High School Incident

High School Incident
Bulan Bahasa - 3


__ADS_3

Jam setengah tujuh pagi.


Nadya ada di depan gerbang sekolah. Ia membawa satu boks plastik besar berisi buah-buahan segar. Setelah pamit pada mamanya yang mengantarnya dengan sepeda, Nadya segera masuk ke halaman sekolahnya. Sebelumnya di depan gerbang ia melihat Mario yang juga diantar mamanya dengan sepeda.


“Bawa apa, Nad?” tanya Mario yang berjalan tepat di belakang Nadya. Cowok itu segera menyusul jalan Nadya dan berjalan beriringan.


“Ini, Rani nyuruh aku bawa buah-buahan buat bazaar.”


“Oh. Uang patungan untuk belanja kemaren cukup?”


“Nggak tau. Billy sama Rani yang belanja. Trus mereka ke rumahku masak-masak.”


“Oh ya? Kamu bantuin juga?”


“Enggak.”


Kedua anak itu lalu berbelok di depan kantin Bu Dwi dan menuju koridor depan kelas satu. Mereka sudah ditunggu oleh teman-teman mereka kelas 1-3 di depan kelas mereka. Rani dan Billy terlihat menghitung gelas dan sendok plastik. Johan dan Argo sedang menggoda cewek-cewek kelas 1-4 yang lewat di depan kelas mereka. Cewek-cewek itu memakai baju batik modifikasi yang bagus-bagus. Nadya jadi ingat teman-teman mereka yang ikut fashion budaya hari ini.


“Oh ya. Anak-anak mana? Mereka udah siap buat fashionnya?”


“Udah, Nad. Kamu sih lupa. Mereka udah ke salon dari tadi pagi. Tuh di kelas.” kata Rani sambil menunjuk kelas mereka. Nadya masuk ke dalam kelas dan terlihat beberapa cewek dengan baju adat Bali. Beberapa cowok juga berpakaian adat Bali.


“Bukannya yang ikut fashion cuma cewek ya?” tanya Nadya pada Renny.


“Nggak, Nad. Beberapa hari yang lalu ada pengumuman kalo pesertanya boleh lebih. Kamu kemana aja kok nggak tau?” kata Renny sambil membetulkan poninya.

__ADS_1


“Oh. Aku nggak tau. Trus yang fashion segini banyaknya?”


“Iya.”


Mario berdiri di depan kelas dan mengumumkan kalau apel pagi akan segera dimulai. Anak-anak yang memakai seragam olahraga semuanya keluar dari kelas dan menuju lapangan basket untuk apel. Rani dan Billy menitipkan makanan bazaar mereka pada anak-anak yang berada di kelas, yaitu mereka yang ikut fashion dengan pakaian dan makeup mereka.


Apel pagi itu dilaksanakan selama kurang lebih setengah jam. Intinya adalah membuka acara fashion show tema budaya di bulan bahasa, dance, dan lomba bazaar. Setelah selesai apel, semua siswa dibubarkan untuk mempersiapkan stan bazaar mereka. Peserta fashion show juga harus sudah siap pukul delapan tepat, karena lomba akan segera dimulai pukul delapan lebih lima belas menit.


Anak-anak yang bertugas di stan bazaar sudah mulai mendekor stan mereka. Ayu yang ditugasi membuat dekor ternyata tidak mngecewakan. Dekorasi yang ia buat sendiri sangat meriah dan bagus, bahkan ia juga membuat bando yang terdapat boneka bentuk tulisan 1-3 berwarna-warni yang lucu. Johan, Argo, Rani, dan Ayu dengan senang hati memakainya, tapi Billy tentu saja tidak. Anak itu gengsi rupanya. Masak anak cowok pake bando begituan, begitu katanya. Tapi akhirnya ia pakai juga lantaran dipaksa Mario.


Rani menata dagangannya dengan rapi di atas meja. Ada beragam buah yang disusun cantik sehingga kelihatan segar, di sebelahnya ada mangkuk besar berisi es cincau hijau. Beberapa gelas dan sendok plastik diletakkan di meja kecil di samping meja utama. Ada tulisan-tulisan lucu yang juga dipajang di depan stan, seperti ‘kalo nggak beli nggak gawl’ atau ‘beli dong!’ dan ‘brownies ajib buatan duo ganteng Johan Argo. Masak nggak beli?!’. Anak-anak yang melihat pada ketawa.


Acara fashion show sudah akan dimulai. Peserta pertama dari kelas 1-2 mulai berbaris di samping panggung. Dini yang paling cantik, ia berdandan ala Nyai Roro Kidul dengan baju serba hijau dan gelungan rambut yang panjang. Ia juga nampak semakin cantik saat berjalan perlahan di depan panggung diiringi teman-temannya yang berperan sebagai pengawal ataupun dayang.


