
Lapar kembali memainkan usus-usus dua belas jari Azam yang sedari tadi sibuk kesana kemari mengelilingi pusat perbelanjaan. Setelah membeli sebuah jam tangan Azam mengajak kedua temannya itu untuk makan. "Makan yuk guise, perut mulai lapar ini" sambik memegang perut Azam menawarkan niatnya itu, "ayuk, aku juga sudah terasa lapar nih" Irfan pun meraba perutnya, "oke kalau begitu, kita makan disana saja ada sebuah kedai makan kecil yang katanya enak" Aldo menunjuk ke arah sebuah jalan menandakan bahwa kearah sanalah mereka akan menuju.
Berjalan berdampingan dijalanan sibuk kota Tokyo menuju sebuah kedai kecil diujung jalan disebuah gang yang jalannya tak begitu luas namun tertata rapi dan bersih. Sebuah kedai dengan berbagai macam menu makanan khas Jepang tersedia disana, Azam dan teman-temannya memilih duduk di luar kedai di sebuah meja dengan kursi kayu dibawah pohon sakura yang sedang tak berbunga. "Konbanwa, nani o chumon shimasu ka? (selamat sore, mau memesan apa?)" sapa seorang wanita setengah baya dengan pakaian rapi kepada Azam dan teman-temannya yang sedang duduk dan melihat daftar menu, "Watashitachiha 2tsu no shushi to 1tsu no ramen ga hoshidesu (kami ingin memesan dua shusi dan satu mie ramen)" Aldo menyebutkan makan yang akan dipesan kepada wanita tersebut, "Nomimono, watashitachiha orenjijusu nomi chumon shimashita (minumannya, kami memesan jus jeruk saja)" Azam menyebutkan minuman mereka berdasarkan kesepakatan teman lainnya juga, "Arigato. Sugu ni modotte kimasu. Shibarakuomachikudasai (terimakasih. kami segera kembali, mohon tunggu sejenak)" ujar wanita itu menundukkan badannya lalu meninggalkan mereka. "Bagus ya tempatnya sederhana namun nyaman" Azam melihat-lihat sekeliling kedai, "iya, makanya aku ajak kalian kesini" ujar Aldo menanggapi Azam, "sehabis ini kita ngumpul ya di rumah temanku, ada acara masak-masak juga disana sekalianlah kita berkenalan sama WNI lainnya" Irfan memotong pembicaraan kedua temannya itu. "Oke bisa, tapi jangan terlalu lama kan nih udah sore juga kita pulangnya nanti jangan sampai terlalu larut soalnya besok kita kerja Fan" Azam menanggapi keinginam Irfan sambil mengambik kamera dalam tasnya untuk mengajak mereka berpoto. "Iya aman lah pokoknya, habis makan disini kita langsung kesana pakai bus, sejam perjalanan kok. Lagian juga nanti sehabis itu kita langsung pulang juga karena masih searah juga kok" Irfan menjelaskan kepada Azam untuk meyakinkan Azam mau.
Aroma mie ramen yang disajikan diatas meja yang baru diletakkan oleh pemilik kedai sekaligus dia yang melayani membuat perut semakin tidak sabar untuk melahapnya. "Mari kita makan dulu, selesai ini aku mau sholat ashar dulu ya" Azam melahap mie ramen pesanannya sementara Aldo dan Irfan memakan shusi ikan yang mereka pesan. Azam sendiri tak menyukai shusi dan makanan lainnya olahan daging yang tidak dimasak terlebih dahulu, meskipun banyak orang mengatakan enak. Selama di Jepang Azam sama sekali belum pernah mencoba makanan khas Jepang tersebut.
__ADS_1
"Biar aku saja yang bayar" Azam menyelesaikan makannya lalu minum jus jeruk, "terimakasih Zam" Aldo dan Irfan bersamaan menjawab. "Aku bayar dulu, kalian tunggu diluar pagar saja" Azam mengeluarkan dompet mengambil lembaran uang Yen untuk membayar makan dan minuman tadi. "Kita langsung naik bus saja ya ke rumah temanku itu" Irfan mengajak kedua temannya menuju halte bus menuju perjalanan ke rumah temannya yang juga nerada dekat dengan kota Hokkaido yang artinya sejalur dengan arah pulang mereka. "Ngomong-ngomong ramai ya Fan disana?" Aldo bertanya kepada Irfan yang beridir sementara dia duduk dibangku halte, "jumlah orangnya si tidak tau, yang pasti tidak terlalu ramai kok" jawab Irfan, "oke deh" ucap Aldo singkat, "Zam, nanti disana kamu jangan pendiam banget ya" Aldo mengagetkan Azam yang sibuk bersandar memainkan handphone. "iya deh iya, aku ni bukan pendiam cuma malas banyak bicara saja Do" jawab Azam ketus. "Nah ini bus datang, ayo kita masuk" Irfan menunjuk bus berwarna putih biru yang mulai mengurangi kecepatan dan berhenti didepan halte tempat mereka duduk, "oke deh, semoga saja acaranya seru" Aldo melangkahkan kaki masuk diikuti Azam paling belakang.
