
Setelah sekian waktu berjalan, tak terasa waktu berlalu begitu cepat bahkan terasa lebih cepat daripada ucapan yang keluar dari bibir tatkala bicara mengeluarkan semua ide dari lumbung otak dang rongga hati yang memiliki segudang kata untuk dilantunkan. Hari berganti, tahun berlalu kehidupan azam berjalan begitu cepat dari remaja menuju laki-laki yang mulai meranjak usia dewasa meskipun terbilang masih muda itu. Tak pernah dia menghubungi lagi zahra bahkan untuk sekedar mengetahui keadaan dan diamana keberadaannya sekarang.
Azam masih berkutat dengan pekerjaan dan kuliahnya, dimana disibukkan tumpukan tugas dan tumpukan pekerjaan yang menemani setiap harinya. Meski belum bisa melupakan zahra ia tetap berusaha terlebih lagi sudah ada nia yang menjadi bagian priotasnya selama ini. Maka azam tentu tak ingin melukai wanita ini meski sebenarnya tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghilangkan sesuatu yang tertanam dihati. Nia lah yang selama ini menemani meskipun kadang sering tak sejalan karena nia adalah sosok wanita egois yang tentunya sedikit lebih sulit untuk menjalani hubungan dengan baik.
Azam sudah tak memiliki handphone lagi, karena handphone lama sudah rusak. Beberapa bulan bekerja akhirnya azam membeli sebuah handphone android yang bisa digunakan dengan berbagai macam fitur canggih yang tak sekedar bisa menelepon atau berkirim pesan saja. Setelah memiliknya azam membuka aplikasi facebook dan memberanikan untuk menghubungi si zahra tanpa sepengetahuan nia, azam meminta pin bbm mesenger lalu beberapa waktu selanjutnya azam kembali menghubungi zahra melalui aplikasi bbm tersebut dan melakukan videocall, bertukar cerita dan disana lah azam ketahui si zahra sudah tidak tinggal di indonesia lagi, zahra sudah merantau dan bekerja di jepang dan menetap disana setelah satu tahun lulus sekolah dulu.
__ADS_1
Kepergian zahra ke jepang membuat azam sedikit merasa kehilangan meski selama beberapa tahun semenjak kejadian waktu itu azam tak pernah menghubunginya. Tak sering azam berkomunikasi hanya beberapa kali menanyakan tentang kabarnya tak lebih dari itu karena azam tak mau menyakiti nia. Sehingga azam memutuskan menghapus kontak zahra agar nia tak salah paham akan hal itu. Setelah itu azam tak pernah mengubungi lagi zahra dan memutuskan memendam dalam semua rasa yang sempat begolak kembali.
Setelah tahun-tahun berikutnya, azam yang menjalani hubungan dengan nia seringkali tak sejalan dan seringkali bertengkar karena perbedaan pendapat dan lain sebagainya. Sampai suatu ketika nia yang berjilbab memutuskan ingin menggunakan jilbab syar'i dan tidak mau pacaran kembali. Memang berat keputusan ini namun bagaimanapun ini adalah suatu bentuk kebaikan yang harus azam dukung sepenuhnya. Nia pun tak lagi mengenakan pakaian-pakaiannya yang seperti dulu dan mulai mengenakan pakaian yang lebar dan berjilbab panjang. Meski demikian azam dan nia tetap berkomunikasi dengan baik namun dengan batasan-batasan yang harus dijaga. Mulai tidak kontak fisik, bersalaman, maupun berboncengan ketika bermotor berbicara sepentingnya saja.
Suatu malam, azam yang terjaga dari bangun karena lapar memutuskan keluar kamar untuk mencari makanan didapur rumahnya. Setelah mengambil sepiring nasi dengan lauk seadanya sisa makan malam dihidupkanlah chanel televisi makan sambil menonton. Makan usai mata tak mau terpejam lagi hingga azam memutuskan menyaksikan acara-acara televisi saja, saat menjelang larut malam tak ada lagi acara yang menarik untuk disaksikan hingga kemudian azam memindah-mindahkan chanelnya. Setelah sampai kesalah satu chanel azam menghentikan pencariannya dan menyaksikan sebuah tayangan yang menarik untuk ia simak, yakni acara televisi islam yang menanyangkan ceramah kajian oleh seorang ustad yang kebetulan sekali malam itu tema ceramahnya adalah "tata cara solat nabi" yang membuat azam tertarik menyaksikannya. Azam selama ini memang sudah melaksanakan solat namun masih banyak hal-hal tentang solat yang ia belum pahami hingga pada tayangan tersebut semua yang ia cari selama ini dipaparkan disana. Dulu ia tak begitu tertarik kepada acara televisi islam namun setelah ia mendengar ustad tersebut muncullah keingintahuan dan kecintaanya terhadap ustad tersebut serta semenjak itu pula azam semakin rajin menyaksikan acara-acara kajian ditelevisi islam.
