Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Matahari Dibalik Gunung Fuji


__ADS_3

Iklim di jepang jauh berbeda dengan indonesia. Jepang memiliki empat musim sedangkan indonesia hanya dua musim saja, jepang memiliki musim dingin, musim panas, musim semi dan musim gugur. Dari sekian musim yang menarik ialah musim semi dan musim gugur dimana saat musim semi semua tumbuhan tumbuh subur bunga-bunga bermekaran termasuk bunga sakura yang menjadi kebanggan masyarakat jepang yang dikenal sangat menghormati tanaman itu, musim gugurpun tak kalah menariknya dimana suhu mulai meningkat daun-daunan mulai berubah warna menjadi kuning kecoklatan bahkan merah lalu kemudian berguguran menambah takjub mata memandangnya. Dijepang orang-orangnya terkenal disiplin tepat waktu dan sangat bersih setiap sudut tempatnya, pagi hari orang-orang disini semua sibuk bekerja seolah tak mengenal lelah, dan pulang ketika sore hari. Tak terdengar bisingnya kenalpot kendaraan tak pula terdengar suara klakson emosi yang saling bersautan disini. Hanya terdengar bunyi lonceng sepeda dan hanya terlihat barisan orang-orang yang kesana kemari berjalan kaki menenteng tas dan bawaan mereka menuju tempat yang entah seberapa jauhnya itu.


Pagi hari, selesai solat subuh zahra mengenakan pakaian untuk bekerja lalu sarapan secukupnya, setelah memastikan tak ada yang tertinggal zahra pun menutup pintu dan kemudian mulai mengayuh sepedanya menuju stasiun kereta api, sepanjang jalan yang sepi dari kendaraan bermotor itu suasana damai menemani perjalanan bekerja zahra sehari-hari, sesampai distasiun zahra memarkirkan sepeda lalu bergegas mengambil tiket dan masuk kereta untuk menuju ketempat bekerjanya. Suasana yang tak sebising di indonesia tentunya, namun seringkali zahra merasa rindu dengan tanah airnya meski tak semaju disana. Kurang lebih lima belasan menit kereta sampai dan zahra pun turun dari kereta lalu berjalan kaki menuju kearea pertanian sayur tempatnya bekerja, zahra bekerja disebuah pabrik sekaligus pertanian sayur dijepang. Zahra bertugas mengawasi pekerja dan ikut memanen sayuran-sayuran dari perkebunan lalu mengemasnya dipabrik yang berdekatan dengan perkebunan sayur tempat zahra bekerja. Zahra sendiri tak kesulitan untuk berinteraksi karena ia sendiri fasih dalam berbahasa jepang dan juga tidak terlalu canggung disana lantaran dipabrik juga selain dirinya ada beberapa karyawan yang juga berasal dari indonesia, hal ini juga menjadi kehebohan sendiri bagi mereka yang kadang dianggap aneh oleh pekerja lain yang berasal dari warga lokal.


Setiap hari rutinitas seperti itulah yang dilakukan zahra dijepang, zahra sendiri memiliki beberapa teman dari indonesia yang juga satu rumah disana. Setiap hari bekerja berangkat jam tujuh pagi dan pulang jam empat sore waktu jepang, biasa diwaktu pulang juga zahra mampir ke tokoh makanan sekitar untuk membeli bahan-bahan makanan yang juga banyak menjual barang dan bahan dari asia tenggara termasuk indonesia. Pada hari minggu zahra libur bekerja dan biasanya zahra manfaatkan untuk berkeliling dijepang seperti pergi ke kota tokyo, shibuya, dan beberapa kota lainnya. Biasanya zahra menghabiskan waktu libur bersama teman-temannya baik teman dari indonesia maupun teman-teman dari negara jepang itu sendiri.

