
Hari itu hari terakhir pelajaran di sekolah. Minggu depan UAS I sudah dilaksanakan. Makanya satu sekolah saat itu lagi bersih-bersih kelas masing-masing. Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap kaca, membersihkan debu papan tulis, membuang kotoran di loker meja, de el el. Nadya dan Oppy lagi ngelap kaca bagian timur kelas. Mereka membersihkan kaca-kaca itu sampai mengkilat.
Nadya memergoki Odis lagi ngerokok di belakang kelas Nadya. Odis nggak sendirian, ia ngerokok bareng cowok-cowok nakal lainnya, misalnya Johan, Argo, Aldino, Beta, Aldhiyat, dan Tito. Wajah-wajah yang udah biasa jadi langganan Tatib. Nadya melempar lap yang ia gunakan untuk mengelap kaca tepat ke kepala Odis. Cowok itu awalnya marah dilempar begitu, tapi pas tahu yang ngelempar itu Nadya wajahnya berubah ceria.
“Hai, Beb!” kata Odis seraya menyembunyikan batang rokok di belakang tubuhnya.
“Bab beb bab beb! Sori ya! Aku nggak mau jadi bebebmu!” ujar Nadya jutek.
“Tumben Nad. Pengen ngomong sama aku, ya?” kata Odis pede.
“Iya.”
Odis yang kesenengan karena Nadya mau ngobrol sama dia langsung membuang rokoknya yang hampir kena seragamnya Johan. Johan ngomel-ngomel sepeninggal Odis. Odis berlari-lari kecil masuk ke dalam kelas Nadya yang lagi dipel sama Rani. Hampir aja anak itu keinjek Odis. Emang Odis serampangan aja kalo jalan. Lupa segalanya.
“Ehm.” Odis berdehem ria di samping Nadya yang berwajah jutek. Odis lalu menyerahkan lap Nadya yang tadi kena kepalanya dengan sopan. Nadya mengambil lapnya dari tangan Odis dengan kasar. Oppy yang ada di deket situ cuma senyum aja. Sementara Mario memperhatikan dari kejauhan Odis yang sedang nempel-nempel Nadya.
“Beberapa hari ini aku denger ada gosip kalo aku sama Mario pacaran. Kamu denger nggak?” kata Nadya sambil mengelap kaca.
“Ehm. Itu ya? Aku juga denger. Tapi aku nggak percaya kok Nad, sebelum aku denger langsung dari kamu.” kata Odis meyakinkan.
“Gara-gara itu aku dimusuhin sama Rani. Kamu mau nggak nolongin aku?”
“Oh, tentu dong. Minta tolong apa?” kata Odis antusias. Dia paling seneng kalo Nadya minta tolong sama Nadya. Dia jadi merasa berguna buat Nadya. Ceilah!
“Aku mau tahu siapa yang nyebarin gosip murahan kayak gitu. Aku minta sama kamu cari orang yang nyebarin gosip itu. Kalo udah tahu kasih tahu aku. Inget! Kasih tahu aku dulu, jangan ngelakuin hal gila!” kata Nadya serius. Odis iya-iya aja.
“Dan juga, kalo kamu ngerokok lagi aku bakal bilang ke Tatib biar kamu dikasih poin yang banyak dan dihukum lari keliling lapangan bola!” ancam Nadya pada cowok itu.
__ADS_1
“Siap, Nad!” kata Odis dengan sikap hormat pada Nadya. Cowok itu langsung ngibrit keluar kelas dan mendatangi temen-temen nakalnya di belakang kelas Nadya lagi. Kali ini Odis membuang semua rokok temen-temennya itu dengan paksa. Cowok-cowok itu lalu pergi dari tempat itu dengan kesal. Johan sempat memukul kepala Odis karena lemparan yang tadi.
***
Siang itu setelah bersih\-bersih kelas sebelum pulang sekolah, Odis mendatangi Dias, teman sebangku Mario. Niatnya sih mau tanya\-tanya tentang Mario. Tapi nampaknya Odis salah orang. Dias yang ditanya\-tanya nggak jelas oleh Odis nggak ngasih jawaban yang diperluin Odis. Mereka malah ngomongin masalah kemping yang sama\-sama jadi hobi mereka berdua.
“Pengennya sih ke Mahameru. Soalnya belum pernah ke sana.” kata Dias.
“Oh ya? Aku juga belum pernah ke sana. Kapan-kapan kita barengan aja kalo mau ke sana. Ya?” kata Odis semangat.
“Oke!”
Payah! Akhirnya Odis pulang tanpa membawa hasil. Di dalam kamarnya, Odis menghidupkan komputer dan membuka akun Facebooknya. Ia berencana chatting dengan anggota Ratoe Gembels yang lagi online hari itu. Ia mencurigai Ineke si tukang gosip itu yang menyebar rumor. Dan yeah! Rani Ratoe Gembels lagi online. Odis memulai percakapan dengan menanyakan kabar Rani. Basa-basi dulu gitu ceritanya.
Sampai pada pokok persoalan, Odis bertanya kepada Rani dari mana cewek itu pertama kali mendegar gosip itu. Rani bilang ia lupa, seingat dia sih dari geng barunya. Tapi info ini nggak begitu jelas. Satu hal yang membuat Odis masih yakin, kalau gosip itu kemungkinan yang menyebarkan adalah ketua Ratoe Gembels, Ineke. Tapi belum tentu dia yang pertama menyebarkan.
Tak lama kemudian sang ketua Ratoe Gembels online. Kali ini Odis to the point ke cewek itu, nggak pakai basa-basi lagi. Kelamaan katanya. Tapi jawaban Ineke justru mengecewakan. Dia malah curiga Odis lagi main detektif-detektifan. Dan tiba-tiba aja Ineke nggak online lagi. Odis frustrasi!
Sampai malam Odis online dan hanya berbaring di kasurnya. Terkadang mampir ke dapur ngambil camilan. Odis meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia lalu melirik buku pelajarannya di atas meja belajarnya. Buku-buku itu seakan memanggil Odis minta untuk dibaca. Tapi Odis cuek bebek! Odis jadi ingat Nadya lalu sekejap ia menelpon cewek itu.
Nadya : Halo? Udah malem jangan telpon-telpon. Besok aja, ya.
Odis : Kamu lagi belajar, Nad?
Nadya : Enggak. Jangan sok tahu gitu, ah!
Odis : UAS udah di depan mata, lho.
__ADS_1
Nadya : Trus? Emang aku kayak kamu? Yang belajarnya kalo mau UAS doang!
Odis : Jangan gitu dong! Jadi lagi nggak belajar nih?
Nadya : Enggak.
Odis : Kok gitu? Males, ya?
Nadya : Aku belajarnya udah kemaren-kemaren. Sekarang lagi nonton tivi.
Odis : Enak banget. Belajar bareng yuk Nad. Besok aku ke rumah kamu, ya?
Nadya : Ngapain? Mau ujian malah belajar! Sori, Dis. Harusnya kemaren-kemaren
kamu ngajak belajar bareng.
Odis : Yaah…
Nadya :Eh, udah ya. Filmnya udah mau mulai, nih.
Odis : Eh, tunggu Nad! Nad!
Tut. Tut. Tut.
Telepon diputus begitu saja oleh Nadya. Odis suntuk lagi. Ia lalu tertidur malam itu sambil memikirkan Nadya. Bisa-bisanya! Sedangkan Nadya dengan asyiknya nonton film di tivi, nggak tahu penderitaan Odis.
“Hahaha…Lucu. Lucu.” tawa Nadya yang lagi nonton film.
__ADS_1