
“Rani!” panggil Nadya pada sahabatnya Rani yang sedang duduk ngegosip dengan Ineke and the gank. Rani menoleh ke arah panggilan itu dan tersenyum sebentar. Rani lalu menghampiri Nadya yang sedang berdiri agak jauh dari kerumunannya.
“Ran, ke kantin yuk!” ajak Nadya pada sahabatnya itu.
“Nggak ah, Nad. Aku lagi diet.” sahut Rani dengan muka lempeng.
“Apa Ran? Kan udah aku bilang jangan diet-diet segala! Lagian Mario udah punya pacar, kan?”
“Iya.” kata Rani singkat. Hm. Nadya heran pada anak berkacamata itu. Masih saja naksir Mario yang baru dikenalnya.
Tiba-tiba Ineke menghampiri dua sahabat karib itu. “Rani, Nadya. Maaf yaa. Aku nggak bisa masukin kalian ke OSIS. Ternyata posisi itu udah ada yang ngisi. Garin dari kelas 1-6 ngajuin Oppy dan disetujui sama Pembina OSIS. Maaf yaa aku nggak bisa masukin kalian.” kata Ineke. Rani kelihatan kecewa berat, sementara Nadya lebih bisa menerima. Rani memang berambisi masuk OSIS. Tapi kalau dengan cara nepotisme seperti kata Nadya, dia juga ogah masuk OSIS.
“Iya nggak apa-apa kok, Ke. Iya, kan, Ran?” ujar Nadya.
“Iya. Tahun depan kita daftar lagi.”
Kriiiing!!!
Bell berbunyi. Tanda waktu istirahat telah selesai. Semua siswa masuk ke dalam kelaas untuk pelajaran berikutnya. Kelas 1-3 waktunya pelajaran bahasa Indonesia. Nadya duduk di kursinya dengan tenang. Dalam hati Nadya sebenarnya sedang menunggu Bu Ajeng, guru bahasa Indonesianya. Hari ini waktunya guru muda itu membagikan buku tugas anak-anak kelas 1-3. Pelajaran sebelumnya buku tugas dikumpulkan karena ada PR membuat puisi.
Nadya tidak sabar menunggu Bu Ajeng. Ia ingin segera melihat nilainya. Nilai-nilai itu sangat penting bagi Nadya. Karena itu, Nadya selalu berusaha yang terbaik di setiap tugas yang diberikan guru-gurunya. Tugas membuat puisi itu juga Nadya buat dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan nggak sembarangan memilih kata-kata, ia mengadopsi beberapa kata di kamus Bahasa Indonesia miliknya.
Bu Ajeng pun datang. Beliau memulai kelas dengan salam. Bu Ajeng mulai membagi buku tugas para siswa. Anak-anak yang sudah mendapat buku mereka dan mengetahui nilai mereka pun ribut membandingkan nilai mereka satu sama lain.
“Nadya.” panggil Bu Ajeng. Nadya berjalan maju mengambil bukunya. Kemudian kembali ke tempat duduknya. Nadya membuka bukunya dengan hati berdebar. Wuah! Nilainya sembilan puluh! Bu Ajeng nggak salah nilai? Menurut Nadya puisinya tidak sebagus itu sampai Bu Ajeng memberi nilai sembilan. Tapi Nadya senang, yang penting nilainya bagus, itu saja.
Rani secara tiba-tiba dari arah belakang tempat duduk Nadya mengambil buku Nadya dan berlari ke deretan tempat duduk Ineke and the gank. Rani membelalakkan kedua matanya melihat goresan tinta biru Bu Ajeng di buku Nadya. “Sembilan puluh! Lihat nih, puisi Nadya dapet sembilan puluh!” ujar Rani pada Ineke and the gank. Rani menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak-anak yang mendengarnya menoleh dan kagum pada Nadya.
Nadya merebut kembali bukunya dari Rani yang masih terbengong-bengong. Nadya memang senang nilai bagus, tapi paling tidak suka kalau ada yang membocorkan nilainya pada orang lain. Nadya duduk di kursinya dengan kesal kala itu. Rani dan Nadya memang sahabat, tapi kalau urusan sekolah keduanya adalah kompetitor.
Siang itu hujan turun dengan derasnya. Nadya memakai jaket pinknya dan diam di kursinya. Rani sedang ngegosip dengan Ineke and the gank. Mungkin lagi ngomongin Mario. Entah sejak kapan anak itu terpengaruh Miss Gossip satu itu. Ineke. Rani berkumpul dengan teman-teman ceweknya di sudut kelas. Nadya menikmati dingin siang itu sendirian di bangkunya.
__ADS_1
Johan dan Argo terlihat sedang menawarkan brownies mereka pada sekumpulan cewek itu.
“Aku nggak makan brownies. Lagi diet!” ujar Rani.