__ADS_1
Suatu hari, timbullah dihati azam bahwasannya ingin menyaksikan acara-acara ceramah itu secara langsung dan kebetulan sekali pada waktu itu ada acara tablik akbar di salah satu masjid terkenal di kota Lubuk Linggau di provinsi sebelah yang diisi oleh salah satu ustad yang sering ia saksilan ditelevisi. Mengenai hal ini juga teman-teman azam juga setuju dan mereka akhirnya membuat rencana perjalanan serta mengajak teman-teman yang lainnya dan disambut baik oleh mereka dan merekapun setuju untuk melakukan perjalanan ini diwaktu yang telah ditentukan. Mulai semenjak itulah azam semakin sering menghadiri kajian--kajian yang berada dalam kota maupun luar kota sehingha dengan ini juga azam sejenak tidak memikirkan lagi tentang nia maupun zahra.
Sampai ketika dimana nia yang selama ini telah berubah menjadi wanita yang azam anggap soleha itu ternyata membuat hati azam terluka. Yakni pada saat itu azam mengetahui bahwa nia telah mencintai laki-laki lain dan setelah beberapa waktu nia pun mengakuinya dan nia meminta maaf "maafkan aku, aku yang tak tahu diri. Aku sudah jahat dengan berani bermain hati sedangkan aku telah berjanji ingin memperbaiki diri dan tak mau dekat dengan laki-laki manapun sampai nanti ada yang melamarku" demikian ucap nia sembari menampakkan cemas dan sesalnya melalui raut wajahnya yang tak ingin azam lihat itu. Semenjak itu pula azam terus berdo'a agar hatinya segera disembuhkan dari masalah ini, azam pun sadar mungkin ini adalah balasan atas apa yang ia lakukan dahulu terhadap zahra. Azam pun telah berpikir bijak untuk menentukan sikap tentang masalah ini, azam perlahan mengerti selama ini ia selalu berdo'a agar diberi petunjuk oleh Allah dan ini adalah petunjuknya bahwa ia tak bisa bersama dengan nia. Dengan dewasa azam pun mengangkat telepon nia dan berbicara panjang lebar dimana nia menangis karena telah salah dan menyesal, dan dengan berat juga asam menyampaikan untuk nia agar menjaga hubungan dengan baik terhadap cintanya yang baru, tidak membuat kesalahan yang sama lagi dan tentunya menjaga diri agar lebih baik lagi. Azam pun mengatakan "tak perlu merasa bersalah karena Allah telah menggariskan ini semua. Aku berterimakasih telah menerimaku dengan baik selama ini jika ada kesalahan maupun hal yang membuatmu sakit selama ini aku mohon maaf dan sampaikan permohonan maafku kepada orangtua dan keluargamu, Kamu tak perlu memikirkan tentang hati ku karena ini biarlah menjadi urusanku saja" diseberang sana terdengar tangiasan nia yang mendengar hal itu sembari mengucapkan "aku sebenarnya mengharapkanmu untuk melamarku" namun masalah inilah yang membuat azam sudah tak mau menghiraukan lagi bahkan ia berpesan agar jika suatu hari menikah agar tak perlu memberinya undangan pernikahan.
Pukul 03.00 dini hari, azam terbangun dan bergegas untuk berwuduh melaksanakan solat tahajud. Digelarlah sebuah sajasah merah maroon dengan riasan gambar masjid bergaris hitam yanh merupakan peninggalan eyangnya pada tahun 1995. Setelah selesai solat, azam berzikir kemudian berdo'a "Ya Allah, ampuni hama-Mu ini yang telah lalai dalam mengingat-Mu, ampuni hamba yang telah banyak melakukan dosa kini ku bersimpuh memohon kepada-Mu agar menentramkan hati ini, Ya Allah jauhilah hati ini dari kegelisahan serta keresahan dan ampunilah hamba-Mu ini yang telah mencintai selain diri-Mu, Ya Allah berikan yang terbaik untukku dan mudahkanlah setiap jalanku, Ya Allah tunjukilah kepadaku perihal jodohku dan bimbinglah aku agar mencintai hanya karena-Mu semata". Setelah berdo'a azam menunggu waktu solat subuh kemudian menjalani kehidupannya seperti biasa.
__ADS_1
Azam mulai menghapus semua poto nia yang ada di handpone nya untuk benar-benar mengawali lembar-lembar barunya tanpa harus membawah luka-luka lama yang hanya akan menjadi beban saja bila dipikul terlalu lama. Azam tak lagi menghubungi nia semenjak itu dan lebih asyik bersama teman-teman hobinya yang lebih membuatnya cepat bangkit mengobati luka-luka yang telah ia ciptakan sendiri itu. Perihal hati azam tak ingin banyak berbuat hal yang bisa melukai diri sendiri maupun orang lain, azam menyerahkan semua melaui do'a-do'a saja.
***