__ADS_1


"Hei ra, minggu depan ikut kita ya jalan-jalan!" asri mengageti zahra yang sedang membaca buku dihalaman samping rumah, asri adalah teman serumah zahra yang berasal dari jawa tengah bersama tiga teman lainnya cici dari bengkulu juga, nur aisyah dari jawa timur dan heli afitri dari palembang. "Mau kemana as?" Tanya zahra sambil menutup buku bacaannya, "ya kita ada rencana menghadiri festival di dekat istana kaisar, katanya acara seru" jawab asri menerangkan dengan gaya bicara yang tak bisa menutupi aksen jawanya yang medok itu. "Yah... aku sih mau saja ikut, cuma aku mau menghadiri kajian ustad dari indonesia ni di masjid tokyo as, gimana ni maaf ya aku tidak bisa ikut sepertinya" dengan suara lembut zahra menerangkan kepada asri temannya itu karena tidak bisa ikut, "atau kalian saja yang ikut pengajiannya, kan jarang-jarang loh as kita belajar agama disini, ustad nya bagus juga dan aku rasa untuk jalan-jalan kan nanti kita masih bisa punya kesempatan dilain waktu" tambah zahra, "ya udah deh kalau kamu tidak bisa ikut kita ra, tapi kita juga tidak bisa ikut kamu ni karena tiket-tiket lainnya sudah dipesan sama si cici kemarin sore ra, maaf ya" jawab asri dengan ditambah senyuman kecil khas nya itu. "Ya sudah tidak apa-apa kok lagian kan mubazir tu tiket kalau nanti tidak dipakaikan, kalian jaga diri aja nanti hati-hati" zahra mengingatkan asri dengan memegang tangan asri yang berada disampingnya, "siap buk ustazah zahra" jawab asri dengan muka meledek zahra sambil tertawa kecil disambut tawa juga dari si zahra, "ustazah dari hongkong as? Orang aku saja belum berjilbab sampai hari ini" tutur zahra sambil menggelengkan kepala, "bisa hancur para jamaahnya kalau aku yang jadi ustazah" tambah zahra dengan tertawa ngakak sampai-sampai sakit perutnya demikian pula dengan asri yang tak bisa menahan tawanya saat mengobrol tentang hal itu. "Hahaha, ya sudah aku mau mandi dulu ni ra" kata asri, "eh enak aja kamu mau mandi duluan, air dalam bathup itu sudah aku hangatkan dari tadi, aku duluan yang mandi baru kamu" zahra segera lari menuju kamar mandi meninggalkan asri, "yaelah ra, kejam sekali kamu ini" ejek asri pada zahra yang kalah cepat itu.


Selesai mandi, zahra dan teman-teman lainnya yang sudah pulang kerja menyiapkan makanan ada yang masak ada juga yang mandi serta membersihkan rumah. "Aku buang sampah dulu ya kedepan" cici mengangkat kotak sampah menuju keluar, "oke deh ci, jangan alasan aja ya kamu buang sampah eh ternyata tidak mau bantuin kita masak" nur bicara dengan mimik muka yang membuat seisi rumah tertawa geli, "sudah..sudah..buang saja sampahnya urusan masak memasak biar aku sama nur saja yang selesaikan" zahra menambahkan "ya Allah berikan jodoh yang baik buat ibu ustazah kami ini ya Allah" cici bicara seolah sedang berdo'a sambil tertawa didepan para teman-temanya itu, "ah kamu ini lagi begini saja baru mau mendo'akan, coba setiap hari kamu mendo'akan yang baik itu ci" ledek zahra sambil memotong daging ayam kemasan yang mereka beli di supermarket tak jauh dari rumah. "Hari ini kita masak opor ayam saja kali ya, bosan kan makan soup terus" nur menimpali sambil membelender bumbu-bumbu masakan untuk opor ayam, "ya terserah kamu saja, kan yang chef disini kamu nur" jawab zahra, "eh si asri ni kebiasan banget ya kalau mandi itu seperti tidur, lama banget" nur kesal, "eh aku dengar loh kamu ngomong apa" sahut asri dari kamar mandi, "cepat sedikit kenapa si kamu ini as" pinta nur pada asri, "iya iya iya nur yang tak bercahaya" jawab asri ketus meledek nama nur yang diartikan kedalam bahasa indonesia adalah cahaya, "ini juga mau selesai" tambahnya. "Sambil menunggu asri kita saja yang selesaikan ya, sama saja kan" zahra membujuk nur, "ah tidak adil dong ra, kamu ini loh jangan baik-baik amat tu sama si asri" celetuk cici yang kembali masuk ke rumah setelah membuang sampah. "Iya iya, yang penting kita masak saja dulu ya biar bisa cepat selesai dan segera kita makan" jawab zahra lembut, "Terimakasih sayangku" asri yang sudah selesai berpakaian ikut bergabung sambil memeluk zahra dari belakang, "iya sama-sama, ayo buruan bantuin ni siapkan semuanya tinggal kamu tuangkan saja kedalam wajan dan setelah itu kamu masak nasi ya as" goda zahra pada asri, "iya tu, cuma sedikit kan yang lainnya sudah dikerjakan tadi kamu sisa nya saja" nur menimpali percakapan itu, "giliran makan paling duluan ni orang" tambah cici sambil tertawa dan semua tertawa diruang dapur itu. "Nah semua sudah selesai tinggal menunggu nasi saja matang beberapa menit lagi, kalian siapkan saja tempat makannya aku mau membersihkan ruang depan dan halaman sebentar" asri beranjak mengambil sapu yang berada disudut ruangan, "oke deh, nanti aku yang siapkan peralatan makan nya" ujar cici, sementara zahra memeriksa nasi, nur juga menyusun makanan dimeja makan dan mengambil minuman di kulkas.


