang dari bertemu teman-teman alumni sekolah azam langsung masuk kamar dan mengganti pakaian untuk tidur, malam itu begitu cepat azam tertidur. Biasa tidur agak larut kali ini karna kecapaian dan kehujanan dijalan menuju pulang membuat mata menjadi mudah mengantuk.
Pukul sembilan malam azam terbangun dari tidur dikagetkan oleh dering nada panggilan dihandphone miliknya, melihat beberapa kali panggilan tak terjawab dari zahra. Azam keluar untuk mencuci muka dan membuat minuman air teh hangat, setelah itu azam menelepon zahra beberapa kali baru kemudian diangkat. "Halo assalamualaikum kak" suara zahra mengangkat telepone disertai batuk-batuk, "wa'alaikumsalam dek kamu sakit?" tanya azam karena mendengar suara zahra yang disertai batuk "iya kak kurang enak badan ditambah batuk, mungkin karena cuaca lagi tidak menentu ini" jawab zahra masih dengan suara menggigil, "ya udah minum obat dulu, kalo ga mau minum obat ya minum air rebusan jahe biar badan hangat juga dek" pinta azam, "iya kak ini sudah dibuatkan sama asri, ini sudah mau diminum" tedengar suara zahra menyeruput minuman yang dimaksut.
Selesai meminum air rebusan jahe yang titambahi beberapa sendok madu zahra menaruh gelas kedapur "Alhamdulillah selesai kak, do'akan aku cepat sembuh ya kak" zahra melanjutkan bicara pada azam yang dari tadi menunggu zahra selesai "iya inshaAllah kakak do'akan dek, yang penting disana jaga kesehatan dan ingat jangan makan sembarangan!" celetuk azam karena zahra sering jika makan tidak memilih-milih, "iya cerewet, kan di jepang sini makanannya sehat-sehat semua" jawab zahra "iya deh iya, ya udah kamu istirahat dulu dek, mudah-mudahan segera sembuh ya" suara azam mengalah "iya kak makasih ya atas do'a nya, assalamu'alaikum" zahra mengakhiri obrolan dengan azam "wa'alaikumsalam" jawab azam mematikan telepon dan meletakkan handphone diatas meja samping ranjang tidurnya.
Duduk diranjang bersandar pada salah satu sisi dinding kamar dengan meletakkan bantal berwarna cokelat sebagai sandaran, mata seakan enggan untuk menutup meski dipakasa dipejam. Azam mengambil buku yang berada dilaci meja samping ranjangnya, membaca merupakan hal yang sering dilakukan azam sebelum tidur. Berharap dengan membaca membuat mata mengantuk. Setelah beberapa puluh lembar terbaca mata mulai menunjukkan betapa beratnya bertahan untuk terbuka, azam menyimpan buku lalu mematikan lampu kamar. Dinginnya suhu malam itu membuat azam menarik selimut menutupi seluruh bagian tubuhnya, suara nyamuk bersahutan seperti orkestra yang menganggu telinga yang tak azam hiraukan karena begitu ngantuknya dia. Mata terpejam ingatan akan waktu tak lagi diingat oleh azam yang tertidur pulas mendengkur ditengah dinginnya malam yang masih banyak menyimpan tanda tanya itu.
__ADS_1
Pagi membangunkan azam dari gerlipan mimpi yang tak memiliki alur pasti, azam teringat semalam ia ngobrol dengan zahra hingga membuat pagi azam begitu tersentuh oleh rindu yang belum tertunaikan. Bergegas beranjak dari tempat tidur untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah beberapa jam matahari mulai menampakkan senyuman hangatnya, sinar yang mulai merabah pepohonan memaksa yang berjiwa untuk bangkit karenanya. Di teras samping rumah sambil memberi pakan ikan koi didalam kolam kecil yang dipenuhi oleh ikan koi berwarna-warni azam ngobrol dengan ayahnya, pak abdul "yah, kapan aku dibolehkan menikah?" azam membuka pembicaraan sambil memberi makan ikan-ikannya, "wah kenapa nanya begitu? sudah mau nikah kamu zam?" ayahnya sedikit dikagetkan dengan pertanyaan itu. "Ayah sarankan saja untuk memilih calon yang baik dan bisa menerima keluarga ini juga dengan baik" ayah azam menambahkan dengan senyum kecil sambil menyeruput kopi hitam didalam cangkir antik jaman dulu. "Iya yah, terimakasih atas masukannya" azam menjawab sambil masuk kedalam rumah dan mengambil handuk kemudian mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, azam mengenakan sepatu nike warna hitam putih lusuh kesayangannya. Berjalan menuju cermin dan memasang jam tangan di kanan tangannya, lalu azam menyisir rambut yang mulai gondrong itu dengan perlahan sambil bersiul. "Buk, azam berangkat dulu ya mau ke tukang jahit sebentar mau liatin baju azam yang beberapa waktu lalu di pesan" dengan suara yang sedikit berteriak azam berpamitan kepada ibunya yang sedang memasak didapur belakang, "eh kamu tidak mau makan dulu zam?" ibu azam menghampiri azam ke garasi, "hm..nanti azam makan di luar bu sama teman-teman juga nanti, kan sudah lama juga azam tidak makan bakso" azam mengedip-ngedipkan mata menggoda ibunya yang masih berdiri mengenakan celemek, "alasan saja kamu ini zam, ya sudah kamu hati-hati di jalan ya, ibu mau nitip nih, belikan ibu beberapa bahan makanan ini ya" sambil mengeluarkan uang dan menyodorkan secarik kertas yang berisikan daftar barang yang akan dibeli, "siap buk, azam berangkat dulu" azam menghidupkan motor mengenakan helem lalu beranjak dari rumah menuju kota curup tempat dimana azam memesan sebuah baju di tokoh penjahit langganannya.
