
Jam dua siang.
Sudah empat jam Nadya dan para peserta lain menunggu pengumuman hasil olimpiade, tapi pihak panitia masih belum kelihatan batang hidungnya. Suntuk sekali menunggu selama ini. Nadya hanya bisa duduk dengan Kak Radit menunggu pengumuman. Peserta lain juga nampaknya sudah lelah menunggu. Seorang cewek berambut ikal yang duduk di sebelah Kak Radit dari tadi kerjaannya mainan hapenya. Smsan, teleponan, kalo nggak ya main game.
“Aduh! Baterenya abis.” seru cewek berambut ikal itu. Nadya menoleh padanya, cewek itu juga ikut menoleh pada Nadya. Keduanya saling tersenyum lalu berkenalan.
“Kenapa? Hape kamu mati, ya?”
“Iya. Habis dari tadi aku pake terus sih. Eh, kenalan dulu, dong. Nama aku Bela dari SMAN 3 Malang. Kamu?” kata cewek berambut ikal itu yang ternyata bernama Bela sambil menyodorkan tangannya pada Nadya.
“Aku Nadya dari SMAN 2 Batu. Ini Kak Radit, kakak kelasku.” Nadya menjabat tangan halus Bela dengan lembut. Cewek bernama Bela ternyata sangat supel. Ia langsung berkenalan dengan Kak Radit dan mengobrol bertiga.
“Rumah Nadya dimana?” tanya cewek berparas cantik itu.
“Eh, rumahku di Batu. Deket kok sama sekolah.”
“Boleh tukeran nomer hape nggak?”
“Boleh.” Keduanya lalu saling mencatat nomor hape masing-masing.
“Aku dulu pernah lho mau daftar ke es em a kamu.” cecar Nadya di tengah obrolan asyik siang itu.
“Oh, ya? Trus kenapa nggak jadi?”
“Iya, soalnya nilai ujian nasionalku yang paling rendah dari pendaftar lain. Hehe”
“Oh gitu. Emang kenapa kamu pengen sekolah di sana?”
__ADS_1
“Yaa sekolah kamu itu kan udah bertaraf internasional, kan terkenal se-Malang sekolah bagus. Yang bisa masuk ke sana cuma yang nilainya hampir sempurna sampe sempurna.”
“Emang sekolah kamu yang sekarang nggak bagus?”
Nadya menggeleng sambil tersenyum malu.
“Oh gitu. Tapi menurut aku semua sekolah sama aja.”
“Kok gitu?”
“Iya. Sekolah kan tempat menimba ilmu. Fungsi sekolah untuk mencerdaskan siapa saja yang masuk ke sana. Kalo semua sekolah cuma nerima murid yang pinter, siapa yang bakal ngejadiin pinter anak-anak yang belum pinter? Jadi menurutku sekolah kamu juga bagus, malah lebih bagus dari sekolahku. Soalnya mau mendidik murid yang nilainya nggak hampir sempurna sampai menjurus sempurna, biar nanti bisa jadi murid yang lulus dengan nilai hampir sempurna sampai menjurus sempurna.”
“Wuah! Kamu bijak banget. Seneng banget kenal sama kamu, Bela.” Nadya terkagum-kagum sama cewek cantik satu itu. Kak Radit yang dari tadi mendengar obrolan dua cewek itu juga kagum sama Bela. Cewek cantik itu cuma senyum-senyum aja, pipinya yang chubby memperlihatkan lesung pipi yang cantik menghias wajahnya yang cantik juga.
Jam dua lebih seperempat.
Apa-apaan itu? Nadya menutup matanya malu. Ia sedih, kecewa berat! Masa skor sampai minus gitu? Malu banget rasanya. Tapi Nadya ingat saat ia mengerjakan soal olimpiade tadi pagi. Memang banyak yang ia nggak bisa. Malah sebagian besar ia ngawur jawabnya. Asal pilih option. Malah dia pake cap cip cup kembang kuncup milihnya. Yaelah!
Yaudahlah! Apa yang harus disesali. Nadya malah tertawa kalau ingat itu. Ia merasa lucu sekali dirinya yang mengerjakan dengan cap cip cup, padahal anak-anak yang lain mungkin lebih memilih tidak menjawab soal daripada nilai mereka minus. Tapi walaupun begitu, ternyata bukan Nadya satu-satunya anak yang skornya minus, sebagian besar peserta nilainya juga minus.
“Kak Radit, gimana?” tanya Nadya saat Kak Radit sedang ngobrol bersama Bela di depan ruangan sebelah.
“Tewas, Nad. Kamu gimana?”
“Sama.” kata Nadya dengan wajah datar yang lucu. Keduanya lalu saling menertawakan diri mereka sendiri.
“Bela gimana?”
__ADS_1
“Nggak usah ditanya, Nad. Dia pinter banget. Skornya yang paling banyak. Dia juara satu, Nad.” ujar Kak Radit sambil melirik cewek cantik itu. Bela hanya tersenyum malu. Ia merasa tidak begitu hebat sampai dipuji begitu. Nadya lalu memberi ucapan selamat pada teman barunya itu.
“Oh, iya. Nad, aku boleh pinjem hape kamu nggak? Aku mau minta jemput kakakku, tapi hapeku mati.” kata Bela dengan bibir ditekuk ke bawah dan menunjukkan hapenya yang mati.
“Innalillahi wa innailaihirojiun. Iya aku sampe lupa, Bel. Turut berduka atas matinya hape kamu, ya?” kata Nadya yang disambut tawa Kak Radit dan Bela. Nadya lalu meminjamkan hapenya kepada Bela.
“Makasih ya, Nad. Kapan-kapan kita main bareng, yaa.” ujar Bela setelah selesai menelepon dengan hape Nadya.
“Oke, sama-sama, Bel. Telepon aku ya kalo nggak sibuk.”
Nadya juga sebenernya pengen dijemput juga sama mamanya. Tapi mamanya bilang kalo salon lagi rame nggak bisa ditinggal. Nadya pun minta bareng anterin Kak Radit buat pulang.
“Duh, ntar kalo Mario liat aku bonceng kamu kan gawat, Nad!” kata Kak Radit menggoda Nadya. Nadya memasang muka cemberutnya. Orang dia nggak ada hubungan apa-apa sama Mario kok.
Sampai di rumah Nadya langsung mandi dan rebahan di kasurnya. Mama Nadya masuk ke kamar Nadya sambil membawa sepiring semangka. Mama Nadya langsung bertanya tentang hasil olimpiadenya. Nadya lesu ingin menceritakannya, ia takut mamanya kecewa.
“Tewas!”
“Wow!” balas mama Nadya sambil tertawa. Nadya membenamkan wajahnya malu.
“Nggak apa-apa, Nad. Kan baru pertama kali ikut. Wajar kalo gagal. Semangat! Fighting!” ujar mama Nadya menyemangati.
“Beneran, Ma?”
“Iya.”
Nadya langsung senang mamanya nggak kecewa. Ia langsung mencomot semangka yang dibawa mamanya. Ia lalu bercerita tentang kejadian yang dialaminya hari itu. Tentang kenalannya yang dari SMAN 3 Malang, skor yang menggelikan, de el el. Mamanya mendengarkan dengan senang dan sesekali tertawa.
__ADS_1