High School Incident

High School Incident
Hajimimashite! - 1


__ADS_3

“Hajimimashite! Watashi wa Nadya desu. Indonesia kara kimashita. Dozo yoroshiku onegaishimasu.” ucap Nadya memperkenalkan diri dalam Bahasa Jepang sambil membungkukkan badan. Nadya lalu berjalan menuju tempat duduknya sambil diiringi tepuk tangan seisi kelas 1-3. Cewek berambut bob itu membetulkan kacamatanya, ia tersenyum kepada Rani yang duduk di sebelahnya. Rani tampak grogi saat itu. Cewek bertubuh bongsor itu mendapat giliran maju memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang sekarang. Nadya menepuk pundak Rani menyemangati. Pukpukpuk!


Rani mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas. Tangannya sedikit gemetaran.


“Hajimimashite!” kata Rani dengan grogi. Ia berhenti sebentar mengingat-ingat kata-kata selanjutnya. Seisi kelas menunggu dengan tenang. Sensei Wahyu juga menunggunya dengan sabar. Rupanya cewek berkacamata itu agak lupa. Lama sekali dia berpikir. Akhirnya ia buka suara dengan terbata-bata.


“Wa.. watashi… no…”


“Watashi waaa…” ujar seorang cowok dari bangku paling depan. Cowok itu duduknya pas di depan Rani berdiri sekarang. Cowok itu membetulkan ucapan Rani dengan santainya. Sedangkan Rani malah tambah grogi, ia membetulkan kacamatanya lagi. Rani mencoba sekali lagi.


“Wa… watano wa…” Rani salah ucap lagi.


“Watashi waaa… Watashi! Shi! Shi!” ujar cowok yang duduk di bangku paling depan. Kali ini dengan sedikit penekanan pada pengucapannya.


“Oh, watashi wa. Watashi wa…”


“Hm em. Trus?” ujar cowok itu sambil menganggukkan kepalanya.


“Watashi wa no…” Rani lupa kata-kata selanjutnya. Ia melihat cowok yang duduk di bangku paling depan sedang mengerutkan dahinya, cowok berperawakan kurus itu menatap tajam ke arahnya.


“Watashi wa Billy desu! Seperti itu! Susah amat!” ucap cowok yang duduk di bangku paling depan yang ternyata bernama Billy saking kesalnya. Cewek berambut panjang itu lama sekali mengingat-ingat. Billy semakin geregetan dibuatnya.


“Watashi wa Billy desu!” kata Rani dengan mantap kepada seisi kelas. Seisi kelas saat itu langsung riuh dengan tawa. Si Rani ini memang susah mengertinya.


“Billy itu namaku! Kamu jangan bilang watashi wa Billy! Pake namamu sendiri dong! Gimana sih?!” ujar Billy kesal. Cowok itu sempat mengacak-acak rambutnya sendiri saking kesal pada Rani.


“Oh gitu. Ya maaf. Kan aku lupa.” ujar Rani dengan polosnya. Sensei yang ikut tertawa pun menyuruh Rani kembali ke tempat duduknya. Kasihan anak itu, baru pertama pelajaran bahasa Jepang sudah mengalami kesulitan.

__ADS_1


“Jadi, nama kamu Billy?” goda Nadya pada Rani sambil sedikit tertawa. Rani duduk di kursinya dengan wajah sebal. Cewek itu diam tak menanggapi Nadya.


“Hai. Billy-san, dozo.” ujar sensei Wahyu. Cowok bernama Billy kemudian maju ke depan kelas. Badannya lumayan tinggi, kulitnya tidak putih tapi juga tidak hitam, wajahnya cool dan rambutnya berjambul. Wah! Keren banget!


“Hajimimashite! Watashi wa Billy desu. Onegaishimasu!” ujar cowok bernama Billy itu sambil membungkukkan badannya. Ia lalu kembali ke tempat duduknya diiringi tatapan mata seisi kelas. Tatapan terpesona! Sedangkan Rani diam saja memperhatikan cowok itu. Wajahnya terlihat kesal menatap cowok berjambul itu.


“Tunggu, tunggu! Kok kurang sih? Dozo yoroshiku-nya mana? Gimana sih?” ujar Rani protes. Billy menoleh ke arah Rani yang duduk agak belakang dengan tatapan sinis.


“Bener kok. Nggak pake itu juga bisa. Tanya aja sensei.” Sensei membenarkan ucapan Billy. Kata sensei dengan itu pun sudah bisa untuk memperkenalkan diri. Rani jadi malu. Tapi kesal juga, si Billy ini kok bener terus, sementara Rani salah melulu.


“Tuh. Dengerin. Makanya jangan sotoy!” ujar Billy dengan penuh kemenangan.