Diperjalanan yang memakan waktu kurang lebih lima belas menit dari rumah azam, azam baru mengingat bahwa ia ketinggalan handphone nya. "Aduh, pasti tinggal di atas meja tadi ni HP" azam menggerutu memeriksa sakunya yang kosong. "Ya sudahlah lanjut saja sudah mau sampai juga" dalam hati azam sembari menghela nafas panjang.
Selesai makan, azam dan iren memeriksa barang agar tidak ada yang tertinggal, menuju kasir dan azam membayar pesanannya tadi sekaligus membayar pesanan iren lalu keduanya keluar bersamaan keparkiran motor "zam makasih ya sudah ditraktir" iren mengenakan helem bergambar hello kitty miliknya "iya sama-sama ren, kamu hati-hati dijalan ya" azam menimpali sembari menyalakan motor, "iya zam, kamu juga hati-hati" iren menyalakan motor dan beranjak pergi meninggalkan azam. Azam berangkat menuju jalan pulang, azam memacu kendaraannya lebih cepat karena langit mulai menghitam menandakan mendung yang bergulung sebentar lagi akan menumpahkah hujan.
__ADS_1
Gerimis mulai perlahan meneteskan tetesan air yang menyentuh wajah azam dipertengahan jalan menuju pulang, beberapa menit kemudian hujan pun turun membasahi azam yang tak membawah mantel dan tak ingin berteduh terlebih dahulu. Tetesan air yang membasahi azam menyisakan dingin yang tak dihiraukan oleh azam, lalu lalang kendaraan mulai sepi pengendara motor banyak berteduh sehingga azam bisa leluasa dijalan menuju pulang. Sesampai dirumah azam memasukkan motor digarasi kemudian melepas bajunya "buk, ambilkan handul dong azam kehujanan ni" setengah berteriak azam memanggil ibunya "lah kenapa hujan-hujanan kamu zam, tidak pakai mantel" ibu azam menyodorkan handuk kepada azam "iya buk, tadi mantel ketinggalan jadi kepajsa hujan-hujanan saja soalnya kepalang tanggung" azam mengelap badannya, "lain kali bawah mantel, mana pesanan ibu?" tanya ibu azam, "tu bu dalam box motor, azam ke kamar dulu ya ganti pakaian" azam berlari menuju kamar bergegas mengganti pakaian yang telah basah.
Setelah selesai berpakaian azam membuatkan teh hangat dan dibawahkan kekamar, sambil membuka laptop menonton film-film yang telah didwonloadnya, azam mengambil handphone nya yang benar tadi tertinggal diatas meja dikamarnya. Azam kembali duduk dan megaktifkkan handphone nya telah masuk beberapa pesan diantaranya pesan nomor baru yang ternyata nomor iren, dan azam mendapati zahra telah mengiriminya pesan beberapa jam yang lalu "kak azam, Alhamdulillah sepertinya kepulanganku ke Indonesia akan dipercepat dari jadwal sebelumnya" pesan singkat dari zahra yang membuat hati azam kaget bercampur gembira karena itu tandanya ia akan segera bisa bertemu dengan zahra. Azam teringat do'anya selama ini yang selalu ia do'akan yaitu agar disegerakan bertemu dengan zahra. "ya Allah, terimakasih Engkau mengabulkan do'a hamba" azam memejamkan matanya menarik nafas dalam dan menggenggam erat HP nya.
Kehangatan ditengah dinginnya hujan yang bukan berasal dari teh hangat melainkan kehangatan yang sulit dijelaskan oleh lisan saat azam menerima kabar baik tersebut. Dengan ini mengajarkan azam berbicara tanpa kata merindu tanpa harus segera bertemu karena ketetapan yang disambut dengan kasih serta do'a yang tak putus oleh waktu menjadikan pengharapan serta arti menunggu menjadi lebih kuat untuk mengalahkan ego yang kadang menyambangi sang hati,meronta membuat perasaan berkecamuk antara rindu dan ingin bertemu beradu dalam ketidak pastian sang waktu yang diulur dalam ruang yang mengaliri sendu, rasa syukur azam ketika mendapati kabar ini menjadikan azam lebih bersemangat lagi dalam menyiapkan diri menyambut zahra yang azam sendiri belum tahu waktu pastinya.
***
__ADS_1