
Nadya melihat seisi kelas. Tempat duduk yang kosong hari itu cuma yang ada di sudut kelas paling depan dekat pintu. Tempat duduknya diduduki Johan dan Argo. Terpaksa akhirnya Nadya duduk di pojokan itu sendirian. Tidak terpaksa juga sebenarnya. Ia malah lebih nyaman duduk di depan karena tidak melihat Rani dan kawan-kawan barunya yang suka ngegosip.
Oppy lewat di depan Nadya dan duduk di kursi sebelah kiri Nadya. Cewek berkulit coklat itu lalu mengeluarkan sebuah buku tulis dan buku dengan tulisan Ekonomi. Ia juga mengeluarkan kotak pensil bening yang berisi beberapa alat tulis. Oppy lalu tersenyum pada Nadya dan membuka-buka buku tulisnya.
“Nad. Kemarin malam aku belajar tentang ini, Nad. Tapi aku masih nggak mudeng. Tolong jelasin dong.” ujar Oppy sambil memperlihatan catatannya. Nadya kagum pada anak asal Bandung ini. Karena dia bilang dia malas belajar, tapi pagi ini dia malah lebih rajin dari Nadya. Nadya melihat catatan Oppy yang sungguh rapi. Sungguh! Tidak tulisan maupun susunan materinya benar-benar rapi ditulis di buku itu.
Pagi itu di sudut kelas paling depan dekat pintu, Oppy dan Nadya belajar bersama-sama tentang berbagai macam kebutuhan manusia. Kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Nadya menjelaskan dengan detail pada Oppy mana-mana yang belum didapatkan Oppy selama ia bolos sekolah. Oppy pun mendengarkan dengan teliti. Ia pun bukan anak yang sulit mengerti, malah termasuk cerdas.
“Op. Sebenarnya kalau kamu tekun kamu bisa aja jadi menteri ekonomi selanjutnya.” goda Nadya saat oppy mencatat sesuatu di bukunya dengan serius. Oppy tertawa menimpalli omongan Nadya. Oppy merasa semangatnya untuk belajar terasa full hari itu. Ia senang karena masih ada yang mau mengajari pembolos sepertinya. Apalagi Nadya bukan guru yang kejam. Nadya mengajar Oppy dengan sabar dan penuh canda. Jadi Oppy tidak tegang saat belajar. Yeah!
Pelajaran ekonomi hari itu menjadi pelajaran pertama. Bu guru yang mengajar hari itu sangat tegas dan cerdas. Oppy yang tadinya semangat ’45 jadi lembek ’45. Guru satu ini kalau mengajar bikin tegang banget. Oppy jadi sulit konsentrasi. Tapi untungnya ada Nadya di sebelahnya, dia bisa bertanya pada Nadya tentang sesuatu yang belum ia mengerti. Nadya pun dengan senang hati menjelaskan.
Hari itu Oppy kena batunya. Ia kena tegur oleh guru ekonomi itu karena sering tidak masuk sekolah. Oppy bahkan diancam akan tidak naik kelas. Jantung Oppy berdetak kencang, ia tidak dapat berpikir lagi. Nadya seperti tahu perasaan Oppy segera memegang pundak Oppy dan menyemangati temannya itu. Oppy bisa sedikit bernapas lega dengan adanya Nadya yang duduk bersamanya.
“Nad. Kalo aku beneran nggak naik kelas gimana, Nad?” kata Oppy saat istirahat di kelas bersama Nadya.
“Tenang aja, Op. Kita masih bisa ikut ekskul yang sama, kan?”
“Nad, aku takut nih.” kata oppy dengan memelas. Nadya hanya tertawa melihat anak itu. Lucu sekali. Berani bolos sekolah tapi takut tidak naik kelas.
“Ya, ya. Makanya, Op belajar. Jangan bolos lagi.”
“Iya, deh, Nad. Mulai sekarang aku janji nggak akan bolos lagi. Tapi kamu ajarin aku ya?” Oppy masih memelas pada Nadya. Nadya terus-terusan tertawa geli, ia juga berjanji akan mengajari Oppy supaya Oppy bisa jadi menteri ekonomi.
“Nad, hari ini aku mau ke salon kamu lagi, ya. Sekalian kita ngerjain pe er matematika bareng, yuk!” kata Oppy suatu hari saat Nadya hendak pulang.
“Emang kamu udah bilang sama ayah kamu, Op?”
“Udah, Nad. Aku bilangnya aku mau belajar di rumah Nadya. Nih smsnya kalo kamu nggak percaya.” ujar Oppy sambil memperlihatkan sms ayahnya pada Nadya.
Nadya memang tidak suka kalau Oppy main ke mana-mana tidak seijin ayahnya. Anak itu masih harus diajarkan kejujuran. Pernah suatu hari Nadya sempat memergoki Oppy main di rumah Afika, anak kelas 1-2. Waktu itu Oppy bilang ia mau menjemput adiknya yang pulang sekolah, tapi ternyata ia bohong dan kebetulan Nadya tahu Oppy sedang nongkrong bersama sekumpulan cewek kelas 1-2.