“Sotoy?” kata Rani sambil mendelikkan matanya yang bulat.


“Iya. Sok tahu!” ujar Billy dengan nada ketus. Rani kesal setengah mati.


Maksudnya anak singkong karena dia jualannya segala macam kripik sebangsa singkong. Cewek yang super kurus itu punya keluarga yang bisnisnya ya kripik-kripik macam singkong, kentang, ubi, dan pisang. Nggak mau kalah sama Fabi, Johan dan Argo, dua sejoli kelas 1-3 juga ngeluarin dagangannya, yaitu brownies kukus dalam dua kotak besar.


Alhasil suasana kelas 1-3 saat pergantian jam pelajaran kala itu jadi sama ributnya dengan pasar burung. Beberapa anak berebut membeli kripik Fabi. Satu-persatu kripik dagangan Fabi laris terjual. Fabi mengumpulkan uang anak-anak dan menghitungnya. Sesekali berteriak kalau ada yang belum bayar atau belum dapat kembalian. Sedangkan dua sejoli Johan dan Argo tak kalah sibuk melayani anak-anak cewek yang membeli brownies mereka. Dalam beberapa detik dagangan mereka ludes terjual. Itu juga berkat Nadya yang mempromosikan brownies itu ke kelas lain. Jadi keributan bak pasar burung di kelas 1-3 itu bukan hanya penghuninya yang membuat, tapi juga karena ada anak-anak dari kelas lain yang ikut di dalamnya.


“Hai, aku Nadya dari kelas 1-3. Kalian lagi sibuk nggak? Kalo nggak sibuk mampir ke kelas kami ya. Di sana banyak yang jualan makanan. Yaa lumayan lah buat ngganjel perut sebelum istirahat. Sekalian silaturahmi gitu. Ayo mampir aja!” begitu lah kira-kira yang diucapkan Nadya saat mampir ke kelas 1-2 dan 1-4 yang letaknya bersebelahan dengan kelasnya. Mereka yang penasaran pun akhirnya mampir juga dan kembali ke kelas mereka sambil membawa oleh-oleh berupa brownies maupun kripik.


Dalam kesempatan Nadya berkunjung ke dua kelas tersebut, masih ada aja yang ngelirik cewek berponi itu. Odis kelas 1-2 salah satunya. Cowok berhidung mancung itu nggak henti-hentinya memandang wajah imut Nadya. Odis dan Nadya memang pernah dekat dulu waktu es de. Waktu itu ceritanya Odis naksir Nadya yang dilihatnya ternyata imut juga. Saat Odis nembak Nadya, eh Nadya malah nggak mau. Nadya bilang dia masih harus fokus belajar. Lagian anak es de udah main tembak-tembakan segala.


Akhirnya Odis dan Nadya cuma berteman aja sampai sekarang. Walaupun Odis selalu berusaha ngejar-ngejar Nadya, Nadya tetep cuek. Malah semakin giat belajar. Buktinya ia rangking satu saat masuk ke sekolahnya kini. Odis pun merana, hanya bisa menatap Nadya yang untungnya masih satu sekolah dengannya.


Seorang laki-laki tua berjalan memasuki kelas 1-3. Fabi yang sedang menghitung segepok uang segera memasukkan uang-uangnya ke dalam tasnya. Dua sejoli brownies kukus pun mengemasi kotak tempat jualan mereka. Anak-anak ribut berlari kembali ke tempat duduknya. Beta dan Afika yang berasal dari kelas 1-2 pun buru-buru keluar kelas. Beta masih sempat-sempatnya mencuil brownies milik Anjuna yang diletakkan di atas mejanya. Anjuna jadi sewot berat jajannya dicuil-cuil macam begitu, oleh Beta lagi!

__ADS_1


Lelaki tua itu badannya kurus kering. Sudah terlihat banyak keriput di wajahnya, namun perawakannya malah terlihat lucu, anak-anak kelas 1-3 seperti disuguhi stand up comedy kala itu.


“Baik anak-anak. Perkenalkan saya guru Pkn kalian. Nama saya Salma. Panggil saja saya Pak Salma. Begitu.” kata lelaki tua yang ternyata guru itu. Tito dan Azhim yang duduk paling belakang pojok sibuk menahan tawa. Anak-anak yang lain juga sama.


“Kok Salma sih? Salma ya? Iya Salma. Nggak sesuai sama orangnya. Bisa salah paham kalo nggak tahu!” anak-anak mulai berbisik sambil tertawa kecil. Mengingat nama Pak Salma yang agak ke’cewek’an.


