
“Eh, iya. Tahu kok. Nadya.” Keduanya bersalaman sebentar. Lalu Mario segera membuka-buka halaman bukunya. Dia terlihat serius tapi santai. Kadang-kadang terlihat mengingat-ingat sesuatu lalu menulis. Ternyata dia sedang mengerjakan soal-soal matematika. Wow! Cowok pintar. Pikir Nadya. Nadya yang sadar telah memperhatikan cowok disebelahnya itu segera sadar dan mengambil sebuah buku dari tasnya. Sejenak Nadya tenggelam dalam soal-soal matematika yang mengasyikkan.
“Eh, eh. Soal yang ini tahu nggak caranya?” tanya Mario tiba-tiba pada Nadya. Nadya setengah kaget, lalu membaca sebentar soal itu. Nadya yang merasa tahu caranya menjelaskannya pada Mario. Mario diam sambil manggut-manggut sesekali. Setelah akhirnya paham, Mario melanjutkan mengerjakan sendiri. Nadya kagum kepada cowok sipit itu, ternyata masih ada cowok yang suka belajar.
Pembina ekskul hari itu adalah guru matematika mereka sendiri. Namanya Bu Wiwik. Orangnya sabar banget. Kalau ngomong suaranya pelan dan lembut. Saat pertama kali masuk ke ruangan Bu Wiwik mengucapkan salam sambil tersenyum sangat ramah pada siswa-siswanya. Nadya menjadi sangat senang kalau guru matematikanya seperti ini. Tidak seperti saat ia es em pe dulu. Sudah pelajaran matematika sulitnya minta ampun, gurunya galak lagi. Nadya jadi nggak tahan kalau sudah waktunya jam pelajaran matematika, maunya cepat-cepat selesai. Akhirnya sepanjang pelajaran berlangsung Nadya terus berdoa. “Tuhan, cepat akhiri penderitaanku ini yaa Tuhan. Gurunya galak, Tuhan. Aamiin.” dan akhirnya nggak konsentrasi ke pelajaran. Tapi Nadya tetep pinter-pinter aja.
Bu Wiwik sedang menerangkan tentang materi barisan dan deret siang itu. Beliau menulis di papan tulis barisan angka-angka. Nadya sedang konsentrasi belajar saat Mario mencolek pundaknya. Nadya ingin menoleh tapi ia melihat dulu ke arah Bu Wiwik, beliau sedang melihat tulisan anak-anak lain lalu berbicara dengan mereka. Nadya menoleh ke sampingnya.
“Apa?”
“Kamu pasti tahu kan Bu Wiwik dari mana?”
“Dari cara ngomongnya sih kayaknya dia dari Solo.”
“Salah, ah!”
“Jadi, kamu tahu? Emang dari mana?”
“Tuh dari balik papan” ujar Mario jahil. Nadya menahan senyumnya sambil meneruskan menulis. Mario tidak tahan melihat Nadya **** senyum begitu.
“Kalo mau ketawa, ketawa aja. Jangan ditahan-tahan. Nanti malah kentut!”
“Hahaha… Apaan sih! Udah diem! Ngelawak ya?” Nadya melepas tawanya, tapi nggak keras-keras. Takut mengganggu seisi ruangan. Mario ikut tersenyum.
Sepulang ekskul Mario dan Nadya berjalan beriringan. Mereka masih menertawakan lelucon di perpustakaan tadi.
“Rumah kamu di mana Nad?” tanya Mario tiba-tiba.
“Kenapa? Mau nganter aku pulang?” goda Nadya.
“Nggak ah. Cuma nanya aja. Ge er banget sih”
“Oh, gitu.” Nadya tersenyum.
“Jadi rumah orang tua kamu di mana?” lanjut Mario.
“Emang mau ngapain sih?”
“Nggak dijawab lagi! Kalo gitu rumah kakak kamu di mana?”
“Nggak punya kakak, nggak punya adik. Anak tunggal!”
“Oh. Emm… Rumah pacar kamu di mana?”
“Nggak punya pacar!”
“Oh, jadi masih jomblo, ya?” Mario menghentikan langkahnya sambil tersenyum kepada Nadya.
“Masih?”
__ADS_1
“Lho? Emang nggak ada keinginan buat punya pacar?” ujar Mario pura-pura kaget.
“Yee… Mau nanya punya pacar apa nggak aja pake muter-muter segala. Kalo mau ngomong ya ngomong aja. Jangan ditahan-tahan, ntar kentut lho!”
“Lha? Balas dendam nih? Enggak kok, Cuma nanya aja.” Mario melanjutkan langkahnya sambil tersenyum pada Nadya. Nadya ikut tersenyum ragu.
“Beneran deh.” Mario dan Nadya lalu menuju ke parkiran sekolah. Di sana mereka berpisah. Sebelum berpisah Mario ngotot menanyakan di mana rumah Nadya. Nadya tertawa geli.
“Kapan-kapan aku kasih tahu ya, Mario. Bye!”
