
“Itukan Desi yang cantik itu!” kata Oppy dengan sedikit berteriak.
“Iya. Ternyata dia jualan di pasar.” kata Nadya tenang.
Keesokan harinya di sekolah. Nadya, Rani, dan Oppy menginterogasi Desi di kelasnya.
“Aku ngelihat kamu kemaren jualan tempe di pasar.” kata Rani dengan memicingkan matanya.
“Oh ya?” kata Desi singkat. Ekspresi wajahnya biasa saja. Mereka bertiga masih menunggu penjelasan dari cewek cantik itu.
“Aku bantu orangtuaku jualan tempe di pasar. Soalnya kami punya usaha buat tempe di rumah. Tiap jam dua pagi aku udah stand by di pasar. Kalo jam delapan malem biasanya aku juga bantuin nyuci kedelai.” jelas Desi pada ketiga cewek di depannya.
“Jadi karena itu kamu sering telat ke sekolah?” tanya Nadya.
“Iya. Kadang aku di pasar sampai jam setengah tujuh pagi. Itu juga aku belum mandi dan harus buru\-buru pulang ke rumah ganti baju, nyiapin buku, terus meluncur ke sekolah, deh.” kata Desi lagi.
“Makanya kamu bawa parfum ke sekolah, ya.” ujar Oppy. Rani dan Nadya menyenggol lengan cewek berambut panjang itu. Mereka takut Desi tersinggung, tapi yang diomongin malah nggak tersinggung. Desi justru mengiyakan perkataan Oppy.
“Wah! Selain cantik kamu juga rajin bekerja, ya. Salut deh sama kamu.” ujar Rani.
Keempat cewek itu lalu ngobrol\-ngobrol dengan asyik. Mereka kayaknya cocok banget berteman. Tiba\-tiba Nadya melihat Odis masuk ke kelas dengan cuek. Nadya menghampiri cowok itu.
“Dis. Makasih ya atas bantuan kamu.” kata Nadya dengan senyum yang nggak biasanya.
“Eh, iya Nad. Bukan apa\-apa kok. Oh ya kamu sama Rani kelihatannya udah akur lagi.”
“Iya, berkat kamu.” kata Nadya. Odis jadi malu dipuji begitu.
__ADS_1
“Tapi aku liat mukanya Mario biru\-biru gitu kemaren\-kemaren. Kamu habis ngapain dia?” tanya Nadya. Odis cuma senyum aja.
“Nggak apa\-apa kok. Kalo kamu emang mukulin dia. Kamu sih emang orangnya gitu.” kata Nadya sok sabar. Odis masih senyum\-senyum aja.
“Beneran, Nad?”
“Ya enggak lah. Kan udah kubilang jangan berbuat gila. Masih aja ni anak.” Nadya jadi sok marah. Odis jadi nggak senyum lagi.
“Hahaha… Nggak apa\-apa kok, Dis. Tapi jangan diulangin lagi, ya.” kata Nadya lalu ngeloyor pergi dengan kedua sahabatnya. Odis lega dan senyum\-senyum sendiri di bangkunya. Beta yang melihat wajah Odis gitu jadi geli.
***
“Wah, anak Mama jadi lain kalo begini.” kata mama Nadya ketika Nadya memakai softlens barunya dan menanggalkan kacamatanya.
“Ma, Nadya sebenernya kurang pede, nih. Apa dicopot aja, ya?” kata Nadya.
Ketiga cewek itu lalu masuk ke kelas mereka dengan penampilan baru mereka masing\-masing. Nadya dengan softlensnya dan rambutnya yang dijepit. Rani dengan dandanan lebih rapi dari biasanya dan lebih harum, wajahnya juga lebih cerah. Sedangkan Oppy tampil dengan rambut layernya yang bergelombang juga dengan wajah yang lebih cerah.
Sudah beberapa hari sejak mereka mengikuti Desi. Mereka menyebut Desi sebagai The Master, karena telah mengajari mereka dan membuat mereka jadi lebih berani tampil beda. Cowok\-cowok di kelas jadi terpesona dengan metamorphosis ketiga cewek itu. Biasanya mereka cuek aja.
