
“Oppy, ya? Ada apa Op?” Nadya duduk di sofa berhadapan dengan Oppy. Anak berambut panjang itu tahu Nadya baru bangun dari tidurnya. “Maaf, ya, Nad. Aku ngganggu kamu, nih.” ucap Oppy.
“Iya. Ada apa Op?”
“Kamu tahu kan aku jarang masuk sekolah. Jadi aku ketinggalan pelajaran banyak.”
“Trus?”
“Ya, aku minta tolong sama kamu Nad. Kamu kan pinter, ajarin aku semua pelajaran ya, Nad. Aku udah dikasih surat peringatan sama guru BP, nih.” kata Oppy memelas sambil memperlihatkan surat peringatannya pada Nadya. Nadya melihat isi surat itu, lumayan juga untuk menggertak anak yang suka bolos ini.
“Oke. Jadi kamu malam-malam begini ke rumahku cuma mau minta tolong? Kok nggak sms atau telpon aja?”
“Hehe. Iya, Nad. Aku nggak punya nomor hape kamu. Selain itu aku juga tadi habis nyalon ke salon kamu.” ucap Oppy sambil mengelus-elus rambut panjang hitamnya. Oh… Jadi Oppy ke salon Nadya ceritanya dan sekalian minta tolong Nadya untuk mau belajar bersamanya. Oppy yang suka bolos sekolah ini ternyata ayahnya juga punya salon. Tapi Oppy nggak berani nyalon ke ayahnya sendiri, takut dimarahi katanya. Nadya dan Oppy pun berbincang-bincang sampai jam sembilan kurang. Setelah itu Oppy pamit pulang pada mama Nadya.
Nadya mendengar cerita Oppy tentang alasannya tidak mau sekolah. Oppy bilang sih karena dia nggak semangat belajar. Belum lagi di sekolah ia sering dibully oleh Ineke and the gank. Oppy bilang dia sering disindir karena suka bolos sekolah, karena masuk OSIS dengan bantuan sahabatnya, Garin, dan lagi Ineke juga suka memelesetkan nama panjang Oppy yakni Oppy Rezi menjadi Oppy Crazy.
Nadya merasa kasihan pada Oppy. Teman Nadya waktu es em pe dulu yang namanya Ilma juga sering dibully oleh Ineke dan kawan-kawannya. Mulai dari nama Ilma yang dibalik-balik seenak jidat mereka menjadi Ma’il, karena kekakuan Ilma saat berdiri di depan kelas sehingga dipanggil kikuk juga, belum lagi Ineke yang usil dengan menyebut Ilma ikut-ikutan dengannya masalah tanggal lahir yang sama. Ada aja bahan bully Ineke untuk Ilma.
Sekarang Nadya dan Ineke sudah es em a, tapi Ineke tetap tidak berubah. Tetap suka membully orang. Nadya kesal sekali, waktu masuk ke kamarnya ia hampir saja menendang kasurnya. Tapi niatnya ia urungkan, soalnya bagian bawah kasurnya keras sekali. Ia takut kakinya sakit kalau menendang itu. Jadi dia memutuskan untuk menendang perut Tiny, boneka panda berwarna putih miliknya.
__ADS_1
Nadya duduk di depan meja belajarnya. Memikirkan Ilma, Oppy, Ineke, Rani, Mario, dan dirinya sendiri. Nadya sedang malas belajar hari ini. Dia sedang badmood. Nadya mengambil komik Detektif Conan miliknya yang tersimpan rapi di rak buku. Nadya mulai membuka-buka halaman komik dan keasyikan membaca. Komik-komik di dalam kamarnya itu sudah sering ia baca. Tapi masih tidak bosan membaca lagi dan lagi.
Setelah setengah jam membaca komik, Nadya merasa ingat ia ada olimpiade besok pagi. Nadya lalu menyingkirkan komiknya dan membuka buku matematikanya. Ia belajar dengan serius sampai jam satu pagi. Kini ia tak memikirkan lagi masalah-masalah lain. Ia hanya fokus pada olimpiadenya besok. Sangat fokus.
Jam satu pagi ia memutuskan untuk beristirahat karena matanya serasa lengket. Ia tidur sangat nyenyak sambil memeluk Tiny.
Jam enam pagi.
Nadya baru selesai mandi dan sekarang sedang memakai seragam sekolahnya yang kotak-kotak merah. Nadya memakai seragamnya sambil terburu-buru. Mama Nadya nongol di depan pintu kamar Nadya sambil membawa sepiring sarapan dan segelas susu. Mama Nadya lalu menyuapi Nadya sambil Nadya menyisir rambut di depan cermin. Anak kurus itu lalu mengatakan bahwa ia telah kenyang sarapan. Mama Nadya menghela napas panjang.
“Baru tiga sendok, Nad. Ayo nih tinggal satu lagi.” kata mama Nadya sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulut Nadya.
“Kenyang, Ma. Mama kayak nggak tahu aja perut Nadya lebarnya seberapa. Udah, Ma Nadya udah kenyang.” tolak Nadya seraya menjauhkan wajahnya dari suapan mamanya.
“Ma, dari aku kecil dulu Mama selalu ngomong tinggal satu. Sampe Nadya gede sekarang kok masih tinggal satu aja sih, Ma? Kapan selesainya, Ma?”