Cuaca siang itu cerah. Secerah harapan di hati Mario kepada Nadya. Cewek mungil itu lucu. Pikir Mario. Gayanya cuek, pintar, cute, pendiam, sekaligus polos. Mario tidak sabar ingin segera mengenal lebih dekat teman barunya itu. Sedangkan Nadya? Biasa aja.
“Nad, ketua kelas kita ternyata ganteng banget, ya?” ujar Rani ketika Nadya sedang belajar dengan serius. Nadya konsen ke bukunya, nggak dengerin ocehan Rani sedikitpun. Rani cemberut.
“Nad!” Rani memukul punggung Nadya. Nadya jadi sangat kaget. Usil banget anak ini, batin Nadya.
“Apa sih, Ran? Ngoceh aja!”
“Nad, kayaknya aku naksir sama ketua kelas kita, Nad!” Rani mulai merajuk pada Nadya. Nadya pun nggak konsen lagi belajar. Ia mulai mendengarkan curhatan temannya itu dengan terpaksa.
“Ketua kelas yang mana, Ran?”
“Ya ampun! Kamu gimana sih, Nad? Masa sama ketua kelas sendiri nggak tahu?” Rani geregetan dengan cewek mungil itu. Lalu mulai mengacak-acak rambut Nadya. Nadya diam, otaknya masih memproses rumus aljabar.
“Waktu pemilihan ketua kelas kayaknya aku milih Zefi, Ran.”
“Ketua kelas kita, Nad! Mario!” ucap Rani serius.
“Kalo anak itu sih aku tahu, Ran!”
“Jadi menurut kamu gimana?” tanya Rani antusias banget.
“Nggak gimana-gimana, orang aku baru kenal tadi siang, kok!” jawab Nadya cuek. Ia mulai menulis-nulis lagi di bukunya.
“Tapi dia ganteeeng banget kan, Nad?” kata Rani dengan wajah tersipu-sipu. Nadya super sibuk dengan rumus matematikanya, tidak menghiraukan Rani yang hatinya dipenuhi bunga-bunga bermekaran.
“Ganteng?”
“Iya. Wuah! Kalo punya pacar seganteng dia pasti seneng banget yaa?” Rani mulai berandai-andai.
“Masa sih? Biasa aja!”
“Hee… Makanya kamu nggak punya pacar sampe sekarang, Nad. Kamu orangnya cuek bebek sih!”
“Aku cuek? Nggak kok. Aku emang suka belajar aja, jadi nggak mikirin yang begituan. Nggak penting!”
“Terserah deh, Nad.” Rani mulai putus asa ngomong sama tembok satu ini.
“Nad, Mama udah daftarin kamu di kelas masak! Ayo, Nad cepet berangkat! Jangan sampe telat!” kata mama Nadya membangunkan Nadya yang masih berselimut jam enam pagi hari Minggu itu.
__ADS_1
Nadya menyibakkan selimutnya. Ia bangun dari kasurnya dengan lesu lalu mandi dengan malas. Setelah selesai mandi ia mengenakan skinny jeans dan t-shirt gombrongnya. Nadya lalu memakai sepatu boot, kacamata, lalu menyisir rambut bobnya. Cewek mungil itu berjalan ke arah dapur. Mamanya sedang sarapan sambil menonton tivi.
“Kok nonton spongebob sih, Ma?” ucap Nadya ketika tahu mamanya sedang menonton film kartun di tivi.
“Emang kenapa, Nad? Daripada kamu nontonnya Shinchan aja dari dulu.”
“Enggak, aku sekarang nonton Naruto.” kata Nadya sambil melahap sarapan paginya itu, sop ayam.
“Wah! Perkembangan!”
“Mama jangan nonton film kartun, ah! Kayak anak kecil aja!”
“Film kartun yang ini lain, Nad. Kamu bisa mencontoh Spongebob ini, Nad. Daripada Shinchan.”
“Masa?”
“Iya! Liat tuh, anak muda yang bersemangat tiap berangkat kerja! Dia juga selalu ceria. Kamu mukanya cemberut terus, bibirnya bentuk huruf U kebalik. Ckckck!”
Nadya cuek aja dibilang gitu sama Mamanya. Dia sudah selesai sarapan dan pamit mau pergi ke kelas masak. Terpaksa! Gara-gara mamanya pengen Nadya udah bisa masak nanti kalo udah nikah. Masak anak cewek belajar mulu kerjaannya. Sama buku terus tiap hari. Apa kata dunia kalo jadi istri nanti nggak bisa masakin suaminya!
Emang yang paling bingung malah mama Nadya. Nadya sih lempeng-lempeng aja. Dia malah bilang nanti mau cari suami chef biar tiap hari dimasakin. Trus Nadya yang kerja cari uang. Mamanya ngomel waktu Nadya bilang begitu. Iyalah! Nadya bilang begitu bukan karena dia pengen kerja dan bisa belajar terus, tapi karena dia malas orangnya.
