High School Incident

High School Incident
Kompetisi - 2


__ADS_3

Oppy mengantre di depan TU, Nadya duduk di lobi sekolah sambil melihat-lihat pajangan miniatur seragam sekolahnya. Beberapa guru lalu-lalang di lobi itu. Nadya lalu melihat ke arah ruang guru yang sedang ramai siang itu. Nadya mendengar para guru sedang mengobrol tentang berbagai macam hal. Salah satunya tentang UAS I yang akan dilaksanakan beberapa hari kedepan. Nadya juga mendengar obrolan tentang isu-isu di sekolah.


“Saya denger-denger Bapak X kepala sekolah di es em a di kota X juga ikutan nyolong kunci.” kata seorang laki-laki. Sepertinya itu suara Pak Hary, guru olahraga.


“Iya, memang. Dia yang mengkoordinir tujuh puluh guru di beberapa daerah untuk melakukan perbuatan bejat itu!” ujar suara seorang wanita. Kalo yang ini pasti suara Bu Eny guru Fisika sekaligus pengurus Tatib.


“Untung saja komplotan itu bisa dideteksi oleh kepolisian. Mereka ketahuan gara-gara salah seorang siswa mereka ketangkap basah liat kunci jawaban pas ujian.” ujar suara seorang yang lain.


“Ya ampun. Kok bisa-bisanya mereka nyolong kunci jawaban? Ceritanya gimana kok bisa nyolong gitu, Pak?” ujar suara seorang wanita. Kalau yang ini Nadya tahu, pasti suara Bu Ajeng.


“Ya, motivasi mereka kan pengen rata-rata ujian nasional di daerah mereka yang paling tinggi, makanya mereka menghalalkan segala cara. Kalo yang saya baca di koran, pertama-tama mereka mengelabuhi pihak kepolisian dengan dalih ada yang harus diperiksa dari boks soal ujian. Padahal nggak ada masalah apa-apa, jadi pas mereka ijin memeriksa itu ada yang mengalihkan perhatian polisi penjaga, dan ada teman mereka sesama guru yang bertugas mencuri soal dari masing-masing kode.


Setelah itu soal-soal yang dicuri tadi digandakan dan soal yang asli dikembalikan ke tempat aslinya entah gimana caranya. Soal ujian yang sudah bocor itu lalu disebarkan kepada guru-guru yang ahli dalam mata pelajaran soal ujian masing-masing untuk dijawab. Karena soal-soal itu dikerjakan oleh guru yang ahli, jawabannya pastilah banyak yang benar. Setelah itu semua kunci jawaban dikumpulkan jadi satu dan digandakan lagi. Baru dibagikan kepada masing-masing sekolah yang berkomplot. Pada saat hari ujian, paginya kunci jawaban itu sudah bisa dibagikan kepada para siswa secara gratis! Tapi ada juga sekolah yang mungut bayaran.” ujar suara seorang laki-laki. Suara Pak Salma.


“Oh begitu. Kenapa ada guru yang biadab seperti itu ya, Pak? Kan kasihan murid-murid yang sudah belajar serius dan nggak curang.” kata Bu Eny.


“Lha, iya. Makanya itu tugas kita Bu, memberantas kecurangan. Hal seperti itu kan yang menumbuhkan generasi-generasi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kita ini harus jadi KPK-nya es em a dua.” ujar Pak Salma berapi-api.


Nadya mendengar dengan serius dari lobi. Ia tak mengira ujian nasional tahun lalu dipenuhi kecurangan seperti itu. Makanya saat itu Nadya bertekad untuk memperbaiki dirinya dan berusaha agar nilai-nilainya semakin membaik. Ia juga bermimpi menjadi siswa dengan nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia dua tahun lagi dengan cara yang jujur.


Ia juga bertekad melepas semua kesedihan akibat dibully teman-temannya. Ia akan meninggalkan semua masalah yang tidak penting dalam hidupnya dan fokus memperbaiki citra es em a nya. Ia juga bertekad akan ikut pelajaran olahraga lagi dan mengajar Pramuka di Nesaba. Tahun depan ia juga akan mendaftar sebagai anggota OSIS. Nggak! Nadya mau daftar jadi ketua OSIS. Nadya mulai membangun semangat dirinya siang itu. Mata cewek itu sempat berkaca-kaca mengingat semua perjuangannya dan mamanya. Nadya, Fighting!


***

__ADS_1


Nadya dan Oppy duduk di pinggir kolam renang menunggu giliran tes. Oppy sudah menggigil kedinginan padahal belum masuk ke dalam kolam renang. Memang cuaca di Songgoriti saat itu sangat dingin. Begitu pula air kolam renang yang nggak kalah dingin. Nadya berdiri dari duduknya dan melakukan pemanasan. Oppy melihatnya dengan gigi gemeletuk.


“Op, sini pemanasan dulu.” ajak Nadya.


Oppy pun ikut Nadya melakukan gerakan\-gerakan ringan untuk melemaskan otot. Tito baru saja menyelesaikan tesnya. Cowok bertubuh agak gendut itu keluar dari air lalu duduk mengurut kakinya. Sepertinya ia kena kram. Pak Hary menegur Tito karena tidak melakukan pemanasan dulu. Ia bahkan menyuruh Tito mencontoh Nadya dan Oppy yang sedang melakukan pemanasan. Tito ngambek berat. Udah nilai tesnya C, kaki kram, ditegur pula!


