Hembusan Rindu

Hembusan Rindu
Jum'at Otaru


__ADS_3

Tak sama dengan Indonesia yang mayoritas muslim penduduknya, muslim di Jepang adalah minoritas. Keberadaan masjid sangat sedikit dan hanya ada didaerah-daerah tertentu saja dan itu juga bentuknya tidak sama dengan bentuk-bentuk arsitektur masjid-masjid yang ada di negara mayoritas islam. Selain itu juga adzan-adzan juga tidak diperkenankan menggunakan pengeras suara hingga keluar dari dalam masjid. Meskipun dengan segala aturannya tetaplah Islam berkembang dimanapun tempatnya.


Jum'at pagi, Azam bersama kedua sahabatnya Aldo dan Irfan berangkat menuju masjid yang berada di daerah Otaru provinsi Hokkaido Jepang untuk mengikuti sholat jum'at. Bersyukur bahwa di tempat Azam bekerja dibolehkannya seorang muslim beribadah dengan bebas termasuk diberi waktu libur pada hari jum'at untuk menunaikan ibadah sholat jum'at. "Wah, mudah-mudahan hari ini cerah terus ya sampai kita pulang" Irfan membuka suara ditengah terpaan cerahnya mentari pagi yang mengintip malu dari celah-celah pepohonan menerpa masuk kedalam kereta melalui jendela kaca. "Aamiin, mudah-mudahan saja Fan, soalnya selesai jum'atan nanti kita langsung ke Tokyo ya. Sesekali jadi anak orang kaya" dengan lagak angkuhnya (bukan angkuh betulan), "yaelah kalian ini, jalan terus yang ada diotaknya. Kalau tidak jalan-jalan ya makan-makan" Azam menyanggah ketus kedua sahabatnya selama di Jepang itu. "Ahk kamu ni Zam, pikirannmu cuma kerja saja terus. Lihat sampai sekarang belum pernah tu ku lihat dekat dengan wanita selama disini" Aldo memandang sinis kearah Azam, " iya nih, eh Zam ayolah sesekali kita main kesana, siapa tahu ada jodohmu disana" ledek Irfan mendukung Aldo, "iya iya, nanti kesana sehabis jum'atan, tapi jangan bahas soal pasangan lagi" jengkel dengan kedua sahabatnya itu. "Yaelah Zam, sensi amat dengan hal itu, mending kamu dekati saja tu si Husna, dia itu kelihatannya suka denganmu" celetuk Aldo, "hei, dia itu teman kita bro. Sudah Ah tidak usah bahas beginian" Azam menutup kupluk jaketnya lalu mengenakan headset ditelinga dan menyandar dikursi kereta cepat tersebut.


Husna adalah teman seangkatan Azam yang bekerja ditempat berbeda namun masih satu daerah. Husna berasal dari Solo, dengan perawakan manis tinggi 155 cm kulit sawo matang berlesung pipi kiri dan kanan. Memang akrab dengan Azam dan juga teman serumah Azam yang lainnya, Azam pun sudah menganngap mereka semua bak keluarga keduanya yang berada di negeri anime itu. Hari itu juga Husna bersama teman nya yang lain pergi ke masjid juga guna mengikuti kajian rutin untuk perempuan muslim se-Hokkaido, dan berencana mengikuti Azam cs untuk juga ke Tokyo.

__ADS_1


Sesampai di stasiun, Azam bersama teman-temannya segera menuju masjid dengan berjalan kaki yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja. Langkah kaki berhenti sementara disebuah minimarket, Aldo mengajak Irfan dan Azam untuk membeli beberapa minuman dan makanan ringan untuk pengganjal perut. Sedangkan Husna dan temannya langsung menuju masjid karena kajian dimulai sebelum orang-orang melaksanakan sholat jum'at. "Aku mau minuman jeruk saja dan makanan ringannya chitatos" Azam mencomot makanan dan minuman pilihannya memasukkan kedalam troly, "oke, ambil saja apa yang kalian mau. Ini aku yang bayar semuanya" Aldo tersenyum kepada kedua sahabatnya, "wah beneran nih do? makasih nih ya" jawab Irfan antusias lalu bergegae mengambil beberapa makanan, "arigatou mas Aldo, traktirannya ini loh" Azam menepuk-nepuk pundak Aldo dan tertawa kecil. "Iya aman, pokoknya ambil saja dulu. Nanti kita makan dan minum didepan saja ada kursi yang disediakan untuk pengunjung" Aldo kembali memilih barang yang ingin dibelinya.