“Yaudah kalo gitu habisin nih susunya.”
“Oke.” Nadya mengambil segelas susu yang telah disiapkan mamanya. Ia lalu meneguk dengan terpaksa susu itu sampai habis. Ia lalu menyerahkan gelas kosong ke mamanya yang tersenyum puas.
__ADS_1
“Anak pinter.” ujar mama Nadya sambil membawa gelas dan piring kembali ke dapur.
Nadya sudah bersiap di depan rumahnya. Mamanya masih belum nongol juga. Sudah jam enam lebih dua puluh menit. Sepuluh menit lagi pokoknya ia harus sudah berangkat menuju lokasi olimpiadenya. Mamanya lalu muncul sambil membawa tas dan helm. Nadya memasang wajah sinis dan mamanya tersenyum.
“Nggak telat kok, Nad. Entar Mama ngebut, deh.” ujar mamanya sambil menaiki motor bebeknya.
Nadya berangkat dengan dibonceng mamanya. Jalanan pagi itu masih sepi, jadi mama Nadya bisa memacu motornya dengan kencang. Hembusan angin dingin Kota Batu menusuk-nusuk kulit Nadya memaksa masuk sampai ke tulang. Brr!
Akhirnya motor mereka memasuki kawasan parkir sebuah universitas swasta tempat olimpiade matematika yang akan diikuti Nadya. Nadya turun dari motor dan melihat-lihat suasana di kampus itu. Sudah banyak anak berseragam di sana. Sepertinya mereka juga peserta olimpiade. Nadya dan mamanya berjalan menuju lobi dan naik lift bersama beberapa peserta yang ditemani guru mereka.
Nadya telah sampai di lantai tiga. Ia lalu menuju sebuah meja resepsionis. Nadya diminta menunjukkan kartu tanda pelajar dan mengisi absensi tiga kali. Mama Nadya pamit pulang setelah Nadya bertemu dengan Kak Radit, kakak kelasnya yang juga ikut olimpiade. Sebenarnya Nadya pengen ditemani sampai selesai, tapi mamanya bilang kalo Nadya bukan anak te ka yang masih ditungguin mamanya sampai sekolah pulang. Mama cukup nganter aja. Sisanya Nadya harus mandiri.
Nadya dan Kak Radit hanya berdua mewakili SMAN 2 Batu. Mereka lalu berjalan-jalan melihat ruangan ujian mereka nanti. Mereka berdua berbeda ruangannya. Nadya lalu melihat peserta-peserta dari sekolah lain. Wajah-wajah pintar semua, seragam-seragam keren semua, ada yang lagi ngobrol, ada yang lagi belajar.
Belum-belum Nadya udah minder sama mereka. Dia cuma dari sekolah yang terkenal karena siswanya nakal-nakal, seragam yang ia pakai juga walaupun kayak seragam siswa di jepang tapi nggak ada keren-kerennya kalo dia yang pakai. Semua seragam peserta itu rata-rata abu-abu putih yang modelnya keren, rapi, kalo nggak ya batik yang juga nggak kalah keren.
Nadya lalu duduk termenung di samping Kak Radit. Ia jadi ingat waktu dulu ia pengen banget masuk ke sekolah yang ada kelas akselerasinya, SMAN 1 Batu, satu-satunya sekolah yang punya kelas akselerasi di Kota Batu. Jadi sekolah es em a nya cuma dua tahun aja. Waktu itu Nadya udah siapin segala dokumen untuk pendaftaran ke es em a itu. Tinggal dimasukin ke loket pengembalian formulir aja. Tapi karena waktu itu ada masalah keluarga, Nadya jadi nggak sempet masukin ke loket. Dan akhirnya ia sekolah di SMAN 2 Batu. Sekolah yang kualitasnya jauh banget sama sekolah idamannya itu.
Kak Radit menyenggol lengan Nadya yang sedang melamun. Sudah waktunya masuk ke ruangan. Nadya jadi setengah kaget dan buru-buru berdiri untuk masuk ke ruangan. “Sukses, ya!” kata Kak Radit sambil senyum menyemangati Nadya. Cewek berkacamata itu cuma tersenyum sampai matanya hilang saking sipitnya.
__ADS_1
Nadya duduk di bangku nomor tiga dari depan. Jarak bangku tiap peserta cukup lebar. Nadya berdoa dulu dengan khusyu’ di bangkunya. Ia lalu menyiapkan alat tulis dan tanda pengenalnya di atas meja. Nadya sebel sama meja di kampus itu. Ya namanya juga kampus, bangku kuliahan kan pake bangku yang meja dan kursinya menyatu. Jadi mejanya nggak lebar-lebar amat. Dan itu membuat Nadya sebel, gimana bisa ngerjain dengan leluasa kalo ruang gerak aja terbatas?
Tapi akhirnya Nadya juga masih bisa ngerjain soal-soal olimpiade itu walau mejanya sempit. Nadya benar-benar memeras otaknya selama seratus dua puluh menit, begitu pula peserta lain. Ruangan itu dan ruangan lainnya sama saja suasananya, suasana serius dan pertarungan otak yang sangat seru. Mereka berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.