Pagi hari menjelang, matahari mulai menunjukkan hangatnya sinar mengintip dari balik gunung fuji memancarkan sinar hangat yang membuat semangat bangkit seperti dahaga yang diobati oleh tetesan air, zahra membereskan tempat tidur lalu kemudian mandi dengan air hangat. Hari ini adalah hari minggu yang merupakan jadwal zahra untuk datang ke acara disebuah masjid di kota Tokyo yaitu kajian tematik yang diisi oleh ustad dari indonesia, ustad yang sudah terkenal di indonesia karena kepandaiannya dalam menyampaikan materi yang mudah dipahami oleh jamaahnya dan dikenal sangat moderen dalam penyampaiannya, ustad Adi Hidayat Lc adalah namanya, yang sudah tak asing lagi baik kalangan muda-mudi maupun para jamaah yang berasal dari lintas usia. Setelah semua siap zahra berpamitan kepada teman-temannya, zahra mengambil sepeda untuk berangkat menuju stasiun kereta, diperjalanan dalam kereta zahra merapikan kembali jilbab pink yang ia kenakan dari rumah, zahra sendiri belum mengenakan jilbab secara mantap masih sering buka dan tutup, ia kenakan saat tertentu saja dan saat menghadiri acara saja. Kurang lebih satu jam diperjalanan sampailah ia di tokyo, keluar berbaur dengan kerumunan orang-orang yang seperti kerumunan semut itu, zahra menaiki taksi dan menunjukkan alamat yang akan dituju kepada si sopir taksi dan tak lama kemudian taksi berhenti dipelataran masjid tanda telah sampai tujuannya, zahra turun dam membayar taksi lalu masuk menuju masjid. Tampak barisan kendaraan sepeda,motor dan mobil terparkir ramai tanda sudah banyak yang datang untuk acara ini, zahra kemudian mengambil wuduh dan masuk ke masjid yang sudah ramai dipenuhi oleh jamaah laki-laki dan perempuan yang semuanya adalah warga negara indonesia dan beberapa dari malaysia dan singapura. Zahra solat tahyatul masjid dua rakaat lalu duduk sambil menunggu kedatangan ustad yang beberapa menit lagi akan dimulai.

__ADS_1


Setelah mendengar ceramah ustad timbul rasa keingin tahuan lebih dalam lagi pada diri zahra untuk belajar ilmu agama islam, terlebih selama di jepang ia tidak belajar lagi. Sepulang dari acara zahra tak langsung pulang melainkan belanja beberapa pakaian dan makanan untuk dibawah pulang. Setelah berkeliling ia mampir disebuah tokoh buku yang menjual buku-buku dari berbagai negara, zahra membeli beberapa buku islam dan membeli sebuah mushaf Al-Qur'an, setelah membayar dikasir zahra memesan taksi untuk mengantarkan ke stasiun kereta api menuju perjalanan pulang. Diperjalanan pulang zahra membuka salah satu buku yang ia beli, ia baca sembari menemani perjalanannya yang cukup jauh itu. Timbul rasa yang berbeda rasa yang sangat menyentuh hati zahra, selama ini ia tak begitu taat dalam urusan ibadah hingga timbullah niatnya untuk belajar agama serta memperbaiki dirinya yang ia rasa telah jauh dari agama, ya meskipun kadang solat tapi masih sering juga solatnya tidak dilaksanakan lima waktu.


Sesampai dirumah zahra menyusun buku yang ia beli di meja kamarnya, dan menyimpan makanan dikulkas. Zahra kemudian mandi setelah itu solat magrib lalu makan malam bersama sendiri karena teman-temannya belum pulang dari acara festival, setelah selesai zahra masuk kamar dan mengambil handphonenya membuka aplikasi youtube untuk mencoba belajar agama. Setelah internet tersambung zahra mengetik di pencarian, "aku harus belajar agama, aku sudah jauh dari agama, aku harus lebih baik lagi" guman zahra dalam hati, entah apa yang membuat zahra tertarik untuk membuka hasil pencariannya yang tangannya seolah dituntun untuk membuka sebuah video ceramah dari seorang ustad indonesia juga yaitu ustad Khalid Basalamah yang merupakan seorang ustad ternama dikalangan jamaahnya baik di indonesia sendiri maupun dibeberapa negara lainnya. Larut dalam tayangan video yang berdurasi cukup lama itu hingga tanp disadari air matapun mengalir deras dipipi zahra, ceramah yang sangat menyentuh jiwanya yang selama ini jauh dari agama. Zahra pun mengelap airmatanya dengan tisu, lalu setelah selesai menyaksikan video itu zahra solat isya dan menunggu teman-temannya pulang, jam sembilan malam waktu jepang teman-temannya tiba dirumah. Sambil memakan oleh-oleh yang dibawah dari festival mereka berbincang-bincang sampai tak terasa beberapa jam mereka lewati untuk perbincangan itu. Zahra pun masuk kamar karena mengantuk, berbaring diatas kasur tanpa ranjang lalu menarik selimut dan mematikan lampu kamar, dalam gelap kamar sebelum terlelap zahra menarik napas panjang lalu dalam hati berjanji ingin mendekatkan diri kepada Allah dan ingin memantapkan hati untuk berjilbab sepenuhnya.


***

__ADS_1


__ADS_2