
Terbesit hati ingin bertemu meski jarak yang sangat jauh dan waktu yang tak pasti. Azam kembali memikirkan, apakah harus pergi kesana juga atau menunggu disini. Jika ingin kesana tentunya banyak persiapan yang harus azam lakukan dan tentu harus bersabar untuk bisa melakukannya. Azam menemui sepupunya yang sedang melaksanakan pelatihan kerja disebuah yayasan penyalur tenaga kerja untuk menanyai perihal tempatnya latihan itu. Dikarenakan yayasan tersebut khusus untuk mereka yang ingin berangkat kejepang. Setelah menimbang-nimbang kembali azam pun menemui sepupunya untuk menanyakan maksutnya. Setelah menemui azam pun mulai menanyakan untuk persiapan-persiapan tahapan apa saja yang harus dilalui dan dipersiapkan.
"Eh ini mau nanya perihal kemarin yang sempat aku tanyain melalui chatingan je" azam menanyakan sambil melepas jaket jeans miliknya, "iya zam, sambil santai saja kita bicarakan diteras samping saja" berdiri mempersilakan azam menuju teras samping yang ada gazebo kecil dan taman bunganya, "kamu mau minum apa, kopi atau teh?" menawarkan minum kepada azan yang duduk di gazebo, "hm...apa saja deh je, tapi jangan banyak gula ya, sedikit saja oke" memberi kode dengan menyatukan telunjuk dan ibu jari, "oke siap, tunggu sebentar ya" jeje sepupu azam masuk kembali kearah dapur, azam mengangguk dan memainkan handphone nya kembali.
Lamunan azam melayang jauh terbang dari pikiran hinggap jauh diranting-ranting sakura yang mulai bermekaran ditengah hangatnya suhu udara yang ikut melukiskan senyuman misterius dari celah-celah lembaran sakura yang gugur dihembus angin melayang menerpa hati gersang terlalu lama rindu menunggu siraman tetesan kasih yang belum sempat tuntas terbayarkan. "Hei zam, ngelamunin apa kamu ini" jeje datang membawah dua gelas kopi mengagetkan lamunan azam "nih kopinya, satu sendok bubuk kopi dan satu setengah sendok gula, iya kan?" meletakkan kopi didekat azam sambil memastikan bahwa minuman itu sesuai dengan yang biasa diminum oleh azam, "ah kamu ini je gangguin lamunanku saja" menjawab dengan muka datar membenarkan posisi duduknya.
"Oh iya je, menurutmu bagaimana kalau aku pergi kerja kejepang juga, melalui lembaga pelatihan kerja tempat kamu kursus itu?" azan menyilangkan kaki sembari mulai ke pembicaraan serius kepada sepupunya itu yang terpaut satu tahun usia lebih tua azam, "bagus dong, aku setuju saja. Tapi ikut pelatihan itu perlu diketahui zam agak susah" tutur jeje menerangkan perihal suasana belajar yang tak mudah, "iya je, aku pun paham akan hal itu, aku hanya ingin mencoba usaha ini terlebih dahulu, siapa tahu ini adalah kesempatan dan ada rezekiku disana" azam meniup-niup kopinya yang masih mengeluarkan hawa panasnya. "Aku mendukung saja, siapa tahu nanti kita bisa kesana dan ada rezeki zam. Nanti setelah lebaran saja kamu datangi lembaga itu untuk menindak lanjuti niatmu ini zam" jeje mendukung penuh niat azam yang ingin ikut pelatihan juga, "oh iya je, susah tidak sih belajar bahasa jepang itu?" azam mulai menanyakan dengan lebih santai, "gimana ya zam, menurutku sih susah gampang. Soalnya kita belajar bahasa dan tulisannya sembari menghapal juga" jeje menjelaskan dengan santai "tunggu sebentar ya zam, aku mau ambil kue dulu kedalam lupa tadi aku bawain" berdiri lalu masuk kedapur sambil tertawa kecil karena melihat muka azam datar yang sedang serius mendengarkan eh ditinggalin.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
"Nah ini dia kuenya zam, ayo dimakan sambil cerita lagi" langsung ngambil kue dan mencelupkan ke minumannya, "kalau kamu memang sudah bulat niatnya untuk ikut LPK pergi kerja ke jepang, aku sih senang dan mendukungmu zam. Cuma kamu harus benar-benar menjalaninya jangan stengah-setengah" lanjut jeje sambil mengunyah kuenya, "iya je, sepertinya niatku sudah bulat dan siapa tahu ada rezekiku disana jika Allah mengizinkan" azam mendekat dan mengambil kue dalam piring diatas meja, "kalau begitu coba komunikasikan dulu dengan orangtuamu lalu sholat istiqhara dulu zam" menyarankan azam agar benar-benar memikirkan niatnya itu, "iya je aku sudah bicarakan tentang niatku ini kepada orangtuaku di rumah, mereka tidak keberatan dan mendukung saja niatku ini" mengambil tisu dan membersihkan bibir dari sisa makanan, "tinggal sekarang aku mau istiqhara dulu je untuk meminta petunjuk apa niat ini harus aku lanjutkan atau Allah ganti yang lebih baik dari ini" lanjut azam, "good, bagus kalau begitu zam, orangtua sudah mengizinkan dan jangan lupa minta petunjuk yang diatas" jeje mendukung niat baik sepupunya ini, "tapi bukan karena zahra kan kamu ingin kesana?" lanjut jeje bertanya penasaran sambil memandang mimik wajah azam yang nampak berubah, "hehehe...ya tidak lah je, aku ini memang mau kesana barangkali bisa menjadi asbab hidayah orang disana dan bisa bermanfaat bagi orang yang ditinggalkan" jawab azam memalingkan pandangan ke arah taman dihadapan mereka duduk, "ah masa si zam begitu doang, yakin ni bukan karena zahra?" jeje berusaha menguak rahasia yang azam simpan.