Satu jam perjalanan bus berhenti disebuah halte pemberhentian penumpang, Azam dan kedua temannya yang tertidur kemudian bangun lalu merapikan pakaian dan turun dari bus."Nah abis ini kita bagaimana?" Azam menanyakan kepada Irfan, "kita jalan kaki sampai rumahnya, tidak jauh kok lima menit saja" Irfan melangkah kearah sebuah jalan perumahan seperti perkampungan di Indonesia, perumahan yang sangat tertata rapi dan bersih. "Oke bos, asal ada makanan aman pokoknya" Aldo tertawa kecil, "ya kamu ma cuma makanan saja yang ada diotak dan perut" Azam mendorong sahabatnya itu (bercanda), "hahaha...kenyang perut senanglah hati" ujar Aldo membela diri, "sudah sudah, nih kita sudah sampai" Irfan menghentikan langkahnya didepan sebuah rumah dan menekan bel rumah, keluarlah seorang wanita berumur kira-kira 24 tahunan "Assalamu'alaikum El" mengucap salam pada Elmira, teman Irfan. "Alaikumsalam Fan, mari masuk" Elmira mempersilakan masuk, Azam dan Aldo mengikuti mereka masuk lalu berkenalan dengan Elmira. Didalam rumah di ruang makan sudah menunggu tiga orang teman Elmira diantaranya Claudia wanita asal Solo Jawah Tengah, Indira berasal dari Manado, dan Rezky Nasution dari Medan. "Salam kenal semua" Azam menyalami dan berkenalan kepada semua teman Elmira disana diikuti Irfan dan Aldo, "Mari silakan duduk dulu zam dan kawan-kawan semua" Ajak Elmira memberikan ruang kepada tamu-tamunya itu, "kita mau makan-makan aja sih acaranya, untuk mempererat hubungan keluarga juga sesama warga Indonesia yang berada di Jepang ini" ujar Elmira pada semua rekan-rekannya dan juga kepada Azam cs. "Terimakasih loh El udah ngundang kita disini" Irfan merasa senang telah diundang, "iya sama-sama Fan, mari minum dulu" Elmira menyuguhkan minuman kopi kepada mereka, "Aku kebelakang dulu ya ngambil masakan kita tadi, yuk Ky ikut kamu tolong bawain pancinya" Indira beranjal dari tempat dudul mengajak Rezky ke dapur, "oke ndra, oia teman-teman tunggu sebentar ya kita siapkan" Rezky mengikuti Indira, "santai saja dulu ya kita tunggu satu teman lagi, dia tadi ke minimarket sebentar" Claudia bicara kepada Azam cs, "Wah rupanya masih ada lagi toh" Aldo bertanya pada Claudia penasaran, "iya Do, dia seorang cewek loh" kata Claudia menggoda Aldo, "uwaw mungkinkah ini petunjukmu ya Allah" Aldo mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sedang berdo'a. "Huuuu...lebay kamu Do" Irfan sinis menyenggol Aldo, "sirik aja kamu Fan" menjawab sinis juga. "Nah dia ini satu daerah loh sama kamu Zam, dari Bengkulu kan?" memastikan kembali, "oh ya?" tercengang penasaran "iya aku dari Bengkulu, memang siapa dia ya? barangkali aku kenal" lanjut Azam penasaran, "nanti saja kamu kenalan langsung Zam" Claudia membuat Azam dan teman-temannya penasaran saja. "Ahh sudahlah, nanti saja tanyakan. Minum aja dulu tu kopi ntar dingin" Elmira memotong obrolan itu.