“Hush! Sembarangan aja! Emang brownies kita sumber lemak apa? Jangan ngomong gitu dong! Bikin dagangan kita nggak laku aja!” kata Johan sebel. Rani cuek aja. Johan dan Argo lalu menawarkan pada anak lain. “Nad. Kamu suka anime apa?” ujar seorang cowok yang tiba-tiba duduk di sebelah Nadya. Mario memandang cewek berjaket pink itu dengan penasaran. Nadya berpikir sebentar. Mario menunggu dengan senyum menghias di wajahnya.
“Banyak. Naruto, Tokyo Mew-mew, Cooking Master Boy, Corrector Yui, de el el. Kalo kamu?”
“Aku juga suka Naruto. Tokoh yang kamu suka siapa di Naruto?”
“Hinata.”
“Kenapa Hinata?”
“Soalnya Hinata itu suka Naruto trus rambutnya itu bagus.” ujar Nadya sambil menyentuh poninya.
“Ooh. Makanya nama Facebook kamu Nadya Hyuga. Trus rambut kamu juga mirip Hinata Hyuga.”
“Iya, beneran.”
“Kalau kamu suka siapa, Rio?”
“Aku… suka… Hm… kayaknya aku juga suka Hinata. Hehe” Nadya dan Mario berbincang-bincang tentang anime sampai hujan reda memaksa mereka pulang. Nadya kini tahu Mario sangat suka anime dan game online. Nadya juga tahu kalau cowok berkacamata itu sangat suka belajar sama seperti dirinya. Sedangkan Mario juga tahu kalau Nadya punya hobi yang sama dengannya, yaitu mengoleksi komik khususnya komik Detektif Conan.
Hari itu Rani dan Nadya tidak pulang bersama. Rani berencana pulang bersama Dea, Lisivia, Ineke, dan Anjuna. Jadi Nadya harus jalan sendirian hari itu. “Nad, aku mau ke rumah Ineke hari ini.” begitu kata Rani pada Nadya sebelum pulang. Nadya oke-oke saja pulang sendirian.
Rani, Dea, Lisivia, Ineke, dan Anjuna berada di rumah Lisivia hari itu. Rani berbohong pada Nadya saat bilang mau ke rumah Ineke. Ia sengaja supaya Nadya tidak ikut. Ia tahu Nadya paling alergi pada Ineke karena Ineke tukang gosip. Selain itu, Nadya tidak suka pada Ineke karena Ineke pernah membully sahabat Nadya waktu es em pe.
“Masak sih dia nggak suka aku karena itu?” ujar Ineke terkaget-kaget mendengar ucapan Rani. Rani mengamini ucapan Ineke. Ineke kesal sekali saat itu.
“Yaa. Habis Ilma itu anaknya lugu banget tau nggak. Dia itu grogian kalo disuruh maju ke depan kelas. Ya aku mana tahan mau godain dia. Belum lagi tahu-tahu ultah dia sama kayak ultahku, tanggal sebelas Mei. Enak aja nyama-nyamain tanggal lahir.” Cewek-cewek di dalam kamar Lisivia tertawa mendengar omelan Ineke.
__ADS_1
“Eh, trus Mario itu ganteng banget nggak sih? Tinggi pula? Alamak! Jatuh pingsan aku kalau lihat anak itu.” ucap Anjuna. Anak-anak yang lain menyorakinya.
“Menurut kamu gimana, De?” tanya Anjuna pada Dea. Dea kan tetangga Mario. Jadi Dea pasti tahu segalanya tentang Mario.
“Biasah aja.”
“Huu…” sorak anak-anak.
“Ya iya dong. Kami kan tetangga dari lahir. Dari te ka, es de, es em pe sampe sekarang es em a barengan terus. Apa nggak bosen lihat batang hidungnya?” ujar Dea serius.
“Kalau Bang Mario sih, aku tahan lihat batang hidungnya walau sampe berabad-abad.” ujar Rani sambil mulai membayangkan Mario.
“Yee… Dasar!” kata anak-anak menyoraki Rani.
“Eh, tapi. Aku kesel sama Nadya.” ucap Ineke tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rani.
“Kenapa?” tanya Rani.
“Kalian lihat nggak sih tadi pas jam terakhir. Mario sama Nadya duduk sebelahan gitu.” ujar Ineke cemburu.
“Iya aku tahu. Sambil ketawa-ketiwi gitu kan? Ih, genit banget!” ujar Lisivia kesal.
“Mereka kan cuma ngobrol.” Rani membela.
“Ihh! Tapi tatapannya itu lain, Ran!” ujar Ineke ngotot.
“Tatapan siapa, Ke?” tanya Dea penasaran.
“Tatapan Mario.”
“Kalau Nadya?” tanya Anjuna polos.
__ADS_1
“Tatapan genit!” sahut Lisivia. Ih! Anak-anak mulai curiga kalau Nadya coba mendekati Mario.Mereka pun mulai menggosipkan Nadya. Dari yang jelek sampai yang paling jelek. Rani tak tahan sahabatnya digosipkan begitu. Ia membela sahabatnya yang ia tahu nggak pernah mikirin soal cowok. Kerjaannya ya belajar aja.