Ineke and the gank atau kita sebut aja geng Ratoe Gembels terlihat keluar dari ruang ganti. Iya, Ineke udah menamai geng mereka dengan nama itu di Facebooknya. Pokoknya semua anggota gengnya pake nama Ratoe Gembels di belakang nama Facebook mereka. Misalnya saja, Ineke Ratoe Gembels, Anjuna Ratoe Gembels, bahkan Rani juga jadi Rani Ratoe Gembels. Oppy sempat tertawa ngakak saat melihat nama mereka di Facebook. Nadya juga ikut tertawa sih sebenernya. Lagian nama geng kok aneh banget, kata Oppy.


Geng Ratoe Gembels masuk ke kolam renang satu\-persatu. Nadya dan Oppy sempat tertawa melihat mereka yang mengenakan celana gemes dan kaos ketat. Kata Oppy, “Selulitnya keliatan semua gitu, pede amat!” Nadya juga makin gemes liat mereka pake celana gemes yang modelnya sama satu geng, cuma warnanya aja yang beda.


Sekarang giliran Nadya melakukan tes renang gaya bebas. Nadya masuk ke dalam air yang dingin. Ia mengikat rambutnya yang pendek. Sempat juga Odis menyiram rambutnya yang belum basah. “Sok cantik!” ejek Odis gemes pada cewek mungil itu. Nadya sempat sebel juga, orang dia paling nggak tahan kalo kepalanya kena air. Malahan ia berniat mau pake mantel rambut tadi, tapi nggak dibolehin sama Oppy.


Pak Hary memulai aba\-abanya dan srett! Nadya mulai berenang gaya bebas ke arah seberang kolam. Cewek itu lalu berenang lagi menuju tempatnya semula. Yap! Nadya sukses dapet A plus untuk tes renangnya itu. Bukan apa\-apa, tapi tentu aja geng Ratoe Gembels sirik berat. Anak\-anak yang lain sih malah kagum, terutama yang cowok\-cowok. Tapi Nadya super cuek!


Nadya dan Oppy lalu pergi ke ruang ganti untuk mandi. Di dalam sana ternyata sepi. Anak\-anak di kolam renang semua. Oppy dan Nadya dengan leluasa mandi di sana. Setelah selesai mandi dan pakai baju hangat, mereka duduk\-duduk di kursi\-kursi pinggir kolam renang. Mereka melihat anak\-anak yang lagi tes. Ada anak yang nggak bisa renang malah pakai pelampung. Ada juga yang bisa dikit\-dikit tapi minta diawasi Pak Hary soalnya takut tenggelam.


Nadya dan Oppy tertawa\-tawa saat giliran geng Ratoe Gembels tes satu persatu\-satu. Mereka ternyata nggak bisa berenang. Seperti dugaan Nadya mereka cuma bisa gaya botol, ngambang sana ngambang sini! Makanya jangan omong besar, kalo udah ujian beneran kan keliatan siapa yang sebenernya nggak mampu! Seperti kata Odis pas es em pe. Orang sirik itu tanda tak mampu, makanya kalau tak mampu jadinya sirik.


Lagi nyantai\-nyantai begitu Nadya dan Oppy didatangi oleh sekumpulan anak kelas 1\-6. Beberapa cewek dan satu cowok bertubuh langsing. Cowok itu kan yang pernah menyapa Mario dengan genit?! Mereka melihat Nadya dengan pandangan usil. Perasaan Nadya jadi nggak enak.


“Kamu Nadya, ya?” tanya anak cowok bertubuh kurus.


“Iya.” jawab Nadya sekenanya.

__ADS_1


“Kenalin.” kata cowok kurus itu sambil menjabat tangan Nadya. Nadya jadi kaget.


“Sasa. Panggil aja Tante Sasa.” kata cowok kurus itu dengan pedenya.


“Nadya.” kata Nadya datar.


“Kamu beneran pacarnya Mario?” tanya cowok itu lagi. Cewek\-cewek dibelakangnya cuma mesam\-mesem aja melihat muka Nadya yang kebigungan.


“Bukan.”


“Iya kan?! Lagian mana mungkin Mario yang ganteng itu pacaran sama kamu.” kata cowok kurus itu dengan ketus. Nadya berusaha nggak dengerin omongan ngaco cowok itu.


“Heh! Syahrul! Kalo nggak ada kerjaan mending kamu bersihin kolam renang aja tuh! Kasih kaporit sana! Udah kotor tuh!” kata Oppy judes membela Nadya.


“Apa sih, Oppy? Kamu ikut\-ikutan aja!” kata cowok yang ternyata bernama Syahrul itu judes.


“Biarin dong. Udah nggak usah rempongin kita!” kata Oppy. Syahrul dan temen\-temen ceweknya pun pergi dari tempat itu dengan kesal.


“Enak aja dibilang rempong! Emang aku cowok cantik apa?!” kata Syahrul kesel. Temen\-temennya cuma ketawa aja.


“Sabar ya, Nad. Dia emang kurang waras. Tahu kan namanya aja diubah\-ubah gitu. Kamu tahu nggak nama aslinya itu sebenernya Syahrul Irwansyah! Maco banget kan namanya? Cuma yaa gitu. Anak itu emang sedikit rempong. Mainnya ya sama cewek\-cewek gitu.” kata Oppy diikuti tawa Nadya.


Ada\-ada aja.

__ADS_1


__ADS_2