Tak langsung menjawab azam meminum minumannya lalu menghela napas "ih apaan kamu ini, mau tahu saja urusan orang" jawab azam sambil tertawa kecil berusaha menutup mimik wajahnya, "hmm...aku tidak yakin dengan jawabanmu itu zam" menatap tajam seperti disinetron-sinetron televisi jeje mengarahkan pandangan seriusnya kearah azam. "Ya Allah, tidak percaya banget sih jadi orang" azam menyelah pertanyaan jeje padanya, "coba deh cerita, kenapa kamu mau kesana. Benarkan salah satunya karena zahra?" jeje kembali memastikan bahwa pikirannya benar, "kan mulai lagi" mulai risih rupanya azam sambil melihat kearah jam tangannya, "ya aku mau tahu dong zam, soalnya tidak biasanya kamu semangat seperti ini" mengernyitkan kening tanda bahwa dia tak ingin sekedar tahu saja tentang ini, "oke je, aku akan ceritakan semua deh sama kamu, asal jangan cerita sama orang lain ya" azam menampakkan raut wajah tersenyum kepada jeje, "selain yang aku katakan tadi, kamu benar bahwa ini juga ada hubungannya denga dia je" azam menjawab pertanyaab yang jeje tunggu-tunggu jawabannya, "penasaran aku, what happen?" jeje semakin penasaran kepada cerita azam, "ya, rindu dan rasa ini yang menuntun semangat memaksa aku bergerak ingin kesana je, aku berdo'a dengan harapan suatu hari Allah pertemukan kami, ya mungkin ini juga salah satu usaha yang bisa aku lakukan je, barangkali nanti aku Allah izinkan bisa kesana dan bisa bertemu zahra disana je" lanjut azam menceritakan mengenai pertanyaan jeje padanya, "MasyaAllah zam, semoga Allah mengabulkan do'amu. Sepertinya kamu ini sudah ingin sekali bertemu" tutur jeje merespon cerita azam, "aamiin, kamu bantu infotmasikan tentang lembaga pelatihan kerja itu ya je" diam sejenak lalu "aku ingin sekali bertemu dia je, aku tak tahu apakah rasa ini cuma aku saja yang merasakannya. Aku tidak peduli hanya aku yang rindu, saat ini aku tak bisa mengatakan dengan barisan kata-kata je" melanjutkan ceritanya, "aku yakin kamu bisa, nanti jika sudah waktunya Allah akan mempertemukan kamu zam" jeje memberi semangat kepada azam, "aamiin, mudah-mudahan je. Mohon informasikan ya je, siapa tahu aku ada kesempatan untuk ikut program ini" mengisyaratkan pada jeje bahwa ia benar serius dengan ini, "oke zam siap, aman pokoknya" mengacungkan jempol kepada azam. "oh iya je, makasih mau dengarkan ceritaku, aku mau pulang dulu ni je ada tamu nih dirumah" menunjukkan pesan singkat di handphone miliknya, "ya udah deh kalau begitu, nanti aku informasikan kepada kamu, dan hati-hati dijalan ya" menganggukkan kepala dan bersalaman kepada azam sambil keduanya berdiri dari kursi, "iya je, aku pamit dulu ya Assalamu'alaikum" beranjak keluar rumah jeje, "wa'alaikumsalam" jawab jeje melambaikan tangan melihat azam dari pintu rumahnya.
"Ya Allah aku tidak bisa menyampaikan dengan lisan tentang rindu ini, aku tak mampu mengungkapkannya pada waktu yang tak bisa kukembalikan, semoga Engkau memberiku waktu untuk bertemu dan menemukan kami untuk menghilangkan rindu yang mulai menjadi sendu yang menghujam setiap detik waktuku. Ya Allah hanya Engkau yang tahu tentang rasa dan rindu ini" berkata dalam hati diatas kendaraan azam tak mampu melukiskan dengan kata tentang hal yang tersembunyi dibalik hatinya.
__ADS_1
Berikut ada dua poto tokoh utama dalam cerita ini, semoga ini bisa menjadikan reader semua terlepas rasa penasarannya ya. hehehe
Nanti dipart-part lainnya akan kita tampilkan kembali.
Picture : Muhammad Azam (poto diambil dengan kamera azam )
__ADS_1
Picture : Zahra Oktariani (poto diambil dengan kamera zahra saat musim salju di Jepang)