Indira dan Rezky datang membawah beberapa piring dan sendok diatasnya, Rezky membawah panci berisi masakan yang sangat lezar aromanya. "Tara...nih soup masakan ni ciwi-ciwi bro" Rezky meletakkan panci berisi Soup ditengah-tengah meja bundar dihadapan mereka, "ini terbuat dari rempah-rempah Indonesia jadi rasanya tidak jauh bedah ya" Rezky membuka tutup panci dan langsung aroma soup menyerbak dalam ruangan itu membuat perut lapar memanggil, "kalian harus mencicipi masakan chef ciwi-ciwi ini ya" Indira memberikan piring kepada satu persatu dalam ruangan itu. "Kelihatannya enak nih" Aldo tidak sabar, "hus..tidak sopan kamu nih Do kita tunggu satu orang lagi sedang belanja" Irfan menepuk tangan Aldo yang ingin memegang sendok soup, "ya maaf, abisnya nih masakan bikin ngiler sih" Aldo meletakkan kembali sendok soup. Tiba-tiba semua terkaget oleh suara bel rumah, "aku buka pintu dulu mungkin itu Zahra" ujar Claudia beranjak dari tempat duduknya, "Zahra?...." dalam hati Azam mengira-ngira membuat dirinya menjadi sedikit gugup serta jantung semakin berdetak cepat, "Assalamu'alaikum semua, eh ada tamu" suara lembut yang Azam kenal terdengar kemnali ditelinga yang membuat jantungnya semakin tidak karuan, Azam belum melihat kearah datangnya suara karena posisi Azam membelakangi pintu keruangan itu, "wa'alaikumsalam" jawab mereka serentak, "maaf ya telat, tadi antrean lumayan panjang" Zahra duduk meletakkan makanan yang ia belikan tadi di minimarket, " kak Azam?"... "Zahra?" bersamaan karena ketika Zahra duduk Azam spontan melihat kearahnya dan Zahra melihat kearah Azam, "loh sudah saling kenal kalian ya?" Aldo membuka suara ditengah heningnya suasana sejenak karena semua yang berada dalam ruangan terdiam melihat Azam dan Zahra yang saling sebut nama tadi, "kan mereka satu daerah tong" jawab Irfan pada Aldo, "sejak kapan kakak di Jepang" Zahra memulai pembicaraan ke Azam dengan sorot mata haru terlihat dari bola mata yang berkaca-kaca diterpa sinar lampu ruangan, "Sudah lumayan lama dek, bagaimana kabarmu" Azam gugup bercampur rasa senang bisa bertemu kembali dengan Zahra ditempat yang tak ia duga sebelumnya. "Alhamdulillah sehat kak, kenapa tidak memberitahu kalau kesini juga" Zahra melepaskan jaketnya, "kemarin belum berani menghubungi dek, kakak mau memberi kejutan" Azam menundukkan kepala, "cie..cie ada apa nih?" Claudia memecah suasana yang tadinya terdiam memperhatikan pembicaraan Azam dan Zahra, "sudah sudah kita lanjut ceritanya sambil makan saja ya, mari silakan ambil soupnya" Elmira mempersilakan mengambil piring dan menuangkan soup ke piring masing-masing.
__ADS_1
Awal pertemuan tanpa rencana lalu hadir dengan sadar memoles rasa dihati Azam yang sudah lama tidak bertemu dengan Zahra. Semua dalam ruangan itu tidak menhetahui bahagia hati Azam, mereka semua makan dan menghabisnya. Berbincang kecil seperti pengalaman mereka selama ini dan bermacam cerita menarik lainnya. Setelah itu Azam dan teman-temannya pamit pulang karena takut kereta tidak ada saat malam. "Terimakasih ya El atas undangan dan jamuannya nanti kalian juga yang main ketempat kami ya" Irfan berterimakasih dan pamit sementara Azam mengenakan jaket dulu dan berpamitan juga "terimakasih ya senang bisa berkenalan dengan kalian semua" bersalaman "besok kakak telpon" ketika bersalaman dengan Zahra, "eh iya kak" Zahra tersipu memerah diwajahnya. "Kami pamit ya,dahhh..." Aldo keluar paling akhir.
Sepanjang perjalanan, Azam tidak tidur dalam kereta, hanya diam menatap keluar jendela. Tersenyum dan belum percaya hari ini dia telah dipertemukan kembali dengan Zahra. Dalam dinginnya suhu malam itu Azam terlelap dengan bahagianya hari itu.
***
__ADS_1
Picture : Tas slempang kulit milik Azam