Setelah Aldo membayar semua belanjaan, mereka bertiga keluar minimarket dan duduk didepan selasar tokoh. Meja kayu dengan kursi dari kayu bertiang besi berwarna hitam yang sedikit berkarat, lalu lalang jalanan yang tak begitu ramai membuat makan dan minum disana terada tenang. Ditengah cuaca cerah yang tersenyum sejuk menerpa hangatnya obrolan Azam cs diselasar minimarket kecil dipinggiran jalan Otaru. "Zam, kamu selain kita dan teman yang selama ini bersama kita, ada tidak sih yang kamu kenal?" Irfan membuka pembicaraan setelah meneguk minuman soda dingin miliknya, "ada sih, cuma buat apa kamu nanya begituan?" Azam menjawab dan menanyakan kembali kepada Irfan sambik membuka bungkusan keripik kentang yang mereka beli beberapa menit tadi. "Ya tidak ada apa-apa sih Zam, cuma penasaran saja kamu selama ini kalau di ajak jalan-jalan susah sekali" Irfan kembali meneguk minumannya, "iya zam, seperti menghindar dari seseorang, apa kamu ada musuh disini?" Aldo yang sibuk makan ikut menanyakan kepada Azam. "Tidak ada yang ditutupi kok. Hanya ada seorang yang ku kenal dan belum mau ku temui hingga saat ini" Azam kemudian makan dan tak melanjutkan ceritanya. Tegukan demi tegukan minuman dari jeruk yang Azam minum tak terasa sudah habis. "Ayuk berangkat kita, daripada ngegibah saja disini kan" lanjut Azam sambil tertawa kecil berdiri dan menuju kotak sampah membuang botol sisa minumannya, "aduh mulai nih kalau lagi bahas beginian pasti banyak alasan buat menghindar" celetuk Aldo yang juga membereskan sisa makananya, "iya nih, jum'atan juga sejam lagi Zam. Masih lama" gerutu Irfan yang masih makan sosis.


Ketiga sahabat itu bergegas menuju masjid, lima belae menit perjalanan dan sudah berada didepan masjid. Sebelum masuk Azam menyempatkan diri berpoto. Masuk melalui pintu dengan corak kaligrafi sebagai hiasan dan menuju ruangan tempat wuduh yang berada dibagian dalam di kanan pintu sebagai tempat wudhu laki-laki. Azam menyisingkan baju dan celana miliknya untuk memulai wudhu, diikuti Irfan sedangkan Aldo memilih untuk ke toilet terlebih dahulu. Selesai wudhu Azam dan temannya memasuki ruang utama masjid tersebut yang digunakan untuk sholat. Mereka sholat tahyatul masjid terlebih dahulu kemudian sambil menunggu jama'ah yang lainnya untuk menunaikan sholat jum'atan yang kira-kira dua puluh menit lagi dilaksanakan Azam dan kedua temannya menyempatkan untuk membaca buku-buku islam yang disediakan diatas lemari-lemari kabinet didinding masjid.

__ADS_1


"Zam kita istirahat dulu di kursi taman itu ya" Aldo mengajak dua sahabatnya itu memasuki area taman, "Oke do, tapi kalian tunggu sebentar disini aku mau beli minuma diseberang sana" Azam menunjuk ke arah box lemari minuman dibawah sebuah pohon didekat dinding sebuah restoran lokal. "Oke zam, jangan lama-lama ya" berucap dengan suara keras pada Azam. Azam memasukkan uanh kedalam kotak tersebut untuk membeli minuman teh, jeruk dan cocacola. Sewaktu membawah minuman Azam menghentikan langkahnya tatkala melihat sesosok wanita berjilban dengan beberapa temannya yang orang indonesia. Wanita ini berjilbab, berkaca mata dan mengenakan masker hingga susah menebaknya. Dari jarak yang cukup jauh, Azam dapat melihat jelas dengan bersusah paya mengingat Azam berfikir mungkinlah, "Ya Allah itukan Zahra" seperti tifak percaya. Wanita yang dimaksud keburu menghilang ditegah ramainya pengunjung. "Ya Allah benarkah itu Zahra?" gumam Azam dalam hati, "Kemana Zahra, kok hilang..."


***


Picture : Azam berpoto depan masjid

__ADS_1



__ADS_2