“Oke. Sekretaris kelasnya siapa? Tolong saya dibantu menuliskan ini di papan tulis.” ujar Pak Salma sambil membawa sebuah buku. Rahma selaku sekretaris langsung maju ke dapan. Cewek berambut panjang lurus itu bertanya kepada Pak Salma mana yang harus ia tulis. Setelah paham, Rahma menulis. Baru dua baris Rahma menulis Pak Salma pamit keluar kelas sebentar, katanya sih ada urusan. Setelah itu suasana kelas mulai agak ramai. Dimulai dengan keisengan Gilang dan Fantoni.


“Mbak, Mbak! Tulisannya kuecil banget! Gedein dikit dong.” ujar Gilang. Tanpa menoleh Rahma paham. Tulisannya memang kecil-kecil, lalu ia menulis agak besar. Tapi belum banyak huruf yang ditulis ada lagi yang memprotesnya.


“Mbak! Tulisannya kebesaran tuh. Jangan besar-besar dong nulisnya. Nanti nggak cukup lho papannya.” kata Fantoni yang duduk di depan Gilang. Akhirnya Rahma mengecilkan lagi ukuran tulisannya. Tak berapa lama kemudian Tito pun menyahut, “Kok tulisannya besar kecil-besar kecil gitu sih, Ma. Alay yaa?”


“Duuh! Kalian ini maunya gimana sih? Katanya kurang besar ya kubesarin. Trus kebesaran, yaa kukecilin. Sekarang malah bilang tulisanku alay. Nih, kalian aja yang nulis sendiri!” Rahma pun kesal. Tapi tetep nulis juga akhirnya dan tulisan di papan tulis jadi beragam bentuknya. Ada yang besar ada yang kecil ada yang sedang-sedang aja.


Pak Salma masuk ke dalam kelas. Tepat saat itu Rahma sudah selesai menulis di papan tulis.


“Oke. Sekarang saya akan menjelaskan kepada kalian tentang perbedaan korupsi, kolusi, dan nepotisme.” Pak Salma yang sangat bersemangat mengajar pertama kali di kelas 1-3 kala itu menjelaskan panjang lebar ceritanya. Sampai bel istirahat berbunyi anak-anak mendengarnya dengan lesu. Kripik Fabi yang katanya obat anti ngantuk itu ternyata bohong. Tito dan Azhim adalah korbannya. Mereka sukses tertidur selama dua jam pelajaran. Sukses dong, soalnya Pak Salma nggak mengetahui hal itu. Duo anak nakal itu duduknya paling belakang sih!


Pak Salma melangkah keluar kelas dengan tenang. Tito dan Azhim terbangun dari tidur nyenyak mereka. Anak-anak yang lain pun terlihat meregangkan tubuh mereka. Ada waktu sekitar lima belas menit sebelum ekskul dimulai. Beberapa anak keluar kelas dan menyerbu kantin. Beberapa tinggal di dalam kelas. Rani dan Nadya terlihat sedang menulis-nulis di atas kertas. Kemudian mengumpulkan kertas mereka dan berjalan ke arah meja Ineke.


“Ke, ini formulirnya. Minta tolong, yaa.” ujar Nadya.


“Oke. Sip!”


Ternyata Nadya dan Rani mendaftar menjadi anggota OSIS. Pemikiran ini pertama dimiliki oleh Rani. Kata Rani biar pintar di kelas tetep harus ikut organisasi. Biar lebih pede! Dan mengapa kertas formulir itu ada di tangan Ineke, karena Ineke pasti masuk dalam OSIS, dia kan punya back up kakak kelas yang suka sama dia. Nadya bilang pada Rani kalo itu sih termasuk penyalahgunaan kekuasaan. Tapi Rani biasa aja. Biarin aja katanya, kan yang nepotisme dia bukan mereka. Lagian untung juga ada teman sekelas mereka yang masuk OSIS. Kan mereka jadi bisa diusulin masuk keanggotaan.


Rani dan Nadya berpisah di depan kelas 1-2 siang itu. Rani menuju ruang kelas 1-2 untuk ekskul paduan suara, sedangkan Nadya menuju perpustakaan untuk ekskul matematika. Sesampainya di perpustakaan, Nadya memilih tempat duduk di bangku nomor dua dari belakang. Tampak beberapa anak dari kelas lain sudah menunggu. Nadya belum mengenal wajah mereka, yang ia tahu hanya Mario, teman sekelasnya yang kini duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Hai… Mario.” ujar Mario seraya mengulurkan tangan mengenalkan dirinya. Cowok itu mirip benar dengan artis Raffi Ahmad. Hanya saja matanya agak sipit. Nadya bengong sebentar. Lalu sadar dan menyambut tangan Mario.


__ADS_2