Bukannya Nadya tidak suka Oppy bergaul dengan anak-anak nakal itu, tapi Nadya kesal karena Oppy sudah membohongi ayahnya dan Nadya. Jadi mulai sekarang Nadya selain bertugas menjadi guru bagi Oppy, ia juga bertugas mengawasi Oppy jika Oppy mulai menjurus ke arah yang tidak benar. Oppy malah senang dengan sahabat barunya itu. Ia merasa disayangi oleh Nadya. Sekarang ia punya sahabat, tutor, dan sekaligus kakak yang mengurusnya. Hihihi. Oppy senang karena diperhatikan begitu.
Oppy dan Nadya pulang bersama menuju rumah Nadya hari itu. Sesampainya di rumah Nadya, Oppy meminta Nadya untuk mengeramasi rambutnya. Nadya pun menurut. Oppy minta rambutnya dikeringkan. Nadya pun mengeringkan rambut anak itu. Butuh waktu lima belas menit untuk mengeringkan rambut Oppy yang panjang. Setelah itu Oppy minta rambutnya untuk dicatok. Kali ini Nadya tidak mengamini permintaan anak itu.
“Op, rambut kamu kan udah lurus. Ngapain sih dicatok lagi?”
“Aku nggak pernah catokan, Nad. Aku pingin rambutku dicatok. Kalo di salon ayahku pasti nggak dibolehin, Nad.”
__ADS_1
“Ya itu sih bener juga. Rambut udah lurus begini masih mau dicatok segala. Lagian rambut kamu tuh sehat banget, Op. Sayang kalo kena catok entar rusak.”
Oppy pun menurut omongan Nadya.
“Nad, cita-cita kamu jadi penata rambut kayak Mama kamu, ya?”
“Iya, Op. Aku pengen jadi kayak Rudi Hadisuwarno, buka salon besar di mana-mana yang sekalian ada klinik kecantikan juga. Hehe”
“Oh. Kamu pasti bisa, Nad. Kamu kan pinter dan yang lebih penting lagi kamu nggak sirikan sama orang lain.”
“Oh. Kamu curhat nih ceritanya?”
“Hehe. Iya, Nad. Habis aku sebel sama Ineke and the gank. Siriiik mulu kerjaannya. Aku tuh sampe kesemutan liat tingkah mereka, Nad.”
“Masa sih? Segitunya ah.”
“Iya, Nad. Oh ya padahal Ineke tuh cantik sebenarnya, sayangnya anaknya sirikan, usil” Nadya diem aja mendengar ocehan Oppy yang semakin menjadi-jadi.
“Nad, kamu kenapa nggak duduk sama Rani lagi sekarang?”
“Nggak tahu, Op. Rani yang tiba-tiba nggak mau duduk sama aku.”
“Tahu apa?”
“Pasti gara-gara bertengkar waktu itu, ya? Aku denger dari Rani sendiri. Dia bilang kamu cewek genit. Menusuk teman dari belakang. Aku tahu dia suka sama ketua kelas kita. Aku juga tahu Rani cemburu sama kamu gara-gara Mario deketin kamu terus.”
“Nggak salah tuh? Bukannya aku yang deketin Mario terus?”
“Enggak, Nad. Rani juga ngomong sama kayak kamu. Versinya dia sih kamu yang ngedeketin Mario, tapi aku yakin Mario suka sama kamu.”
“Oh, ya? Darimana kamu tahu, Op? Aku kan culun, item, nggak ada keren-kerennya sama sekali.”
“Mario itu cowok yang nggak liat cewek dari penampilannya doang, Nad. Kamu tahu, tadi siang di kelas pas pelajaran kosong, dia ngeliatin kamu terus!”
“Masak sih?” Nadya mengejek Oppy dengan memicingkan matanya.
“Iya, serius, Nad. Mario tuh kalo deket kamu pengennya ngomong, gitu. Tapi kalo deket cewek lain dia diem aja. Kan udah terbukti tuh kalo dia cuma respek sama kamu, Nad. Ah! Aku tahu, Nad!” Oppy mulai antusias.
“Tahu apa?” ujar Nadya biasa saja sambil membaca bukunya.
__ADS_1
“Aku tahu, Nad. Mario itu suka cewek pintar. Cewek pintar, I heart you!!” ujar Oppy sambil memeluk Nadya. Nadya tertawa geli. Ada-ada saja tingkah sahabatnya itu. Mama Nadya yang melihat keduanya ikut tersenyum. Oppy tidak berhenti sampai disitu. Sepanjang mengerjakan pe er bersama, dia terus-terusan menggoda Nadya.
***
“Rio, jangan lupa pe er matematika! Pe er yang ini sulit banget, lho!” kata Dea pada Mario saat pulang sekolah. Mario biasanya mengerjakan PR atau belajar bersama di rumah Dea. Karena itu Dea mengingatkan Mario hari itu. Tapi Mario malah menoleh ke Nadya. Situasi yang sulit.