Nadya memasuki sebuah ruangan yang terang seperti studio. Di sana sudah banyak orang berdiri di tiap-tiap meja. Mereka telah memakai celemek dan penutup kepala berwarna warni. Nadya heran, dia didaftarkan apa sebenarnya oleh mamanya. Dia kan cuma pengen bisa masak aja, bukannya jadi koki beneran! Seseorang memanggil Nadya dari kejauhan. Nadya seperti mengenal wajah itu. Wajah yang seperti porselen dengan senyum yang tidak biasa ia lihat sehari-hari.
“Billy! Kamu kursus di sini juga?” tanya Nadya heran. Cowok seganteng ini aja masak! Kalo mama Nadya tahu, Nadya bakal diledek habis-habisan! Masak kalah sama cowok!
“Iya, Nad. Nih pake celemeknya, Nad!” kata Billy sambil menyodorkan celemek untuk Nadya. Billy juga membantu memakaikan penutup kepala kepada Nadya. Nadya jadi agak kikuk diperlakukan begitu.
Pelajaran memasak hari itu masih sederhana saja. Pertama-tama mengetahui alat-alat dapur dan kegunaannya, lalu tips keamanan di dapur selama memasak. Sekarang Nadya sedang belajar mengupas mentimun. Ia mengupas tebal-tebal sekali. Billy yang memperhatikannya jadi tertawa.
Billy kemudian bercerita bahwa ia ikut kelas memasak karena mamanya sibuk kerja. Sementara Billy mempunyai dua adik yang masih kecil-kecil. Mamanya tidak sempat memasak kalau sudah berangkat pagi sekali untuk bekerja. Karena itu Billy yang akan memasak untuk mama dan adik-adiknya. Nadya terharu mendengar pengakuan cowok manis itu.
Nadya dan Billy lalu ngobrol dengan asyik sambil mengupas kulit mentimun. Sesekali Billy tertawa karena Nadya kebablasan mengupasnya, sampai timun-timun itu terpotong. Nadya malah terpesona karena Billy rapi sekali kalau mengupas. Ia malu pada dirinya sendiri karena terlalu tomboy menjadi cewek.
***
Nadya sedang ada di aula sekolah. Cewek itu sedang mengikuti seminar tentang cara pembuatan film dokumenter. Ia tidak sendirian, ia ditemani Garin, Fifi, Ryan, dan Rosi yang juga ikut mewakili siswa kelas satu. Memang kebanyakan yang mengikuti seminar itu adalah kakak kelas Nadya yang mengikuti ekskul broadcasting. Nadya juga sebenernya penasaran aja ikut seminar begini, daripada dia ikut ajakan Rani tadi sepulang sekolah main ke rumah Ineke.
Tapi akhirnya setelah ikut seminar sampai selesai, Nadya malah pengen buat film dokumenter juga. Ia, Garin, Rosi, dan Ryan berencana akan membuat sebuah film dokumenter. Siang itu mereka berempat mendaftarkan tim mereka untuk ikut lomba film dokumenter, yang diselenggarakan oleh salah satu universitas swasta di Kota Malang. Mereka juga mulai membagi tugas masing-masing. Nadya sebagai penulis naskah cerita, Garin sebagai sutradara, Rosi sebagai pemain sekaligus mencari pemain yang cocok untuk film mereka, dan Ryan sebagai kameramen.
Nadya mulai menyusun naskah cerita di dalam kamarnya. Ia ingin membuat cerita tentang kehidupan sekolah seorang tokoh. Setelah naskah cerita selesai, Nadya mencari judul yang tepat untuk filmnya. Pelangi. Ya! Judul film ini adalah Pelangi. Seperti kehidupan anak sekolah yang mengalami masa-masa indah ataupun suram, berbagai peristiwa yang dialami anak sekolah dijadikan sebuah judul pelangi.
Nadya lalu mengirim naskah ceritanya kepada sang sutradara, Garin melalui e-mail. Keesokan harinya Garin yang begitu bersemangat ingin membuat film memutuskan mulai minggu ini mereka akan syuting di alun-alun Kota Batu. Rosi pun juga sudah mendapatkan beberapa anak yang mau berperan dalam film itu. Garin juga senang dengan naskah yang dibuat Nadya. Kata Garin bagus dan pasti menang kalau dibuat film.
Hari Minggu.
Beberapa anak sudah berkumpul di sekitar area air mancur alun-alun Kota Batu. Mereka adalah rombongan anak SMAN 2 Batu yang akan membuat film mereka dengan latar belakang kota wisata itu. Garin tampak berbincang-bincang dengan seorang wartawan yang ingin tahu kegiatannya. Nadya terlihat belum hadir saat itu.
Beberapa menit kemudian Nadya datang dengan tergopoh-gopoh. Garin pun memulai syuting pertama mereka pagi itu dengan semangat ’45. Berbagai adegan dilakoni para pemain. Sekali-kali Garin mengarahkan pemain agar berakting sesuai perintahnya. Hari itu selain alun-alun Kota Batu mereka juga mengambil gambar di Museum Satwa. Syuting selesai pukul lima sore.
__ADS_1
Nadya kecapekan mengikuti syuting seharian. Ia tidur di kasurnya tanpa melepas kacamata dan tasnya. Hari yang panjang dan melelahkan…