High School Incident

High School Incident
Isu-isu di Sekolah - 2


__ADS_3

Hari itu para murid tampak sibuk dengan bukunya. Iya dong! Bentar lagi bakal ada ujian tengah semester. Murid-murid yang kerjaannya jajan di kantin atau nongkrong-nongkrong di belakang kelas udah agak berkurang. Kebanyakan mereka ada di dalam kelas baca buku, latihan soal, atau kalo enggak mendadak rajin ke perpustakaan. Walau sebenernya nggak baca atau pinjam buku, tapi ngecengin Mas Sri penjaga perpustakaan.


Seperti hari-hari biasanya, Nadya emang selalu getol dengan bukunya. Hal itu menulari sahabatnya, Rani. Cewek gendut itu sekarang jadi rajin belajar. Rupanya bukan karena ketularan Nadya semata, tapi gara-gara Mario bilang kalo dia suka cewek yang rajin belajar. Bukan hanya Rani yang ketularan virus belajar, Oppy cewek yang dulu suka bolos juga sekarang bawaannya belajar terus.


Siang itu di sekolah ketua kelas 1-3 membawa berita dari kantor kepala sekolah bahwa mereka akan menjalani tes hari itu di sekolah. Bukan tes ujian ataupun tes keperawanan seperti yang lagi terkenal belakangan ini, melainkan tes kesehatan. Rani awalnya mengira akan ada tes keperawanan juga, tapi Mario bilang nggak ada.


Siang itu setelah jam istirahat selesai, kelas 1-3 berbaris rapi di depan UKS. Satu persatu siswa diperiksa tekanan darah, tes mata, tes pendengaran, dan tes golongan darah. Nadya mendapati kalau tekanan darahnya rendah, pantesan Nadya sering merasa pusing. kalau tes mata jelas Nadya bermasalah. Dia kan minus empat kedua matanya. Kalau tes pendengaran dan buta warna sih nggak ada masalah.


“Nad, golongan darahmu apa?” tanya Mario seusai mendapatkan hasil tes golongan darahnya.


“A.”


“Sama dong. Aku juga A.” kata Mario riang. Nadya diam aja. Rani lalu menghampiri dua orang itu dan melihat hasil tes golongan darah Mario.


“Wah. Mario sama Nadya sama-sama golongan darah A, ya. Kalo aku O. Kalo gitu kalian nggak boleh dekat-dekat dong.” kata Rani.


“Kenapa?” Mario kaget.


“Soalnya orang yang golongan darahnya sama kan gampang penularan penyakitnya.” ujar Rani polos. Mario hampir aja kena serangan jantung karena omongan Rani kalo dia nggak boleh deket-deket sama Nadya.


“Rambut baru, ya?” kata Billy pada Rani.


“Iya. Kenapa? Cantik, ya?” kata Rani sewot.


“Enggak blas!” kata Billy judes lalu pergi dari sana. Kedua cewek berkacamata pun masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


Sepulang sekolah Nadya dan Rani jalan bareng dan mampir sebentar di sebuah warung jus. Rani pengen beli jus alpukat dan beberapa kue. Sedangkan Nadya aslinya nggak pengen makan atau minum, dia pengen pulang. Tapi begitu lihat Rani dengan enaknya makan, Nadya jadi pengen juga. Nadya memesan jus alpukat dan kue yang sama dengan Rani.


“Kayaknya kamu tadi di sekolah udah abis kripiknya Fabi sama browniesnya Johan. Masih laper, ya?” tanya Nadya polos.


Rani menghentikan makannya dan berwajah masam. Ia seperti menyesali telah makan banyak hari ini. Nadya yang merasa kelepasan ngomong jadi ketawa aja.


“Sori, Ran. Aku nggak bermaksud ngingetin kamu, kok. Makan aja. Kan masa pertumbuhan.” rayu Nadya. Rani lalu melanjutkan makannya tapi tetap berwajah masam.


Segerombolan anak berseragam abu-abu menghentikan motor mereka di depan warung itu. Segerombolan cowok itu tentu saja Nadya tahu asal sekolah mereka, dari mana lagi anak dengan seragam sebagus itu kalo bukan dari SMAN 1 Batu. Segerombolan cowok itu lalu mengambil duduk di sudut warung dan memesan beberapa makanan dan minuman.


Salah satu dari mereka lalu melihat dua cowok dari sekolah Nadya yang duduk di belakang Nadya dan Rani. Cowok itu memandang dengan tidak suka. Ia lalu seperti memberitahu teman-temannya sehingga segerombolan cowok itu menoleh semua ke arah dua cowok di belakang Nadya. Kedua cowok yang dilihat nggak tahu kalau lagi diliatin. Mereka nyantai-nyantai aja.


“Ran, pulang yuk. Nanti keburu ada yang tawuran.” ajak Nadya pada Rani yang ikut merasakan pandangan nggak enak gerombolan anak-anak SMAN 1 itu. Cowok yang duduk di belakang Nadya menoleh ke belakang, ternyata itu Odis.


“Siapa yang tawuran, Nad?” kata Odis mengagetkan Nadya.


“Kamu masih nggak mau ikut pelajaran olahraga, Nad?” kata Odis tiba-tiba ketika mereka berempat berjalan bersama.


“Kamu tau dari mana?” kata Rani menimpali.


“Tau dong.”


“Bukan urusan kamu.” ujar Nadya sewot. Nadya jadi bete kalau ada yang ngomongin dia nggak suka olahraga. Tapi dia memang nggak mau ikut pelajaran olahraga di sekolah.