“Nad, nanti sore aku ke rumah kamu, ya. Kita bikin pe er bareng, ya. Aku kesulitan kalo ngerjain sendiri.” kata Mario penuh harap. Nadya sebenernya pengen nolak. Ia juga nggak yakin Mario kesulitan ngerjain pe er matematika. Anak itu otaknya kan encer banget. Tapi dia terima aja tawaran Mario itu, sekalian manas\-manasin Ineke and the gank.
“Eh, iya. Dias ikut?” kata Nadya sambil melihat Dias, teman sebangku Mario.
“Dias! Kamu ikut, nggak?” Mario memanggil Dias yang berada di lobi sekolah. Anak jangkung yang lumayan manis itu tersenyum.
“Enggak. Nanti aku mau bikin sama Elfin.” Mario mengerti, Dias memang biasa belajar dengan sepupunya yang bernama Elfin kelas 1\-2. Nadya mengerti, berarti nanti sore ia akan belajar bersama Oppy dan Mario di rumahnya.
Nadya juga mengerti satu hal. Anak\-anak yang ada di situ yang mendengar Mario akan ke rumahnya, akan berpikir kalau Nadya benar\-benar sedang dekat dengan Mario, ketua kelas yang paling disayang Rani. Sebentar lagi akan banyak gosip bermunculan tentang dirinya. Ah! Biar saja. Nadya super cuek kalau tentang itu. Ia ingat kata\-kata mamanya saat ia mendaftar ke sekolah itu, “Nad, masak kamu takut sama anak\-anak itu karena badannya lebih besar dari kamu? Jangan takut, Nad! Makan aja tuh temen\-temen kamu. Makan semua, Nad!”
Kata\-kata mama Nadya itu bukannya mengajarkan Nadya untuk kanibal. Tapi menyemangati Nadya untuk terus belajar dan memacu prestasi, mengalahkan semua anak\-anak yang suka membully dengan senyuman prestasi, seperti kata SM\*SH di lagu senyum semangat. Nadya pun terus memacu semangatnya dengan mengingat kata\-kata mamanya itu. Dengan begitu ia tidak akan patah semangat hanya karena dibully oleh sebagian anak.
Siang itu Nadya duduk di depan pos satpam menunggu Oppy pulang dari rapat OSIS. Nadya duduk sendirian. Dari jauh Lisivia dan Dea berjalan menuju ke arahnya. Nadya mempersiapkan diri mendengar ocehan mereka sebentar lagi. Anak-anak itu pasti ingin ngomong macam-macam dengannya.
“Nad, kamu masih pacaran sama Mario?” tanya Lisivia yang sekarang duduk di sebelah Nadya. Nadya duduk di tengah-tengah Lisivia dan Dea. Ia merasa tidak nyaman.
“Enggak. Gosip dari mana tuh?”
“Lho, buktinya Mario mau ke rumah kamu kan nanti sore?” sambung Dea.
“Iya, tapi kan bukan berarti kita pacaran. Lagian aku masih pengen fokus belajar. Kalo kalian sebegitu pengen tahu, kalian tanya aja sama Mario langsung!” Nadya beranjak pergi ketika melihat Oppy.
“Lagian kita belajar nggak berdua aja kok. Nanti Oppy juga ikut.” kata Nadya untuk terakhir kalinya. Oppy yang sekarang berada di dekat mereka bertiga segera menangkap tema pembicaraan saat itu.
“Ohh. Kalian kepo yaa? Dasar tukang gosip!” ujar Oppy pada kedua cewek itu. Oppy dan Nadya berlalu meninggalkan kedua cewek itu dengan rasa kesal di hati mereka.
Nadya berhighfive dengan Oppy ketika mereka berada di kamar Nadya. Mereka tertawa puas. Nadya tidak menyangka Oppy akan seberani itu mengejek mereka. Nadya pikir Oppy cewek yang rapuh karena sering dibully. Ternyata dugaan itu meleset. Oppy adalah cewek yang tegar dan pemberani.
“Anak-anak itu sekali-kali harus dikasih pelajaran, Nad. Biar nggak terus-terusan ngebully orang!” ucap Oppy dengan tegas. Nadya hanya mengangguk setuju.
“Op, menurutmu nggak apa-apa kalau aku ngijinin Mario ke rumah?” tanya Nadya sambil memeluk boneka Tinynya.
“Tenang, Nad. Kita kan belajar aja. Bukan pacaran.” kata Oppy menenangkan Nadya yang sedang resah.
__ADS_1
Bel rumah Nadya berbunyi sore itu. Nadya dan Oppy segera menuju pintu depan dan terlihat Mario berdiri di depan pintu. Nadya baru sadar kalau ketua kelasnya itu ternyata tinggi juga, Nadya hanya setinggi pundak Mario saja.