
Setelah persahabatan Nadya dan Rani akur lagi, mereka berdua jadi sering terlihat jalan bareng. Kali ini mereka membuat geng mereka sendiri bersama Oppy. Nama gengnya nggak ada, tapi mereka akur banget. Seperti pagi itu, mereka bertiga tampak berjalan bareng menuju ruang TU untuk meminta kapur tulis. Di lapangan basket mereka bertiga sempat melihat beberapa anak lari-lari memutari lapangan basket. Ada Tito, Johan, Argo yang emang hobi telat, nggak usah kaget lagi.
Di tengah-tengah anak yang sedang dihukum karena terlambat datang ke sekolah itu Rani melihat seorang cewek cantik banget. Wajahnya putih bersih, chubby, matanya bulat, bulu matanya lentik, bibirnya mulus berwarna merah muda.
Belum lagi rambutnya yang panjang bergelombang bertekstur halus. Rani mengira dia lagi liat Barbie! Ternyata itu Desi Lukmandani murid kelas 1-2.
“Des, kamu kok bisa berubah cantik gitu, sih? Padahal dulu pas es em pe nggak ada cewek-ceweknya sama sekali!” kata Rani saat istirahat sebelum masuk ekskul. Desi yang merasa dipuji gitu cuma senyum-senyum aja.
“Kasih tahu dong rahasianya ke kita.” pinta Rani pada Desi. Tapi waktu istirahat udah berakhir. Waktunya masuk ekskul. Desi buru-buru mau pergi ekskul piano.
“Nanti sore dateng ke rumahku, ya.” kata Desi sambil berjalan pergi. Rani senengnya minta ampun.
Akhirnya, sore itu Rani, Nadya, dan Oppy tengah duduk di ruang tamu Desi. Mereka bertiga mau belajar biar jadi cantik katanya. Nadya diprotes Rani, katanya orang punya salon kok malah nggak bisa dandan. Nadya membela diri karena dia emang nggak hobi dandan, dia hobinya belajar!
__ADS_1
Desi mengajak mereka bertiga masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua. Begitu masuk ke ruangan serba merah muda itu, tercium aroma wangi yang segar. Ketiga cewek itu langsung senyum bahagia, serasa di taman bunga aja. Kamar Desi walau agak berantakan tapi tetep bagus aja buat mereka bertiga.
Di atas meja rias tampak berbotol-botol kosmetik. Sisir pun ada berbagai macam. Nadya sempat bilang kalau dia juga punya sisir macem-macem gitu di salonnya. Di samping meja rias ada meja kayu tempat majalah-majalah Desi. Di lantai tergeletak catok, alat keriting rambut berbagai ukuran, hairspray, dan kabel-kabel saling menumpuk.
Di dalam lemari Desi yang terbuka juga tampak koleksi sepatu dan aksesoris yang jumlahnya mungkin lebih banyak dari pada yang ada di rak sepatu Nadya. Desi pun mulai ngobrol-ngobrol dengan ketiga cewek itu. Seru banget topik obrolannya. Seputar masalah cewek, kayak masalah jerawat yang nyebelin, kulit kusam, sampai rambut kusut.
“Kalo kalian pengen wajah bersih, tiap malem atau habis pergi kalian harus bersihin muka pake milk cleanser. Itu wajib, biar kotoran nggak numpuk di wajah. Kalo mau berangkat sekolah atau keluar jangan lupa pake pelembab dan sunblock. Sebelum tidur jangan lupa juga pake krim mata sama pelembab malam.
Sebulan sekali juga aku selalu facial di rumah. Bersihin dulu pake milk cleanser, terus discrub biar kulit mati terangkat. Habis itu pake plester pengangkat komedo en masker yang sesuai dengan kulit wajah. Trus aku juga selalu bawa lipgloss sama parfum ke sekolah, biar tetap seger sepanjang hari. Kadang juga bawa pembersih muka en pelembab. Nih tasnya.” kata Desi panjang lebar sambil menunjukkan satu-persatu produk kecantikan yang ia pakai. Ia juga menunjukkan tas makeupnya yang lumayan besar. Lebih besar dari kotak pensil Nadya.