“Pramuka Nesaba katanya butuh pengajar, lho.” kata Odis lagi. Nadya udah nggak sabar lagi. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan ketiga temannya di belakang. Rani menyusul Nadya dan berjalan berdua.

__ADS_1


“Kamu ditawarin jadi pengajar Pramuka di Nesaba?” tanya Rani dengan polosnya. Nesaba itu es em pe Nadya dulu, namanya sebenernya SMPN 1 Batu disingkat Nesaba (Negeri satu Batu).


“Males, Ran.” kata Nadya sambil terus berjalan.


“Kenapa? Kamu masih trauma sama Bu Raya itu?” tanya Rani lagi. Nadya diem aja.


“Katanya dia udah nggak ngajar lagi kok di sana. Katanya nih ya, dia diprotes siswa soalnya terlalu keras ngajarnya.”


“Terlalu keras? Bukannya dia itu emang kolot?” kata Nadya. Rani melanjutkan ceritanya sampai mereka berpisah di persimpangan jalan. Sesampainya di rumah, Nadya langsung rebahan di kasurnya. Cewek itu teringat masa es em pe nya dulu.


Flashback.


Waktu itu Nadya termasuk siswa terpintar di es em pe nya. Nadya juga aktif di OSIS, PMR, dan Pramuka. Waktu itu pengajar Pramuka namanya Bu Raya. Bu Raya juga seorang guru olahraga. Ibu guru yang satu itu sangat disiplin dan kolot, menurut Nadya. Walaupun begitu Nadya juga berprestaasi di Pramuka dan Bu Raya tahu betul tentang Nadya.


Sewaktu akan diadakan perkemahan di sebuah daerah di Jawa Barat, Pramuka Nesaba turut diundang untuk berpartisipasi. Nadya yang udah jadi Penggalang Ramu pengen ikut, tapi sama Bu Raya nggak diijinin. Malah Nadya disuruh keluar dari Pramuka dengan alasan yang nggak jelas. Usut punya usut ternyata itu karena anak Bu Raya, Putik, yang baru aja ikut Pramuka tiba-tiba pengen ikut. Sementara peserta dibatasi atas permintaan Bu Raya sendiri. Bilangnya sih masalah akomodasi yang perlu biaya besar.


Tentu saja antara Nadya dan Putik anaknya sendiri, Bu Raya milih anaknya sendiri. Belum lagi beliau emang nggak suka sama Nadya yang kelihatan paling menonjol diantara yang lain. Nadya yang emang pinter dan aktif termasuk kebanggaan kepala sekolah waktu itu. Pantes Bu Raya jadi cemburu, jadilah Nadya waktu itu langsung keluar dari Pramuka. Sejak saat itu Nadya kapok kalau mau ikut olahraga atau Pramuka. Untungnya di sekolah Nadya yang sekarang nggak ada kegiatan Pramuka. Dia takut banyak yang cemburu sama kemampuannya. Ceilah, Nad!


Tapi Bu Raya udah nggak ngajar lagi di sana sekarang. Mungkin kepala sekolah Nesaba masih ingat sama Nadya yang pinter, jadi Nadya pengen dijadiin pengajar di sana. Tapi Nadya udah nggak mau lagi ikut yang begituan. Dia kini lebih seneng di depan meja belajar. Lebih adem katanya.


Beberapa hari terakhir ada gosip di sekolah tentang olok-olokan siswa SMAN 1 Batu (Smaba) terhadap SMAN 2 Batu (Audams). Denger-denger katanya anak-anak Smaba nulis kata-kata ejekan di Facebook yang menyindir Audams. Beberapa kata yang ditangkap oleh Nadya antara lain kata-kata yang menghina Audams sebagai sekolah kampungan yang letaknya di tengah-tengah sawah, ada juga yang mengejek para siswa Audams yang kebanyakan adalah Wanita Tuna Susila, yang lain sih katanya Audams itu sekolahnya anak-anak buangan alias yang nggak keterima di sekolah manapun pasti keterima di Audams.


Kalau dikatain sekolah kampungan karena letaknya di tengah-tengah sawah sih buat Nadya nggak masalah, tapi kalau menyangkut para siswa buangan sama ejekan yang bilang kalau para siswanya nggak bermoral sih udah keterlaluan. Meski rumornya begitu kuat, Nadya nggak begitu aja percaya. Nadya mencari tahu kebenarannya sendiri dengan membuka akun Facebook siswa Smaba yang katanya menghina itu.


Sret. Sret.

__ADS_1


Nadya menurunkan halaman akun Facebook yang dimaksud. Benar sih, banyak kata-kata makiannya. Nadya geram serndiri membaca tulisan-tulisan nggak terpelajar itu. Saking keselnya Nadya, cewek itu hampir aja komen di status-status nggak jelas itu. Untung dia ingat kalau kejahatan itu nggak perlu dibalas kejahatan. Kalau Nadya ikut komen yang jelek-jelek berarti sama aja Nadya sama anak-anak yang buat status nggak bermoral itu. Akhirnya Nadya menutup Facebook itu dan termenung memikirkannya.


Sekolah yang bagus ternyata nggak menjamin siswanya bagus-bagus juga. Sekolah yang dianggap Nadya lebih favorit dari sekolahnya sendiri, ternyata punya siswa yang suka ngomong nggak terpelajar. Celoteh-celoteh di media sosial yang ditulis anak Smaba itu bener-bener nggak mencerminkan omongan dari seorang pelajar!


__ADS_2