Penampilan kelas 1-2 telah selesai. Giliran kelas lain yang tampil. Penonton membanjiri lapangan basket untuk melihat fashion show sambil melihat-lihat juga aneka stan bazaar di sekeliling lapangan. Nadya menemani Rani menjaga stan bazaar. Johan dan Argo sedang keliling lapangan untuk menawarkan jualan mereka, yaitu brownies. Johan dengan candaan-candaannya berhasil menjual dagangannya pada murid-murid cewek dan guru perempuan. Argo yang bertugas membawa browniesnya sementara Johan yang bertugas merayu anak-anak supaya membeli.


“Widihh! Bener kan kata Aa’. Cantiknya nambah!” rayu Johan lagi. Kali ini cewek-cewek itu menyoraki anak bermata sipit itu, dasar gombal!


Anak-anak dari kelas 1-5 lewat di depan stan bazaar. Mereka mengenakan seragam militer angkatan darat, ada juga yang angkatan laut dan udara. Beberapa anak terlihat hanya memakai baju bebas, tidak memakai seragam olahraga seperti yang tidak ikut fashion. Nadya yang penasaran bertanya pada Galih, “Kok kamu pake baju bebas nggak kayak temen-temenmu?”


“Emang kenapa?” tanya cowok berparas cakep itu.


“Yang lain ada yang jadi AD, AL, AU. Kamu nggak jadi apa-apa?”


“Jadi kok.”

__ADS_1


“Jadi apa?”


“Warga sipil!”


Stan bazaar kelas 1-3 siang itu lumayan laris. Anak-anak bazaar sampai kelimpungan menghadapi pembeli yang begitu antre banyak banget. Nadya cuma bengong aja duduk di belakang stan sama Oppy. Mereka berdua emang lagi males ngapa-ngapain. Terutama Nadya, dia lagi super males. Katanya dia udah bantuin anak bazaar kemaren. Kan mereka masak di rumah Nadya, begitu alasannya.


Fashion show masih terus berjalan. Penonton pun makin tambah banyak. Begitu pula yang mampir ke stan-stan bazaar. Rani kecapekan. Cewek itu lagi ngitung uang hasil jualan di bazaar. Hm. Kayaknya ada yang nggak beres, Rani cemberut dengan muka yang ditekuk.


“Kenapa, Ran?” tanya Oppy.


“Kayaknya bazaar kita rugi.”


“Rugi gimana?” Nadya angkat bicara.


“Kemaren waktu belanja sebenernya modal kita nggak cukup, Nad.”


“Trus pake uang siapa buat nalangin kemaren?”


“Uang Billy.”


Cewek gendut itu masih cemberut. Oppy dan Nadya diam saja. Sebenarnya Oppy udah nyaranin buat patungan lagi sekelas, tapi Rani bilang dia nggak enak sama temen-temen sekelas. Rani mulai kesel apalagi pas rujak manis dagangannya masih banyak yang belum laku kejual. ia ijin pergi sebentar pada Nadya dan Oppy. Ditanya kemana malah nggak jawab, cuma cenberut aja.


Sebenernya Nadya udah curiga kalo Rani bakal marah ke ketua kelas gara-gara masalah uang bazaar yang nggak cukup. Tapi dia tetep berpikir positif sampai Mario datang ke stan bazaar dengan muka nggak nyenengin lalu nyerahin uang ke Rani. Oppy bilang kalo itu mungkin gara-gara Rani kesel stannya rugi trus ketua kelas harus tanggung jawab. Jadi deh Mario tanggung jawab dengan nyerahin uangnya ke Rani.


Billy yang ngeliat itu mukanya biasa aja. Cowok satu itu kayak nggak ngerasa kalau ada percekcokan antara Rani dan ketua kelasnya. Ini yang bikin Nadya kesel. Cewek mungil itu lalu pergi mencari ketua kelasnya bersama Oppy. Tapi dicari kemana-mana nggak ketemu. Baru setelah dicari di kelas mereka sendiri, ternyata cowok berkacamata itu lagi duduk-duduk di belakang kursi paling belakang bersama Dias.

__ADS_1


Nadya nggak tega kalau mau tanya secara langsung tentang masalah ini. Oppy juga nggak ngasih dukungan untuk maju. Akhirnya mereka berdua milih untuk sms Mario aja. Oppy bertugas sms Mario, Nadya ogah katanya. Isi smsnya simple, tentang kenapa Mario tiba-tiba nyerahin uang ke Rani dan uang itu uang siapa. Nadya dan Oppy terkejut melihat sms Mario tentang uang Mario yang diserahin ke Rani itu sebenernya uang untuk bayar SPP.


Nadya dan Oppy jadi kasihan banget ke cowok itu. Trus gimana Mario bisa bayar uang SPPnya kalau uangnya itu dikasihin Rani? Kata cowok itu sih masalah gampang, dia kan bisa nabung uang sakunya, begitu bunyi sms darinya. Oppy dan Nadya jadi merasa Rani agak semena-mena sama cowok itu. Mungkin karena saking sukanya sama cowok, Rani nggak tahu cara memperlakukan cowok yang ia sukai.


__ADS_2