“Nggak tahu. Mungkin aja nggak boleh, tapi kalo nggak ketahuan kan nggak apa-apa. Hehe” jawab Desi sekenanya.
Ketiga cewek itu lalu mempraktekkan kata-kata Desi. Mereka juga diajarkan Desi cara menggunakan catok dan alat pengeriting rambut dengan benar.
__ADS_1
“Kalo mau rambut lurus ya tinggal pake catok aja. Kalo mau rambut yang bergelombang tapi tetep halus dan awet sepanjang hari jangan lupa pake hairspray. Caranya seluruh rambut disemprot pake hairspray lalu disisir supaya halus. Setelah agak kering baru kalian mulai styling.” kata Desi mengajarkan.
Oppy mencoba untuk membuat rambutnya bergelombang. Ia memutar alat pengeriting rambut milik Desi pada rambutnya, tapi malah sempat mau kena tangannya. Hampir aja gosong tangan Oppy. Sedangkan Nadya mulai melepas kacamatanya dan mencoba lensa kontak milik Desi. Desi mengajarkan cara memakai dengan aman.
“Pertama cuci dulu di telapak tangan kamu dengan cairannya. Putar-putar dengan jari kamu lalu setelah bersih jepit dengan alatnya. Srett! Pake deh!” ujar Desi.
Nadya mencoba softlens milik Desi yang berwarna hitam. Hasilnya. Mata Nadya jadi kelihatan lebih bulat dan dia lebih cantik. Desi seneng banget liat Nadya yang nggak pake kacamata. Desi malah mengajak Nadya untuk membeli softlens bareng kapan-kapan. Nadya jadi ge er dikit.
Sementara itu Rani mencoba membersihkan mukanya dengan milk cleanser. Karena terlalu lama meratakan cleanser dan hampir masuk ke mata, Rani jadi kepedesan. Ia lalu mencuci mukanya dengan air dan membasuh matanya yang kepedesan. Nadya dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Rani. Setelah puas belajar kepada Desi, akhirnya ketiga sahabat itu pulang ke rumah masing-masing. Di rumah masing-masing ketiga cewek itu melihat cermin dan pengen banget segera menjadi cantik kayak Desi.
Pagi-pagi sekali ketiga sahabat, Rani, Nadya, dan Oppy sudah berada di pasar. Rencananya mereka mau belanja alat-alat kecantikan sepagi mungkin. Tapi kalau pagi-pagi begini mana ada toko yang udah buka? Malah yang banyak jualan pagi itu orang-orang yang jual sayuran dan kebutuhan dapur lainnya.
Akhirnya mereka bertiga jalan-jalan di pasar pagi itu dengan niat lain. Mereka mau membeli bahan-bahan untuk masakan mama Nadya. Mereka mulai menawar-nawar sayuran, ayam potong, cabe, tomat, de el el. Sampai pada suatu ketika Oppy menemukan penjual tempe yang sedang ketiduran. Oppy mau membangunkan penjual itu karena mau beli tempenya, tapi merasa kasihan dan nggak jadi beli di orang itu. Mereka bertiga lalu mencari penjual tempe lain.
__ADS_1
“Masak tempe mahal banget. Ayo kita liat di penjual yang tadi aja. Siapa tahu udah bangun orangnya.” kata Oppy kesal karena harga tempe di seorang pedagang yang terlalu mahal menurutnya.
Ketiga cewek itu mencari penjual tempe yang tadi ketiduran. Oppy menunjuk ke arah seorang pedagang yang sedang melayani ibu-ibu membeli dagangannya. Tapi kok rasanya ia kenal dengan pedagang tempe itu. Kedua temannya juga merasa kenal dengan orang itu. Oppy melihat dengan seksama, dan ternyata ia memang kenal dengan orang itu.