Hari itu pelajaran olahraga waktunya main bola voli. Cuaca sedang panas\-panasnya, tapi anak\-anak bermain dengan semangat. Apalagi Nadya yang udah lama nggak olahraga. Badannya jadi agak lemah karena jarang olahraga. Makanya dia pengen melatih tangannya dengan melakukan servis. Setelah bola melambung dan dipukul Fantoni bola melewati net. Gilang menerima bola dengan men\-smash bola itu. Nggak disangka bolanya mengenai Rani.
Pukulan Gilang sebenernya nggak keras\-keras amat. Tapi entah kenapa bisa menyebabkan Rani jatuh dan pingsan seketika. Anak\-anak cowok segera mengambil tandu di UKS dan membawa Rani ke UKS. Wajah Rani merah padam. Tubuhnya panas tapi tidak mengeluarkan keringat. Nadya, Oppy, dan Billy yang menunggui Rani khawatir terjadi apa\-apa dengan Rani. Billy dengan telaten segera mengompres Rani dengan air es.
Rani tersadar dari pingsannya. Ketiga teman yang menungguinya segera bertanya tentang keadaanya. Rani bilang ia merasa pusing. Tiba\-tiba terdengar suara raungan dari perut Rani.
“Hm. Ini sih kelaparan!” kata Billy.
__ADS_1
“Kamu diet lagi, Ran?” tanya Nadya. Cewek gendut itu diam saja.
“Udah. Kalian pesenin aja nasi campur di kantin. Biar aku yang jaga di sini.” seru Billy. Nadya dan Oppy segera keluar UKS dan menuju kantin. Tinggal Billy dan Rani di UKS.
“Ran. Kamu itu kan masih masa pertumbuhan jadi nggak usah diet\-diet segala.” kata Billy sok menasihati.
“Masa pertumbuhan apa?” kata Rani sewot.
“Yee dibilangin ngeyel! Denger ya. Kamu nggak usah diet atau ngerubah penampilan kamu jadi kayak Desi. Cukup jadi diri kamu aja sendiri. Aku suka kok sama cewek gendut yang nggak cantik-cantik amat.” ujar Billy.
“Hah?!” Rani bingung dengan maksud ucapan Billy.
“Kalo kamunya yang nggak mau sama aku karena aku judes ya nggak apa-apa. Mungkin lain kali kamu berubah pikiran.” kata Billy lagi.
Rani kini mengerti. Ternyata cowok judes ini nggak judes-judes amat. Malah kayaknya suka sama Rani. Tapi Rani pura-pura cuek. Jaim lah! Nadya dan Oppy datang sambil membawa sepiring nasi campur dan segelas teh. Rani segera bangun dan memakannya. Rani jadi nggak merasa sakit lagi. Entah karena bisa makan lagi atau karena Billy?
“Buat aku mana?” kata Billy mengharap. Nadya dan Oppy tertawa melihat tingkah cowok judes itu. Nggak biasanya.
***
Hari ini bener\-bener beda. Iya dong! Hari ini Rani ikut Nadya di kelas masak sama Billy juga. Rani ternyata udah bisa masak walau dikit\-dikit. Jadi dia nggak kesulitan ikut kelas masaknya yang pertama ini. Pelajaran hari ini membuat cupcake vanilla. Resep kue yang sederhana.
Nadya konsen mengaduk adonan kue sampai keringetan. Rani udah selesai mengaduk adonan, ia kini mengambil mangkuk kertas untuk cupcakenya. Billy juga sedang mengambil mangkuk kertasnya. Mereka berdua terlihat canggung berdekatan begitu, apalagi Billy. Padahal biasanya cowok itu pede dengan jambulnya. Malah kelewat judes.
“Ngapain liat\-liat? Ganteng, ya?” kata Billy ketika Rani memutar bola matanya. Rani diam saja, tak menanggapi cowok itu. Billy lalu menulis sesuatu di salah satu mangkuk kertasnya.
“Nih. Nomor kamu tulis juga.” kata Billy sambil menyodorkan tulisannya di atas mangkuk kertas yang berisi sebuah nomor hape. Rani pun menulis juga nomor hapenya di mangkuk kertas lain. Mereka lalu bertukar nomor hape. Billy sih mukanya datar\-datar aja, padahal di dalam hatinya dia seneng banget. Ciee…
__ADS_1